
Wira tak peduli lagi soal perjodohan yang telah diwasiatkan. Untuk apa menjalankan wasiat itu kalau hanya akan menyakiti anaknya. Ayah Wira yang sudah meninggal pasti juga bisa melihat bagaimana hidup Mikha setelah menikah dengan Gilang. Cucunya tidak bahagia.
Bahkan kedua orangtua Gilang yang sebelum Gilang menikah dengan Mikha sudah mereka anggap seperti keluarga, tega menyembunyikan kenyataan besar yang sangat menyakiti keluarga Wira.
Kepergian anak sulungnya yang disebabkan oleh perbuatan Gilang dan dia tidak mau bertanggungjawab.
"Saya sangat marah dan kecewa dengan apa yang sudah kalian lakukan. Sudah tau anak kalian berbuat salah. Kenapa masih dilindungi, hah?"
"Kami sudah hampir datang ke sini untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Gilang, Wir. Tapi Gilang justru kabur ke luar negeri. Saat kami sedang berusaha untuk membawa Gilang pulang, kami sudah mendengar kabar kepergian Maulida."
"Omong kosong!!!" teriak Wira dengan penuh amarah. "Harusnya saat itu juga kamu bawa anak kamu itu ke sini. Bukan malah lengah sampai dia kabur."
Anton membenarkan dalam hati. Ya, harusnya dia tidak lengah dengan melepaskan Gilang begitu saja sampai akhirnya dia kabur.
Tapi saat itu juga bersamaan dengan ayah Anton sendiri yang sedang kritis dan akhirnya meninggal tidak lama setelahnya.
Hal itu dijadikan kesempatan untuk Gilang kabur ke luar negeri. Bahkan saat kakeknya meninggal pun dia tidak datang untuk melihat kakeknya untuk yang terakhir kalinya.
"Tidak cuma itu, Anton. Anakmu juga telah selingkuh. Bermain api di belakang anakku."
"Kalau masalah selingkuh, bukan cuma aku yang selingkuh, Pa." Gilang menimpali, membela diri.
"Apa maksud kamu?" Tatapan tajam dari Wira dilayangkan kepada Gilang.
Mikha pun yang semula hanya menunduk kini mengangkat wajahnya dan menatap Gilang.
"Mikha selingkuh dengan Gavin."
Tentu saja semua orang terkejut mendengar ucapan Gilang. "Dia bohong, Pa," sahut Mikha membela diri.
Tak peduli dengan pembelaan yang dilakukan Mikha, Gilang melanjutkan ucapannya. "Mama Feni ingat waktu Mikha nggak pulang? Itu karena dia menginap di rumah Gavin. Bukan di rumah temannya seperti yang dikatakan Mikha dulu. Aku nggak yakin kalau di sana mereka berdua nggak ngapa-ngapain. Menurut kalian, apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang saling cinta ketika mereka hanya berdua saja di dalam apartemen?"
"Mikha?" Feni menatap putrinya. Tak menyangka kalau Mikha melakukan hal ini.
"Enggak, Ma, Pa." Mikha menggelengkan kepalanya. "Itu fitnah. Aku sama kak Gavin nggak ada hubungan apa-apa. Oke, aku jujur kalau malam itu aku memang menginap di tempat kak Gavin. Tapi aku berani sumpah, Ma, Pa, kalau aku sama kak Gavin nggak ngapa-ngapain. Dia tidur di luar, kok."
"Bohong! Gimana kalau kita cek Mikha masih virgin atau enggak? Selama ini kan, kita berdua nggak ngapa-ngapain. Tidur juga beda kamar."
"Eh, jangan sembarangan ngomong Lo, ya! Gue masih punya harga diri. Nggak kayak Lo yang hobi nurunin celana di depan sekretaris Lo itu."
"Kalau Lo emang masih virgin, Lo nggak akan nolak buat di tes di rumah sakit."
"Oke. Siapa takut? Kalau perlu sekarang juga kita ke rumah sakit."
__ADS_1
"Stop! Berhenti berdebat kalian berdua!" Wira berteriak keras, menghentikan perdebatan antara Gilang dan Mikha.
Perdebatan yang sepenuhnya membuka rahasia di rumah tangga mereka.
Mikha masih gadis, Gilang tak pernah menyentuhnya, juga mereka yang pisah kamar.
Semua hal yang mereka tutupi selama ini mereka bongkar sendiri di hadapan para orangtua.
Baik kedua orangtua Mikha maupun Gilang terperangah mendengar apa yang dibicarakan anak mereka tentang bagaimana rumah tangga itu berjalan.
"Mikha, benar kamu ada hubungan dengan Gavin?"
Mikha menggeleng tegas. "Enggak ada hubungan apa-apa, Pa."
"Tapi Lo cinta sama Gavin, kan?"
Tangan Mikha terkepal mendengar pertanyaan Gilang yang semakin menyudutkan dirinya. "Kalau iya memangnya kenapa?" Tantang Mikha dengan jawaban tegasnya. "Kenapa kalau gue cinta sama Kak Gavin, hah? Dia jauh lebih baik dari Lo. Saat ada di dekat dia, gue diperlakukan seperti ratu. Gue bahagia ada di dekat dia, gue nyaman sama dia. Terus kenapa? Ada masalah? Yang penting gue nggak buka baju gue buat lelaki yang bukan suami gue, Lang. Sekalipun gue cinta sama dia. Nggak kayak Lo!"
Pandangan Mikha beralih kepada kedua mertuanya. "Pa, Ma, kenapa harus Gilang?"
