
Bulan-bulan terakhir masa kuliahnya, Mikha tinggal sendiri di Paris. Tidak ada lagi Mia dan Sandy karena mereka sudah pulang lebih dulu sejak usia kandungan Mia menginjak bulan ke sembilan.
Mereka berencana untuk lahiran di Jakarta agar Mia lebih dekat dengan keluarga dan ada yang membantu Mia nanti untuk mengurus anak kembar mereka.
Ya, setelah beberapa tahun pernikahan, akhirnya Allah membayar tuntas penantian mereka. Dua anak sekaligus yang mereka dapatkan.
Mikha membayangkan jika dia memiliki seorang anak. Seandainya pernikahannya dulu dengan Gilang menjadi pernikahan yang sempurna, pasti sekarang Mikha sudah menjadi seorang ibu.
Tapi, jangankan menjadi seorang ibu. Miliknya saja masih tersegel meskipun Mikha sudah menjalani masa pernikahan selama setahun lamanya.
Boneka panda kiriman dari Gavin tidak dia buang. Tapi tidak juga dia sentuh. Boneka itu hanya diletakkan di kamar tempat Mikha meletakkan barang-barangnya di sana. Kamar yang juga menjadi tempatnya untuk belajar.
Hari ini kedua orangtuanya datang untuk menghadiri wisudanya besok pagi. Sayang, Nathan tak bisa membersamai. Padahal, Mikha ingin di foto wisudanya ada Nathan di sampingnya.
Lelaki itu sangat sibuk beberapa bulan ini. Menghubungi Mikha pun hanya sekedarnya saja. Mendadak Mikha ragu, apakah dia benar-benar serius jika seperti ini jalinan komunikasi mereka?
Mendadak Mikha meragukan cinta yang Nathan berikan. Mikha takut jika pada akhirnya Nathan akan sama saja dengan Gavin dan Gilang. Yang hanya memberikan luka saja di dalam hidupnya.
"Nathan kenapa nggak ikut, sih, Ma, Pa? Dia sibuk banget, ya?"
Wira dan Feni saling berpandangan. Mencari jawaban yang pas atas pertanyaan Mikha. "Dia udah hubungin kamu kemarin, kan? Dia lagi sibuk, Sayang. Maafkan dia, ya?"
Pada akhirnya, Mikha hanya bisa mengangguk lesu. Tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima semuanya.
Mikha juga sedang berjuang untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bayangan Gavin menyakitinya terus terlintas di pikirannya. Mikha takut hal itu akan kembali terulang mengingat hubungannya dengan Nathan seperti ini.
Bukannya semakin dekat, Mikha justru merasa Nathan semakin jauh dan tak tersentuh.
Yang semakin gencar menghubungi Mikha justru Gavin lewat DM instagram miliknya.
Lelaki itu sering bertanya apa kabar Mikha hari ini, apa kegiatan Mikha. Semua rutin Gavin lakukan meskipun tak ada satupun balasan dari Mikha.
"Nathan..." gumamnya pelan. Mikha merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya memandang lekat foto dirinya bersama Nathan yang terpajang di dinding kamarnya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu Mikha selama dua tahun akhirnya tiba juga. Lulus dan wisuda tepat waktu.
Gelar S2 dia dapatkan dengan nilai yang sangat memuaskan di usianya yang masih terbilang muda.
Setelah ini, Mikha akan memasuki dunia yang sesungguhnya. Dalam artian, Mikha tidak lagi menjadi seorang pelajar. Tapi akan segera bekerja, membangun karirnya, dan juga menikah dengan Nathan jika itu masih bisa dijadikan sebuah harapan.
Dua kali wisuda, Mikha hanya didampingi oleh kedua orangtuanya saja. Berharap kali ini ada Nathan, tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan.
Ya sudah. Mikha tak ingin ambil pusing.
Lebih baik dia kemasi sebagian barang-barangnya yang masih tersisa di apartemen. Sebagian besar sudah dia kirimkan ke Indonesia sejak seminggu yang lalu.
Dengan tujuan, kali ini dia pulang tidak membawa banyak barang yang menurutnya itu sangat merepotkan.
Berjam-jam di dalam pesawat, dengan harapan saat dia turun nanti, ada Nathan yang akan menyambutnya.
__ADS_1
Anggap saja sebuah kejutan untuk Mikha setelah berbulan-bulan mereka tidak bertemu. Bahkan untuk sekedar telepon atau video call saja tidak Nathan lakukan.
Ingin marah rasanya. Nathan mengatakan dia sibuk dengan pekerjaannya. Hal yang dulu juga pernah dilakukan oleh Gavin dan berujung dengan pertengkaran di mall lalu Mikha tenggelam di laut.
Dalam urusan cinta, kenapa Mikha selalu tersakiti. Apa ini sebuah kutukan karena nekat melawan wasiat kakeknya? Ah, Mikha tak percaya akan hal tersebut.
Lalu kenapa dengan kisah asmaranya? Apa salahnya? Kenapa selalu seperti ini ujung dari kisah cinta yang dia bangun?
Harapan tinggal harapan. Yang menyambut kedatangannya hanya Sena yang kini memeluknya dengan erat.
"Sumpah. Gue kangen banget sama Lo, Mikha."
"Gue juga kangen banget sama Lo."
Setahun yang lalu mereka bertemu. Sena sengaja mengambil cuti tahunannya untuk mengunjungi Mikha. Benar-benar tidak keluar biaya sedikitpun karena semua keperluan Sena ditanggung oleh kedua orangtua Mikha.
"Bos Lo dimana?" sambung Mikha membuat Sena terdiam.
