
"Kak..."
Jam sepuluh malam Mikha berusaha untuk membangunkan Gavin. Ada satu yang dia inginkan dan tidak bisa ditunda sampai besok.
Sekali Mikha mengguncang bahu Gavin dengan pelan. Tapi Gavin tak terusik sama sekali.
Sepertinya percintaan panas mereka yang baru selesai setengah jam yang lalu membuat Gavin sangat kelelahan hingga tidurnya pun begitu lelap.
"Kak Gavin..." Panggil Mikha sekali lagi.
Perlahan Gavin membuka matanya. Langsung menatap Mikha dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa, Sayang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan panik.
Mikha tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku pengen makan siomay Bandung."
Gavin menghembuskan napas lega mendengar Mikha hanya menginginkan siomay saja. Gavin takut Mikha merasakan ketidaknyamanan pada dirinya setelah mereka nekat berci**a padahal usia kandungan Mikha baru dua sepuluh Minggu.
Setelah beberapa Minggu mengalami hiperemesis hingga tak bisa makan dan minum, Gavin bersyukur sekarang Mikha sudah bisa makan walaupun tidak banyak. Dan hanya makanan tertentu saja yang dia inginkan dan bisa masuk ke perutnya.
Tak apa. Setidaknya ada makanan dan nutrisi yang masuk untuk kedua janin mereka.
"Go food aja, ya. Kakak pesankan dulu."
Gavin sudah mengambil handphonenya yang ada di atas meja. Namun Mikha menahannya saat Gavin mulai mencari siomay yang masih ada malam-malam begini di kolom pencarian.
"Jangan go food, kak."
"Lalu?" Gavin menatap Mikha penuh tanya.
"Makannya mau langsung di Bandung."
"Hah? Malam-malam begini?"
Mikha mengangguk dengan antusias. Bibirnya tersenyum manis yang sebenarnya membuat Gavin tak tega untuk menolaknya.
"Tapi udah malam, Sayang. Besok saja, ya? Atau malam ini cari yang di sini dulu. Besok baru kita ke Bandung."
Mendengar penolakan Gavin, Mikha langsung mengerucutkan bibirnya. Mikha langsung membalikkan badannya dan membelakangi Gavin.
Kesal. Air matanya sampai menetes karena merasa sangat kesal Gavin tidak mau memenuhi permintaannya kali ini.
"Ibu hamil itu sensitif, Vin. Kamu harus pintar-pintar jaga mood Mikha biar dia tetap bahagia. Karena ibu yang bahagia, itu sangat berpengaruh pada janinnya." Ucapan Yunita terus terngiang di kepala Gavin.
Jika sudah seperti ini, Gavin tidak bisa lagi menolak.
Gavin harus segera menuruti keinginan Mikha agar Mikha tetap bahagia. Tentu saja juga agar jatahnya untuk malam-malam setelah ini tetap lancar jaya.
Gavin beranjak tanpa suara untuk menyiapkan keperluan mereka ke Bandung malam ini.
Tidak mungkin malam ini juga mereka akan kembali ke Jakarta malam ini juga. Mikha akan kelelahan terlalu lama berada di dalam mobil.
Apalagi perjalanan ke Bandung itu tidak sebentar karena jaraknya yang juga tidak dekat.
Merasakan pergerakan Gavin lalu mendengar langkah kaki Gavin menjauh dari ranjang mereka dan Gavin hanya diam saja tak berucap apapun, membuat Mikha semakin merasa kesal.
Mikha sampai menangis sesenggukan karena merasa diabaikan oleh Gavin.
"Kenapa makin kenceng nangisnya, Sayang?" Gavin segera mendekati Mikha saat mendengar isakan Mikha dari ruangan khusus pakaian mereka.
__ADS_1
"Nggak usah pegang-pegang. Nurutin maunya aku aja nggak mau, kok, pegang-pegang segala." Mikha menyingkirkan tangan Gavin yang ada di lengannya dengan kasar.
Gavin terkekeh pelan. Membuat Mikha melayangkan tatapan tajamnya pada Gavin.
"Jangan marah-marah dulu. Kakak baru nyiapin keperluan kita di Bandung nanti. Pakai ganti baju dulu terus dipakai jaketnya. Di luar dingin banget."
Mendengar ucapan Gavin, Mikha membelalakkan matanya. Ternyata di tangan Gavin sudah ada jaket miliknya. "Kakak serius?"
Gavin mengangguk pasti. "Iya. Ayo, Sayang. Semoga masih ada siomay yang buka sampai malam, ya."
"Masih ada, kok. Dulu aku pernah lihat ada yang masih buka sampai jam tiga pagi."
"Ngapain jam tiga pagi keliling Bandung sampai tahu ada yang masih buka segala?"
"Dulu jaman kuliah. Aku sama Sena lagi nginap di Bandung. Mau sahur keliling cari makanan."
Gavin bernapas lega. Setidaknya teman keliling Mikha bukan lelaki lain. Gavin tak ingin bertanya lebih lagi atau membahas soal tersebut.
***
Tepat pukul satu dini hari, Mikha dan Gavin sudah memasuki kota Bandung. Gavin segera mencari di go food penjual siomay mana yang masih buka.
Setelah mendapatkan satu warung siomay, Gavin segera menjalankan mobilnya ke sana dengan bekal google maps.
