
Seperti mendapatkan percikan air di tengah gurun pasir. Menyegarkan, menyejukkan dan tentu menginginkan yang lebih.
Sama halnya dengan Gavin yang baru saja mendapatkan kepuasannya setelah tiga bulan lamanya berpuasa tidak menyentuh Mikha.
Gavin merasa tidak cukup sekali untuk malam ini. Rasa rindunya pada Mikha membuat Gavin ingin terus mengulang momen panas bersama Mikha malam ini.
Tapi Gavin tak ingin egois. Mikha terlihat sudah lelah malam ini. Dan Gavin tidak mungkin akan memintanya lagi sedangkan keselamatan kedua janin mereka itu lebih penting.
Gavin memeluk Mikha yang tengah berbaring miring membelakangi dirinya. Mengusap perut Mikha yang membesar berisi dua janin yang kemungkinan keduanya berjenis kelamin perempuan.
Keinginan Mikha untuk memiliki anak perempuan akan segera terpenuhi. Gavin pun sangat bahagia ketika dokter mengatakan kalau kedua anak kembarnya perempuan.
"Mereka nendang, kak. Ngerasain enggak?" tanya Mikha pelan. Kedua matanya terpejam menikmati kelelahan yang membahagiakan yang baru saja dia dapatkan karena ulah Gavin.
Gavin menghentikan usapannya, mencoba merasakan tendangan mereka. Satu denyutan kecil Gavin rasakan. Bibirnya tersenyum bahagia. "Ngerasain, Sayang. Mereka pasti seneng habis dijenguk Papinya." Gavin terkekeh pelan.
"Apa, sih, Kak? Nggak nyambung. Jangan ajarin anak-anakku kayak gitu, ya."
"Anak-anak kita, Sayang. Kamu nggak akan hamil kalau tanpa kakak."
Kini giliran Mikha yang tertawa kecil.
"Lagian kakak nggak ngajarin mereka kayak gitu."
"Iya-iya, sayangkuuu..."
Mikha membalikkan tubuhnya dengan pelan. Mulai kesusahan karena meskipun usia kehamilan Mikha baru empat bulan lebih, perutnya sudah sebesar hamil tujuh bulan dengan janin tunggal.
Mikha memandang Gavin dengan penuh cinta. Bibirnya tersenyum manis dan tangannya mengusap pipi Gavin. "I love you, Kak."
"I love you more, sayang."
"Terimakasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik untuk kami, Kak."
"Terimakasih juga sudah menjadi istri dan ibu yang hebat untukku dan anak-anak kita. Aku dan anak-anak bangga memiliki kamu, sayang."
Gavin mencium kening Mikha dengan lekat.
Andai dulu dia tidak mengambil langkah dengan nekat mendekati Mikha yang masih berstatus adik iparnya, mungkin cerita mereka tidak akan sampai di sini.
Jika pada saat itu Gavin berhenti memperjuangkan cintanya, mungkin dia dan Mikha tidak sebahagia ini. Tidak akan ada anak-anak sepintar dan lucu-lucu seperti anak-anaknya.
Mikha mengeratkan pelukannya, menyerukkan kepalanya ke dada bidang Gavin sambil berucap, "sayang banget sama kakak."
"Kakak lebih sayang sama kamu."
🌹🌹🌹
Beberapa bulan kemudian..
Belajar dari pengalaman sebelumnya saat Mikha melahirkan triplet secara normal dan akhirnya Mikha pendarahan setelahnya, kali ini Gavin tak ingin mengambil resiko. Meskipun Gavin tau akan ada resiko di setiap jalan yang diambil.
Untuk kali ini, Gavin dan Mikha memutuskan untuk menjalani operasi untuk melahirkan kedua anaknya.
Mikha tak membantah keinginan Gavin untuk hal ini. Dia paham akan ketakutan yang dirasakan Gavin. Mikha paham selama ini Gavin sudah berusaha untuk menghilangkan ketakutan itu meski tidak bisa hilang sepenuhnya.