Sena menggelengkan kepalanya. "Gue udah beberapa bulan nggak ketemu sama Pak Nathan. Terakhir gue ketemu waktu gue resign empat bulan yang lalu. Dan setelah itu, gue nggak lagi dengar kabar soal dia."
Mikha terperangah mendengar jawaban Sena yang di luar ekspektasinya.
Sekarang, Mikha tidak tahu lagi harus menanyakan perihal Nathan kepada siapa. Orang-orang yang Mikha kenal dan Nathan kenal tidak mau mengatakan dimana Nathan.
Apakah Nathan baik-baik saja? Lalu kenapa orang-orang seakan menyembunyikan keberadaan Nathan dari Mikha? Kejutan apa yang sedang mereka siapkan untuk menyambut kepulangan Mikha?
"Ma, Pa. Bisa aku ketemu sama Nathan? Papa bisa antar aku ke rumah dia?" desak Mikha.
"Kita pulang dulu, ya, istirahat. Besok baru kita ketemu sama Nathan."
"Kita pulang dulu, Mikha. Kamu butuh istirahat sebentar. Nathan baik-baik saja. Besok kita ketemu sama Nathan."
Tak ada pilihan lain bagi Mikha selain menuruti apa ucapan Wira.
Dengan menghentakkan kakinya dengan kesal, Mikha berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggu mereka.
Tak terasa, air matanya berjatuhan. Apa lagi yang akan terjadi di dalam hidupnya setelah ini?
🌹🌹🌹
Mikha sudah siap untuk menemui Nathan. Hari ini dia akan menagih janji kedua orangtuanya untuk mempertemukan dirinya dengan Nathan.
Tapi, Mikha sudah disambut oleh beberapa orang saat baru saja dia turun dari lantai dua, dimana letak kamarnya berada.
Mereka itu adalah orangtua Nathan. Mikha masih mengingat dengan baik bagaimana wajah mereka meskipun hanya melihatnya di foto.
"Mikha, ada orangtuanya Nathan," ucap Feni dan memberi kode pada Mikha agar mendekat.
Elisa, dia adalah Mama Nathan, berdiri dan memeluk Mikha dengan erat. "Aslinya lebih cantik daripada di foto," ucap Elisa menuju Mikha.
Mikha hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ini Om Bima. Papanya Nathan," sambung Elisa memperkenalkan suaminya.
Mikha pun tersenyum lalu menyalami Bima dan mencium tangannya sebagai tanda hormat.
"Nathan dimana, Om, Tante?"
Mendengar Mikha menyebut Nathan, mereka saling melempar pandangan. Membuat Mikha semakin bingung dengan keadaan ini.
"Tante, Om?" imbuh Mikha membuyarkan diamnya mereka.
Elisa tersenyum. "Kita ketemu Nathan sekarang."
Ucapan Elisa membuat Mikha tersenyum lebar. Setelah sejak kemarin Mikha bertanya-tanya dimana Nathan, akhirnya dia akan menemukan jawabannya.
Dengan semangat Mikha mengikuti mereka masuk ke dalam mobil.
Jantung Mikha berdebar kencang. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan Nathan. Dia sudah sangat merindukan Nathan. Entah lelaki itu merindukan Mikha atau tidak.
***
"Kenapa ke sini?" Mikha bertanya dengan gelisah. Pasalnya, mobil Wira dan Bima masuk ke area pemakaman umum.
Jantung Mikha berdegup kencang. Pikirannya sudah tidak karuan. "Ma, Pa?"
"Kita ketemu Nathan," ucap Feni dengan pelan. Merangkul pundak Mikha dan mengajaknya turun dari mobil.
"Tapi kenapa ke sini? Nathan ngapain di sini, Ma?" tanya Mikha dan tak mendapatkan jawaban apapun. Mikha segera mendekati Elisa. "Tante, Om, kita mau ketemu Nathan, kan? Kenapa malah ke sini? Nathan nggak mungkin di sini, kan?"
Mendengar berbagai pertanyaan Mikha, Elisa tak sanggup lagi untuk menahan air matanya yang sebenarnya sudah ingin dia tumpahkan saat pertama kali melihat Mikha.
Elisa segera memeluk erat Mikha. "Dia sudah tenang, Sayang," bisik Elisa pelan.
Kaki Mikha terasa lemas seketika. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pandangannya kosong. Tak lagi berbinar seperti saat orang-orang mengatakan akan mengajaknya menemui Nathan.
***
"Dia menderita kanker. Kepergiannya ke Paris karena untuk berobat, bukan membangun bisnis di sana. Pindah ke Singapura saat penyakitnya semakin parah. Dia hanya tidak ingin kamu melihat dia dalam keadaan lemah dan sakit. Yang dia mau hanya melihat kamu bahagia, Mikha."
Air mata Mikha tak henti-hentinya menetes saat mendengar penjelasan Bima dan Elisa. Mikha terus memeluk nisan yang bertuliskan nama Nathan Wijaya.
"Dia selama ini sangat sehat, Tante. Nathan nggak mungkin sakit."
"Dia berusaha baik-baik saja di hadapan kamu, Sayang."
"Kamu jahat banget, Nath, sama aku. Aku salah apa sama kamu sampai kamu sejahat ini sama aku?"
"Kamu janji mau ngelamar aku kalau aku pulang dari Paris. Sekarang aku tagih janji kamu, Nath."
Mikha tak bisa menghentikan air matanya. Dia berharap Nathan ada di sini, memeluknya seperti biasanya. Dia sangat merindukan pelukan hangat dari Nathan.
"Nathan... Aku cuma berharap ini semua mimpi. Aku segera bangun dan bisa memeluk kamu lagi," gumam Mikha pelan sebelum Mikha kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Udah mulai ketebak ya kemarin Nathan ketemu sama Gavin ngapain? 😅😅