
"Mikha... Bangun, woy!"
Teriakan Sena membuat Mikha mendengus kesal. Dia tutup kedua telinganya menggunakan bantal agar tidak terganggu dengan suara cempreng milik Sena yang membangunkannya di jam setengah enam pagi.
"Kayaknya kemarin Lo yang ngajak joging. Aturan Lo yang jemput gue, bukan gue yang datang ke sini."
"Berisik, Lo, Sen. Gue masih ngantuk."
"Nggak ada ngantuk-ngantuk. Bangun, ayoo!!"
Sena menarik kedua tangan Mikha hingga posisi Mikha duduk di atas ranjang. Matanya masih terpejam, sangat berat untuk terbuka sedikit saja.
"Semalam Lo begadang lagi, ya, nonton Drakor? Kebiasaan!"
Mikha mengacak rambutnya dengan kasar. Sudah berantakan, tambah berantakan karena ulah tangannya sendiri. Untung cantik. Jadi mungkin kalau pacar atau suami Mikha yang melihat Mikha bangun tidur terlihat sangat berantakan begini tidak akan illfeel.
"Ngomel mulu Lo kayak emak-emak anak tiga," imbuh Mikha dengan kesal lalu terpaksa berjalan menuju kamar mandi.
Mikha sedikit menyesal kenapa kemarin mengajak Sena untuk joging. Harusnya di hari Minggu pagi dia bisa bangun siang tanpa seorangpun yang mengganggu tidurnya.
***
Baru berlari dua putaran mengelilingi taman, Mikha sudah kelelahan sekaligus kelaparan. Belum makan apa-apa, tapi sudah diajak lari memutari taman.
"Capek, Sen."
"Baru juga dua putaran, Kha."
Mikha berhenti sebentar untuk mengatur napasnya. Sedangkan Sena masih terus berlari kecil tanpa menyadari kalau Mikha berhenti.
"Biarin ajalah Sena lari sendiri. Capek gue," ucapnya lalu duduk di salah satu bangku taman.
Setelah merasa lelahnya sedikit berkurang, Mikha mendekati penjual bubur ayam dan memesan satu porsi untuk dirinya sendiri.
Bubur yang masih panas bercampur dengan kuah kuning serta taburan bawang goreng, kacang, dan ayam suwir lalu ditambah dengan banyak sambal dan kecap sudah siap di hadapan Mikha.
"Sena udah sarapan belum, ya?" gumamnya sambil mengambil sate hati ampela. "Tau, ah. Nanti biar pesan sendiri aja. Yang penting gue makan dulu."
Saat tengah asyik menikmati bubur ayamnya, Sena datang dan berkacak pinggang dan menatap Mikha dengan kesal.
Sejak tadi Sena pikir Mikha masih ikut berlari dengannya. Tapi ternyata Mikha malah sedang asyik menikmati bubur ayam.
Bahkan kini Mikha menatap Sena dengan tatapan tanpa dosa. Tidak tahu saja kalau Sena mencari Mikha ke sana kemari.
"Bagus, ya. Gue cariin Lo kemana-mana ternyata malah asyik makan di sini."
Mikha tersenyum lebar. "Maaf. Kan, gue udah bilang kalau gue capek. Lapar, Sena. Belum sarapan udah lari-lari. Jangan marah-marah mulu. Makan bubur, ya. Gue pesenin."
"Iyain aja, deh."
"Haduh, kalau ditraktir aja udah nggak marah-marah lagi."
"Ya gimana orang gue juga lapar?"
Keduanya lantas menertawakan kekonyolan mereka sendiri.
Tak hanya bubur ayam, Mikha juga membeli banyak jajanan yang paling enak menurutnya. Lebih enak dari pizza, burger dan lain sebagainya.
__ADS_1
Apalagi kalau bukan sebangsa telur gulung dan segala olahan aci yang tak pernah gagal membuat mulutnya ingin terus mengunyah makanan-makanan tersebut.
"Bakar kalori nggak seberapa, tambahnya nggak kira-kira," ucap Sena yang lagi-lagi membuat keduanya tertawa keras.
"Gue mau nikah, Kha." Ucapan Sena yang tiba-tiba membuat Mikha terdiam.
"Sama siapa? Teman macam apa Lo nggak berita sama gue lagi dekat sama siapa bahkan sampai udah mau nikah gini?"
"Teman kantor gue. Sorry kalau gue belum cerita ke Lo. Gue nunggu suasana hati Lo benar-benar membaik dulu, Mikha."
"Buat apa? Takut gue juga pengen nikah? Jodoh orang beda-beda kali, waktunya."
Sena tertawa kecil. "Sekaligus kejutan aja, sih."
"Kapan?"
"Tiga bulanan lagi. Mudah-mudahan nggak ada halangan apapun."
Mikha tersenyum dan menatap Sena. "Selamat, ya. Semoga bahagia selalu. Lancar sampai hari pernikahan nanti."
"Lo juga harus bahagia selalu, ya. Gue yakin, dari sekian banyak luka yang udah Lo hadapi, akan ada kebahagiaan yang tidak terkira yang udah disiapkan buat Lo."
