
Pagi ini Gilang sudah siap dengan pakaian santainya, bersiap untuk pergi ke acara gathering kantornya.
Dia menghampiri Mikha yang duduk santai sembari menikmati sarapannya.
"Lo beneran nggak mau ikut?"
Mikha menggelengkan kepalanya. "No. Udah gue bilang kalau kuliah gue lebih penting. Gue pengen cepet lulus."
"Habis itu honeymoon, ya?" Gilang menaikturunkan kedua alisnya.
Berharap mendapat jawaban yang memuaskan, Gilang justru mendapat tatapan tajam dari Mikha.
"Jangan berharap!" ucap Mikha, namun hanya di dalam hati.
Akhir-akhir ini Gilang sering membicarakan honeymoon, program bayi. Gilang juga lebih sering di rumah atau pulang cepat setelah selesai jam kantor. Bahkan sempat Gilang meminta untuk tidur dalam satu kamar dengan Mikha.
Untung saja Mikha masih bisa beralasan sehingga Gilang terpaksa menghapus keinginannya untuk tidur dengan Mikha.
Mikha juga mulai waspada dengan sikap Gilang yang berubah drastis. Entah memang sudah berubah atau hanya sebagai topeng saja agar Mikha luluh dengannya.
"Ada papa mama juga. Tapi mungkin mereka baru datang besok. Nanti sore baru terbang dari Aceh. Besok nyusul aja, ya. Besok free, kan?"
"Kan, kemarin Lo udah baca jadwal gue. Bahkan besok kelar kuliah itu jam empat sore. Udahlah. Ada atau nggak ada gue sama aja kali."
Gilang mengalah. Dia tak lagi memaksa Mikha untuk ikut dengan dirinya. "Jaga diri baik-baik. Jangan aneh-aneh. Jangan ketemu sama Gavin." Gilang berpesan pada Mikha.
Mewanti-wanti Mikha agar tak menemui Gavin selagi Gilang tak ada.
"Hmm..." balas Mikha dengan malas.
Lagipula, selama mulai kuliah, Mikha tak lagi bertemu dengan Gavin. Keduanya sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing.
Hanya berbalas pesan singkat meskipun jarak dikirim dengan dibalasnya bisa sampai tiga jam lamanya.
Kadang, Gavin juga menelpon Mikha di malam hari menjelang tidur. Melakukan panggilan video call sampai Mikha tertidur. Dan Gavin menikmati wajah cantik Mikha yang tertidur dengan memandangnya lekat.
Hanya demi memandang wajah Mikha yang tertidur, Gavin bisa sampai satu atau dua jam tanpa mematikan sambungan video call tersebut.
***
"Kha, kakak ipar kesayangan Lo, tuh!"
"Mana?"
Mikha bergegas melihat ke arah yang Sena maksud. Di parkiran sana, ada Gavin yang tengah berdiri dan bersandar di mobilnya.
Kemeja berwarna silver membalut tubuh tinggi tegapnya. Dann lengannya digulung sampai siku serta memakai kacamata hitam. Lalu kedua tangannya dia masukkan ke dalam kantong celana.
Gavin terlihat sangat tampan. Tak rela menjadi pemandangan gratis seisi kampus, Mikha segera berlari menghampiri Gavin.
"Kakak ngapain di sini?"
Gavin sempat terkejut dengan kedatangan Mikha yang tiba-tiba. Tapi kemudian dia tersenyum dan menggenggam tangan Mikha. "Kangen," ucap Gavin membuat Mikha tersipu.
"Masuk ke mobil, deh. Ngapain nunggu di sini?"
"Kenapa?"
"Kakak sadar nggak, sih, kalau kakak ini jadi pemandangan gratis cewek-cewek di sini. Aku nggak suka, ya."
"Cemburu, ya?" goda Gavin.
__ADS_1
"Nggak! Udah masuk ke mobil."
Gavin tertawa dan langsung menuruti permintaan Mikha untuk masuk ke dalam mobil.
"Tumben kakak ke sini?" tanya Mikha setelah keduanya duduk di dalam mobil. Gavin sudah bersiap untuk menjalankan mobilnya.
"Kita ke rumah Papa, ya."
"Ngapain?"
"Papa sama Mama lagi nggak ada. Ada acara gathering, kan?'
Mikha mengangguk membenarkan. Dan menatap Gavin penuh curiga.
"Kakak mau macam-macam, ya?" tuduhnya membuat Gavin mengerutkan keningnya.
"Macam-macam gimana?"
"Itu, ngajak aku ke rumah padahal mama sama papa lagi nggak ada."
"Ya ampun, Mikha. Kalau mau ngapa-ngapain juga lebih aman di apartemen. Bukan di rumah mama sama papa."
"Iya juga, sih." Mikha menahan malu. Malu sudah berpikir bahwa Gavin akan melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya. "Terus mau ngapain?"
"Nanti kamu juga tau sendiri," jawab Gavin membuat Mikha semakin penasaran.
***
Rumah benar-benar kosong saat Gavin dan Mikha sampai di sana. Hanya ada suami istri yang bekerja sebagai tukang kebun dan asisten rumah tangga. Itupun mereka tinggal di rumah kecil yang ada di samping rumah utama. Sengaja dibangun untuk tempat tinggal asisten rumah tangga di rumah Anton.
