Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 56


__ADS_3

"Ini mau kemana?" Mikha membuka suara.


Laju mobil Gavin bukan mengarah ke rumah Mikha. Tapi ke arah lain.


Gavin tak menjawab sampai akhirnya dua menit kemudian Gavin membelokkan mobilnya ke tempat yang tidak pernah Mikha lupa. Apartemen Gavin.


"Ngapain ke sini? Gue mau pulang."


"Enggak lama, kok. Naik dulu, ya."


Mikha memicingkan kedua matanya, menatap Gavin dengan penuh curiga.


"Tenang aja. Kakak nggak akan macam-macam, kok," ucap Gavin yang mengerti maksud dari tatapan mata Mikha.


"Gue mau pulang, ya. Mau naik taksi aja kalau_"


"Ssstt." Gavin memegang tangan Mikha dan mengehentikan ucapan Mikha. Seketika Mikha terdiam. "Sebentar aja. Nggak akan lama, kok. Kakak ganti baju dulu," imbuh Gavin.


"Ya udah gue di sini aja nunggunya."


"Enggak. Nanti kamu kabur. Yuk."


"Apa lagi ini?" batin Mikha sambil mengikuti langkah Gavin menuju apartemennya.


Pertama kali masuk lagi ke apartemen Gavin setelah sekian lama, tak ada yang berubah sama sekali. Masih polos dengan design monoton. Begitu-begitu saja tak ada yang bertambah maupun berkurang.


Mikha duduk di depan tv. Tak berniat untuk lebih masuk ke dalam untuk sekedar melihat-lihat lagi isi apartemen Gavin.


Sementara Gavin masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar dengan pakaian yang berbeda. Gavin yang sebelumnya memakai pakaian olahraga. Kini sudah berganti pakaian lebih santai. Dan tetap terlihat tampan tentu saja.


"Kita ke rumah kamu dulu, habis itu kakak mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Kak, please! Ini hari minggu. Gue mau di rumah aja. Anterin gue pulang sekarang atau gue pulang sendiri?"


Mendengarnya, Gavin justru tertawa pelan. "Sekali-kali liburan. Semenjak kamu pulang dari Paris belum pernah liburan, kan?"


Mikha menggeleng kuat. "No! Terakhir gue liburan, liburan gue dirusak sama Lo, kak. Sejak itu gue udah nggak minat lagi buat liburan."


Deg!


Gavin merasa tertampar dengan ucapan Mikha. Hal yang menyakitkan bagi Mikha saat Gavin mengakhiri hubungan mereka di tempat seindah Bromo.


"Maaf," ucap Gavin pelan. "Andai ada hal yang bisa membuat kamu melupakan hal itu, akan kakak lakukan untuk kamu."


"Itu bagian dari hidup gue yang nggak bisa gue lupain, kak. Gue ingat semuanya. Ingat juga kalau gue pernah cinta mati sama Lo sampai akhirnya Lo menghancurkan gue."


"Ijinkan kakak untuk memperbaiki semuanya. Kakak_"


"Sayangnya gue nggak minat, kak. Gue mau pulang."


"Tunggu, mikha!"


Gavin segera menahan langkah Mikha dengan menarik tangannya pelan. Lalu memeluk tubuh Mikha dari belakang.


"Lepasin gue, Kak."

__ADS_1


"Tidak akan sebelum kamu memaafkan kakak."


"Gue udah maafin Lo. Bahkan sejak pertama kali Lo nyusul gue ke Paris. Gue juga udah maafin Lo karena Lo menyamar sebagai Nathan. Gue udah maafin semua kesalahan Lo, kak. Apa lagi yang Lo mau dari gue?"


"Kesempatan," jawab Gavin dengan cepat. "Kakak mau kamu ngasih kakak kesempatan untuk membahagiakan kamu lagi."


