Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 41


__ADS_3

"Mbak Mia...."


Mikha berlari memeluk Mia yang tengah menunggu kedatangan Mikha.


Bagi Mikha, Mia sudah seperti kakaknya sendiri. Usianya hampir sama dengan Maulida jika Maulida masih hidup.


Dulu, Mia hanya gadis kecil yang ikut dengan ibunya bekerja di rumah keluarga Wira.


Tapi semakin besar, Mia turut membantu ibunya bekerja di rumah Wira. Hingga satu bulan setelah menikah, Mia menikah dengan Sandy.


Mikha tak pernah tau, lebih tepatnya tak peduli Mia akan menikah dengan siapa. Bukan karena dia membenci Mia. Bukan.


Itu semua karena Mikha sibuk membenci hidupnya sendiri karena harus menikah dengan Gilang hingga Mikha tak peduli dengan apa yang terjadi dengan orang-orang di sekitarnya.


"Alhamdulillah udah sampai, ya. Pasti capek banget?"


Mikha mengangguk membenarkan. "Capek banget. Pengen cepet rebahan di kasur."


"Sebentar. Mas Sandy baru beli minum."


"Oke." Mikha duduk di kursi. Merebahkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan matanya sembari menunggu Sandy datang.


"Mata kamu sembab, Mikha. Kenapa? Habis nangis lama, ya?"


Mata Mikha terbuka seketika mendengar pertanyaan Mia. "Emang kelihatan, ya, Mbak?"


Mia menganggukkan kepalanya. "Keliatan banget. Kenapa? Berat, ya, ninggalin pacar di Indonesia," canda Mia diiringi dengan tawa kecil dari bibirnya.


"Ih, Mbak Mia. Mikha nggak punya pacar. Nangis karena bakalan lama pisah sama Mama dan Papa." Mikha berkilah.


Tidak mau kalau sampai Mia tahu selama di pesawat Mikha begitu bodoh yang lagi-lagi menangisi lelaki macam Gavin.


Dia terbiasa dimanjakan oleh Gavin. Terbiasa diperhatikan. Terbiasa ditemani lewat handphone maupun secara langsung.


Dan kini Mikha juga harus kembali terbiasa seperti dulu lagi. Sebelum diratukan oleh Gavin.


Biasa mandiri, biasa sendiri, dan terbiasa tanpa perhatian Gavin yang dulu hanya dia anggap sebagai kakak ipar. Tidak lebih.


"Mikha udah datang? Alhamdulillah. Gimana perjalanannya?"


Sandy datang dengan membawa tiga gelas matcha latte untuk mereka bertiga.


"Lancar, Kak. Nggak ada kendala apapun."


"Syukurlah. Kita langsung ke apartemen apa mau jalan-jalan dulu?"


"Kayaknya langsung ke apartemen aja, deh, Mas. Mikha kayaknya capek banget. Nggak tau juga, sih, yang capek badannya apa hatinya."


"Ih, Mbak Mia!"


Mia dan Sandy tertawa melihat Mikha yang terlihat kesal. Keduanya seperti kompak menggoda Mikha yang sudah mereka anggap seperti adik sendiri.


Mikha dan Mia berjalan lebih dulu. Sedangkan Sandy di belakang keduanya dengan membantu Mikha membawa barang-barangnya.


***


"Ya Allah, nikmat banget...."

__ADS_1


Mikha merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Tujuh belas jam penerbangan membuatnya merasa sangat lelah. Apalagi apa yang dikatakan Mia itu benar. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, tapi juga hatinya.


Ah, sudahlah. Sampai kapan Mikha akan seperti ini? Memikirkan lelaki yang belum tentu memikirkan dirinya.


Lebih baik Mikha istirahat. Mempersiapkan tubuhnya untuk jalan-jalan besok menikmati kota Paris sebelum Minggu depan mulai mengurus kuliahnya.


***


Mungkin sudah nasib Mikha kalau kadang dia menjadi obat nyamuk antara Sandy dan Mia.


Mereka berdua bermesraan sedangkan Mikha hanya bisa melihat mereka tanpa tahu harus menggandeng siapa.


Apalagi Mikha sering dimintai tolong untuk mengambil foto mereka, dengan pose yang mesra pula. Membuat Mikha mengerucutkan bibirnya dengan memasang wajah kesal.


"Kasian banget dia nggak punya pasangan, Mas." Lagi-lagi Mia meledek Mikha.


"Mbak Mia udah, deh, jangan ngeledek terus."


Tawa Mia berderai. "Iya-iya, maaf. Sini, Mbak fotoin kamu sama Mas Sandy. Tapi sekali aja, ya."


"Biar apa?"


"Biar bisa ngerasain foto di menara Eiffel dengan cowok."


"Ih, emang rese."


Mikha dan Sandy benar-benar berfoto berdua. Dengan pose lucu seolah mereka adalah pasangan yang bahagia.


"Siap, ya? Satu, dua... Oke."


