Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 58


__ADS_3

"Sakit, Kak. Pelan-pelan bisa nggak?"


Tak henti-hentinya Mikha meminta Gavin untuk melakukannya dengan pelan. Rasa nyeri sampai kepalanya terasa pusing terasa semakin sakit saat Gavin mengompres keningnya menggunakan es batu yang dibungkus dengan handuk kecil.


Kening Mikha membiru dan sedikit benjol akibat benturan tadi. Mobil Mikha bagian depan pun rusak parah. Untung saja masih bisa dipakai untuk sampai ke hotel yang Mikha kira menjadi tempat Gavin akan bertunangan dengan wanita lain.


"Takut banget, ya, kehilangan kakak? Sampai-sampai ngebut terus nabrak sampai kayak gini," goda Gavin dengan tertawa kecil.


"Seneng, ya, lihat aku begini?" ujar Mikha dengan kesal.


"Siapa yang bilang kakak seneng? Mana ada kakak seneng lihat orang yang kakak sayangi terluka begini?"


Mikha mengulum bibirnya menahan senyuman saat Gavin berucap seperti itu.


Mikha pikir dia tidak bisa lagi merasakan kasih sayang Gavin seperti ini. Tapi ternyata Allah masih sangat baik padanya hingga diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan memperjuangkan cintanya.


Meskipun harus melalui proses yang hampir merenggut nyawanya seperti tabrakan yang terjadi tadi.


"Jadi siapa yang tunangan?"


"Manager di kantor Sena. Kebetulan calon suami managernya itu teman kakak. Sena jadiin kesempatan ini buat menyadarkan kamu yang jual mahal ini."


Mikha melengos kesal menghindari Gavin yang hendak mencubit hidungnya.


"Kakak sendiri nggak begitu kenal sama perempuan itu. Cuma demi sandiwara ya, berlagak kenal dekat gitu aja. Tapi kalau kakak tau hal itu sampai membuat kamu celaka kayak gini, mungkin kakak nggak mau mengikuti rencana Sena, sayang," lanjut Gavin.


"Tapi kalau nggak gitu kayaknya aku nggak bakalan sadar kalau aku emang nggak bisa kehilangan kakak."


"Berarti ini kakak harus senang apa sedih, dong, kalau kayak gini?"


"Nggak tau. Kalian nyebelin banget pokoknya. Emang bener-bener, ya. Pada ngeselin. Tega banget sama gue."


"Apa itu bicara sama kakak pakai gue-gue begitu?" protes Gavin yang sebenarnya sejak dulu tidak suka dengan gaya bicara Mikha kepadanya. Gavin merasa jadi orang lain saat Mikha bicara dengan bahasa Lo-Gue seperti itu.


"Fine! Enggak lagi." Mikha mengalah.


"Good girl," puji Gavin sambil mengacak rambut Mikha pelan.


"Jadi, sejak kapan Kak Gavin sama Sena bekerja sama?"


"Sejak joging waktu itu?"


Mikha membelalakkan matanya. "Jadi Kak Gavin berubah diam waktu itu nggak bener-bener marah sama aku?"


Gavin menggelengkan kepalanya.


"Ngeselin banget!!!"


Gavin tertawa kecil dan membawa Mikha ke dalam pelukannya. Rasanya tak ingin berpisah sebentar saja dengan Mikha. Sudah sejak lama Gavin merindukan dan mengharapkan momen ini terjadi dalam hidupnya lagi. Bisa memeluk Mikha dalam keadaan bahagia.


"Nikah, yuk!" ajak Gavin tiba-tiba.


Mikha mendongak seketika. Mencari keseriusan dalam ucapan Gavin lewat tatapan mata Gavin.


"Ngajak nikah apa ngajak jalan? Gitu amat lamarannya?"


"Terus mau dilamar yang gimana, Sayang? Kayaknya kakak nggak bisa lewatin banyak acara lagi. Pengen langsung nikahin kamu. Kalau bisa, sih, malam ini aja langsung. Biar nggak jauh-jauhan lagi."

__ADS_1


"Itu, sih, maunya Kak Gavin."


"Memangnya kamu nggak mau cepet-cepet nikah sama kakak?"


Mikha menunduk, kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Gavin.


"Ya, gimana, ya?"


"Gimana apanya?"


"Aku mau," jawab Mikha pelan.


"Kamu bilang apa, Sayang? Kakak nggak dengar."


"Aku mau nikah sama kak Gavin. Aku mau, Kak. Malam ini yuk. Serius ini," ucap Mikha yang membuat Gavin tak bisa menahan senyumannya.


Dia peluk lagi Mikha dengan erat.


Setelah ini Gavin akan mengatakan pada orangtuanya kalau akan segera menikahi Mikha.


Gavin berencana menikahi Mikha dalam waktu dekat. Kalau bisa, sebelum Sena menikah, Mikha dan Gavin sudah lebih dulu menikah.


🌹🌹🌹


"Kamu apakan anak saya sampai dia seperti ini, Gavin?" Wira berbicara dengan nada tinggi, menuduh Gavin adalah orang yang menyebabkan Mikha terluka.


Mikha berpamitan untuk keluar sebentar. Tapi sampai dua jam lamanya Mikha baru pulang ke rumah. Dengan keadaan dahi benjol dan membiru, diantar Gavin pula.


"Bukan salah kak Gavin, Pa. Mikha aja yang bawa mobilnya nggak hati-hati," timpal Mikha membela Gavin.


