
15.629 suka
Mikhaylaw_ My.....
.
Tebak sendiri 😜
Senasen calon Bu bos. Iya, kan, Pak @Nath92_ ?
Nath92_ ❤️❤️❤️
Kamkamilo Kak Mikha cantik syekaliiii...
Ressa Calonnya ganteng, Kak.
Dewiya21 Langgeng ya Kak Mikha...
Setelah satu tahun Mikha tidak memposting fotonya, akhirnya Gavin bisa melihat foto terbaru Mikha.
Sayang, foto itu bukan hanya Mikha seorang. Tapi Mikha yang tengah berpose mesra dengan seorang lelaki yang Mikha tak pernah kenal siapa lelaki tersebut.
Hati Gavin meradang merasakan cemburu. Rasanya tidak terima jika Mikha bersama lelaki lain.
Tapi, itu sudah konsekuensi dari keputusan yang dia ambil dulu. Memilih meninggalkan Mikha dan meminta Mikha mencari orang yang lebih baik dari dirinya.
Kini, mungkin Mikha telah menemukan orang yang lebih baik dari dirinya sehingga kini dia berani memasang foto mereka berdua di akun media sosialnya.
Ingin marah, ingin cemburu. Tapi Gavin tidak tahu harus marah pada siapa selain pada dirinya sendiri.
"Gerak! Jangan cuma diam aja jadi penonton!"
"Buat apa? Dia sudah menemukan yang baru."
"Pengecut Lo, Vin. Bukankah masih ada peluang sebelum terjadi akad?"
Ya, Gavin akui memang dirinya pengecut. Lelaki sepertinya rasanya sudah tidak pantas lagi untuk mengharapkan Mikha ada di sampingnya.
Tapi, benar apa kata Bella. Tak ada salahnya jika dia mencoba untuk berjuang lagi. Sebelum ada akad, tidak ada kata terlambat.
Siapa tahu takdir berpihak kepadanya dan kembali mempersatukan mereka.
Andaikata Mikha tidak mau kembali padanya, setidaknya kata maaf dari Mikha pun akan membuatnya tenang dan merasa cukup.
***
Setelah mendesak Sena, akhirnya Gavin bisa mengetahui di universitas mana Mikha kuliah.
Tanpa beristirahat sebentar saja, dari bandara Gavin langsung ke universitas tempat Mikha kuliah.
Hanya berbekal keyakinan bahwa Mikha hari ini kuliah dan akan segera pulang, Gavin nekat menunggu Mikha sampai dia keluar.
Hampir dua jam menunggu, keyakinannya berbuah manis. Mikha keluar dari kampus bersama beberapa temannya.
Gavin sempat tertegun melihat Mikha. Dia terlihat semakin cantik dan semakin dewasa. Satu tahun lebih Gavin tak melihat wajah cantik pemilik hatinya itu. Rasanya rindu, ingin memeluk, tapi Gavin harus menahan diri untuk tidak melakukanya.
__ADS_1
"Hai, Mikha."
Langkah Mikha terhenti. Dia yang semula tak menyadari ada Gavin yang sudah berdiri di hadapannya.
Mikha tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Bahkan Mikha yang semula tertawa bersama temannya terdiam begitu saja saat melihat Gavin.
"Kamu baik-baik saja, Mikha?" tanya teman Mikha dalam bahasa Perancis.
Mikha mengangguk. "Aku baik-baik saja. Kamu bisa pergi duluan," balas Mikha dalam bahasa Perancis juga.
Teman Mikha mengangguk paham. Dia langsung meninggalkan Mikha bersama Gavin.
"Mau apa, Kak?"
"Ada yang mau kakak bicarakan."
"Gue anggap semua udah selesai. Nggak ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik Lo pergi dari hadapan gue," ucap Mikha dengan wajah datar.
"Mikha, please! Beri kakak waktu untuk bicara."
Ucapan Gavin tak dihiraukan Mikha. Mikha terus melangkahkan kakinya menjauh dari Gavin.
Gavin terus mengejar Mikha yang berlari menghindari dirinya. Hingga Mikha masuk ke dalam sebuah gedung apartemen, dan Gavin terlambat mengejar Mikha hingga akhirnya dia kehilangan jejak Mikha saat Mikha masuk ke dalam lift.
Bertanya pada resepsionis pun rasanya percuma. Mereka tidak akan memberitahukan identitas penghuni apartemen, dan tinggal di lantai berapa ke orang lain dengan mudah.
🌹🌹🌹
Mikha masih menetralkan degup jantungnya setelah dia masuk ke dalam lift. Untung saja jarak dari kampus ke apartemennya tidak terlalu jauh. Kalau tidak, Mikha tidak tau harus bagaimana atau sembunyi dimana demi menghindari Gavin.
Masih tak habis pikir, kenapa Gavin bisa tahu dimana tempat dia kuliah. Sementara satu-satunya orang lain yang tau hanya Sena dan Nathan.
Mikha menghembuskan napas dengan kasar. Sahabatnya yang satu itu memang susah kalau diminta untuk mengerem mulutnya sedikit saja.