Seperti saat ini, Mikha yang akan menjalani operasi. Tapi jantung Gavin yang berdegup kencang karena ketakutannya. Tangan Gavin terasa dingin di genggaman Mikha.
Beberapa prosedur dilakukan oleh Gavin agar Gavin bisa menemani Mikha di ruang operasi.
Tak henti-hentinya Gavin merapalkan doa dan dzikir di telinga Mikha. Sesekali bibirnya mencium pipi dan kening Mikha secara bergantian.
__ADS_1
Keduanya menangis haru saat satu persatu tangisan anak-anaknya terdengar melengking memecah ketegangan yang ada di dalam ruang operasi.
Tegang menurut Mikha dan Gavin.
"Dua-duanya perempuan. Lahir jam sembilan lebih lima menit. Bayi kedua lima menit kemudian. Bayi satu berat dua ribu enam ratus gram dan panjang empat puluh delapan sentimeter. Bayi dua berat dua ribu tiga ratus gram dengan panjang empat puluh delapan sentimeter."
"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Sayang. Mereka sehat," bisik Gavin yang dibalas anggukan kepala oleh Mikha.
***
Saat Mikha dan Gavin keluar dari ruang operasi, mereka sudah disambut oleh keluarga besar mereka.
Sudah ada ketiga jagoan mereka yang menunggu Mami dan adik-adiknya. Dan para kakek dan nenek yang menunggu Mikha dan Gavin dan kedua cucu mereka.
"Perempuan semua ya, Dok?" tanya Yunita pada dokter Vega.
"Alhamdulillah, Oma. Keinginan Papi Maminya udah kesampaian sekarang."
Mereka tertawa kecil.
Kakak-kakak mulai antusias melihat adik-adik mereka. Seperti tidak rela saat kedua adiknya harus dibawa ke ruang perawatan bayi terlebih dahulu.
"Kenapa adik bayi dibawa lagi, Pi?" tanya Kenzo.
"Adiknya mau diperiksa dulu sama dokter anak, Kak."
"Tapi adik nggak sakit, kan?" sahut Kenzie.
"Adiknya sehat, kok. Nanti sore juga diajak kesini lagi adiknya."
"Papi nggak bohong, kan?" Giliran Keenan yang bersuara.
Gavin tertawa kecil. Mengusap kepala ketiga anaknya dengan gemas. "Enggak, sayang. Papi nggak bohong, kok."
Tentu semuanya bahagia menyambut anak bayi itu. Apalagi Keenan, Kenzie dan Kenzo. Mereka terlihat sangat antusias, bahkan begitu posesif.
Siapapun yang akan menyentuh atau menggendong adik-adik mereka, harus sudah mencuci tangan mereka sehingga mereka dalam keadaan bersih.
"Jadi namanya siapa ini?" tanya Feni yang tengah menggendong salah satunya.
Mikha dan Gavin berpandangan dan saling melempar senyuman. "Yang pertama namanya Elvira. Yang kedua Elvina, Ma," jawab Mikha membuat mereka tersenyum senang.
"Yang mana yang pertama?" tanya Anton.
"Ada nomornya di gelang mereka, Pa. Kita juga belum bisa bedain, kok."
Ucapan Gavin di sambut tawa oleh keluarganya. "Kalau Papinya sendiri aja belum bisa bedain gimana kita?" celetuk Wira dan semua kembali tertawa.
Gavin dan Mikha tersenyum bahagia. Tangan Gavin terus menggenggam tangan Mikha dengan erat.
Rasanya sangat bersyukur melihat anak-anaknya sehat. Terutama melihat keadaan Mikha yang baik-baik saja setelah melahirkan.
Ketakutan akan pendarahan dan koma yang dulu Mikha alami hilang begitu saja setelah dokter memastikan kondisi Mikha baik-baik saja setelah operasi. Hanya butuh waktu untuk pemulihan luka operasinya.
"Terimakasih sudah menepati janji untuk tetap baik-baik saja, Sayang."
Mikha mengangguk dan tersenyum. "Habis ini mau sekali lagi boleh?" tanya Mikha pelan.
"Apanya?"
