
Btw ini aku percepat ya... Nggak mau mengulur lagi biar cepet end. Paling 2 atau 3 part lagi.
Happy reading...
🌹🌹🌹
Empat tahun kemudian...
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?"
Mikha mengangguk pasti mendengar pertanyaan seseorang di hadapannya. Tidak ada pilihan lain bagi Mikha yang harus Mikha lakukan selain hal ini.
"Kalau bisa pagi aja atau siang," pinta Mikha.
"Oke. Besok pagi aja kalau gitu."
"Iya. Thanks, ya."
"Sama-sama."
🌹🌹🌹
"Aku mau digendong Mami," teriak Kenzo langsung bergelayut di kaki Mikha.
"Mami aku." Disusul Kenzie yang juga bergelayut di kaki Mikha yang satunya.
Keenan pun tak ingin kalah. Dia segera meraih tangan Mikha yang berusaha untuk menyentuh Kenzie. "Aku yang digendong Mami."
Mikha tertawa kecil. Lalu mendudukkan dirinya ke atas sofa. "Udah, ya, anak-anak Mami nggak boleh rebutan. Gendongnya gantian karena Mami nggak bisa kalau harus gendong barengan." Mikha melerai ketiganya.
"Kalau Papi bisa gendong barengan." Gavin bersuara. Dia baru saja keluar dari kamar. Cepat-cepat keluar karena mendengar anak-anaknya yang sudah mulai rebutan Maminya. "Gimana? Mau digendong Papi aja enggak?"
Kenzie, Keenan, dan Kenzo langsung mengeratkan pelukan mereka pada Mikha. "Mau sama Mami," ucap mereka. Meskipun tidak bersamaan, tapi ucapan mereka sama.
Gavin menghela napas pelan. Rela anak-anaknya lebih memilih Mikha daripada dirinya.
"Udah mau berangkat, ya?" Feni baru saja datang dan sudah melihat keluarga kecil Mikha sudah rapi. Koper-koper milik mereka pun sudah dimasukkan ke dalam mobil.
"Sebentar lagi, Ma. Mama sendirian aja?" tanya Gavin.
"Iya. Papa kamu lagi di Bogor. Titip salam, hati-hati, kata Papa."
"Iya, Ma."
Feni langsung memeluk dan menciumi satu per satu cucu-cucunya yang tadinya sudah berlomba lari mendekati Feni.
"Cucu-cucu grandma mau pada kemana, sih, udah ganteng-ganteng begini, hm?"
"Mau naik pesawat, Grandma," jawab Keenan.
"Oh, ya? Grandma sama grandpa nggak diajak?"
"Papi, Mami. Grandma dan grandpa boleh ikut?"
Semua tertawa mendengar pertanyaan Kenzo. "Boleh, sayang. Tapi nanti, ya, kalau grandpa nggak sibuk lagi. Nanti kita jalan-jalan bareng sama Oma dan opa juga," jawab Gavin membuat ketiganya bersorak bahagia.
"Ya sudah. Cucu-cucu grandma nggak boleh rewel, ya. Nurut sama Papi dan Mami. Nurut juga sama suster Leni, suster Nina dan suster Rika. Siap, jagoan-jagoan Grandma?"
"Siap, grandma!" jawab mereka bersamaan.
Feni kemudian menciumi wajah mereka dengan gemas. Satu bulan penuh Feni tidak akan bertemu dengan mereka karena mereka akan liburan ke luar negeri.
"Kalian hati-hati, ya. Jaga anak-anak yang bener. Quality time bisa malam kalau anak-anak udah pada terkondisikan."
Mikha dan Gavin tertawa renyah. "Iya, Ma. Kami berangkat dulu, ya."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
🌹🌹🌹
Cappadocia, Turki.
Adalah tempat tujuan mereka akan liburan. Tempat yang Mikha ingin datangi setelah melihat tempat itu sempat viral di media sosial satu tahun yang lalu. Saat triplet masih berusia tiga tahun.
