
Gavin terus menggenggam erat tangan Mikha saat berada di bandara. Terkadang juga memeluk pinggang Mikha dengan posesif saat banyak lelaki yang memperhatikan Mikha.
Gavin akui, semakin hari Mikha semakin cantik saja di matanya. Penampilannya siang ini pun begitu mempesona dengan celana sampai atasan yang dia pakai berwarna putih semua.
Kaca mata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung. Rambut panjangnya digerai. Menambah kecantikan Mikha berkali-kali lipat.
Mereka akan segera melakukan penerbangan ke Lombok untuk berbulan madu selama satu Minggu lamanya. Satu bulan setelah resepsi, mereka baru memiliki waktu sekarang.
Awalnya Mikha menolak. Tapi Gavin berhasil membujuknya dengan alasan ingin suasana baru. Siapa tahu pulang dari Lombok Mikha akan segera positif hamil.
Gavin ingat betul saat dua Minggu yang lalu Mikha kembali mendapatkan tamu bulanannya, Mikha menangis tersedu.
"Kok, belum hamil juga, ya, Kak? Padahal udah telat seminggu loh. Kalau ternyata aku nggak bisa hamil gimana?" tanya Mikha saat itu dan langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Gavin.
"Kenapa ngomongnya gitu, sih, Sayang? Baru tiga bulan kita menikah. Masih banyak waktu, kok. Ngomongnya yang baik-baik, ah. Omongan itu doa."
"Perempuan lain kayaknya banyak yang langsung hamil setelah menikah."
"Mereka tanam saham dulu kali," jawab Gavin dengan asal.
"Ih, Kak Gavin. Aku serius!"
Gavin menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Sayang, rejeki orang itu berbeda-beda. Mereka dikasih cepat itu ya berarti memang sudah rejeki mereka. Kalau belum dikasih, itu tandanya kita harus memantaskan diri lagi. Coba diambil hikmahnya. Akhir-akhir ini kan, kamu sibuk banget. Mulai pernikahan kita sendiri, terus pernikahan Sena juga. Allah tau kamu pasti bakalan capek banget. Dan menjaga kandungannya nggak maksimal juga. Padahal, kata orang kalau awal-awal hamil itu sangat rentan. Perlu kehati-hatian yang ekstra."
Mikha akhirnya terdiam setelah mendengar ucapan Gavin yang dia rasa benar. Sebelumnya memang Mikha terlalu sibuk. Setiap malam pun kadang mengeluh kalau tubuhnya terasa sangat lelah.
"Sayang, pakai masker aja nih." Gavin mengulurkan sebuah masker agar Mikha pakai untuk menutupi wajahnya yang cantik itu.
Gavin tidak rela wajah cantik istrinya dinikmati banyak lelaki. Sebab itu dia juga tak pernah memposting foto Mikha di sosial medianya.
Meskipun Mikha sempat mengamuk karena Gavin tak melakukannya, namun akhirnya Mikha tersenyum bahagia saat Gavin menjelaskan apa maksudnya tidak pernah memposting fotonya.
"Apa, sih, kak? Pengap pakai masker."
"Kakak nggak mau, ya, para lelaki itu liatin kamu begitu."
"Emang cuma aku yang diliatin laki-laki lain. Kakak dari tadi nggak nyadar cewek-cewek itu juga lihatin kakak terus. Apa lagi mbak pramugari yang barusan lewat. Sampai dia nabrak temannya karena lihatin kakak terus."
"Emang iya?"
Mikha mengangguk malas. Sebenarnya juga kesal melihat suaminya dilihat sampai segitunya. Tapi Mikha bisa apa, namanya juga di tempat umum. Kalau tidak mau dilihat lebih baik di rumah saja tidak perlu pergi-pergi kemanapun.
"Ya udah. Pakai masker semua aja. Sini kakak pakaikan."
__ADS_1
Mikha tak melawan saat Gavin memakaikan sebuah masker untuknya. Menutup hidung dan mulutnya dan hanya kedua mata indah Mikha yang terlihat.
***
Setelah beberapa jam perjalanan udara, Mikha dan Gavin masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih dua jam untuk sampai di Gili Trawangan.
Sebenarnya ada perjalanan lewat laut. Waktu tempuhnya pun lebih sebentar. Hanya dua puluh menit saja.
Tapi Gavin dan Mikha memilih perjalanan darat agar bisa menikmati pemandangan lain di Lombok.
Sesampainya di tempat tujuan, Gavin langsung check-in di sebuah penginapan mewah dengan fasilitas terbaik pula.
Pilihannya adalah sebuah resort mewah dengan view pantai. Ketika jendela kamar terbuka, pemandangan pertama adalah pantai. Ada kolam renang pribadi juga yang bisa langsung melihat pantai.
Pantai tetap menjadi tempat kesukaan Mikha meskipun dia hampir tenggelam di pantai.
"Kamu suka, sayang?" Gavin memeluk pinggang Mikha dari belakang. Keduanya kini sama-sama berdiri di dekat jendela kamar dan melihat pantai yang membentang luas.
Mikha mengangguk dan tersenyum tipis. Menoleh sedikit lalu menghadiahi sebuah kecupan manis di pipi Gavin. "Aku selalu suka tempat apapun asalkan bersamamu, Kak."
