Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 69


__ADS_3

Gavin sepertinya tidak bisa marah pada Mikha meskipun tingkah dan kemauan Mikha sedikit membuatnya mengurut kening.


Bukan karena dia takut pada Mikha. Tapi memang Gavin tak bisa sedikitpun marah pada Mikha. Sekesal apapun dia dengan permintaan Mikha yang terkadang melelahkan, tetap saja sikap Gavin pada Mikha begitu manis.


Tapi terkadang Gavin juga menasehati Mikha jika Mikha melakukan kesalahan. Dan bersyukur Mikha bukanlah tipe orang yang tidak suka diingatkan jika dia bersalah.


Mikha justru dengan dewasa menerima setiap nasehat yang diberikan Gavin. Tidak marah, dan berujung Gavin yang untung karena mendapatkan pelukan serta ciuman dari Mikha.


Dari sini Gavin paham. Jika dengan mudah Gavin menuruti keinginan Mikha, Mikha pun akan dengan mudah menerima nasehatnya dan lebih mudah diatur dan diarahkan.


Intinya, perlakukan istrimu sebagaimana kamu ingin diperlakukan.


"Kak. Buah matoa enak ya, kayaknya?"


"Mau?"


Mikha mengangguk antusias.


"Ya udah. Kita beli di toko buah atau supermarket."


"Nggak mau yang di sini, Kak."


Jantung Gavin berdegup kencang. Kira-kira, akan kemana lagi Mikha pergi untuk menuruti ngidamnya?


"Kenapa wajahnya begitu?" Mikha menyadari perubahan raut wajah Gavin.


"Hah? Emm... Enggak apa-apa, Sayang. Terus kamu mau yang dimana kalau nggak mau yang di sini?"


"Mau yang di Sragen."


Gavin membulatkan matanya. Benar dugaannya kalau Mikha pasti ingin di tempat yang jauh.


"Terus kita harus ke Sragen?"


Mikha menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


Mikha tersenyum lebar, semakin membuat jantung Mikha berdebar.


Apalagi saat Mikha menyandarkan kepalanya pada dada Gavin dan jarinya bermain di atas dada Gavin.


"Aku minta dibeliin sama Gilang," ucap Mikha pelan membuat Gavin melebarkan kedua matanya.


"Apa-apaan kamu, yang? Kenapa minta dibeliin sama Gilang, sih?" Gavin menegakkan tubuhnya hingga Mikha memisahkan diri darinya. "Kakak bisa beliin sendiri di manapun itu," imbuhnya dengan sedikit tegas.


Mata Mikha berkedip berulangkali melihat ke arah Gavin. Lalu dia menganggukkan kepala sambil berkata, "iya. Aku percaya kakak bisa beliin. Kemanapun aku minta. Tapi, ya, gimana..."


"Gimana apanya?" sahut Gavin tak sabaran.


"Pengennya dibeliin sama Gilang." Mikha menundukkan kepalanya. Ucapan Mikha membuat Gavin terperangah. "Mumpung Gilang dari Surabaya, Kak. Biar sekalian mampir gitu."

__ADS_1


Gavin mengangguk-anggukkan kepalanya. Menatap Mikha dengan tatapan sedikit marah karena Mikha memilih Gilang yang membelikan sesuatu yang dia inginkan.


"Iya. Sekalian, ya? Ya udah, kalau pengen apa-apa minta langsung ke Gilang. Nggak usah ke kakak."


"Kok, gitu? Kan, ini anak kakak. Hasil perbuatan kakak ini. Malah disuruh minta sama Gilang."


"Terserahlah, Mikha," ucap Gavin dengan marah lalu melenggang pergi meninggalkan Mikha sendiri.


Selama pernikahan, baru kali ini Gavin memanggilnya hanya dengan namanya saja. Gavin selalu memanggilnya sayang, honey, cinta. Tidak pernah dia memanggil "Mikha" seperti itu.


"Kok, panggilnya Mikha gitu?" protes Mikha yang tak dihiraukan oleh Gavin. Gavin terus melangkahkan kakinya meninggalkan Mikha.


"Kenapa, Mikha?" Yunita yang baru saja datang pun memandang Mikha penuh tanya.


Dia sedikit mendengar perdebatan antara Gavin dan Mikha dari luar.


"Kak Gavin kayaknya marah, Ma."


"Kenapa?"


"Gara-gara aku pengen buah matoa, tapi yang beliin Gilang, Ma."


"Kenapa harus Gilang, sayang?"


"Sekalian Gilang pulang dari Surabaya, Ma. Aku pengen matoa yang ada di Sragen. Nggak tau kenapa pengen banget yang beliin Gilang. Eh, kak Gavin malah marah. Katanya nanti apa-apa nggak usah minta dia lagi, minta aja ke Gilang gitu. Padahal kan, ini anaknya dia, Ma, bukan anak Gilang. Lupa apa dia tiap malam minta terus sampai anak ini ada. Sampai sekarang tiap malam pun minta, sampai..." Ucapan Mikha terhenti saat Mikha sadar bahwa dia sudah berbicara terlalu jauh.


Tanpa sadar Mikha sudah menceritakan urusan ranjangnya pada ibu mertuanya. Yunita sendiri tersenyum lebar mendengar penuturan Mikha.


