
Yang lebih berat setelah kehilangan adalah mencoba baik-baik saja di hadapan manusia. Meskipun perasaan sedang hancur-hancurnya.
Mikha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Ternyata waktu tak menyembuhkan apapun di dalam hati Mikha. Mikha hanya dipaksa untuk terbiasa dengan luka yang masih tersisa.
Nyatanya, dia tidak baik-baik saja pada saat bertemu dengan Gavin. Rasa sakitnya masih sama. Tak berkurang sedikitpun.
Mikha memasang wajah yang terlihat baik-baik saja saat bertemu dengan Nathan. Seolah sebelum kedatangan Nathan tidak terjadi apa-apa pada Mikha. Dan tidak ada orang lain yang datang ke apartemen Mikha.
"Hai..."
Nyatanya, hanya mendengar sebuah sapaan saja Mikha tak dapat membendung air matanya. Hatinya kembali rapuh setelah sekian lama berusaha untuk kuat.
"Kenapa?"
Mikha tak menjawab. Tapi justru semakin terisak di pelukan Nathan. Dia tidak ingin ditanya kenapa sekarang. Mikha hanya butuh sebuah pelukan yang menenangkan.
Setelah beberapa saat membiarkan Mikha dengan tangisannya, Nathan mengusap air mata Mikha di pipinya dengan lembut.
"Aku tidak akan tanya lagi kamu kenapa. Tapi kalau masih ingin menangis, pelukanku siap menenangkan."
Mikha memberanikan diri untuk menatap Nathan. "Dia datang lagi," ucap Mikha pelan.
Tak ada raut terkejut dari wajah Nathan. Sudah dia duga apa yang menyebabkan Mikha menangis seperti ini. Kedatangan Gavin yang juga dia temui di lobi tadi menjadi penyebabnya.
"Maaf, aku masih terlalu lemah jika berhadapan dengan dia."
"Ssstt." Nathan menempelkan telunjuknya pada bibir Mikha. "Aku tidak pernah memaksamu untuk melupakan dia. Tapi perlahan, aku akan membuat hanya aku yang ada di dalam hati kamu."
Rasa bersalah pada Nathan di dalam hati Mikha begitu besar. Cinta Nathan untuk dirinya begitu tulus. Tapi kurang ajarnya, Mikha belum sepenuhnya bisa mencintai Nathan. Bahkan di saat mereka sudah menjalin hubungan selama dua bulan lamanya.
Ya. Dua bulan yang lalu, Mikha memutuskan untuk menerima cinta dai Nathan. Tapi Nathan harus terima dengan keadaan hati Mikha yang sudah tersakiti berkali-kali hingga Mikha lupa bagaimana cara menyembuhkan hatinya sendiri.
Semula, Nathan tak masalah jika Mikha belum sepenuhnya mencintai dirinya. Tapi kedatangan Gavin membuat Nathan takut. Takut akan kehilangan Mikha bahkan di saat dia belum berhasil mendapatkan hati Mikha.
"Do you love me?" tanya Nathan dan membuat Mikha membeku sesaat.
"Aku nggak tau, maaf. Tapi aku takut kehilangan kamu. Aku rindu kalau kamu jauh dariku. Apa itu namanya?"
Nathan terkekeh kecil. "I don't know. But, aku senang dengar kamu bilang seperti itu."
Meskipun dalam hati, Nathan berpikir kalau Mikha merasa seperti itu karena dia takut kesepian. Bukan karena benar-benar takut kehilangan Nathan.
__ADS_1
Nathan menghela napas tak kentara. Ini sudah menjadi resikonya mencintai seseorang yang hatinya masih tertinggal di masa lalu.
Nathan harus berjuang lebih keras lagi agar bisa memiliki hati Mikha sepenuhnya.
Dia tak mau jika usahanya selama ini untuk mendekati Mikha berakhir sia-sia begitu saja karena kembalinya Gavin.
🌹🌹🌹
Andai saja waktu bisa diputar kembali, Gavin pasti tidak akan melepaskan Mikha begitu saja.
Sekarang, dia sendiri yang merasakan penyesalannya. Dia sendiri yang hanya bisa mencintai dalam diam. Hanya bisa berdoa semoga mereka dipersatukan lagi andaikan mereka ditakdirkan untuk berjodoh.
"Perbaiki diri dan memantaskan diri. Percaya aja, kalau memang jodoh, sejauh apapun kalian saat ini, suatu saat pasti akan dipersatukan. Kalau memang bukan jodohnya, Allah pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalau kalian dipersatukan kembali, setidaknya kamu datang dalam versi yang lebih baik."