Setelah ini, hidupnya tak akan setenang kemarin saat dia sudah bisa melupakan Gavin.
Rasanya luka itu kembali terbuka lebar. Lalu ditabur jeruk nipis di atasnya. Perih tak terkira.
Kenapa Gavin harus datang lagi saat Mikha sudah berhasil melupakan semua tentang dia? Masih belum cukupkah Gavin menyakiti hati Mikha?
***
Seperti dugaan Mikha, Mikha hidup Mikha tak pernah tenang semenjak Gavin kembali menampakkan dirinya di hadapan Mikha.
Pagi ini, Mikha kembali bertemu dengan Gavin di lobi apartemen Mikha. Entah sejak kapan Gavin ada di sana, tapi Mikha pun tak peduli akan hal itu.
Mikha memalingkan wajahnya saat Gavin tersenyum padanya. Senyum yang dulu sangat dia rindukan, nyatanya kini menjadi senyum yang menyakitkan.
"Akhirnya kamu turun. Kakak udah nunggu lama di sini."
"Nggak ada yang nyuruh Lo nungguin gue, kak. Nggak usah buang-buang waktu Lo cuma buat gue."
"Kita harus bicara sebentar saja, Mikha. Kasih kakak waktu."
"Gue nggak punya waktu. Permisi."
Mikha kembali meninggalkan Gavin begitu saja. Tak peduli jika Gavin sudah menunggu kedatangan Mikha dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Mikha tidak meminta Gavin untuk menunggunya. Yang dia minta justru Gavin pergi dari hadapannya.
Untung saja saat Mikha pulang, lelaki itu tak ada di sana. Entah sudah lelah atau memang belum datang.
Tapi Mikha bersyukur. Setidaknya sore itu dia terbebas dari Gavin yang selalu minta waktu untuk bicara.
Bagi Mikha, semua sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
***
"Yang di bawah Gavin, kan?"
"Dari mana Mbak Mia tau?"
"Udah dua hari ini Mbak lihat dia di lobi. Kemarin sore dia malah diajak ngobrol Mas Sandy di cafe apartemen."
Pantas saja kemarin Gavin tidak ada di lobi, batin Mikha.
"Ngobrolin apa? Kayak kurang kerjaan banget Kak Sandy pake ngobrol sama orang itu."
"Huss! Jangan gitu! Nggak baik. Kecewa boleh, tapi memaafkan itu lebih mulia. Lagipula memaafkan, kan, nggak harus balikan. Kayak kamu sama Gilang. Dia berhenti cari kamu karena kamu udah maafin dia, kan?"
Benar juga kata Mbak Mia, batin Mikha lagi.
Selama ini Gilang berhenti mengganggu hidupnya setelah hari itu Mikha memaafkan semua kesalahan Gilang.
"Kalau kamu nggak ada niatan untuk maafin dia, itu artinya kamu masih cinta sama dia."
"Mbak Mia sok tau!"
"Kan, memang tau. Diamnya kamu itu bukan berarti Mbak nggak tau apa-apa, ya. Diam-diam kamu masih memikirkan dia. Orang itu nggak akan bisa lupa sama orang yang pernah ada di dalam hidupnya. Kecuali di usia lima tahun ke bawah, ya. Kadang kejadian atau orang yang ada di bawah usia segitu nggak bisa kita ingat."
Mikha terdiam mendengar ucapan Mia. Mikha jadi berpikir konyol, mungkin Mia ini adalah kembaran Maulida. Yang jelas mungkin Mia ini anak dari kedua orangtuanya juga.
Mia bisa tahu dan paham dengan apa yang Mikha rasakan tanpa Mikha menjelaskan.
Atau hanya karena mereka terbiasa bersama sejak Mikha kecil. Mungkin ada ikatan batin, seperti itu.
"Bener nggak yang Mbak bilang?" tanya Mia memastikan.
Dengan cepat Mikha menganggukkan kepalanya. "Iya. Bener, kok, Mbak."
"Terus gimana sekarang? Dia nggak akan pulang sebelum bicara sama kamu loh. Kasian urusannya dia kalau sampai terbengkalai."
"Itu, kan, salah dia sendiri, Mbak. Aku nggak minta dia datang ke sini, kok."
"Tapi kita harus menghargai. Konsepnya seperti itu. Jika kita ingin dihargai, ya kita harus menghargai. Jangan sampai suatu saat ketika kamu butuh bantuan Gavin, dia tidak menghargai usaha kamu karena saat ini kamu nggak menghargai usaha dia. Yang namanya manusia nggak ada yang tahu, kan, besok kita butuh bantuan siapa?"
"Sekali lagi, memaafkan tidak harus kembali menjalin hubungan. Memaafkan itu biar kalian sama-sama tenang. Kamu sama Gilang juga tenang-tenang aja, kan, nggak ada beban nggak ada dendam sama sekali?"
Mikha mengangguk membenarkan.
"Hindari penyakit hati. Membenci orang terlalu berlebihan itu nggak baik."
Mia meninggalkan Mikha yang masih memikirkan langkah apa yang harus dia ambil setelah ini.
Haruskah Mikha menemui Gavin?
__ADS_1
🌹🌹🌹