
Mikha pikir, setelah dia bisa lepas dari Gilang, dia dan Gavin bisa bersatu dengan mudah tanpa halangan apapun.
Sayangnya tidak seperti itu.
Mikha masih harus berjuang lagi untuk kebahagiaannya. Perjuangannya belum selesai sampai di sini.
Entah harus dari mana Mikha memulai perjuangannya. Langkahnya terhenti begitu saja tanpa tahu jalan yang mana yang harus dia lalui untuk mencapai tujuannya.
Tanpa Mikha sadari, hidupnya telah hancur sejak Gilang masuk ke dalam hidup Uli.
Dia membuat kakak Mikha meninggal, dan akhirnya Mikha-lah yang harus menjalani perjodohan itu.
Lagi-lagi Mikha berandai-andai jika kakaknya masih hidup. Tentu bukan Mikha yang menjadi istri Gilang sampai Mikha berada di posisi seperti ini.
Mikha menghela nafas panjang. Di usianya yang masih muda, dia sudah dihadapkan dengan berbagai masalah pelik yang menguras emosinya.
Harusnya dia masih bisa bebas menjalani hari-harinya seperti teman-temannya yang lain. Pusing yang mereka rasakan hanya memikirkan tugas. Bukan memikirkan rumah tangga seperti yang dipikirkan Mikha.
Bahkan tak akan lama lagi Mikha akan menyandang status janda meskipun janda perawan.
Bagi orang lain, tidak penting masih perawan atau tidak, status Mikha tetaplah janda.
Bukan hal seperti ini yang Mikha harapkan sejak awal pernikahannya. Tepatnya sebelum dia mengetahui sifat Gilang yang tak pernah bisa berubah.
Siapa yang ingin menjanda?
Siapa yang ingin pernikahannya hanya berlangsung singkat saja?
Mikha pun tak pernah menginginkannya.
Tapi Mikha sangat menyayangi dirinya sendiri. Tak ingin terus menerus hidup dengan lelaki seperti Gilang. Mikha memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri.
"Kakak..."
Dengan matanya yang terlihat sayu, Mikha berdiri di ambang pintu menatap Gavin yang tengah serius di depan laptopnya. Bahkan kedatangan Mikha pun tak dia sadari.
Gavin mendongak, menatap Mikha dengan tatapan penuh kerinduan dan rasa lega luar biasa karena Mikha dalam keadaan baik-baik saja.
Sejak semalam handphonenya mati dan belum sempat menghubungi Mikha menanyakan bagaimana keadaannya setelah kemarin Sena datang ke kantornya mengatakan kalau Gilang berbuat kasar pada Mikha.
Apalagi kemarin Mikha terlihat sangat marah karena Gavin tak pernah mengatakan kalau dia bukan anak kandung Anton.
Kedatangan Mikha dan suaranya yang memanggilnya dengan lembut seolah menjadi tanda bahwa Mikha sudah tidak lagi marah dengannya.
Gavin segera berdiri dan menghampiri Mikha. Dipeluknya dengan erat tubuh Mikha.
"Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Mikha mengangguk di dalam pelukan Gavin. Kedua matanya sudah basah karena air mata. Dia merasa lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Mikha tak bisa bebas menentukan pilihannya sendiri karena orangtuanya terus mengatur hidupnya.
"Kemarin katanya Gilang kasar sama kamu. Dia menyakiti kamu di bagian mana? Perlu kita periksa? Melakukan visum untuk bukti agar bisa melaporkan tindakan Gilang?"
"No!" Mikha menggeleng kuat. "Aku sudah capek berurusan dengan Gilang. Biarkan saja. Lagipula udah nggak sakit, kok, meskipun kemarin rasanya pusing banget kepala aku gara-gara rambut aku ditarik Gilang kenceng banget."
Gavin memasang wajah sedih sekaligus merasa bersalah karena tak bisa menjaga Mikha. Keadaan dan waktu membuat Gavin tak bisa menjaga Mikha setiap saat.
"Maafkan kakak yang nggak bisa jagain kamu, Sayang."
"Ini bukan salah kakak. Memang Gilang saja yang keterlaluan. Dia nggak terima dapat surat gugatan cerai dari aku. Jadi dia marah dan berbuat seperti itu."
Mikha melepaskan pelukan Gavin dan meninggalkan Gavin untuk duduk di atas sofa yang ada di ruangan Gavin.
"Sebenarnya aku juga masih marah sama kak Gavin gara-gara Kak Gavin nggak pernah bilang ke aku soal Kak Gavin yang bukan anak kandung Papa Anton. Sumpah ya, Kak. Aku udah enam bulan lebih berada di keluarga kalian tapi aku nggak tau apa-apa soal kehidupan kalian."
Gavin tertawa kecil dan mendekati Mikha. Menyusul Mikha untuk duduk di atas sofa yang sama, bersebelahan dengan Mikha. Sangat dekat hingga Gavin bisa kembali membawa Mikha ke dalam pelukannya.
