
Pagi yang indah bagi Mikha dan Gavin. Saat keduanya membuka mata, orang yang disayang ada di depan mata.
Gavin menyelipkan rambut Mikha yang menutupi wajahnya. Memperlihatkan wajah cantik Mikha dan bibirnya yang kini tengah tersenyum padanya.
Setelah mandi bersama, Mikha dan Gavin kembali berpelukan di atas ranjang. Hanya berpelukan saja. Mereka tak melakukan lebih dari itu.
Karena semalam sudah cukup melelahkan. Ditambah lagi pagi tadi sebelum sholat subuh. Tubuh Mikha terasa pegal semua.
Memang rasanya nikmat dan ingin terus mengulangnya. Tapi Mikha tidak tahu kalau tubuhnya akan selelah ini rasanya.
Berpelukan di pagi hari yang dingin. Keduanya berbagi kehangatan di bawah selimut. Enggan untuk memisahkan diri.
"Rasanya masih kayak mimpi, Kak. Aku masih nggak percaya kalau kita udah nikah."
"Sama. Kakak juga merasa semua seperti mimpi. Kita sempat jauh hingga kakak tidak berani berharap lebih. Tapi di saat kakak pasrah, Allah punya cara tersendiri untuk mempersatukan kita."
Mikha mendongak. Memandang wajah Gavin dengan penuh cinta. "Aku cinta banget sama kakak."
"Kakak lebih mencintai kamu, Sayang," balas Gavin diakhiri dengan kecupan hangat di kening Mikha.
"Apa masih sakit?"
Mikha memandang Gavin dengan penuh tanya. "Apanya, Kak?"
"Yang semalam. Kamu nangis bilang sakit, Kak. Pelan-pelan aja, Kak. Tapi akhirnya lagi, kak. Iya, disitu aku suka. Lebih cepat, kak_"
"Iihh, Kak Gavin. Aku maluuu..."
Gavin tertawa puas melihat Mikha yang menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu saat Gavin menirukan racauan Mikha semalam.
"Kakak beruntung banget, ya, Mikha."
"Beruntung kenapa?"
"Yang kakak nikahi itu janda. Tapi dia masih ting-ting. Kayaknya cuma ada satu banding sepuluh di dunia ini."
"Ih, masa yang dipikirkan cuma itu! Jadi kalau aku udah nggak peraw*n kakak nggak beruntung gitu?"
Melihat Mikha kesal, Gavin terkekeh pelan. "Enggak, Sayang. Itu bonus. Bagaimanapun kamu kakak akan tetap mencintai kamu. Yang buat kakak merasa beruntung, kakak akhirnya bisa dicintai lagi sama kamu, dimaafkan lagi setelah apa yang pernah kakak lakukan. Kakak nggak akan berhenti meminta maaf untuk semua kesalahan kakak yang dulu, Sayang. Maafkan kakak."
"Aku bahkan sudah melupakan semuanya saat aku mengira kalau kakak akan bertunangan dengan orang lain. Kakak tau apa yang aku pikirkan saat aku mengira kakak akan bertunangan dengan orang lain?"
Gavin menggeleng sebagai jawaban.
"Mungkin aku nggak pantas dicintai. Nggak ditakdirkan untuk bahagia bersama orang yang aku cintai. Tapi ternyata Allah nggak sejahat itu. Dia tahu orang yang aku butuhkan untuk hidupku. Allah tahu siapa yang terbaik untukku, bagaimanapun kesalahan dia dulu."
Gavin merasa bahagia mendengar untaian kata yang terdengar indah di telinganya.
Tak bisa lagi menahannya, Gavin mengecup bibir Mikha. Cukup lama lidah keduanya saling membelit. Hingga Gavin merasa miliknya kembali bereaksi.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" Gavin mengulang kembali pertanyaannya.
Mikha menggelengkan kepalanya dengan jantung yang berdegup kencang. "Udah nggak terlalu."
"Dua kali lagi masih bisa, ya?"
Mikha tertawa kecil. Dan akhirnya dia pun tak bisa menolak saat Gavin mulai aktif menggerakkan tangannya menyentuh titik-titik sensitif pada tubuh Mikha yang mulai dihafalkan oleh Gavin.
Belum ada setengah hari, tapi Mikha sudah keramas dua kali.
***
Masih memakai gaun tidurnya, Mikha sudah berdiri di depan kompor demi menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk keduanya.
Agaknya romansa pengantin baru membuat mereka lupa makan. Kebutuhan batin sepertinya lebih mendesak daripada kebutuhan lahir.
Seperti tak ada hari esok saja. Mohon dimaklumi! Namanya juga pengantin baru. Apalagi mereka hanya berdua saja di apartemen. Tanpa khawatir ada yang mengganggu.
Mereka sengaja mematikan handphone mereka. Yakin kalau akan ada banyak orang yang menghubungi dan menanyakan keberadaan mereka.
Sedang tidak ingin diganggu. Dan mematikan handphone adalah pilihan yang terbaik.
Gavin tak henti-hentinya memandang keindahan tubuh Mikha yang bergerak kesana kemari menyiapkan makanan.