Mikha mengangguk dan tersenyum lebar. Dia tidak tahu kebahagiaan apa yang sudah disiapkan untuknya hingga dia harus melewati banyak cobaan yang menyakitkan. Suatu proses yang begitu menguras emosinya.
🌹🌹🌹
"Hai!"
Mikha yang sedang bermain handphone selagi menunggu Sena yang sedang ke kamar mandi pun mendongakkan kepalanya mendengar suara yang tidak asing lagi baginya.
"Boleh duduk di sini?"
Mikha mengangguk. "Boleh."
"Sendirian aja?"
"Enggak. Sama Sena. Dia lagi ke kamar mandi."
Gavin mengangguk-angguk paham. Matanya melirik jajanan yang ada di samping Mikha, dan satu telur gulung yang ada di tangan Mikha.
"Makanan favorit dari dulu nggak pernah berubah, ya?"
Mikha tersenyum canggung. Bukan malu. Tapi lebih ke merasa aneh saat mencoba untuk kembali akrab dengan mantan kakak ipar, sekaligus mantan kekasihnya.
Mikha duduk dengan gelisah. Selera makannya pun menghilang begitu saja setelah kedatangan Gavin. Perginya Sena ke kamar mandi terasa sangat lama sekali.
Hingga tiba-tiba satu pesan dari Sena masuk ke handphonenya.
[Mobil mau dipakai ayah gue ke kondangan, Mikha. Gue pulang duluan, ya. Maaf, tadi gue lupa bilang kalau harus pulang cepat. Gue lihat ada Kak Gavin. Gue pikir Lo aman sama dia. Have fun, ya.]
"Kurang ajar Lo, Sena!" umpatnya dalam hati setelah membaca pesan dari Sena.
Mikha tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Sena.
Pasti pertemuannya dengan Gavin pagi ini sudah direncanakan oleh Sena, pikir Mikha.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Hah? Oh, enggak apa-apa, kok."
"Sena lama, ya?"
Mikha mengangguk membenarkan. "Iya. Dia malah pulang duluan ternyata. Gue balik dulu, ya, Kak."
"Naik apa?"
"Bisa naik taksi."
"Kakak antar aja."
"Eh, nggak usah." Buru-buru Mikha menolaknya. Terlalu lama berdekatan dengan Gavin tidak akan baik untuk kesehatan jantung Mikha.
Jantungnya berdegup kencang setiap berada di dekat Gavin. Bahkan hanya melihat Gavin dari kejauhan pun sanggup membuat jantung Mikha berlompatan.
"Udah. Ayo, kakak antar."
Tanpa meminta ijin, Gavin menggenggam erat tangan Mikha dan mengajak Mikha ke tempat mobil Gavin terparkir.
Mikha berusaha untuk melepaskan tangannya. Tapi yang Gavin lakukan justru semakin mempererat genggamannya.
"Kak?"
"Hmm."
"Lepasin tangan gue."
Ucapan Mikha hanya dianggap angin lalu oleh Gavin. Tidak dibalas dengan ucapan, atau dibalas dengan cara menuruti keinginan Mikha.
Sesampainya di mobil Gavin, Gavin membukakan pintu untuk Mikha. "Silahkan, tuan putri!" ucap Gavin dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, mempersilahkan Mikha masuk ke dalam mobil.
Mikha salah tingkah. Apalagi keduanya kini tengah menjadi pusat perhatian.
Banyak wanita-wanita yang memekik pelan melihat perlakuan Gavin terhadap Mikha. Pastinya mereka ingin berada di posisi Mikha. Diperlakukan seperti Mikha.
Tak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian, Mikha segera masuk ke dalam mobil. Berharap Gavin akan segera mengantarnya pulang lalu jantungnya bisa bekerja dengan normal kembali.
***
Gavin tersenyum tipis melihat Mikha yang terlihat salah tingkah. Wajah Mikha tak bisa menutupi jika dia tengah sangat gugup saat ini.
Berusaha lebih keras lagi untuk kembali mendapatkan hati Mikha. Itu yang harus Gavin lakukan saat ini.
Cukup kemarin dia cemburu melihat kebersamaan Mikha dengan Nathan. Kali ini tak akan lagi Gavin biarkan Mikha dekat dengan lelaki manapun selain dirinya.
Egois? Biarkan. Terkadang cinta memang harus egois. Harus memiliki dan tidak boleh dimiliki orang lain.
Cukup sekali saja Gavin begitu bodoh melepaskan Mikha begitu saja dan tak mau berjuang.
Kali ini, Gavin rela kehilangan apapun asalkan tidak kehilangan Mikha lagi. Akan dia perjuangkan restu yang masih terlihat abu-abu.
Wira mempersilahkan Gavin mendekati Mikha lagi. Tapi sikap Wira dan Feni masih menunjukkan bahwa mereka tidak lagi respek dengan Gavin.
Dan Gavin akan berusaha mendapatkan kepercayaan dari Wira dan Feni untuk menjaga Mikha sepenuhnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1