"Jangan ketawa! Emang ada yang lucu?" Mikha berusaha melepaskan diri dari Gavin, tapi Gavin justru mempererat pelukannya.
"Apa yang ingin kamu tau, Kha?"
"Bagaimana bisa kakak ini bukan anak kandung Papa Anton?"
"Ya berarti kakak bukan benihnya Papa Anton."
"Kakak..." Jawaban Gavin membuat Mikha sedikit kesal.
"Kenapa?"
"Kanker darah."
"Aku ikut sedih, Kak. Maaf sudah membuka luka lama kakak."
"It's oke. Katanya kamu mau tau semuanya. Dari sini kamu sudah paham, kan, bagaimana ceritanya kakak ini bukan anak kandung Papa Anton."
Mikha menganggukkan kepalanya. Dia pikir Gavin anak angkat dari Anton dan Yunita. Ternyata bukan.
"Terus kenapa kakak nggak kerja di kantornya Papa Anton? Malah usaha sendiri sampai bisa memiliki perusahaan sebesar ini."
"Kalau bisa usaha sendiri, kenapa harus kerja sama Papa? Lagipula masih ada Gilang yang lebih berhak di kantor Papa. Lagipula Papa juga nggak masalah kakak punya perusahaan sendiri."
Gavin masih ingat bagaimana awal dia merintis usaha sampai bisa seperti sekarang.
Yang awalnya hanya membuka usaha sablon, sampai bisa memiliki pabrik kaos dengan brandnya sendiri.
Tak hanya itu, Gavin juga mulai merintis pabrik sepatu dan tas yang sudah di ekspor ke berbagai negara.
__ADS_1
Dan saat ini dia tengah membangun beberapa resort di sejumlah tempat wisata di daerah yang berbeda.
Dari semua apa yang dia dapatkan saat ini, bukan berarti Gavin tak pernah merasakan jatuh dalam berusaha.
Rugi besar hingga minimnya pembeli pernah Gavin alami. Tapi tak membuat Gavin patah semangat. Ditambah lagi dengan dukungan dari Anton dan Yunita yang membuat Gavin tak pernah menyerah.
"Papa sama Mama nggak setuju sama hubungan kita, Kak. Bahkan aku diminta untuk meninggalkan Kak Gavin."
"Kamu akan melakukan hal itu?"
"Aku akan bertahan jika kakak mau berjuang untuk hubungan kita."
Jika kedua orangtua Mikha tidak setuju Mikha menjalin hubungan dengan Gavin, berbeda dengan kedua orangtua Gavin.
Mereka justru mendukung jika Gavin memperjuangkan Mikha. Selain itu bentuk salah satu hukuman untuk Gilang, mereka juga berharap hubungan Gavin dan Mikha akan kembali mendamaikan hubungan persahabatan antara Anton dan Wira yang telah hancur karena ulah Gilang.
"Akan kakak lakukan apapun untuk membuat kita bisa bersama, Mikha."
Mikha tak dapat menahan senyumannya. Hatinya sangat bahagia mendengar jawaban Gavin.
***
"Mikha!"
Mikha terus melangkahkan kakinya dengan cepat demi menghindari Gilang yang terus mengejarnya. Sesekali Mikha harus berlari karena Gilang semakin dekat.
"Maaf," ucap Mikha setiap dia menabrak mahasiswi/a lain yang juga tengah melintas di koridor kampus.
"Mikha, tunggu!"
Secepat apapun Mikha berlari, kenyataannya dia masih kalah cepat dari Gilang.
Gilang berhasil menutup kembali pintu mobil Mikha yang sudah Mikha buka.
"Mau apa lagi?" tanya Mikha dengan kesal. "Urusan kita udah selesai selain urusan sidang perceraian kita. Lo mau apa lagi?"
"Batalkan gugatan kamu, Kha. Aku minta tolong. Beri aku kesempatan, Kha. Aku janji akan memperbaiki semuanya."
"Manis banget kata-kata buaya!" balas Mikha sarkasme. "Jangan harap itu akan gue lakukan! Harusnya Lo malu berkata seperti itu setelah apa yang Lo lakukan ke gue dan ke kakak gue! Minggir!"
Mikha masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Gilang. Kalau mengingat perdebatan mereka kemarin, tak ada tanda-tanda Gilang ingin mempertahankan hubungan pernikahan mereka. Buktinya, dia menguak semua rahasia pernikahan mereka di hadapan para orangtua.
Lalu kenapa tiba-tiba hari ini Gilang seperti mengemis meminta Mikha untuk membatalkan gugatan cerainya?
Rasanya tidak mungkin kalau Gilang melakukan itu dengan tulus. Pasti ada satu alasan kenapa Gilang harus mempertahankan pernikahannya dengan Mikha.
Tapi Mikha tak peduli dan tak mau tau. Terserah apa yang akan Gilang lakukan. Keputusannya tak akan pernah berubah.
__ADS_1
Mikha tak mungkin membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama.
🌹🌹🌹