Rasanya ingin terus memeluknya tapi dia sadar kebutuhan mereka bukan hanya soal ranjang saja. Gavin juga tidak ingin dianggap pria mesum yang isi pikirannya hanya soal ranjang meskipun sebenarnya iya. Inginnya memeluk Mikha setiap saat.
Dua buah telur dadar dan nasi yang sudah diberi kecap sudah tersaji diatas meja. Mikha tanpa ragu menyerahkan masakannya yang sangat sederhana itu ke hadapan Gavin.
"Nggak apa-apa, Sayang. Apa yang kamu masak semua kakak makan."
Mikha tersenyum senang saat Gavin mulai mencampur kecap dengan nasi, lalu memakannya dengan lahap. Entah karena memang enak, atau terpaksa karena dia sedang lapar.
🌹🌹🌹
Mikha terlihat bingung saat Gavin mengambil banyak buah dan sayur yang berupa kacang-kacangan.
Ada pisang, alpukat, strawberry, kacang almond, kacang panjang, dan juga tauge.
Troli belanja mereka sebagian besar didominasi oleh buah dan sayuran.
"Nggak salah belanja sayur sebanyak ini, kak? Kita cuma berdua loh. Sayang kalau nggak habis seminggu."
"Mulai sekarang perbanyak makan sayuran dan buah-buahan begini, ya, sayang." Gavin menatap Mikha dengan lekat. Padahal mereka masih ada di tengah-tengah supermarket yang cukup ramai sore ini. "Biar bisa cepat hamil," bisik Gavin membuat seluruh tubuh Mikha meremang.
Mikha mengulum bibirnya menahan senyuman. Membayangkan dirinya hamil dari benih milik Gavin. Melahirkan anak-anaknya bersama Gavin yang lucu-lucu.
"Usaha buat hamil nggak cuma makan-makanan sehat, Kak."
"Terus apa lagi yang harus dilakukan?"
__ADS_1
"Ya gitu, deh." Mikha berniat menggoda, tapi justru dirinya sendiri yang merasa malu.
Dan akhirnya dia pun berjalan mendahului Gavin karena terlanjur malu dengan apa yang dia ucapkan.
Gavin terkekeh pelan melihat tingkah istrinya.
***
Gavin memperhatikan Mikha yang memisahkan sayur-sayuran yang mereka beli, lalu memasukkan ke dalam food container.
"Biar apa, sih, yang, dipisah-pisahkan begitu? Bukannya masuk kulkas saja udah cukup?"
"Ini namanya food preparation, Kak. Jadi sayur-sayuran ini akan lebih awet kalau cara menyimpannya benar. Di kulkas nantinya juga terlihat rapi dan bersih. Nggak berantakan."
"Darimana kamu tahu soal itu, Sayang?"
"Ya belajar, dong, Kak. Masih banyak sebenarnya ilmu soal perdapuran yang mulai aku pelajari sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi pelan-pelan ajalah nanti dipraktekkan. Sementara ini dulu aja."
"Pinter banget, sih, istri kakak ini." Gavin memeluk Mikha dari belakang dan menciumi rambut serta leher jenjang Mikha sampai Mikha kegelian dibuatnya.
Mikha membalikkan tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan. Tinggi badan Mikha yang hanya sebatas dada Gavin membuat Mikha harus mendongak untuk menatap wajah Gavin. "Aku belajar jadi seorang ibu rumah tangga, kak. Aku sadar setelah aku menikah, yang aku urusin bukan cuma hidup aku sendiri. Tapi ada suami dan nantinya juga akan ada anak-anak yang aku urusin."
"Kakak nggak pernah menuntut kamu untuk serba bisa, Sayang. Semampu kamu. Kakak nggak akan memaksa karena setiap orang pasti memiliki kekurangan. Peran ibu rumah tangga jangan kamu jadikan sebagai beban, ya. Lakukan semampu kamu, jangan dipaksa. Tetap lakukan sesuai dengan kesukaan kamu. Asal kamu nggak pernah lupa dengan tanggungjawab dan kewajiban kamu."
Mikha menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Masih Maghrib, tanggung banget kalau sekarang, ya?"
"Apanya?" Mikha mengangkat kedua alisnya. Memandang wajah Gavin dengan penuh tanya.
"Kamu nggak ngerasain, Yang?"
"Apa, sih, Kak?" Mikha menahan tawa. Tentu saja dia merasakan apa yang dimaksud Gavin. Tidak perlu kan, Mikha gambarkan bagaimana rasanya dan juga bentuknya?
"Habis Maghrib boleh-lah, Yang?"
"Apa? Udah lapar, ya? Nanti habis Maghrib aku siapin makanan yang kita beli tadi, ya."
Gavin mencubit hidung Mikha dengan gemas. "Emang paling bisa kamu kalau godain kakak," ucapnya sambil menjauhkan tubuhnya dari Mikha.
"Pakai yang merah, ya, Sayang," teriak Gavin dari dalam kamar.
"Kan, semalam udah yang merah."
"Kalau gitu nanti malam yang hitam," sahut Gavin membuat Mikha tak bisa menahan senyumannya.
Pipinya memanas membayangkan... Ah, sudahlah. Cukup Gavin dan Mikha saja yang tahu. Manusia lain tak perlu tahu soal itu.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Romansa pengantin baruuu. masih pagi ini. 😂😂😂