"Maksud kamu apa, Nak?" tanya Yunita dengan lembut. Dia begitu menyayangi Mikha seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
"Papa sama Mama tau Gilang udah menghancurkan hidup kakakku. Tapi kenapa masih menjodohkan Gilang dengan aku?"
"Lalu kenapa bukan Kak Gavin, Pa? Kenapa harus Gilang? Bukannya kak Gavin juga anaknya Papa?"
Anton dan Yunita hanya bisa diam mendengar pertanyaan Mikha. Mereka tak ingin mengatakan kalau Gavin bukan anak kandung Anton. Bagaimanapun juga Anton sudah menganggap Gavin seperti anak kandungnya, sama seperti Gilang.
Anton tak ingin menyebut Gavin bukan anak kandungnya. Hatinya menolak menyebut Gavin bukan anaknya.
"Bukan, Kha."
Semua mata tertuju pada lelaki yang berdiri tak di ambang pintu.
"Aku bukan anak dari Papa Anton."
Mikha terperangah mendengar. Sekian bulan menjadi bagian dari keluarga Anton, Mikha tak pernah tau tentang hal sebesar ini.
Kini, Mikha tau jawabannya kenapa bukan Gavin yang dijodohkan dengan dirinya. Itu karena Gavin bukan anak kandung Anton. Bukan keturunan Suryo.
"Kenapa kak Gavin nggak pernah mengatakan hal ini ke aku?" Mikha menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk meredakan emosi yang mulai merajai hatinya.
Mikha beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya. Semua orang membuatnya kecewa. Menyembunyikan hal sebesar itu dari dirinya. Bahkan Gavin sendiri tak pernah mengatakan hal ini kepadanya.
__ADS_1
Tak dia pedulikan mereka yang terus memanggil nama Mikha. Pembicaraan mereka belum selesai. Tapi Mikha sudah pergi begitu saja.
"Saya sendiri yang akan memastikan perceraian Gilang dan Mikha bisa berlangsung cepat. Ingat Anton! Saya tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga anda. Dan kamu Gavin, tinggalkan Mikha! Saya tidak akan pernah membiarkan anak saya kembali masuk ke keluarga kalian."
Wira meninggalkan ruang tamu dan memberi kode pada Feni agar mengikuti langkahnya. Menyisakan Anton dan keluarganya di sana.
Tindakan Wira meninggalkan ruang tamu Anton anggap sebagai bentuk pengusiran. Meskipun tak berucap apapun, Anton dan Yunita paham bahwa diamnya mereka adalah sebuah tanda agar keluarga Anton untuk meninggalkan kediaman Wira.
***
Wira sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang pendendam. Tapi Wira sudah tidak ingin lagi berurusan dengan orang yang sudah menyakiti keluarganya.
Perbuatan Gilang memang tidak bisa dimaafkan. Menuntut Gilang atas kematian Uli pun tidak bisa. Yang bisa dimintai pertanggungjawaban pidana hanya orang yang terlibat langsung terhadap kematian seseorang.
Jadi seseorang tidak dapat dituntut pidana karena menjadi alasan bunuh dirinya orang lain. Orang itu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena ia bukanlah orang yang terlibat langsung terhadap kematian orang tersebut. Bahkan tidak mengetahui bahwa seseorang itu bunuh diri.
Apapun yang akan Wira lakukan pun tidak akan membuat Uli kembali ke dunia. Hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah menjauhkan Mikha dari keluarga Gilang dan tidak lagi berurusan dengan mereka. Dalam hal apapun.
Wira hanya bisa berdoa semoga Gilang mendapatkan hukumannya sendiri.
Jika hukum di dunia tidak bisa menghukumnya, hukum akhirat masih bisa bekerja.
"Kamu jauhi Gavin, ya. Jangan lagi berurusan dengan dia."
"Kenapa, Pa? Kak Gavin nggak salah apa-apa loh. Bahkan dia sendiri yang bantuin Mikha buat mengungkap semua perbuatan Gilang." Bahkan di saat hatinya kecewa dengan Gavin pun Mikha masih bisa membela Gavin di hadapan kedua orangtuanya. Mempertahankan perasaannya pada Gavin seorang.
Satu dari banyaknya impian yang Mikha miliki adalah hidup bersama orang yang dia cintai. Yaitu Gavin. Jika saat ini papanya meminta dirinya untuk menjauhi Gavin, lalu bagaimana dengan mimpinya itu?
"Dia bagian dari keluarga Anton, Mikha. Kita harus berhenti berurusan dengan mereka."
"Masalah kita sama Gilang dan kedua orangtuanya, Pa. Bukan dengan kak Gavin."
"Nurut sama Papa, Mikha. Di luar sana masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari Gavin."
Mikha tertawa sinis. Menertawakan hidupnya yang seolah harus terus berada dalam garis keinginan kedua orangtuanya.
"Silahkan atur hidupku semau Papa dan Mama. Aku nggak dikasih kesempatan untuk mencari kebahagiaan aku sendiri, kan? Fine! Silahkan lakukan apapun yang Papa mau atas hidupku."
Mikha urung untuk menyantap makan malamnya. Sepiring nasi yang belum tersentuh sama sekali pun sudah tidak menarik lagi bagi Mikha yang tengah merasa lapar sebelum papanya bicara.
Mendadak rasa laparnya menghilang begitu saja setelah mendengar papanya bicara dan memintanya untuk menjauh dari Gavin.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Lagian buat apa, sih, Gavin pakai datang segala??? 😩😩🤣🤣