"Langsung ke kamar aku, ya."
"Yang mau macam-macam siapa, sih? Aku mau nunjukin sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Makanya ikutin aja. Jangan marah-marah terus. Lagi PMS, ya?"
Mikha diam tak menanggapi. Hari ini memang hari pertamanya mendapatkan tamu bulanan. Dan hal itu membuat moodnya tidak baik.
Kamar Gavin begitu rapi. Wajar. Kamar itu sudah jarang ditempati olehnya.
Kamar bernuansa silver dan hitam, khas Gavin, sesuai warna kesukaan Gavin. Kamar itu terlihat sangat nyaman untuk Mikha. Sehingga rasanya Mikha ingin berbaring nyaman di atas ranjang king size milik Gavin.
Tapi Mikha menahan diri. Selelah apapun tubuhnya, Mikha tak ingin tiduran di atas ranjang itu sebelum dia mengetahui tujuan Gavin mengajaknya masuk ke kamar Gavin.
Gavin membuka pintu lemari. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari dalam lemari tersebut.
"Kotak apa itu, kak?" tanya Mikha penasaran.
Gavin membawa kotak tersebut dan meletakkannya di atas ranjang lalu membukanya.
Mikha terperangah saat melihat apa isi kotak tersebut. Sebuah jaket yang dia kenali betul. Jaket yang dipakai Gilang saat berfoto dengan Uli.
Bukan hanya itu. Di kotak tersebut juga ada foto yang sama yang di simpan Uli.
"Ini handphone Gilang. Udah handphone lama. Charger-nya nggak ada. Nanti kita bawa ke counter biar bisa dihidupkan."
"Isinya apa?"
"Foto-foto Gilang dengan Uli. Ada juga foto mereka waktu mereka melakukan itu."
__ADS_1
"Melakukan apa?" Mikha mode lemot : on. Mikha mendadak blank.
"Apa perlu kita praktekkan sekarang?" Gavin menaikturunkan kedua alisnya menggoda Mikha.
Setelah menyadari apa yang dimaksud Gavin, Mikha segera beringsut menghindari Gavin. "Ih, enggak! Jangan aneh-aneh!" ucapnya dengan waspada.
Melihat kepanikan Mikha, Gavin tertawa kecil.
"Dari mana kak Gavin dapat ini semua?"
"Barang-barang itu hampir dimusnahkan Mama waktu itu. Untung saja aku bisa mengalihkan perhatian Mama. Jadi yang aku bakar waktu itu kotak yang lain. Dalamnya cuma baju yang nggak aku pakai."
"Kenapa diisi baju buat dibakar doang?"
"Kan, kalau kain dibakar ada baunya, Sayang. Itu cara biar Mama nggak curiga."
"Oh..." Mikha mengangguk mengerti. Dalam hati, Mikha tak menyangka kalau Gavin bisa secerdik itu untuk mempertahankan bukti kalau Gilang bersalah.
"Kenapa kakak punya pikiran buat melindungi bukti-bukti ini?"
"Karena aku tau hal ini akan terjadi, Mikha. Nggak selamanya Gilang bisa sembunyi dari kesalahannya."
Mikha meletakkan barang-barang yang ada di tangannya. Dia langsung mendekati Gavin dan memeluknya dengan erat. "Aku nggak tau lagi mesti gimana caraku bilang makasih ke kak Gavin. Kakak udah banyak bantu aku selama ini."
"Cukup kamu bahagia bersamaku Mikha. Itu udah membahagiakan aku."
Mikha dan Gavin saling mengeratkan pelukan mereka. Setelah ini mereka harus segera keluar dari rumah itu sebelum Anton maupun Yunita menyadari keberadaan mereka lewat cctv rumah yang langsung terhubung ke handphone Anton.
"Kakak bawa aja bukti-bukti ini. Kalau aku bawa nanti Gilang bisa tau."
"Oke."
🌹🌹🌹
"Gilang, Viona!"
Gilang dan Viona langsung melepaskan tautan bibir mereka mendengar gertakan Anton yang mengejutkan mereka.
"Pak Anton?"
"Papa?"
Keduanya langsung membenarkan pakaian mereka yang sudah berantakan karena aktivitas yang baru saja mereka lakukan.
Gilang dan Viona kepergok sedang bercumbu mesra di sebuah kamar yang mereka ketahui itu adalah kamar Gilang.
Anton masih belum percaya kalau Gilang sudah mengakhiri hubungannya dengan Viona.
Hubungan itu sudah berlangsung bahkan semenjak Gilang belum menikah dengan Mikha.
Anton sudah beberapa kali berusaha untuk memecat Viona. Tapi Gilang yang membujuk Anton agar tak mengusik pekerjaan Viona. Kerja Viona bagus, dan hanya Viona yang bisa menyesuaikan diri dengan Gilang dalam segala hal. Termasuk dalam urusan ranjangnya.
"Kalian dalam masalah. Viona, keluar dari sini!"
Viona menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang takut bercampur malu di hadapan pimpinan utamanya itu.
🌹🌹🌹
ada yang nungguin?
Mohon maaf... author hari ini Habis jalan-jalan 😅😅
__ADS_1