Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 63


__ADS_3

"Vin, Mikha kenapa?"


Dengan panik Yunita menghampiri Gavin yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan Mikha yang ada di dalam gendongannya.


Gavin memberi isyarat agar Yunita memelankan suaranya. "Dia cuma tidur, Ma. Aku bawa dia ke kamar dulu," ujar Gavin pelan membuat Yunita menghembuskan napas lega.


Gavin segera membawa Mikha ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Di tengah-tengah tangga, Gavin berpapasan dengan Gilang. Mereka hanya berpandangan sebentar, lalu dengan acuhnya Gavin melewati Gilang begitu saja.


Gilang cemburu? Biarkan saja. Gavin tak peduli.


Ini semua juga karena ulahnya yang sangat disyukuri oleh Gavin.


Andai Gilang tak berulah, mungkin saat ini Gavin dan Mikha tidak sebahagia ini dan hidup bersama seperti ini.


Salah satu kemalangan nasib Gilang yang sangat Gavin syukuri.


Gavin membaringkan tubuh Mikha di atas ranjang miliknya. Menyelimuti tubuh Mikha hingga sebatas bahunya.


Kecupan lembut Gavin berikan di kening dan bibir Mikha sebelum Gavin meninggalkan Mikha untuk turun ke bawah.


"Kayaknya Mikha capek banget, ya, Vin, sampai ketiduran begitu? Digendong juga dia nyenyak banget. Lembur terus apa gimana?"


Gavin tertawa kecil mendengar pertanyaan ibunya. Yunita jarang sekali melihat Gavin tertawa setelah kepergian Gisella.


Tapi setelah bersama Mikha, Gavin banyak tertawa. Gavin menemukan kebahagiaannya yang memberikan warna di hidupnya.


"Ya gitu, deh, Ma. Mama kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja," jawab Gavin yang membuat Gilang semakin terbakar api cemburu.


"Kalau gitu bisa cepat kasih cucu ke papa dan mama, dong," canda Yunita. Dia pun tak terlalu menuntut jika Mikha belum hamil dalam waktu dekat.


"Mama sabar dulu, ya. Bulan ini dia masih kedatangan tamu bulanannya. Nanti, deh, kalau udah selesai usaha keras lagi."


"Iya, ya?"


Gavin mengangguk membenarkan.


"Kurang tokcer itu. Udah ketuaan jadinya nggak mempan," sahut Gilang dengan sinis.


Lagi-lagi Gavin tak memperdulikan ucapan Gilang yang dia anggap hanya angin lalu.


Semakin dia meladeni, perdebatan mereka akan semakin panjang.


Pasti Gilang juga iri karena dia tak sempat mendapatkan apa yang Gavin dapatkan dari Mikha.


Andai Gilang tahu kalau tubuh Mikha membuatnya begitu candu. Tubuhnya begitu indah saat meliuk-liuk di atas dirinya. Begitu membuatnya terpesona saat Gavin bergerak cepat di atas tubuh Mikha.


"Bayangin apa, Lo?"


"Terserah gue mau bayangin apa. Bukan urusan Lo juga," balas Gavin dengan sengit.


"Udah. Kapan, sih, kalian bisa akur? Mama pengen sekali-kali lihat kalian akur. Nggak berantem terus apalagi diam-diaman begitu," ujar Yunita.


Yunita masih tidak mengerti ada permasalahan apa antara Gilang dan Gavin selain urusan Mikha.


Jika karena antara Gavin dan Gilang beda ayah, selama ini Anton juga tidak pernah membedakan perlakuannya kepada Gavin dan Gilang.

__ADS_1


Bahkan Anton menganggap Gavin seperti anak kandungnya sendiri.


Hal ini yang membuat Yunita bertanya-tanya. Tapi sayangnya belum ada kesempatan untuk menanyakan hal tersebut pada Gilang maupun Gavin.


***


Mikha membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Seperti ada lem yang membuat kedua matanya tertempel hingga enggan rasanya untuk terbuka.


Mikha langsung terperanjat saat dia menyadari bahwa kamar yang dia tiduri bukan kamarnya bersama Gavin di apartemen.


Bukan pula kamarnya sendiri yang ada di rumah.


Setelah sejenak memperhatikan sekeliling kamar, Mikha baru sadar bahwa kini tengah berada di kamar Gavin.


Mikha masih ingat meskipun setelah hampir tiga tahun lamanya baru kali ini dia masuk lagi ke kamar Gavin.


"Kamu ada masalah apa, sih, Vin, sama adik kamu? Mama hampir nggak pernah lihat kamu dan Gilang bersikap selayaknya kakak dan adik. Masih urusan Mikha? Gilang nggak ganggu Mikha lagi, kan?"


Sayup-sayup Mikha mendengar percakapan antara Yunita dan Gavin.


"Nggak ada masalah apa-apa, kok, Ma." Suara Gavin menjawab pertanyaan Yunita.