"Hamil." Mikha menaikturunkan kedua alisnya.
__ADS_1
Gavin membelalakkan matanya. Pasangan lain mungkin suami yang ngotot minta istrinya yang hamil. Tapi di rumah tangga Gavin, kenapa justru Mikha yang tak kapok untuk hamil?
Sedangkan Gavin sendiri sudah merasa cukup dengan lima anak yang kini mereka miliki.
"Kalau udah aja gimana, sayang? Udah ada lima loh anaknya. Mau berapa lagi?"
Mikha tertawa kecil. "Hamil sekali lagi, kak. Terserah Allah mau dikasih berapa. Nggak tau kenapa aku suka banget, kak, momen hamil, melahirkan seperti ini. Lihat bayi-bayi lucu, lihat perkembangan mereka."
Gavin memijat keningnya sebentar. "Nanti kita bahas lagi, ya, sayang. Sekarang biar jahitan kamu kering dulu. Fokus ngurus double E dulu, ya."
🌹🌹🌹
Gavin tidak bisa berkata-kata saat usia Elvira dan Elvina menginjak sepuluh bulan, Mikha sudah menyodorkan testpack. Bergaris dua lagi. Positif hamil lagi.
Sedangkan Mikha sendiri tersenyum lebar seperti tak ada beban sama sekali.
"Sayang?"
"Selamat, Papi. On the way anak ke enam, nih."
"Sayang, tapi_"
"Besok kita periksa, ya, Papi."
Gavin tak bisa berkata-kata. Entah harus senang atau sedih. Yang pasti, semua harus dia syukuri.
Sudah menjadi rezeki untuk keluarganya untuk memiliki banyak anak. Di luar sana masih banyak orang yang kesulitan untuk memiliki keturunan.
Keesokan harinya, Mikha dan Gavin datang ke dokter langganan mereka. Dokter Vega.
Namun kabar buruk yang mereka terima. Kehamilan Mikha sudah memasuki Minggu ke tujuh. Tapi dokter mengatakan bahwa tidak ada janin di dalam kantong kehamilan. Atau hamil kosong. Dan harus dilakukan kuretase untuk mengangkat jaringan plasenta dari rahim.
Ini merupakan pilihan yang sulit bagi Mikha. Tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa tidak ada janin di dalam kantong kehamilan yang ada di rahimnya.
Sejak sepuluh menit yang lalu, Gavin sudah memeluk Mikha. Mengusap punggung dan kepala Mikha untuk menenangkan.
Gavin pun merasa sedih atas apa yang menimpa dirinya dan Mikha. Tapi semua sudah kehendak yang maha kuasa. Manusia hanya bisa berpasrah menjalaninya.
"Kita harus kuat, ya, Sayang. Mungkin belum rejeki kita. Bisa juga Allah ingin kita fokus pada anak-anak dulu. Apalagi kan, si double El masih kecil. Baru aktif-aktifnya."
"InsyaaAllah aku ikhlas, kok, Kak. Tapi nangis boleh, kan? Aku sedih banget."
"Iya, kakak paham, kok. Boleh nangis biar hati kamu lega."
Jodoh, maut dan rejeki. Semua sudah diatur oleh Allah. Akan datang di saat yang tepat. Dan akan pergi juga kapanpun jika Allah ingin mengambilnya.
Setelah ini, Mikha sendiri akan fokus pada kelima anaknya. Atau mungkin memutuskan untuk tidak hamil lagi. Menuruti keinginan Gavin.
END
🌹🌹🌹
Finally...
Terimakasih sudah membaca kisah Mikha dan Gavin sampai selesai. Sebenarnya nggak rela mereka tamat. Aku pun kecanduan sama kemesraan mereka. Suami kayak Gavin cari dimana, sih? 😭🤣🤣🤣
Mohon maaf apabila ada penulisan yang salah. Bahasa yang kurang berkenan.
Kita ketemu lagi di novel selanjutnya yaa... 🤗🤗🤗
Extra part-nya habis lebaran aja 🤣🤣
__ADS_1
Love, author ❤️❤️