
"Kayaknya aku mau lanjut ke luar negeri aja, Ma, Pa."
Tentu saja keputusan Mikha di sambut antusias oleh Wira dan Feni. Jika soal pendidikan, mereka akan mendukung sepenuhnya.
"Kira-kira kemana, Sayang? Memilih dari salah satu rekomendasi Mama kemarin atau ada pilihan tersendiri?"
"Ke Paris, Ma."
"Good idea, Mikha. Kamu bisa sekalian ditemani Mbak Mia di sana."
"Why Mbak Mia?" Mikha terkejut mendengar ucapan Wira. Pasalnya, Mia sudah lama tidak bekerja di rumah keluarga Mikha karena sudah menikah. "Dia nggak bisa bahasa Perancis, Ma. Nanti yang ada Mikha yang repot kalau Mbak Mia ikut."
"Jangan gitu, Mikha. Dia udan kursus bahasa Perancis waktu tau suaminya mau ditugaskan di sana."
"Maksud Mama apa?"
"Kamu terlalu sibuk dengan urusan kamu sendiri, sayang, sampai tidak tau kalau suami Mia itu tangan kanan Papa di kantor."
"Wow."
"Mereka kenal waktu Papa minta Sandy datang ke sini buat ngantar dokumen waktu Papa sakit dulu. Papa pikir hubungan mereka cuma sebatas teman. Tapi tau-tau malah ngasih undangan." Wira tertawa pelan.
Mikha diam memikirkan nasib cintanya yang tak seberuntung orang-orang. Mereka bisa dengan mudahnya bersama dengan orang yang mereka cintai.
Sedangkan Mikha, dia selalu gagal dalam hal asmara.
Dulu saat bersama Dimas, hubungan mereka harus berakhir karena Mikha menikah dengan Gilang.
Saat bersama Gilang pun Mikha tak pernah bahagia, apalagi saling cinta.
Berakhir dengan Gilang, cintanya jatuh pada Gavin. Sayang, Gavin hanya memberinya harapan palsu. Cintanya mungkin bertepuk sebelah tangan karena Gavin lebih memilih berpisah dan bersama wanita lain yang bisa saja lebih segalanya dari Mikha.
Andai suatu saat Mikha diijinkan untuk kembali mencintai seseorang, Mikha berharap dia adalah orang terakhir. Orang yang menyayanginya dengan tulus. Tentu saja orang itu mau memperjuangkan Mikha agar tetap berada di sisi orang tersebut.
"Gimana, Mikha? Mau, kan, ditemani Mbak Mia?" Suara Feni membuyarkan lamunan Mikha.
"Terus Mikha satu apartemen sama Mbak Mia sama Kak Sandy, gitu?"
"Beda lantai. Papa akan siapkan satu unit apartemen buat Sandy dan Mia. Biar Papa sama mama bisa tenang kamu ada di sana, Mikha. Kalau ada apa-apa kan, ada Mia dan Sandy."
"Terserah Papa sama Mama aja gimana baiknya."
Wira dan Feni tersenyum lebar.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Hari-hari Mikha disibukkan dengan mempersiapkan apa saja dokumen untuk mendaftar di universitas yang dia inginkan di kota Paris sembari menunggu waktu wisuda.
Mikha tak ingin lagi menunggu lama. Setelah mendaftar dan diterima, Mikha akan berangkat langsung setelah dia di wisuda nanti.
Mikha sudah bisa membayangkan, hidupnya di sana akan membahagiakan.
Suasana hati Mikha juga sudah cukup membaik. Lebih tepatnya berusaha untuk tetap baik-baik saja meskipun belum sepenuhnya bisa melupakan kenangannya dengan Gavin.
Kenangan indah bersatu dengan kenangan pahit kadang membuat hati Mikha bimbang.
Kadang Mikha ingin memperjuangkan cintanya lagi ketika mengingat perjuangan mereka untuk bisa bersama. Dia ingin bermanja lagi dengan Gavin. Dia ingin dijadikan ratu lagi oleh Gavin.
Tapi kenangan buruk yang Gavin tinggalkan, kadang juga membuat Mikha membenci Gavin setengah mati.
Sayangnya, semakin dia membenci dan berusaha untuk melupakan Gavin, nama Gavin terus terngiang di kepalanya. Segala tentang Gavin terus melintas di pikirannya.
"Jadi kita bakalan LDR, dong, Kha."