Melihat balon udara di pagi hari adalah keinginan Mikha.
Dengan mudah Gavin mengabulkannya. Hanya saja mereka tidak bisa berangkat saat itu juga karena pekerjaan Gavin dan Mikha begitu padat.
Anak-anak Gavin dan Mikha begitu anteng ketika berada di dalam pesawat. Ini bukan pertama kalinya bagi mereka naik pesawat, namun ini pertama kalinya mereka perjalanan jauh menggunakan pesawat.
Hampir dua puluh empat jam dari Jakarta menuju ke Turki.
Mereka pergi menaiki jet pribadi milik rekan bisnis Gavin yang dipinjamkan kepada Gavin untuk mengantar dan menjemput kemanapun Gavin dan keluarganya pergi.
Tanpa Mikha tahu, Gavin ternyata juga sudah membeli sebuah apartemen mewah di Turki.
Apartemen mewah dengan view balon udara ketika menjelang sunrise. Tentu Mikha sangat bahagia dengan semuanya yang diusahakan oleh Gavin.
🌹🌹🌹
Sesampainya di apartemen, Mikha dan Gavin bekerja sama dengan para suster triplet untuk mengkondisikan triplet agar beristirahat terlebih dahulu.
Dengan tujuan agar paea suster, Gavin dan Mikha juga bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum mereka menjalani liburan besok.
Butuh waktu hampir dua jam untuk mengkondisikan ketiga anak Gavin dan Mikha. Setelah mereka tertidur, Gavin dan Mikha menyuruh ketiga suster untuk beristirahat juga.
Di dalam kamar Gavin dan Mikha.
Sebenarnya Mikha tak berniat untuk menggoda Gavin. Apalagi dalam keadaan lelah seperti ini.
Tapi Mikha terpaksa memakai gaun tipis yang ada di dalam kopernya. Tadinya, sebenarnya Mikha sudah memasukkan beberapa piyama panjang maupun pendek ke dalam kopernya. Ya meskipun masih lebih banyak lingerie yang ada di dalam koper.
Tapi ternyata piyama itu sekarang tidak ada di dalam koper. Tidak mungkin juga piyama-piyama itu jatuh di bagasi saat di bandara. Atau tercecer di jalan saat mereka membawa kopernya.
Tersangkanya? Siapa lagi kalau bukan Gavin seorang. Suaminya yang tingkat kemesumannya justru semakin bertambah seiring bertambahnya usia mereka.
Usianya sudah menginjak tiga puluh tujuh tahun. Tapi gai*ahnya seolah tak ada habisnya.
Hampir setiap hari Mikha dan Gavin bercin*a. Bahkan tak kenal waktu jika anak-anak mereka sudah terkondisikan.
Entah pagi, siang, atau sore sekalipun.
Tapi dengan seperti ini, Mikha sangat bersyukur. Dirinya bisa memu*skan Gavin. Gavin juga tak pernah melirik wanita lain untuk menjadi penghangat ranjangnya.
"Kamu menggodaku, sayang?" Gavin memeluk Mikha dari belakang. Mikha tengah menyisir rambutnya dan berdiri di depan cermin.
"Bukannya kakak yang minta digoda? Buktinya piyamaku berganti dengan lingerie semua."
Gavin tertawa keras. Tanpa khawatir akan terdengar dari luar karena kamar mereka dipasangi kedap suara. Apalagi jika Mikha tengah menjerit keenakan nantinya.
"Karena kakak suka, Sayang. Kamu kelihatan sangat seksi dengan baju seperti ini. Kakak suka..." bisikan Gavin membuat tubuh Mikha memanas seketika.
Dalam keadaan selelah apapun, tubuh Mikha tak pernah gagal bereaksi saat Gavin melancarkan aksinya.
"Kakak nggak capek?"
"Satu ronde aja sebelum istirahat, Sayang."
"Mana ada Kak Gavin cukup dengan satu ronde?"
