
Musim liburan telah tiba. Tapi seperti yang pernah dikatakan Mikha, dia tidak akan pulang ke Indonesia sebelum lulus kuliah.
Meskipun Sena sudah rewel memohom agar Mikha pulang, tapi Mikha belum menurutinya. Masih ada waktu kurang lebih satu setengah tahun lagi untuk Mikha pulang ke Indonesia.
"Lo nggak kangen Indonesia, Papa sama mama Lo, atau mungkin gue gitu?"
Mikha tertawa kecil. "Lo tau gue udah biasa pisah sama orangtua gue. Lagipula mereka juga sering ke sini. Terhitung udah tiga kali mereka ke sini selama satu semester gue kuliah. Sayang, ya, Lo nggak bisa ikut. Nggak bisa apa cuti seminggu gitu? Kalau kangen Indonesia, gue rasa gue cuma kangen sama makanannya, Sen."
"Sama gue nggak kangen?"
"Emmm..." Mikha terlihat berpikir. "Cuma dua puluh persen kayaknya," lanjutnya membuat Sena mengerucutkan bibirnya.
"Tega banget Lo kayak gitu ke gue."
Mikha tertawa lagi.
"Dalam sebulan gue cuma bisa cuti dua hari. Dan kesempatan itu gue kumpulan di akhir tahun biar bisa cuti lama. Lumayan kan, tiga Minggu lebih. Bisa ke Paris dan lama-lama di sana numpang hidup sama Lo."
"Enak banget Lo! Gue aja di sini dihidupin sama Papa Mama gue."
Tawa Sena berderai. "Eh, Kha!"
"Hmm..."
"Yang duduk di sofa belakang Lo itu siapa? Kayaknya gue kenal."
Mikha menoleh ke belakang. Melihat ke sofa di mana Nathan sedang duduk di sana bersama Sandy.
Mikha langsung memutar tubuhnya beserta laptopnya agar Sena tak bisa lagi melihat sekeliling apartemennya. Cukup Sena melihat tembok yang ada di belakang Mikha.
"Suami Mbak Mia itu."
"Orang ada satu lagi. Gue nggak asing sama itu orang."
"Ih, kepo, deh."
Sena mencebikkan bibirnya. "Gitu, ya, sekarang? Mainnya rahasia-rahasiaan. Tau aja kalau gue nggak bakalan cari tau karena jarak kita jauh kayak gini."
Mikha tertawa keras. Hal itu mengundang pandangan Sandy dan Nathan secara bersamaan. Mikha menghentikan tawanya dan menutup bibir dengan tangannya.
"Cuma temen, Sena. Bukan siapa-siapa."
"Kalau ketawa di atur, dong, Mikha. Nggak malu ada Nathan? Perempuan, kok, ketawanya kayak gitu," timpal Mia yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa cemilan untuk Sandy dan Nathan yang mengobrol tentang bisnis. Entahlah, Mikha belum ingin bergabung dengan obrolan orang-orang yang lebih berpengalaman tersebut.
Padahal, dia tau kalau setelah pulang dari Paris, dia akan menjadi CEO di perusahaan Wira.
"Nathan? Pak Nathan bukan?" pekik Sena setelah mendengar nama Nathan di sebut.
"Pak Nathan siapa?" Mikha berpura-pura tidak tahu.
Yang merasa memiliki nama tersebut menoleh dan menatap Mikha dengan penuh tanya saat mendengar namanya disebutkan berkali-kali.
"Jangan-jangan Pak Nathan bos gue lagi. Dia juga lagi ada di Paris sekarang. Bener, kan, dugaan gue nggak salah? Wajahnya nggak asing, kok."
"Bos?" Mikha memastikan dan Sena pun mengangguk pasti.
"Oh, hai, Sena!" ucap Nathan yang entah kapan sudah berdiri di dekat Mikha.
__ADS_1
"Pak Nathan! Bapak pacarnya sahabat saya, ya?"
"Belum. Doain aja."
Sena berteriak histeris. Sedangkan Mikha memandang Nathan dengan penuh tanya. Jantungnya berdegup kencang mendengar percakapan Sena dan Nathan.
"Gila, ya, Mikha. Gandengannya sultan semua. Dari yang udah cerai, mantan pacar sampai calon pacar juga sultan. Eh!" Sena refleks menutup mulutnya setelah sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Buru-buru Mikha menutup laptopnya dan sambungan video call dengan Sena terputus. Hal itu lebih baik sebelum Sena berbicara banyak dan membuka semua masa lalu Mikha yang belum diketahui oleh Nathan. Apalagi dengan statusnya yang janda.
"Aku udah tau semuanya, kok. Kamu tenang aja, nggak usah panik begitu," bisik Nathan.
Mikha menunduk malu. "Maaf. Bukan maksudku untuk menyembunyikan itu dari kamu. Sampai kapanpun aku tidak bisa menutupi masa laluku. Hanya saja, aku butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku dengan tidak mengungkit semuanya. Lagipula, aku rasa itu nggak penting, kok. Kita cuma teman."
"Kalau aku mau kita lebih dari teman gimana? Aku pengen kamu jadi istri aku. Kamu mau, kan?"
Pertanyaan Nathan membuat Mikha terdiam. Menatap kedua mata Nathan, mencari tahu apakah yang Nathan ucapkan itu sungguh-sungguh atau tidak.
