
Rindu yang paling berat adalah rindu pada orang yang jasadnya sudah terkubur di dalam tanah.
Rindu itu tidak akan pernah tuntas. Hanya lantunan doa, berharap bisa membawanya datang ke alam mimpi. Sebentar saja. Sebentar saja Mikha ingin memeluk Nathan meskipun hanya dalam mimpi.
Selama ini, Mikha hampir tak pernah bermimpi tentang Nathan. Sekalipun untuk sebuah isyarat bahwa Nathan tengah tidak baik-baik saja.
Semuanya seolah begitu kompak membodohi Mikha hingga dia tak merasakan apapun pada hati dan perasaannya saat Nathan kesakitan ataupun menghembuskan napas terakhirnya.
"Kenapa harus aku? Kenapa harus Nathan? Apa aku tak pantas bahagia? Semua orang menyakitiku. Dia yang tulus pun Kau ambil lagi, ya Allah. Apa salahku?" batinnya memprotes takdir yang telah digariskan untuknya. Air matanya kembali menetes.
Mikha tak peduli betapa berantakan dirinya saat ini. Rambut acak-acakan, mata sembab, bibir pucat, Mikha tak peduli.
Yang dia harapkan hanya Nathan ada di dekatnya. Sebentar saja hanya untuk memeluk dan mengucapkan kata cinta untuknya.
"Kamu sok tau, Nath. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau aku belum mencintai kamu sepenuhnya kalau kamu saja telah membawa seluruh hatiku pergi? Bahkan aku nggak tau setelah ini aku bisa mencintai seseorang lagi atau tidak. Hati aku sudah terlalu sering sakit, Nathan. Ku pikir kamulah obatku. Tapi ternyata kamu juga ninggalin aku."
Pandangan mata Mikha kosong menatap langit malam kota Jakarta.
Tadinya, dia pikir dia bisa melihat bintang bersama Nathan. Tapi kenyataannya, Nathan-lah salah satu bintang yang dia pandang saat ini.
***
Gavin masih setia menunggu Mikha yang sejak selesai menangis di pelukannya hanya diam dan tak bersuara sedikitpun.
Gavin diam tak mengusik Mikha sama sekali. Dia paham betul bahwa saat ini Mikha masih ingin sendiri. Gavin hanya mengawasi Mikha, takut Mikha berbuat hal-hal nekat yang akan membahayakan dirinya sendiri.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Wira setengah berbisik. Dia pun tak ingin mengganggu Mikha.
"Tapi Mikha bagaimana, Om?" Gavin menyuarakan kekhawatirannya jika meninggalkan Mikha seorang diri. Feni dan yang lainnya sedang mencari makan malam di luar rumah sakit.
"Kita buka pintunya. Hanya di depan kamar saja, tidak usah jauh-jauh."
Gavin mengangguk mengerti. Sebelum dia keluar mengikuti Wira, Gavin memastikan bahwa di dekat Mikha tidak ada benda-benda yang mungkin bisa membahayakan Mikha.
Wira berdeham kecil sebelum memulai percakapannya dengan Gavin. Rasanya masih sangat sulit jika Wira merelakan Mikha masuk lagi ke dalam keluarga Anton.
Tapi melihat kondisi Mikha sekarang, tidak ada yang bisa Wira lakukan selain membiarkan Gavin kembali mendekati Mikha. Barangkali Gavin bisa membuat Mikha bahagia seperti yang pernah dia lakukan dulu.
"Bahagiakan anak saya!"
__ADS_1
Hanya tiga kata, namun sanggup membuat Gavin terperangah. Seperti sebuah mimpi indah mendengar Wira berkata seperti itu.
Meskipun Gavin sempat menyesalkan, kenapa baru sekarang? Setelah Mikha mengalami banyak hal yang pahit di dalam hidupnya.
"Terimakasih untuk kesempatan yang Om berikan untuk saya. Saya akan berusaha membahagiakan Mikha, Om."
"Lakukan yang terbaik! Jika sekali saja anak saya kamu sakiti lagi, saya bersumpah akan membunuh kamu saat itu juga."
Gavin mengangguk mengerti. Dia akan berusaha membahagiakan Mikha. Tapi yang perlu dia lakukan sekarang adalah bagaimana Mikha sembuh dulu dari luka yang dia rasakan setelah kehilangan Nathan.
Gavin tahu, setelah ini akan sulit baginya untuk mendapatkan hati Mikha lagi.
Tapi tak masalah. Hal itu tak menyurutkan semangat Gavin untuk bisa mengambil hati Mikha kembali.
"Aku sudah tidak butuh orang lain lagi untuk membahagiakan aku, Pa."