"Nggak mungkin nggak ada masalah. Mama itu sedih lihat kalian begini. Kalian itu cuma dua bersaudara. Masa nggak akur? Jangan kayak gitu lah. Kalau ada yang salah, ya minta maaf. Satunya memaafkan. Bukan musuhan kayak gini. Mau sampai tua kayak begini terus? Gilang dengar Mama ngomong enggak?"


"Dengar, Ma." Suara Gilang yang terdengar.


Mikha rasa dia harus bicara dengan Gavin soal ini. Tentu saja cara dia bersikap dengan Gilang mengundang tanya. Ini tidak biasa. Orang lain pasti juga akan berpikir sama jika melihat interaksi antara Gavin dan Gilang.


"Kak Gavin? Mama?" Mikha memanggil Gavin dan ibu mertuanya saat dia menuruni anak tangga.


"Di sini, Sayang," teriak Gavin dari arah ruang makan.


Mikha pun segera melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


"Sudah bangun, sayang?"


Mikha tersenyum canggung. "Udah, Ma."


Yunita lantas mendekati Mikha dan mencium kedua pipi Mikha dengan penuh sayang. Baginya, Mikha bukan hanya sekedar menantu. Tapi sudah seperti anak perempuannya sendiri.


"Sini, Sayang." Gavin menarik satu kursi di sampingnya dan mempersilahkan Mikha duduk di sana.


"Mikha mau makan sekarang apa nanti? Mama ambilkan, ya?"


"Sebentar lagi aja, Ma. Baru banget bangun ini." Mikha terkekeh pelan.


Gilang nampak jengah melihat kehangatan yang terbangun di hadapannya.


Diam-diam Gilang memperhatikan Mikha yang dia rasa semakin cantik saja setelah menikah dengan Gavin.


"Papa nggak makan siang di rumah, Ma?"


"Papamu lagi ke Bandung. Sayang sekali, ya. Padahal jarang-jarang kita kumpul kayak gini."


"Mikha sekarang udah pinter masak loh, Ma."


"Oh, ya?" Yunita terlihat antusias mendengarnya.

__ADS_1


Gavin mengangguk pasti. Sedangkan Mikha tersipu mendengar pujian dari Gavin.


"Belum seenak masakan Mama, kok." Mikha merendah.


"Rasanya sama, kok, Sayang. Sama enaknya. Kayaknya kakak harus rajin-rajin olahraga biar badannya tetap bagus. Soalnya tiap kamu masak aku susah berhenti makannya."


Mikha tertawa kecil. "Kakak bisa aja."


Yunita sangat bahagia melihat kebahagiaan antara Gavin dan Mikha. Kini giliran mengurus Gilang yang terlihat sekali bahwa dia belum move on dari Mikha.


"Habis ini Mama harus pergi arisan. Kalian baik-baik di rumah, ya."


"Iya, Ma."


🌹🌹🌹


"Kayaknya kakak harus merubah sikap kakak ke Gilang."


"Kenapa, sayang?"


"Mama udah mulai curiga dan interogasi kakak soal alasan kenapa kakak dan Gilang nggak pernah terlihat akur, kan?"


Gavin mengangguk membenarkan.


"Kalau emang kak Gavin nggak mau Mama curiga atau Mama tahu soal alasan kakak bersikap seperti itu, kak Gavin harus baik-baikin itu si Gilang. Karena kalau kak Gavin kayak gitu terus lama-lama Mama pasti tahu."


Apa yang dikatakan Mikha Gavin rasa ada benarnya juga. Jika dia tidak merubah sikap dia terhadap Gilang, pasti Yunita akan terus mendesaknya untuk mengatakan alasannya kenapa Gavin terlihat seperti memusuhi Gilang.


"Akan kakak coba meskipun itu sulit, Sayang."


Mikha mengangguk paham. "Memang sangat sulit, Kak. Sampai sekarang pun aku juga kadang masih marah kalau ingat kesalahan Gilang ke kak Uli. Tapi dengan memusuhi Gilang juga tidak akan merubah keadaan. Hati kita yang sibuk membenci dan kita sendiri yang akan rugi. Buang-buang waktu."


"Makasih, ya, sayang, udah mengingatkan kakak. Sekali lagi kakak katakan, dan mungkin kakak nggak akan pernah bosan untuk mengatakannya."


"Apa itu?"


"Kakak beruntung memiliki kamu."


Mikha tersenyum lebar. Lalu mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup singkat bibir Gavin.


"Kok, sebentar banget, Sayang?",


"Takut kelepasan, takut nggak nahan. Kakak tau aku lagi nggak bisa."


Gavin terkekeh pelan. "Kakak nggak peduli, Sayang. Yang penting kakak mau mencium kamu sekarang."


Tanpa aba-aba, Gavin langsung menyerbu bibir Mikha begitu saja. Memberikan ciuman panas yang selalu membuat Mikha terbuai.


Tak peduli saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga rumah Anton dan Yunita.


Aksi keduanya pun tak luput dari perhatian Gilang.


"Harusnya aku yang ada di sana," ucap Gilang dalam hati.


🌹🌹🌹


Ramaikan yukkk... biar aku semangat ngetiknya. 🥲🥲

__ADS_1


__ADS_2