"Gue pernah percaya sepenuhnya sama Lo, kak. Gue percaya Lo yang akan bahagiain gue sampai akhir hidup gue nanti. Tapi akhirnya Lo menghancurkan kepercayaan itu. Dan gue udah nggak bisa buat percaya sama Lo lagi, kak. Tolong, berhenti ganggu gue! Jangan buat gue kembali membenci apa yang sudah gue ikhlaskan!"


Pelukan tangan Gavin merenggang setelahnya. Tak lama kemudian, kedua tangan itu terlepas dari tubuh Mikha.


Gavin berbalik badan dan mengambil kunci mobil yang ternyata masih tertinggal di dalam kamar.


"Kakak antar kamu pulang," ucapnya dingin sambil melewati Mikha begitu saja.


Yang akhirnya membuat Mikha bertanya-tanya kenapa Gavin mendadak berubah seperti itu.


Tadi Gavin begitu kekeh mengajak Mikha liburan. Tapi kenapa sekarang dengan mudahnya Gavin akan mengantarkan Mikha pulang sekarang?


Selama di dalam mobil, tak ada percakapan apapun di antara mereka. Suasana terasa sepi, canggung. Bahkan Mikha tak berani untuk membuka suara selain hanya mengucapkan terimakasih saat Mikha sudah turun dari mobilnya.


Itupun hanya dibalas anggukan kepala saja oleh Gavin. Dan Gavin langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Mikha.


"Dia kenapa, sih?" gumam Mikha mulai gusar dengan diamnya Gavin yang menurutnya aneh.


🌹🌹🌹


Diamnya Gavin tak hanya hari itu saja. Bahkan hari-hari setelahnya Gavin tak lagi menghubungi Mikha, ataupun berusaha menemui Mikha.


Biasanya, saat bangun tidur Mikha membuka handphone, nama Gavin sudah ada di urutan paling atas di room chat-nya. Meskipun hanya sekedar ucapan selamat pagi, itu rutin Gavin kirimkan setiap harinya.


Dan yang lebih parah lagi, siang tadi mereka sempat berada di restoran yang sama.


Tidak mungkin Gavin tidak menyadari keberadaan Mikha. Tempat duduk mereka saja berjarak tak terlalu jauh. Suasana restoran juga tidak begitu ramai.


Tapi Gavin berlalu begitu saja saat berpapasan dengan Mikha. Mikha pun sempat mencuri-curi pandang terhadap Gavin. Tapi tak sekalipun Gavin melirik Mikha.


"Dia kenapa, sih?" Batin Mikh yang mulai merasa risih dengan perubahan yang Gavin tunjukkan.


Perlahan Mikha mulai ada yang hilang saat sikap Gavin berubah. Mendadak dia rindu dengan pesan-pesan Gavin yang selalu dikirimkan oleh Gavin.


Mikha mulai rindu dengan perhatian Gavin yang sekarang tidak dia dapatkan lagi.


Mulai rindu dengan cara Gavin mengambil perhatian Mikha.


Sayang, Mikha hanya bisa memendamnya tanpa bisa mengungkapkannya.


Dia yang meminta Gavin untuk menjauh dan berhenti mengganggu hidupnya. Kini Gavin telah melakukannya. Harusnya Mikha senang, bukan malah merindukan Gavin.


"Tapi kenapa gue malah kangen banget sama dia?" Mikha mengacak rambutnya dengan kasar. Drakor di hadapannya tak menarik lagi. Yang ada di pikirannya hanya Gavin, Gavin, dan Gavin.


Lelaki yang seharusnya dia lupakan dan tidak dia pedulikan mau bagaimana pun dia saat ini.


🌹🌹🌹


"Kak, saya mau bertemu dengan Bu Christy. Mau fitting lagi untuk gaun pertunangan kemarin."

__ADS_1


"Silahkan tunggu di sini, kak. Saya panggilkan Bu Christy dulu."


"Iya."


Mikha melihat seorang perempuan duduk sendiri menunggu pemilik butik sekaligus designer yang merupakan sahabat dari Feni.


