Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 42


__ADS_3

Baru beberapa hari di Paris, Mikha belum terbiasa dengan rasa makanan di Paris. Mikha lebih memilih memasak makanan Indonesia bersama Mia.


Hari ini Mikha ingin rendang daging sebagai lauk makannya. Dia dan Mia pun pergi ke toko Asia untuk membeli bahan dan bumbu-bumbu yang diperlukan untuk memasak rendang.


Mikha hanya melongo melihat Mia dengan cepat memilih bumbu-bumbu yang diperlukan. Alasannya karena Mikha tak paham dengan bumbu rendang.


Yang Mikha tau hanya bumbu sayur sup, sayur bayam, tumis-tumisan. Itupun Mikha lebih sering memakai bumbu instan karena dipaksa untuk bisa memasak meskipun masakannya tidak pernah dimakan oleh Gilang.


Mikha mana tau mana lengkuas mana jahe. Mana merica mana ketumbar. Bahkan Mikha pernah salah memasukkan gula yang dia kira garam ke dalam sup ayam yang dia masak. Alhasil, sup ayam terasa sangat manis tanpa asin sedikitpun.


Anak yang terlahir kaya memang beda dengan anak yang terbiasa sederhana sejak kecil. Kecuali jika mereka mau belajar.


"Mikhayla, kan, ya?"


Mikha mengerutkan keningnya menatap orang yang tiba-tiba menyapanya. Mungkin kalau di Indonesia, Mikha tak akan sebingung ini.


Tapi ini di Paris. Dari sekian banyak orang Indonesia yang ada di Paris, belum tentu ada yang Mikha kenali. Tapi anehnya, lelaki di hadapannya menegurnya tanpa ragu.


"Siapa, ya?"


"Aku yang nemuin dompet kamu waktu di cafe."


Mikha terdiam sebentar. Mengingat kejadian di cafe saat dompetnya terjatuh. "Oh, iya, aku ingat. Masih ingat aja sama aku?"


"Aku tandai wajah kamu. Jadi nggak bakal lupa."


Mikha tertawa kecil. "Bisa aja kamu. Oh, iya. Nama kamu siapa?"


"Aku Nathan. Di sini kuliah?"


"Enggak. Lagi belanja, nih."


Nathan terkekeh kecil. "Maksudku, kamu di Paris mau kuliah atau yang lain?"


"Bilang, dong. Aku mau kuliah. Eh, kebetulan banget, ya, kita ketemu di sini. Di Paris juga kuliah?"


"Enggak. Satu tahun yang lalu aku merintis anak perusahaan di sini. Aku datang buat ngecek aja, sih."


"Wow. Sukses, ya."


"Mikha? Mbak udah selesai." Kedatangan Mia mengalihkan perhatian keduanya.


Terlalu asyik mengobrol dengan Nathan, Mikha sampai tak sadar kalau Mia sudah selesai berbelanja. Bahkan sudah membayarnya di kasir.


"Eh, Mbak, maaf, Mikha malah asyik sendiri. Mbak, kenalin ini Nathan. Nathan, ini kakakku. Namanya Mia." Mikha memperkenalkan keduanya.


Nathan dan Mia saling melempar senyum sebagai tanda perkenalan.


"Kapan-kapan mampir ke apartemen sebelum balik ke Indonesia, ya."


"Eh, no!" Mia menyela ucapan Mikha. "Nggak ada ceritanya laki-laki yang bukan mahrom ke apartemen ya, Mikha. Mbak dan Mas Sandy nggak kasih ijin."


Bukannya marah, Mikha justru tertawa kecil. "Basa-basi doang, Mbak, ya ampun. Kalau emang mau mampir, nanti aku pastikan waktu ada kak Sandy di apartemen."


"Bagi nomor handphonenya aja boleh?" Nathan meminta ijin pada Mia.


Mia memandang Mikha yang menatap Mia dengan tatapan penuh permohonan.

__ADS_1


Nathan tersenyum lega saat Mia mengangguk mengijinkan mereka bertukar nomor handphone.


Mikha merupakan tanggungjawab Sandy dan Mia ketika di Paris. Karena itu Mia tak mengijinkan sembarangan lelaki masuk ke apartemen Mikha melihat pergaulan di luar negeri itu seperti apa.


Mia tidak ingin Mikha kebablasan dan melampaui batas.


***


"Masakan Mbak Mia enak banget, sih. Semoga aku di sini nggak gendut, deh, karena kebanyakan makan."


Sudah berulangkali Mikha mengatakan kalau masakan Mia enak. Bahkan Mikha sudah menambah nasinya sebanyak dua kali hanya dengan lauk rendang saja.


"Dari dulu kamu mau makan sebanyak apapun juga nggak gendut. Nambah lagi boleh, kok."


Mikha menggelengkan kepalanya. "Enggak, ah. Lihat nih perut aku." Mikha berdiri agar Mia bisa melihat perut Mikha. "Udah kayak orang hamil nggak, sih, karena hari ini kebanyakan makan?"


Mia terkekeh geli melihatnya. Perut Mikha memang sedikit membuncit. Terisi nasi dan rendang.