Gavin tertawa lagi mendengar ucapan Mikha yang benar adanya. Memang tak pernah cukup satu ronde bagi Gavin untuk melakukannya dengan Mikha.
Tak ingin menundanya dengan perdebatan dengan Mikha, Gavin segera mengangkat tubuh Mikha dan membaringkannya di atas ranjang.
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Mami, Papi!"
"Mami!"
"Papi!"
Gavin dan Mikha berpandangan sebentar saat samar-samar suara anaknya terdengar. Kamarnya memang kedap suara. Tapi masih bisa mendengar suara-suara dari luar meskipun pelan. "Suara si Kenzie, kak."
"Sebentar, sayang. Nanggung."
Gavin masih melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Mikha sendiri sudah tak bisa berkonsentrasi.
"Papi..."
"Kenzie nangis, Kak."
"Sebentar, sayang."
Pada akhirnya, mereka mengabaikan suara Kenzie yang sudah menangis memanggil Gavin dan Mikha. Susternya pun terdengar menenangkan.
Hanya butuh beberapa menit saja untuk Gavin dan Mikha berhasil mendapatkan apa yang mereka usahakan. Tak biasanya secepat ini. Tapi harus bermain cepat karena Kenzie sudah menangis di luar sana.
Sambil memakai handuk kimono untuk menutupi tubuh polos Mikha, Mikha menggerutu kesal. "Udah tau anaknya nangis, masih dilanjut aja. Nggak bisa nanti lagi apa?"
"Nanggung, Sayang. Orang kamu juga enak, kan? Kalau mau dilanjut nanti lagi juga boleh."
"Ih. Itu mah maunya kak Gavin."
"Kamu juga nggak nolak, Sayang." Gavin tertawa kecil. Lalu memakai celananya lagi sebelum Kenzie dan yang lainnya masuk ke dalam kamarnya bersama Mikha.
***
"Kenapa, Sayang? Maaf, ya. Mami tadi lagi tidur juga." Mikha sedikit berbohong pada Kenzie yang sudah memeluknya dengan erat. Tidak mungkin Mikha akan mengatakan kalau dia dan Papinya anak-anak sedang berci**a.
Kenzie memang yang paling manja diantara yang lainnya. Keenan yang paling mandiri. Dan Kenzo yang paling galak.
Meskipun begitu, mereka tetap saling sayang meskipun anak-anak sudah biasa dalam hal bertengkar dan berebut apapun sampai menangis.
"Mau makan."
"Oh, Kenzie lapar?"
Kenzie mengangguk polos.
Tak lama kemudian, Leni keluar dari dapur dengan membawa makanan untuk Kenzie.
"Tadi sudah mau saya suapi, Bu. Tapi Kenzie mintanya sama Bu Mikha," ucap Leni.
"Ya sudah nggak apa-apa. Biar saya yang suapi. Yang lain masih pada tidur?"
"Sudah bangun, Bu. Tapi masih rebahan di atas ranjang."
"Mungkin masih capek. Kamu tawari mereka makan juga, ya. Sekalian saya suapi kalau mereka juga lapar."
"Baik, Bu."
Mikha menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik meskipun ada suster yang membantunya mengurus anak-anaknya.
Lebih tepatnya, berusaha untuk menjadi ibu yang baik.
Seperti saat ini, meskipun tubuhnya lelah setelah perjalanan jauh dan juga baru saja selesai mengurus bayi besarnya, Mikha tetap menuruti keinginan Kenzie yang ingin bersama dengan dirinya.
Tak peduli selelah apapun tubuhnya. Adanya suster yang membantunya bukan berarti membuatnya lepas tangan begitu saja dalam hal mengurus anak-anaknya.
Apalagi tidak ada yang tidak lelah setelah perjalanan mereka. Para susternya pun pasti juga merasa lelah.
Mikha tak ingin dianggap tidak berperikemanusiaan jika menyerahkan semua urusan anak-anaknya pada susternya sedangkan para suster pun sama lelahnya dengan dirinya.
__ADS_1
🌹🌹🌹