Mikha sampai salah tingkah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, gitu, deh, Ma. Mikha ke kamar dulu, ya."


Sesampainya di dalam kamar, Mikha lihat Gavin tengah berbaring dengan satu lengannya yang menutupi mata.


Mikha tahu Gavin tidak tidur. Dia hanya berpura-pura tidur untuk menghindari pembicaraan dengan Mikha.


Tanpa menunggu lama, Mikha segera mengambil salah satu baju dinas yang menjadi kesukaan Gavin. Gavin selalu tidak sabaran saat Mikha mengenakan baju halal tersebut.


Mikha segera mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Tanpa dia tahu kalau Gavin sebenarnya memperhatikan dirinya.


Bibirnya tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Mikha. Tapi dia akan sedikit memberikan pelajaran bagi Mikha.


Enak saja dia meminta Gilang untuk turut andil dalam menuruti ngidamnya. Cukup sekali ini. Jangan sampai terulang lagi Mikha meminta Gilang untuk membelikan apa yang dia mau.


Gavin kembali menutup matanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Mikha pasti sangat seksi sekarang. Tapi Gavin berusaha menahan dirinya agar tidak melihat Mikha.


Perlahan, Gavin merasakan ranjang di sisinya bergerak. Lalu merasakan sentuhan tangan Mikha yang mendarat di perutnya.


"Kak... Kakak marah sama aku?" tanya Mikha dengan nada sedih.


"Aku minta maaf. Janji, deh, cuma sekali ini aja." Gavin menarik napas panjang lalu menghembuskan napasnya pelan. Menahan gejolak saat Mikha memainkan tangannya di atas tubuh Gavin, sampai ke titik sensitif milik Gavin.

__ADS_1


"Kak Gavin yakin mau diam aja? Aku tau, kok, kakak udah nggak tahan. Ngaku, deh."


Gavin masih bertahan dengan kepura-puraannya. Mencoba tidak terpengaruh oleh rayuan Mikha.


Mikha menghembuskan napas dengan sedikit kasar. "Ya udah, deh, kalau nggak mau maafin aku. Nggak apa-apa, kok. Lumayan, kan, aku nggak ngasih jatah lagi. Awas aja kalau sampai nanti malam atau besok-besok minta jatah. Nggak akan aku kasih."


Mikha menjauhkan tubuhnya. Dia sudah rela menurunkan rasa malunya menggoda Gavin dengan pakaian seperti itu tapi Gavin tak mau memaafkan dirinya.


"Besok-besok kalau minta aku pakai baju kayak gini, aku nggak akan mau. Biar dia sendiri aja yang pake." Mikha berucap dalam hati.


Gavin segera beranjak dan menarik tubuh Mikha yang begitu menggoda dengan pakaian dinasnya. Ditambah lagi perutnya yang semakin membesar membuat Gavin tidak pernah bisa menolak setiap Mikha lebih dulu menggodanya.


Tidak digoda saja Gavin meminta apalagi digoda seperti ini. Jelas Gavin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Apaan narik-narik begini?" protes Mikha sambil berusaha menyingkirkan tangan Gavin.


"Mau kemana, anak nakal? Beraninya kamu berulah, sayang. Mau dapat hukuman dari kakak, hm?" ucap Gavin gemas sambil menciumi leher Mikha.


"Sekali aja kok, Kak. Ayolah, aku nggak tau kenapa harus Gilang juga yang beliin. Pengen aja gitu, kak." Napas Mikha mulai tersengal.


"Janji, ya?"


Mikha menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kakak mau hukum kamu, Sayang."


"Nggak, ah. Aku udah nggak pengen. Suruh siapa tadi pakai jual mahal segala?"


Gavin tak menjawab. Dia lebih memilih mencumbu istrinya sampai dia terbuai dan tak kuasa untuk menolaknya.


🌹🌹🌹


Mikha terlihat sangat antusias saat menerima buah matoa yang dibelikan oleh Gilang.


"Thanks, Lang. Manis banget buahnya," ucap Mikha yang tengah menikmati buah matoa tersebut.


Gavin melengos kesal melihatnya.


"Sama-sama, Kha. Besok-besok kalau pengen apa-apa bilang aja biar aku cariin," balas Gilang yang membuat Gavin melotot ke arahnya.


"Apa-apaan kayak gitu? Nggak ada. Ini yang pertama dan terakhir istri gue minta dibeliin sesuatu sama Lo," ucap Gavin tegas tanpa bisa menutupi rasa cemburunya.


"Yaelah, kak. Lo kayak nggak kenal kata basa-basi aja, sih," sahut Gilang.


"Nggak ada kayak gitu meskipun cuma basa-basi."


Gilang menggelengkan kepalanya pelan melihat kecemburuan Gavin yang begitu besar.


Sedangkan Mikha terlihat cuek dengan perdebatan Kakak dan adik itu. Terlihat tak peduli karena dia lebih asyik menikmati buah matoa tersebut.


🌹🌹🌹

__ADS_1



Untuk pemanasan aku udah upload satu bab ya untuk cerita Gilang... bisa di save dulu biar nanti ada notif updatenya. ☺️☺️


__ADS_2