"LDR kayak kita pacaran aja. Gue masih normal, Sena. Lo juga masih suka sama cowok, kan?"
Sena tertawa kecil. Meskipun sedih rasanya harus berpisah dengan sahabat yang empat tahun ini selalu bersama, tapi Sena tetap mendukung apa yang Mikha lakukan selama itu baik untuk Mikha.
Apalagi ini masalah pendidikan.
Sena sendiri merasa cukup belajarnya sampai S1 saja. Rasanya otaknya sudah cukup lelah jika kembali diajak untuk berpikir.
Sena langsung mengiyakan dan mengikuti Mikha turun dari mobil.
Keduanya berada di taman kota yang begitu ramai saat sore hari. Apalagi jika sedang tidak hujan.
"Lihat kanan kiri dulu," ucap Sena sebelum mereka menyeberangi jalan.
Setelah memastikan tidak ada kendaraan yang melintas, barulah mereka berjalan menuju tukang siomay yang ada di seberang jalan dari tempat Mikha menghentikan mobilnya.
Sedikit lagi keduanya sampai. Tapi tubuh Mikha terpental jauh karena terserempet motor yang melaju begitu kencang.
"Mikha!!!" Teriakan Sena terdengar melengking disusul dengan jeritan pejalan kaki lainnya.
Dunia Mikha gelap seketika. Hanya jeritan Sena yang memintanya untuk bangun yang terakhir kali dia dengar sebelum Mikha tak sadarkan diri.
🌹🌹🌹
Suasana di ruang tunggu di depan ruang instalasi gawat darurat terasa begitu menegangkan.
Wira dan Feni langsung ke rumah sakit setelah mendengar Mikha kecelakaan.
__ADS_1
Tangisan Sena belum juga berhenti. Dia menyesal kenapa harus menuruti kemauan Mikha yang ingin membeli siomay.
Andai cukup dengan telur gulung yang sebelumnya sudah mereka beli, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Baik Wira, Feni, maupun Sena langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat dokter yang menangani Mikha keluar dari ruang IGD.
"Bagaimana anak saya, dokter?" tanya Wira tak sabaran.
"Sampai saat ini kondisinya stabil, Pak. Tapi akan dilakukan CT scan untuk mencari tahu apakah ada kerusakan di dalam tubuh atau tidak. Kami akan menghubungi dokter ahli terlebih dahulu."
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok," sahut Feni yang tak henti-hentinya meneteskan air matanya.
"Insyaallah, Bu. Saya permisi dulu."
"Ya, silahkan, dokter."
🌹🌹🌹
"Dia kecelakaan."
"Apa? Gimana keadaan dia sekarang?"
"Luka di kepalanya tidak seberapa parah. Tapi yang aku khawatirkan ada kerusakan bagian dalam. Sebentar lagi akan dilakukan CT scan."
"Kabarin aku terus, Bel. Lakukan yang terbaik untuk dia."
"Iya."
***
Gavin hanya bisa berdoa sembari melihat ruang rawat Mikha dari kejauhan. Semua kondisi tentang Mikha bisa dia ketahui dari Bella yang menangani Mikha sejak dia datang ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Rasanya Gavin ingin masuk ke kamar tersebut. Tapi dia tak punya cukup keberanian untuk berhadapan dengan kedua orangtua Mikha setelah apa yang dia lakukan pada Mikha.
Apalagi Feni terang-terangan memintanya untuk menjauhi Mikha.
Lagipula, Mikha sediri belum tentu menerima kedatangannya. Dia takut malah akan memperburuk keadaan Mikha.
Sebenarnya dia ingin berada di dekat Mikha. Menggenggam tangan Mikha. Atau bahkan kalau seandainya bisa, biarkan dirinya saja yang berbaring di atas ranjang rumah sakit. Biar Gavin saja yang terluka asalkan Mikha tetap baik-baik saja.
"Sebesar apapun cinta yang Lo punya. Untuk Mikha, itu nggak akan ada artinya kalau Lo tidak mau memperjuangkan dia."
Gavin memalingkan wajahnya. Merasa tersindir dengan ucapan Bella. "Ngomong apa, sih, Lo?" sahut Gavin dengan ketus demi menjaga image.
"Lagi ngomongin soal laki-laki pengecut yang nggak mau memperjuangkan cintanya. Duh, nggak ngerti lagi, deh, sama Lo."
__ADS_1
Bella melenggang pergi meninggalkan Gavin yang masih terpaku di tempatnya.
🌹🌹🌹