"Coba sini lihat!"


Ah, momen ini mengingatkan Mikha saat dia dan Gavin berada di Bromo. Andaikan bukan di sana Gavin mengakhiri hubungan mereka, pasti Mikha akan kembali ke sana sebelum dia pergi ke Paris.


Bukannya Mikha membenci tempat seindah itu. Tempat itu tetap indah. Hanya kenangan pahit yang tercipta yang membuat Mikha tak ingin lagi datang ke sana.


🌹🌹🌹


Gavin hanya bisa memandangi foto Mikha untuk menuntaskan rasa rindunya. Dia masih mengikuti akun Instagram milik Mikha hanya untuk menuntaskan rasa rindunya pada Mikha dengan melihat foto-foto terbaru yang dia unggah.


Melihat foto Mikha bersama seorang lelaki.



17.325 suka


Mikhaylaw_ Ganteng, ya? 😋😋


Senasen Woelah... Baru juga sehari di Paris. Udah ada gandengan aja, nih.


DimasRay Gue kalah cepat lagi.


_Carissa Kak Mikha cantik banget, woyyyy. Langgeng sama yang baru,ya, kakakku 😘😘


Membuat hati Gavin ketar-ketir. Dia takut Mikha sudah menemukan orang baru yang dia cintai. Padahal, Gavin sendiri yang menyuruh Mikha untuk mencari orang yang tepat selain dirinya.


Foto itu mengundang ratusan komentar dari followers-nya. Membuat mereka salah paham dan mengira bahwa dia adalah kekasih baru Mikha.

__ADS_1


Tapi, esoknya Gavin merasa lega setelah Mikha kembali mengunggah sebuah foto.



11.292 suka


Mikhaylaw_ Aslinya cuma pinjam, gaes. Yang ini istrinya. 🥱🥱 @HestyMia @Sandyppp


Lagi, Mikha mengunggah lagi sebuah foto sendiri. Rambut panjangnya tergerai indah.



9.526 suka


Mikhaylaw_ Masih betah. Belum ngerasain homesick. 😎


Dari sekian foto yang sejak kemarin diunggah oleh Mikha, tak ada satupun foto yang memperlihatkan wajah Mikha.


Membuat Gavin semakin penasaran, bagaimana wajah Mikha dengan rambut barunya yang dicat warna pirang tersebut.


Terakhir dia bertemu dengan Mikha, rambutnya masih hitam legam. Ternyata Mikha merubah penampilannya sebelum pergi ke Paris.


Gavin memberi tanda love pada setiap foto Mikha. Tak peduli kalau nama akunnya akan tenggelam diantara pengikut lainnya. Tak peduli juga apakah Mikha menyadari bahwa ada nama Gavin diantara belasan ribu pengikutnya yang menyukai foto-fotonya.


Saat ini, bagi Gavin mungkan adalah hal yang tepat ketika dia mencintai secara diam-diam.


Mikha tengah fokus pada pendidikannya. Jika Gavin kembali menghubungi Mikha, Gavin takut hal itu akan mengganggu konsentrasi Mikha untuk belajar.


Gavin hanya bisa berharap, semoga Mikha tidak menyadari ada akun Gavin di sana. Sudah untung Mikha tidak memblokir akun Instagram Gavin di saat nomor handphone Gavin diblokir oleh Mikha.


🌹🌹🌹


"Mama dengar dia ke Paris, ya, Vin?"


Gavin mengangguk lesu.


Yunita memasang wajah sedih. "Dia nggak pamitan sama Mama loh, Vin. Kayaknya dia benar-benar udah kecewa sama kamu."


Gavin mengangguk lagi. Membenarkan apa yang Yunita ucapkan.


Padahal, di saat Mikha dan Gavin masih menjalin hubungan, Mikha sering bertemu dengan Yunita untuk sekedar makan siang bersama.


Mikha bersikap seolah tak pernah ada permasalahan antara mereka. Melupakan semua rasa sakit yang mereka berikan pada Mikha.


Tapi karena hancurnya hubungan Mikha dengan Gavin, hancur pula hubungan baik antara Mikha dan Yunita.


"Mama kayak udah nggak pengen lagi punya mantu selain Mikha, Vin. Dia anaknya baik banget. Tapi semua anak-anak Mama udah ngecewain dia."


"Udah jalannya begini, Ma. Mama doain yang terbaik aja."


"Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk Mama. Tapi kayaknya doa Mama mental semua. Buktinya anak-anak Mama nggak ada yang bener kelakuannya. Hobi, kok, nyakitin cewek."


"Ma..."


"Udah. Mama mau pulang. Malam ini kamu pulang ke rumah, ya. Mama kesepian banget nggak ada anak-anak Mama. Meskipun kurang ajar tapi Mama tetap sayang."


Yunita keluar dari ruangan Gavin tanpa menunggu Gavin menanggapi ucapannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Semua foto dari pinterest yaa.. mau cari yang cocok + sama susah banget.


__ADS_2