Kepulangan Gavin dari Paris disambut Yunita dengan banyak nasehat. Dari raut wajah Gavin, Yunita tahu kalau usahanya untuk kembali mendapatkan kesempatan dari Mikha gagal.
"Sekalipun saat ini Mikha sudah memiliki kekasih lagi, mereka juga belum tentu berjodoh. Tanda seorang berjodoh atau tidak, itu setelah adanya akad nikah. Kalau belum ada akad nikah,ya belum tentu jodoh. Nggak ada yang tau apa yang terjadi sebelum akad. Sekalipun satu menit sebelumnya."
Gavin mengangguk mengiyakan tanpa banyak bicara.
Tubuhnya belum sehat betul. Apalagi setelah perjalanan jauh, rasanya tubuhnya semakin sakit sampai membuka matanya saja terasa berat.
"Kita ke rumah sakit, ya."
"Nggak apa-apa gimana? Badan kamu panas banget. Melek aja pusing kan, kamu? Patah hati boleh. Tapi sayang sama diri sendiri itu wajib."
Tanpa bisa menolak, Yunita cepat-cepat membawa Gavin ke rumah sakit. Dibantu sopir dan tukang kebun rumahnya untuk membawa Gavin ke dalam mobil.
Gavin hanya bisa pasrah saat Bella menusukkan jarum infus ke punggung tangannya.
"Ternyata Lo bisa sakit juga, ya, Vin? Gue kira cuma bisa nyakitin doang," sindir Bella.
"Udah, deh. Gue juga udah usaha buat minta maaf ke dia, kok," sahut Gavin dengan mata terpejam.
Bella mendengus sinis. "Tapi ditolak lagi, kan? Kasian, deh, Lo!"
"Terserah Lo aja, deh," tutup Gavin tanpa peduli lagi dengan apa yang Bella ucapkan.
🌹🌹🌹
Bella sengaja pergi honeymoon ke Paris agar dia bisa menemui Mikha. Kalau ada yang bertanya dengan siapa Bella menikah, tentu dengan dokter Raka.
Senior yang nama dan wajahnya terus mengisi hari-hari Bella sejak dia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Raka.
__ADS_1
Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Cintanya bersambut. Cintanya dibalas oleh Raka hingga mereka menikah empat bulan yang lalu.
Selama ini Bella tak pernah tenang karena Mikha masih marah. Dia mencoba menghubungi Mikha lewat DM tapi sama sekali tak ditanggapi oleh Mikha.
Bella rasa dia sendiri harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Gavin.
Bukan bermaksud membantu Gavin, tapi memang Bella ingin memperbaiki hubungannya dengan Mikha.
"Siapa?" Mia menatap Bella dan Raka dengan penuh tanya.
"Benar ini apartemen Mikha?"
Mia mengangguk membenarkan. "Benar. Ada perlu apa? Mikha sedang kuliah."
"Pulangnya jam berapa, ya?"
"Sebentar lagi mungkin pulang. Masuk dulu."
Mia mempersilahkan Raka dan Bella untuk masuk. Menyuruh mereka untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu Mikha pulang.
***
"Assalamualaikum. Mbak Miaaa..."
Mikha membuka pintu dan mengucap salam. Memanggil Mia dengan nada ceria. Mikha belum menyadari kalau ada dua orang asing yang ada di ruang tamu apartemennya.
"Waalaikumsalam," jawab Bella dan Raka bersamaan.
Saat itu juga tubuh Mikha mematung di tempatnya. Mikha sampai tak berkedip saat melihat Bella berdiri menyambutnya dengan senyum merekah.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Mikha dengan dingin.
Penjelasan Gavin bahwa Bella adalah sahabatnya tak mengubah apapun. Mikha masih tak percaya jika waktu itu Bella tak ada hubungan apa-apa dengan Gavin.
"Bisa kita bicara sebentar? Ada yang perlu aku luruskan di sini."
"Gue capek, mau istirahat. Kalian silahkan pergi dari sini!"
Mikha berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Sama sekali tak memperdulikan mereka dan memberi Bella kesempatan untuk bicara.
Mikha yakin kedatangan Bella atas permintaan Gavin. Sudah mengira bahwa Bella akan mengatakan kalau mereka tak ada hubungan apa-apa, dulu hanya sandiwara.
Mikha tersenyum sinis. Kenapa mereka tak henti-hentinya mengusik ketenangan Mikha? Tak bisakah mereka membiarkan Mikha bahagia dengan melupakan Gavin dan semua yang berkaitan dengan Gavin?
__ADS_1
🌹🌹🌹