Mikha datang ke sana untuk mengambil gaun Feni yang akan dipakai untuk acara grand opening hotel baru milik keluarga mereka yang ada di Lombok.


Tak berselang lama, seorang lelaki baru saja datang dan langsung duduk di samping wanita tersebut.


Lelaki yang sangat Mikha kenal. Lelaki yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran Mikha karena perubahannya yang tiba-tiba.


"Baru datang, Vin? Bu Christy belum ke sini. Sebentar lagi mungkin."


Gavin mengangguk dan tersenyum tipis. Semua itu tak luput dari perhatian Mikha yang sengaja memperhatikan mereka dari tempat yang cukup tersembunyi.


"Tadi perempuan itu bilang mau fitting buat tunangan. Apa itu acara pertunangan dia sama Kak Gavin, ya?" Mikha bermonolog.


Beberapa saat kemudian, Christy dan asistennya keluar dengan membawa sebuah gaun mewah berwarna pastel. Dan juga jas berwarna hitam dengan kemeja yang berwarna senada dengan gaun tersebut.


Keduanya lantas mencoba dua pakaian tersebut dan semakin membuat Mikha merasa kesal. Apalagi mereka terlihat sangat serasi.


Mikha tak tahan melihat pemandangan tersebut. Dia tinggalkan butik itu tanpa membawa apa yang menjadi tujuannya untuk datang ke sana.


"Jadi ini alasan Lo berubah, Kak? Lo emang nggak pernah sayang sama gue. Lo cuma mau mainin perasaan gue. Lo menghancurkan gue untuk yang kesekian kalinya, kak. Sekarang gue benar-benar benci sama Lo. Lo minta kesempatan itu omong kosong. Lo minta maaf itu juga omong kosong. Gue itu pengen Lo berjuang lagi buat gue. Kenapa Lo nggak peka, sih? Kenapa Lo justru milih tunangan sama perempuan lain?"


Mikha membuat pintu mobilnya lalu masuk ke dalamnya. Kemudian menutupnya dengan kasar dan dengan cepat menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran butik tersebut.


🌹🌹🌹


Alasan kenapa lelaki itu kurang peka. Itu karena lelaki sendiri itu sebenarnya tidak tahu bahkan tidak sadar kalau mereka tidak peka. Sama halnya seperti perempuan yang selalu membingungkan karena mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka inginkan.


Kedua, pada dasarnya lelaki adalah makhluk yang cuek.


Mau dikatakan apalagi, mau dikasih tahu ribuan kali, kalau memang sudah dari sananya lelaki punya sifat cuek ya susah. Mereka kurang bisa perhatian dengan hal-hal yang mereka anggap sepele. Padahal perempuan maunya hal-hal sepele nggak lepas dari perhatian.


Ketiga, perempuan suka main kode. Seperti yang dilakukan Mikha beberapa hari yang lalu. Permintaannya agar Gavin menjauh sebenarnya hanyalah sebuah kode bahwa Mikha ingin Gavin berjuang lagi.


Keempat, lelaki bukan dukun atau punya kekuatan super yang bisa baca pikiran orang.


Kelima, lelaki memang diciptakan nggak peka.


Dan masih banyak lagi alasan kenapa lelaki itu kurang peka terhadap kemauan seorang perempuan.


Mikha lupa bahwa sistem emosi dan perasaan lelaki dan perempuan itu diciptakan berbeda.


Kini, Mikha hanya bisa berperang dengan isi kepalanya sendiri. Memperjuangkan dia tidak mau, kehilangan pun rasanya tak ingin.


Mikha bingung harus apa sekarang. Merelakan Gavin bersanding dengan orang lain rasanya sulit meskipun selama ini dia mengaku tidak lagi mencintai Gavin.


Tapi kalau melihat seperti ini, hatinya sendiri yang tersiksa.


🌹🌹🌹


Cewek memang aneh, ya? 😌😌

__ADS_1


__ADS_2