"Habis ini aku mau buat teh diet dulu. Nggak bisa kayak gini, Mbak. Mbak Mia... Ini gara-gara masakan Mbak Mia enak banget. Nggak bisa udahan. Aduh, aku kayak orang yang nggak makan berhari-hari nggak, sih, Mbak?"


Tawa Mia berderai. Rasanya bahagia sekali dia melihat Mikha sudah terlihat bahagia seperti ini. Semoga bukan hanya saat di hadapan dia dan Sandy saja Mikha terlihat bahagia.


Semoga di saat sendiri, Mikha sudah bisa melupakan kisah cintanya yang kandas sebelum dia berangkat ke Paris.


"Eh, Nathan telepon." Buru-buru Mikha beranjak dan mencuci tangannya di wastafel.


Mengambil handphonenya dan segera mengangkat telepon dari Nathan. Mikha sampai melupakan nasinya yang belum habis.


"Mikha jangan aneh-aneh, ya." Mia berteriak memeringatkan Mikha karena Mikha sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.


🌹🌹🌹


"Aku ganggu, ya?" tanya Nathan karena mendengar Mikha berteriak saat berbicara dengan Mia.


"Eh, enggak. Ada apa?"


"Besok malam aku terbang ke Jakarta."


"Cepet banget."


"Maksudnya? Kamu mau aku lebih lama di sini?"


"Enggak gitu."


"Terus maunya aku cepet pulang?"


"Ih, apa, sih?"


Tawa Nathan berderai di ujung sana. Mikha turut tertawa. Menertawakan ucapannya sendiri yang entah lucunya dimana.


"Besok ketemu sebentar bisa?"


"Di mana? Mau ngapain?"


"Di depan apartemen kamu aja kayaknya. Kakak kamu over banget."


Mikha terkekeh pelan. "Ya gitu, deh. Namanya juga ke adik cewek. Jam berapa mau ketemu?"

__ADS_1


"Agak siang mungkin. Pagi aku harus meeting dulu."


"Oke."


"Sudah dulu, ya. Aku masih ada kerjaan setelah ini."


"Siap."


Bukannya Mikha mulai membuka hatinya untuk mencintai orang baru. Tentu dalam hatinya masih ada satu nama yang entah kapan bisa pergi dari hatinya.


Mikha hanya tidak ingin, karena dua orang yang beradik kakak itu menyakitinya, itu membuatnya menutup diri.


Mikha berteman dengan siapapun. Bahkan dengan Nathan pun sepertinya tidak akan salah.


Tapi untuk membuka hati, Mikha belum tau kapan akan kembali membuka hatinya.


Mikha takut kembali terluka. Mikha takut di sakiti lagi. Sudah cukup double G itu menyakiti hatinya selama ini.


Saat ini Mikha hanya ingin fokus pada pendidikan dan karirnya setelah selesai kuliah nanti.


🌹🌹🌹


Hubungan Gilang dan Mikha sebenarnya sudah membaik sejak hari dimana Gilang meminta maaf dengan kejutan sebuah helikopter yang membawa spanduk dulu itu.


Tapi sejak itu pula Gilang tak pernah berkomunikasi dengan Mikha. Lebih tepatnya, Gilang yang menahan diri untuk tidak menghubungi Mikha.


Gilang hanya bisa melihat Mikha lewat fotonya. Mengagumi Mikha dalam diam, sama seperti yang dilakukan Gavin.


Kakak beradik itu mencintai wanita yang sama. Tapi hanya mampu mencintai dalam diam karena mereka pernah menorehkan luka di hati Mikha.


"Sayang, ya, Lo cuma bisa memandang foto dia. Butuh info dukun guna-guna nggak?"


"Nggak waras Lo."


Teman Gilang tersebut tertawa keras.


Dulu dia sudah pernah menasehati Gilang agar tidak keterlaluan dalam memperlakukan Mikha. Apalagi saat itu mereka masih dalam ikatan pernikahan. Dia sudah mengingatkan akan ada hukuman dari setiap yang Gilang lakukan.


Dan hal itu terbukti benar.


Mungkin dalam hal bisnis, Gilang masih beruntung.


Tapi dalam hal mencintai, hatinya hanya mencintai Mikha.


Wanita lain tak menarik lagi di matanya. Sekalipun wanita-wanita itu berdiri di hadapan Gilang tanpa sehelai benang pun, Gilang tak akan bereaksi apa-apa. Sampai banyak yang menganggap Gilang mengidap gangguan hingga kini banyak wanita yang enggan mendekati Gilang.


Berbeda jika Gilang memikirkan Mikha. Hanya dengan memikirkan Mikha, tapi hatinya sudah membuncah bahagia.


Tapi Gilang tak akan peduli jika tidak ada wanita yang mendekatinya dan menganggapnya tidak normal.


Yang dia lakukan saat memutuskan untuk pergi adalah memperbaiki dirinya.


Hingga jika suatu hari nanti dia bertemu lagi dengan Mikha dan diijinkan untuk kembali memperjuangkan Mikha, Gilang sudah kembali dengan versi yang lebih baik lagi hingga tak ada satupun jejak yang buruk di kisah hidup yang Gilang ukir semenjak berpisah dengan Mikha.


🌹🌹🌹


Yang cinta sama Mikha banyak yaaa.. 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2