Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
part 49


__ADS_3

[ Sayang, bagaimana hari ini?]


Mikha tersenyum membaca sebaris pesan yang dikirimkan Nathan. Tak biasanya Nathan mengirim pesan. Dia pasti langsung menelpon Mikha.


Tapi hari ini Mikha juga sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Kalau Nathan menelepon, tentu dia tidak bisa konsentrasi.


^^^[ Aku baru ngerjain tesis. Sebentar, ya.]^^^


Sebagai mahasiswa yang tengah mengejar gelar magister, Mikha tengah disibukkan dengan pengerjaan tesis yang menguras waktu dan tenaganya.


Dia sampai jarang punya waktu untuk berbalas pesan atau menerima telepon dari Nathan.


Kadang, Mikha juga merasa bersalah. Apalagi Nathan sudah jarang ke Paris karena Nathan bilang usahanya di sini sudah cukup berkembang. Tinggal mengecek dari Jakarta saja.


Nathan juga mengatakan bahwa dia juga tengah mengembangkan bisnisnya Singapura. Sabab itu terkadang dia juga sibuk hingga tak bisa mengabari Mikha.


Bahkan, dalam waktu satu hingga dua Minggu tanpa berkadar pun pernah mereka lakukan. Semua karena kesibukan masing-masing.


Intinya, Mikha hanya berusaha untuk tetap percaya pada Nathan. Karena kepercayaan adalah pondasi sebuah hubungan.


Nikmati saja proses LDR yang tengah dia jalani bersama Nathan. Hingga nanti mereka dipertemukan, yang ada hanyalah keindahan dan kebahagiaan.


[ Aku free hari ini, Sayang. Jadi bisa nunggu kamu ngerjain tugas kamu. Mau video call?]


^^^[ Nanti aja, Nath. Aku takut nggak konsentrasi kalau lihat wajah kamu.]^^^


[Bisa aja kamu. Ya sudah, aku bantu doa, ya?]


^^^[Begitu lebih baik. Hehe]^^^


Mikha meletakkan handphonenya. Kembali melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai dan dia bisa segera pulang ke Indonesia.


Hampir dua tahun, Mikha penasaran bagaimana Indonesia sekarang. Khususnya Jakarta,dimana tempat tinggalnya berada.


Mikha juga ingin segera bertemu dengan Nathan.


"Bismillah... Empat bulan lagi bisa pulang," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Targetnya di Paris hanya dua tahun. Jadi diusahakan dengan keras oleh Mikha, semua selesai tepat waktu. Dan dia pun bisa pulang tepat waktu.


***


"Mikha?"


"Kamu?"


Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka masing-masing.


Gilang yang datang ke Paris hanya untuk berlibur, tanpa ada niat sedikitpun agar bertemu dengan Mikha, ternyata justru dipertemukan tanpa sengaja.


Seluas kota Paris, Gilang sebenarnya tak berharap bisa bertemu dengan Mikha. Tapi ternyata takdir mempertemukan mereka. Dan Gilang merasa sangat bahagia.


Di mata Gilang, Mikha semakin cantik. Jauh lebih cantik dari terakhir dia bertemu dengan Mikha hampir empat tahun yang lalu.


Sudah lama juga ternyata.


Gilang tak menyangka selama itu dia bisa mencintai Mikha dalam diam. Meskipun tak berani untuk menggantungkan harapan pada waktu untuk mempersatukan mereka kembali.

__ADS_1


Itu tidak akan mungkin terjadi. Hati Mikha sudah terpaut dengan siapa Gilang tidak tahu. Yang jelas, Mikha tak sendiri lagi sekarang.


"Liburan?" tanya Mikha membuka percakapan.


Gilang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, nih. Sejak lima tahun yang lalu, ini pertama kalinya aku liburan lagi."


"Serius?"


Gilang mengangguk lagi. "Iya."


"Nggak pernah stress? Nggak butuh healing, ya?"


Mendengar pertanyaan Mikha, Gilang menyemburkan tawanya.


"Lelaki emang gitu, ya? Habis ada masalah besar mereka nggak butuh healing."


"Nggak semua kayak gitu, kok. Kalau buat aku, healing nggak harus pergi ke tempat-tempat yang menenangkan. Tapi healing yang sebenarnya itu, mendekatkan diri dengan sang pencipta, berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Sampai hati benar-benar damai dan akhirnya kita bisa bangkit lagi."


"Wow!" Mikha terperangah mendengar ucapan Gilang. "Ini beneran Lo kan, Lang?" imbuh Mikha masih dengan rasa tak percaya.


Rasanya tak percaya kalau yang mengatakan barusan adalah Gilang. Lelaki yang dulu begitu menyebalkan dan terus menerus menyakiti Mikha dengan kelakuannya, sekarang bahkan bisa berkata seperti itu. Sangat memotivasi menurut Mikha.


"Kenapa? Aneh, ya, aku ngomong kayak gitu?"


Tanpa basa-basi, Mikha menganggukkan kepalanya. "Iya, aneh."


Gilang terkekeh kecil. "Memang aneh, sih, kalau mengingat kelakuan aku dulu. Banyak juga orang yang nggak percaya dengan perubahan aku. Tapi manusia berhak untuk memperbaiki hidupnya, kan?"