Mikha kemudian melirik Mia dan Sandy yang tengah melihat mereka berdua. Pasti mereka juga mendengar apa yang dikatakan Nathan.
"Maaf. Aku nggak bisa." Mikha segera beranjak dan masuk ke dalam kamarnya.
Mengunci pintunya tanda bahwa dia tidak ingin diganggu.
Nathan orang yang baik. Selama ini dia juga sangat memanjakan Mikha dalam segala hal.
Tapi rasa yang ada di hati Mikha tak lebih dari sekedar teman. Entah karena masih terjebak masa lalu atau memang Mikha tidak siap untuk memulai lagi.
Mungkin luka yang ditorehkan Gavin terlalu dalam. Hingga dia lupa bagaimana cara mencintai orang yang baru.
"Kak, maaf kalau aku sudah lancang bicara seperti itu."
"Kalau kamu sudah tau kisah hidup Mikha, seharusnya kamu paham sedalam apa luka yang Mikha rasakan. Dia hanya butuh waktu, Nath. Biarkan dia sendiri dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri setelah masa lalunya kembali diungkit."
"Iya, Kak."
Mikha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Harusnya jika dia sudah tidak ada rasa dengan Gavin, tidak akan jadi masalah ketika Sena mengatakan masa lalu Mikha.
Ini bukan salah Sena. Tapi ini salahnya sendiri yang tak bisa mengontrol emosinya.
[Mikha, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sengaja ngomong kayak gitu. π₯Ίπ₯Ί]
Mikha tersenyum tipis membaca pesan dari Sena.
Tangan Mikha dengan cepat mengetik balasan untuk Sena.
[Enggak apa-apa, Sen. Semua baik-baik saja.]
***
Sejak hari itu, hubungan Mikha dan Nathan sedikit renggang. Bukan Nathan yang menjauh, tapi Mikha yang menghindar dari Nathan.
Bukan hanya karena statusnya yang sudah diketahui oleh Nathan, tapi juga karena Nathan yang sempat meminta dirinya untuk menjadi calon istri Nathan.
Mikha belum bisa. Dan takut Nathan akan semakin berharap kalau sikapnya dengan Nathan masih sama seperti dulu.
__ADS_1
Sudah Mikha katakan jika Mikha tidak bisa menjalin hubungan dengan Nathan.
Harusnya Nathan paham jika lebih baik dirinya menghindari dari Mikha. Tapi yang Nathan lakukan justru semakin membuat Mikha merasa bersalah.
Mikha menyesal terlalu cepat mengakrabkan diri dengan Nathan. Harusnya dia bisa sedikit memberi batasan agar Nathan tidak terlalu jauh masuk ke dalam kehidupannya.
Sudah dua kali Nathan berkunjung ke Paris. Itu berarti sudah empat bulan lamanya, terhitung sejak hari itu waktu di apartemen Mikha. Mikha belum juga mau diajak bertemu. Mikha akan terus menghindar jika Nathan datang ke kampus Mikha, atau menunggu Mikha di depan apartemen atau di lobi apartemen.
Mikha tidak tahu lagi bagaimana cara dia untuk terus menghindar. Hingga satu postingan Nathan membuat hatinya sedikit luluh.
8.725 suka
Nath92_ I Miss you so bad β€οΈ
πΉπΉπΉ
"Hai!"
Nathan menoleh mendengar suara lembut yang dia rindukan selama ini.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman ketika melihat Mikha berdiri di hadapannya. "Mikha," ucapnya dengan rasa tak percaya. Sangat sulit dipercaya Mikha berdiri di hadapannya mengingat selama ini Mikha selalu menghindar darinya.
Tapi kali ini nyata. Mikha ada di hadapannya. Berdiri, dan tersenyum manis sembari menatap Nathan.
"Akhirnya kamu mau menemui aku, Mikha. Kenapa selama ini menghindar?"
"Aku takut kamu berharap. Mungkin aku terlalu percaya diri. Tapi, you know i can't."
Nathan tertawa kecil. "Aku paham. Aku mengerti hal itu nggak mudah buat kamu. Maaf kalau aku terlalu cepat mengatakan hal itu. Boleh aku peluk kamu?"
Mikha tertawa kecil. Merentangkan kedua tangannya pertanda bahwa dia mengabulkan permintaan Nathan.
Nathan pun ikut tertawa. Dia berjalan ke arah Mikha dan membawa Mikha ke dalam pelukannya. "Kangen cilok nggak?"
Mikha terkekeh geli. "Kangen banget."
"Kita jemput Mang Asep di apartemenku."
"Memangnya kamu ajak dia lagi?"
"Iya. Waktu aku ke sini dua bulan yang lalu juga bawa dia. Sayangnya kamu nggak mau ketemu aku. Jadi aku cuma minta dimasakin makanan kesukaan kamu itu, terus aku titipkan ke Kak Mia."
"Tapi waktu itu Mbak Mia bilang kalau yang masak dia."
"Aku yang minta biar dia ngomong kayak gitu."
"Pantesan. Aku pikir nggak mungkin yang masak Mbak Mia. Orang rasanya aja khas masakan Mang Asep, kok."
"Terus kamu gimana waktu itu?"
"Ya diam aja. Pura-pura percaya aja gitu."
"Haha. Dasar!" Nathan mengacak rambut Mikha. Membuat Mikha sedikit kesal karena rambutnya berantakan.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
Ada yang punya ide visual mereka siapa? kalau ada boleh DM di Ig ya ππ @dhee.author