"Istirahat dulu, Sayang. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh."
Mikha mengangguk membenarkan. Lantas dia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Mikha menghembuskan napas panjang. Akhirnya dia bertemu dengan kasur dan bantal. Pinggangnya terasa sangat pegal karena perjalan jauh mereka sebelum sampai ke tempat seindah ini.
Mikha menatap langit-langit kamar mereka, dan Gavin memeluk Mikha dengan erat tangan terlepas sedikitpun.
"Sedikasihnya, sayang."
"Tiga?"
"Memangnya kuat, sayang, kalau harus hamil dan melahirkan sebanyak tiga kali?"
Mikha mengangguk yakin. "Kuat, Kak. Aku pengen punya banyak anak. Apalagi kakak kan, ada gen kembar. Siapa tahu anak-anak kita nanti juga kembar. Aku pengen rumah kita ramai dengan anak kecil. Jadi anak tunggal itu nggak enak, Kak. Aku kesepian. Nggak ada tempat ngobrol di rumah. Jadi aku pengen punya banyak anak."
"Aamiin," ucap Gavin sebagai pertanda bahwa dia setuju dengan keinginan Mikha. "Kalau gitu gimana kalau usahanya dimulai dari sekarang? Habis ini kembar dua atau tiga bolehlah." Gavin menggoda Mikha. Tangannya sudah bergerak aktif menaikkan kaos yang dikenakan Mikha.
"Tadi katanya disuruh istirahat. Nyesel aku, Kak, tiduran di sini kalau ujung-ujungnya juga nggak bisa istirahat."
Gavin tergelak mendengar ucapan Mikha. Akhirnya Gavin pun mengalah. Membiarkan Mikha beristirahat terlebih dahulu.
Masih banyak waktu untuk melakukan usaha agar Mikha cepat hamil. Semoga doa mereka terkabul. Pulang dari Lombok akan segera mendapatkan garis dua.
"Ya udah, nanti saja kalau begitu. Istirahat dulu aja. Sini kakak peluk."
__ADS_1
"Tangannya nggak usah aneh-aneh, ya."
"Iya."
"Janji?"
"Janji, Sayang. Udah, ya. Kamu mau tidur apa kakak tiduri, hm?"
Tanpa menjawab, Mikha langsung memeluk Gavin dan memejamkan matanya dengan erat. Takut Gavin akan benar-benar melakukannya di saat tubuhnya terasa lelah seperti ini.
Bukan Mikha tidak mau. Tapi Mikha takut tidak maksimal saat melayani Gavin.
🌹🌹🌹
Sebulan kemudian...
Gavin mulai bersikap posesif saat tahu Mikha sudah telat seminggu lamanya. Padahal, Mikha belum melakukan test. Mikha masih takut kalau hasilnya kembali negatif.
"Jangan pakai heels, sayang. Pakai flat shoes aja."
"Masa ke nikahan orang pakai flat shoes, kak?"
"Nurut atau kita nggak usah berangkat?"
Mikha menghembuskan napas dengan kesal. Meletakkan kembali high heels yang dia ambil lalu mengambil flat shoes berwarna hitam miliknya.
"Aku itu belum tentu hamil, Kak."
"Makanya di cek, atau periksa langsung biar kita bisa hati-hati, Sayang. Kalau ternyata kamu hamil terus kamu nggak hati-hati terus kenapa-kenapa gimana? Kita juga yang nyesel."
"Kemarin telat seminggu juga nggak hamil, kan, kak? Siklus aku aja yang berantakan, kak."
Gavin menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. "Kenapa, sih, Sayang, harus trauma sama testpack? Baru dua kali, kan, kayak gitu? Lihat yang bertahun-tahun belum dikasih anak dan setiap bulan tetap melakukan test! Mereka nggak trauma sama testpack."
Mendengar ucapan Gavin, Mikha meneteskan air matanya. Mikha merasa Gavin sedang memarahinya hanya karena dia tidak mau melakukan test.
"Kenapa malah nangis, Yang?" Gavin segera menghampiri Mikha dan memeluk Mikha dengan erat. Jari-jarinya menghapus air mata yang menetes di pipi Mikha. "Maaf kalau ucapan kakak kasar. Kakak nggak bermaksud buat marahin kamu, kok. Biar kita tahu kamu hamil apa enggak, Sayang. Kalau hamil, kan, kita bisa beri nutrisinya lebih cepat, vitamin segala macamnya. Kita bisa menjaganya dengan baik. Mau, ya, diperiksa? Ditemani Mama, deh. Mau sama Mama Feni apa Mama Yunita? Atau mau dua-duanya?"
"Mau sama kakak aja dulu."
"Oke. Kakak minta tolong sama Bella buat reservasi dokter obgyn terbaik, ya."
Mikha menganggukkan kepala. Meskipun rasanya takut kalau dia tidak hamil, tapi ada benarnya juga dengan ucapan Gavin.
Kalau memang hamil, mereka bisa lebih cepat memberikan yang terbaik untuk pertumbuhannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Mau part malam pertama sama malam honeymoon nggak?🥵🥵 kalau iya komen deh. 😂 habis lebaran kalau nggak lupa 😜