Mikha mengangguk membenarkan.


"Dan aku sedang berusaha untuk itu," imbuh Gilang dengan tenang.


Memang sulit dipercaya dengan perubahan yang dia bawa sekarang. Mengingat bagaimana dulu kelakuan Gilang. Namun sekali lagi, manusia berhak dan harus berubah menjadi lebih baik lagi. Mikha tidak berhak mengungkit lagi bagaimana Gilang yang dahulu.


Mikha rasa dia juga tidak berhak bertanya bagaimana prosesnya hingga dia bisa seperti sekarang.


"Aku dengar kamu mau menikah?" Gilang kembali membuka suara.


Mikha tersenyum tipis. "Belum. Rencananya baru mau lamaran setelah gue pulang dari sini."


"Masih lama kuliahnya?"


"Doain aja biar bisa selesai tepat waktu. Kira-kira tiga bulanan lebih-lah."


"Kamu dengan Gavin gimana?"


Mendengar nama itu disebut, senyum di bibir Mikha memudar.


Mikha juga bingung harus jawab bagaimana tentang hubungannya dengan Gavin. Mikha heran, dengan Gilang saja dia bisa seperti ini. Sesantai ini mengobrol dengan Gilang. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Gilang itu sebenarnya lebih menyakitkan.


Tapi entah kenapa dia tidak bisa bersikap biasa saja pada Gavin. Bahkan kedatangan Gavin ke sini demi meminta maaf dari Mikha pun tak Mikha indahkan.


Memberinya kesempatan bicara tapi ujungnya tetap sama, Mikha enggan menjalin hubungan baik dengan Gavin.


"Mungkin karena kamu dulu cinta sama dia. Jadi apa yang dia lakukan, rasanya lebih menyakitkan daripada apa yang pernah aku lakukan." Ucapan Gilang menandakan seolah dia tahu apa yang ada di pikiran Mikha.


Tentu wajah dan mata Mikha tak bisa berbohong tentang bagaimana hubungannya dengan Gavin setelah hubungan mereka berakhir.

__ADS_1


"Oke, Mikha. Aku harus balik ke hotel. Teman-temanku sudah lebih dulu kembali ke sana. Terimakasih sudah bersedia mengobrol denganku. Tadinya aku pengen ngajak jalan-jalan kamu sebentar. Tapi kayaknya kamu lagi sibuk, ya? Sukses buat tesisnya. Cuma bisa bantu doa."


Mikha tertawa kecil. "Thanks buat doanya. Hati-hati," balas Mikha.


Meskipun rasanya tidak rela harus berpisah dengan Mikha, tapi Gilang tetap harus pergi.


Setidaknya, pertemuan mereka sudah mengurangi rasa rindu di hati Gilang. Tapi, bukannya Gilang merasa lega, tapi rasa rindu itu bertambah semakin besar.


🌹🌹🌹


"Mikhayla Wiratmaja, ada titipan buat kamu," ucap resepsionis di apartemennya dalam bahasa Perancis.


Mikha memicingkan matanya melihat boneka besar yang ada di meja resepsionis.


"Dari siapa?" balas Mikha, dalam bahasa Perancis juga.


"Aku tidak tahu. Ada suratnya di sini."


"Oke. Thank you."


Mikha membawa boneka panda yang besarnya hampir menyamai dirinya. Dengan susah payah membawanya berjalan dan masuk ke dalam lift.


Sudah berat membawa tas berisi buku-buku tebal dan laptop, Mikha masih harus menggendong boneka tersebut.


Mikha bertanya-tanya, siapa yang mengirimkan boneka sebesar ini untuknya? Nathan-kah yang mengirimkan?


Mikha tersenyum senang. Mengira kalau Nathan adalah yang mengirim boneka itu untuknya.


Sesampainya di apartemen, Mikha meletakkan boneka tersebut ke atas sofa. Mengambil amplop berisi surat yang diselipkan di boneka tersebut.


Hai, Mikha! Apa kabar?


Masih suka boneka panda, kan? Semoga boneka yang aku kirimkan bisa membuatmu sedikit tersenyum.


Mikha...


Bolehkah aku iri dengan kedekatan kamu dengan Gilang?


Kamu bisa memaafkan dia. Bahkan mengobrol santai dengan dia.


Tapi denganku? Seperti sudah tidak ada kata maaf darimu untukku.


Sukses untuk tesis yang sedang kamu kerjakan, ya!


Semoga bisa lulus tepat waktu dan segera pulang ke Indonesia.


Aku menunggumu...


Gavin


"Kak Gavin?" gumamnya.


Mikha menghembuskan nafas panjang. Darimana pula Gavin tahu kalau Mikha bisa mengobrol santai dengan Gilang?


Mikha menendang boneka tersebut dengan penuh kekesalan. Kenapa hidupnya tidak pernah tenang? Selalu saja ada Gavin maupun Gilang yang hadir kembali di kehidupannya secara silih berganti.


"Ya Allah... Capek banget berurusan dengan mereka."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Aslinya percakapannya pakai bahasa Perancis ya.. tapi aku nggak tau bahasa Perancis gimana, takut salah jadi di tulis BHS Indonesia 🤣🤣🤣


__ADS_2