Gavin dan Wira sama-sama menoleh ke arah pintu. Sejak kapan Mikha berdiri di ambang pintu? tanya mereka dalam hati.
"Aku bisa bahagia dengan caraku sendiri," imbuh Mikha.
Kedua matanya kemudian menatap Gavin dengan lekat. "Kak Gavin, terimakasih sudah menjadi Nathan selama beberapa bulan ini. Terimakasih sudah mau berusaha buat gue bahagia. Tapi itu semua nggak perlu Lo lakukan lagi buat gue. Lo bisa pulang sekarang! Gue baik-baik aja."
"Pulang!" sela Mikha dengan berusaha menyunggingkan senyumnya. Menunjukkan bahwa dia memang baik-baik saja.
Setelahnya, Mikha langsung masuk kembali ke kamar rawatnya dan menutup pintunya.
Gavin menyerah untuk saat ini. Memang belum saatnya. Mikha masih butuh waktu untuk menerima semuanya.
🌹🌹🌹
Angin di pagi menjelang siang hari ini berhembus pelan. Memberi kesejukan di tengah panasnya kota Jakarta.
Memakai dress katun berwarna putih serta selendang dengan warna yang sama, lalu berkaca mata hitam, Mikha berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam Nathan.
Sebuket bunga dan satu keranjang bunga tabur sudah ada di tangannya.
Dia sangat merindukan Nathan-nya. Berkali-kali memintanya untuk hadir ke dalam mimpi, tapi tak sekalipun Nathan hadir.
Justru Gavin yang lebih sering mampir ke dalam mimpinya. Aneh, tapi Mikha tak bisa menolak dan memilih apa dan siapa yang hadir dalam tidurnya sendiri.
__ADS_1
Mikha meletakkan bunga yang dia bawa ke dalam vas kecil di samping nisan Nathan. Lalu menabur bunga di atas makamnya.
Tangannya mengusap nama Nathan yang tertulis di sana. "Hai, lagi apa di sana? Nggak kangen aku, ya?" tanya Mikha.
Sayang, tak ada jawaban yang dia dapatkan dari pertanyaannya. Hanya angin yang menerpa wajahnya dan ranting pohon yang bergesekan yang dia dengar.
"Padahal aku kangen banget sama kamu loh." Mikha tertawa kecil. Berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Ini kayak nggak adil, ya? Aku tahu kamu bisa lihat aku. Tapi aku nggak bisa lihat kamu."
"Nathan, tolong datang ke mimpiku! Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja."
Setelah beberapa saat duduk dan berbicara sendiri di makam Nathan, Mikha mulai beranjak dari sana. Hari semakin siang, matahari semakin terik menerpa kulit putih Mikha.
"Aku pulang, ya. Jangan lupa untuk datang ke mimpiku," pamitnya lalu melangkah pergi dengan langkahnya yang terasa berat. Enggan untuk berjauhan dari Nathan.
Setelah dari makam Nathan, Mikha juga akan pergi ke makam Maulida yang letaknya berbeda blok dengan Nathan.
Mikha harus berjalan sekitar seratus meter untuk sampai ke makam Maulida.
Saat Mikha memasuki blok makam Maulida, dari kejauhan dia melihat Gavin duduk di sebuah makam. Makam itu bukan makam Maulida. "Kak Gavin di makam siapa?" gumamnya pelan.
Belum sempat Mikha mendekat, Gavin sudah lebih dulu berdiri dan meninggalkan makam tersebut.
Mikha segera berlari mencari tempat untuk sembunyi karena tak ingin Gavin melihatnya ada di tempat pemakaman. Mikha belum mau bertemu dengan Gavin lagi.
Setelah memastikan Gavin pergi, Mikha berjalan menuju makam yang sebelumnya Gavin datangi.
Tak sulit menemukannya karena hanya ada satu makam yang baru saja ditaburi bunga segar di atasnya.
Mikha membaca nama dan tanggal kematian di atas nisan tersebut. Berbagai pertanyaan muncul di kepala Mikha. Bertanya-tanya siapa yang berada di dalam makam tersebut.
Mikha menghembuskan napas panjang. Ternyata masih ada banyak hal yang tidak dia ketahui dari Gavin.
Ingin mengabaikannya, tapi rasa penasarannya begitu besar. Ingin langsung bertanya, tapi rasanya itu tidak sopan. Dan juga mungkin tidak ada hak untuk menanyakannya.
"Tapi penasaran banget. Dia ini siapa, ya?" gumam Mikha pelan.
Dan akhirnya Mikha pun hanya bisa memendam rasa penasarannya. Entah sampai kapan, atau justru malah tidak bisa terselesaikan.
__ADS_1
🌹🌹🌹