"Terus mobil kamu dimana sekarang?",


"Sudah, pa. Yang penting anak kita baik-baik saja. Terimakasih ya, Gavin," ucap Feni menenangkan Wira. Wira memalingkan wajahnya begitu saja.


"Om, Tante, saya juga mau meminta restu Om dan Tante untuk menikahi Mikha." Gavin berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Matanya melirik Mikha yang tersenyum tipis melihatnya. "Kalau bisa dalam waktu dekat," lanjut Gavin membuat Wira dan Feni terkejut.


"Kenapa harus cepat? Anak saya sudah kamu hamili apa gimana?"


"Papa!"


"Papa!"


Mikha dan Feni kompak menegur Wira.


"Masa anaknya dibilang hamil duluan. Nggak percaya sama anak sendiri?" protes Feni.


"Papa, ih. Mikha bukan perempuan kayak gitu, ya. Mikha meskipun janda tapi punya harga diri, Papa. Bisa-bisanya Papa bilang Mikha hamil duluan," imbuh Mikha yang sama tidak terimanya dengan tuduham Wira.


"Terus kenapa harus cepat? Sudah ngebet banget kalian?"


"Papa!"


"Papa!"


Lagi-lagi ibu dan anak itu kompak menegur Wira.


"Papa kayak nggak pernah muda aja. Dulu Papa juga pengen cepet-cepet nikahin Mama, kan?" Ucapan Feni membuat Wira melengos malu. Bisa-bisanya Feni menyinggung masa lalu saat Wira juga tak sabar ingin menikahi Feni.

__ADS_1


Bahkan jarak pernikahan dengan hari lamaran pun hanya sepuluh hari saja saling tidak sabarannya Wira.


Mendengar cerita sang Mama, Mikha dan Gavin pun menunduk dan menahan tawa mereka.


"Ya sudah. Terserah kalian mau nikah kapan. Bawa orangtua kamu datang ke sini buat melamar Mikha." Wira menyerah. Daripada semakin banyak dia bicara semakin banyak pula Feni menceritakan masa lalu yang bisa menjatuhkan keangkuhan Wira di hadapan Gavin.


"Baik, Om," jawab Gavin dengan semangat. "Terimakasih sudah mengijinkan saya untuk menikahi Mikha."


"Hmm. Awas kalau sampai kamu menyakiti anak saya!"


"InsyaaAllah tidak akan pernah terjadi, Om."


"Saya pegang kata-kata kamu."


"Iya, Om."


🌹🌹🌹


"Sore nanti papa sama Mama ada acara nggak?" tanya Gavin pada Yunita dan Anton di saat mereka tengah menikmati sarapan bersama.


Semalam Gavin sengaja pulang ke rumah orangtuanya agar pagi ini dia bisa langsung mengatakan niatnya untuk melamar Mikha pada orangtuanya.


Ada Gilang juga di sana yang baru semalam sampai di Indonesia. Selama ini, Gilang berada di Maroko untuk bekerja di salah satu perusahaan milik rekan kerja Anton.


Ya, jika dipikir Gilang hidup enak setelah berpisah dari Mikha, itu salah.


Pekerjaan Gilang memang masih berada di posisi nyaman meskipun hanya sebagai manager di sana. Mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama dengan karyawan lain tanpa memandang Gilang adalah anak Anton.


Bisa liburan ke Paris beberapa waktu yang lalu saja hasil reward dari perusahaan tempat dia bekerja karena berhasil meraih omzet besar saat sebuah proyek ditangani oleh Gilang.


Anton dan Yunita saling berpandangan. "Kayaknya nggak ada. Ada apa memangnya, Vin?" Anton bertanya balik.


"Kalau ada, tolong dicancel bisa kan, Pa? Untuk sore nanti saja, kok," pinta Gavin yang membuat Yunita, Anton maupun Gilang semakin bingung.


"Mau ngomong apa, sih? Ribet amat muter-muter gitu," sahut Gilang dengan nada jengah.


"Papa sama Mama antar aku ke rumah Om Wira. Aku mau melamar Mikha."


Ucapan Gavin sontak membuat mereka terkejut. Apalagi Gilang sampai tersedak makanannya sendiri.


"Mama nggak salah dengar, kan, Vin?" Yunita mencoba memastikan.


Gavin menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku serius, Ma, Pa. Semalam aku udah bilang sama kedua orangtua Mikha. Dan mereka setuju. Mereka juga meminta Papa dan mama datang ke sana untuk melamar Mikha."


"Kita berangkat nanti sore. Walaupun seandainya Papa ada janji dengan orang penting dengan proyek omzet milyaran, akan Papa batalkan demi melamar Mikha buat kamu, Gavin."


Gavin tertawa kecil mendengarnya. Sepertinya memang kedua orangtuanya sangat berbahagia jika hubungan mereka dengan orangtua Mikha membaik lagi.


Akan Gavin tebus semua kesalahan keluarganya dengan membahagiakan Mikha hingga akhir hidupnya.


Berbeda dengan Gavin, Gilang justru tampak tak berminat sama sekali dengan pembahasan mereka pagi ini.


Gilang meninggalkan sarapannya begitu saja tanpa permisi.


Gilang tahu hal ini pasti akan terjadi. Tapi dia tidak tahu rasanya akan sesakit ini.


Hati kecilnya yang masih mengharapkan Mikha terpaksa harus merelakan Mikha menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Double up. seneng, kan, kalian??? 😂😂😂 asal jangan sering-sering minta double up-nya. 🤭🤭


__ADS_2