Mikha terlihat sangat antusias saat mereka sampai di depan warung tersebut. Warung yang berada di pusat keramaian kota yang hampir tak pernah sepi meskipun sudah dini hari.
Sepiring siomay Bandung lengkap dengan sayuran dan juga sambal kacang yang melimpah sudah tersaji di hadapan Mikha.
"Yey!" Mikha bertepuk tangan pelan menyambut siomaynya.
"Jangan terlalu pedas." Gavin mengingatkan Mikha yang sudah bersiap menyendok sambal.
"Enak, kok. Udah, ya. Kurangi makan pedasnya."
Terpaksa Mikha menuruti ucapan Gavin. Yang biasanya lima sendok sambal masih terasa kurang, sekarang dia saja sudah mendapatkan tatapan tajam dari Gavin.
"Nggak ada rasanya," gerutu Mikha sambil mencampur sambal kacang dan sambal merah agar tercampur dengan siomaynya.
"Kan, belum dicoba," sahut Gavin.
Mikha tak menjawab. Dia lebih memilih memasukkan satu siomay ke dalam mulutnya.
Baru empat suapan, tapi Mikha sudah mendorong piringnya ke hadapan Gavin.
"Kenapa? Mau disuapin?"
Mikha menggelengkan kepalanya.
"Terus?" tanya Gavin.
"Aku udah nggak mau lagi, Kak. Udah kenyang."
"Baru empat suapan loh, yang. Masa udah kenyang?"
"Ya gimana. Udah nggak mau lagi, kak."
"Dari Jakarta ke Bandung, malam-malam seperti ini, sampai sini cuma empat suap yang kamu makan, sayang? Luar biasa," ucap Gavin dengan nada pasrah.
Terpaksa dia yang menghabiskan siomay tersebut. Untung saja dia hanya memesan satu porsi saja. Jadi Gavin tak akan kekenyangan untuk menghabiskan siomay Mikha.
__ADS_1
***
Mereka memutuskan untuk check-in di salah satu hotel yang ada di Bandung sebelum besok pagi atau siang kembali ke Jakarta.
Saat Mikha hendak mengganti bajunya dengan baju tidur, Mikha membelalakkan matanya melihat isi tas yang disiapkan oleh Gavin.
"Apaan, nih, nggak ada baju tidur aku?"
"Itu baju tidur kamu juga, Sayang," ucap Gavin dengan wajah tersenyum lebar tanpa dosa.
Mikha mengangkat satu baju berbahan tipis. Baju halal di depan suami. "Ini, sih, maunya kakak, ya."
"Nggak apa-apa, sayang. Anggap aja kita babymoon dadakan di sini."
"Tadi, kan, udah, kak?"
"Kan, tadi di apartemen. Sekarang di tempat yang baru. Sensasinya beda, Sayang."
"Huhhh... Nggak bakalan tidur sampai pagi kalau kayak gini caranya," gerutu Mikha sambil berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Gavin hanya terkekeh geli melihat wajah istrinya yang terlihat kesal namun masih tetap mau menuruti keinginannya.
🌹🌹🌹
Jam sepuluh pagi menjelang siang, keduanya sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Mikha terlihat sumringah setelah keinginannya makan siomay langsung di Bandung sudah terpenuhi.
"Siap, Sayang?"
"Siap apanya?"
"Balik ke Jakarta, dong."
"Siapa bilang kita mau balik ke Jakarta, kak?"
"Terus?" Gavin menatap Mikha penuh tanya.
"Kita ke Jogja sekarang. Aku pengen makan gudeg."
"Jogja?"
Mikha mengangguk pasti dan tersenyum lebar. Menunjukkan layar handphonenya yang menampakkan halaman pemesanan tiket ke Jogja. "Kita ke bandara sekarang. Aku udah pesan tiketnya barusan, kak. Pesawatnya jam satu dari bandara Husein Sastranegara," ucap Mikha tanpa beban. Tidak tahu saja kalau jam dia nanti Gavin harus meeting.
Daripada menjadi masalah besar lagi bagi Mikha. Lebih baik Gavin menuruti saja keinginan Mikha kali ini. Urusan meeting bisa dia serahkan pada Rio, asisten sekaligus sekretaris Gavin.
Wajah Gavin terlihat senang menuruti keinginan Mikha meskipun pikirannya tidak sinkron dengan situasi saat ini.
Raganya ada di Bandung, tapi pikirannya ada di Jakarta. Memikirkan pekerjaan yang harus dia selesaikan dengan cepat.
"Sehat-sehat ya, Nak. Mami kamu lagi banyak maunya gini," ucap Gavin dalam hati sambil mengusap pelan perut Mikha yang mulai membuncit.
Ukuran perut Mikha tentu lebih besar dari wanita yang mengandung satu janin saja.
Di usia tiga belas Minggu, perut Mikha sudah seperti orang yang tengah hamil dua puluh Minggu. Hampir dua kali lebih besar.
Hal itu juga yang sering membuat Gavin panas dingin ketika di dekat Mikha. Inginnya setiap menyentuh Mikha yang mulai menggemaskan dalam keadaan perut besar seperti itu.
Mikha terlihat semakin seksi di mata Gavin. Apalagi jika memakai baju dinas malam yang memperlihatkan lekuk tubuh Mikha.
__ADS_1
🌹🌹🌹