Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 52


__ADS_3

Siapkan tissue banyak-banyak di part ini 🥲


🌹🌹🌹


[Hai, Sayang. Selamat untuk wisudanya, ya. Semoga ilmunya bermanfaat. Aku tunggu di Indonesia.]


^^^[Iya, Sayang. Alhamdulillah, terimakasih sudah menemaniku sampai sejauh ini. I miss you.]^^^


Cemburu. Itu yang Gavin rasakan. Dia bisa menghubungi Mikha kapan saja, tapi sayangnya harus menjadi orang lain. Bukan dengan menjadi dirinya sendiri.


Panggilan sayang Mikha bukan untuk dirinya. Tapi untuk Nathan. Gavin cemburu, semesra itu chat Nathan dan Mikha.


Besok Mikha akan pulang ke Indonesia. Entah bagaimana Gavin harus mengatakan semuanya pada Mikha. Gavin takut kalau Mikha akan semakin marah padanya karena Gavin menyamar sebagai Nathan.


Panggilan dari Mikha di hari pemakaman Nathan pada akhirnya Gavin abaikan begitu saja. Lalu mengirimkan chat beberapa jam kemudian dan mengatakan bahwa sedang sangat sibuk dan harinya begitu melelahkan.


Untung saja Mikha percaya begitu saja meskipun Gavin merasa tidak tega harus membohongi Mikha seperti itu.


🌹🌹🌹


"Nathan."


Mikha terus memanggil nama Nathan. Dia masih belum juga sadar dari pingsannya. Tapi bibirnya terus memanggil-manggil Nathan.


"Mikha. Ini Mama, Sayang. Bangun, yuk." Feni tak henti-hentinya berusaha membangunkan Mikha. Tangannya terus menggenggam tangan Mikha.


"Nathan," gumam Mikha lagi.


Tak lama kemudian, Mikha membuka matanya. Feni dan Elisa sigap mendekati Mikha dan menanyakan apa yang Mikha butuhkan.


Jelas Mikha menjawab bahwa dia butuh ada Nathan di dekatnya.


Semua seperti mimpi. Rasanya baru kemarin Mikha bertemu dengan Nathan. Menerima cinta Nathan hingga mereka merencanakan sebuah pernikahan.


Tapi sekarang, semua tinggal kenangan. Nathan pergi begitu saja. Bahkan tanpa berpamitan pada Mikha.


"Sudah berapa lama Nathan pergi, Tan?" tanyanya pada Elisa.


"Tiga bulan yang lalu, Mikha."


Mikha membelalakkan matanya dan menatap Elisa dengan tatapan tak percaya. "Tiga bulan, Tante?"


Elisa mengangguk membenarkan.


"Lantas siapa yang selama ini menghubungi aku pakai nomor handphone Nathan?"


Wira, Feni, Elisa dan Bima saling berpandangan. Sepertinya bukan waktu yang tepat jika mereka mengatakan bahwa Gavin-lah yang diberi amanah oleh Nathan untuk menjaga Mikha dan menghubungi Mikha memakai nomor handphone Nathan.


"Itu Tante yang melakukannya, Mikha. Maafkan Tante, ya." Terpaksa Elisa berbohong.


"Kenapa kalian jahat banget sama aku? Aku seperti orang bodoh yang nggak tahu apa-apa. Bisa-bisanya aku mengira kalau Nathan masih hidup padahal dia udah nggak ada. Dan parahnya lagi, aku masih berharap dia akan melamarku kalau aku pulang ke Indonesia. Nathan!!! Kamu jahat sama aku! Aku benci sama kamu, Nathan!" Mikha berteriak histeris.


Bahkan dia nekat akan melepas jarum infus yang menancap di punggung tangannya.

__ADS_1


Feni dan Elisa memegangi tubuh Mikha. Sedangkan Wira berlari keluar untuk memanggil perawat dan dokter untuk menangani Mikha.


Dengan sangat terpaksa, Mikha harus diberi obat penenang agar Mikha tidak melukai dirinya sendiri.


Sejak awal, ini yang Feni takutkan akan kondisi Mikha. Sebenarnya Feni tak setuju saat Bima mengatakan kalau Nathan meminta untuk menyembunyikan berita tentang dirinya dari Mikha.


Feni ibunya. Tentu dia tahu apa yang terbaik untuk anaknya dan apa yang terjadi dengan anaknya jika apa yang mereka sembunyikan terungkap.


Dan ketakutan Feni benar-benar terjadi. Bahkan Mikha sampai harus diberi obat penenang seperti ini.


"Panggil saja Gavin. Dia yang akan menjelaskan semuanya kenapa Nathan bisa meminta dia untuk menjaga Mikha."


Sayup-sayup Mikha mendengar Elisa berbicara. Tapi karena obat penenang yang masuk ke dalam dirinya, Mikha tak sanggup lagi untuk mempertahankan kesadarannya sendiri.


"Kenapa harus Gavin?" batin Mikha berucap sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


🌹🌹🌹


Bertemu dengan Mikha setelah sekian lama, bukan keadaan seperti ini yang Gavin harapkan.


Dia ingin melihat Mikha bahagia meskipun bukan dengan dirinya. Bukan melihat Mikha terpuruk dalam luka kehilangan, yang Gavin tidak tahu apakah dia bisa mengobatinya atau tidak.


Kedatangannya atas panggilan Bima. Para orangtua tersebut meminta dirinya untuk menjelaskan apa yang selama ini terjadi.


Feni dan Wira tak bisa melarang Gavin untuk tidak mendekati Mikha karena amanah yang Gavin pegang.


Keduanya juga tak bisa melihat Mikha terus-menerus mengalami kepahitan dalam hal cinta. Jika memang Gavin nantinya bisa membuat Mikha bahagia, Feni dan Wira tak akan lagi menghalangi Gavin untuk mendekati Mikha.


Andaikan dulu mereka merestui hubungan Mikha dan Gavin, mungkin tak akan begini jalan cerita hidup Mikha.


Kedua mata Mikha perlahan terbuka. Mikha tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Gavin ada di sampingnya.


Tapi, Mikha tak ingin marah-marah dan menghindar seperti hari-hari kemarin saat bertemu dengan Gavin.


Tubuh, hati, dan pikirannya sudah sangat lelah. Dia tak ingin menambah semuanya dengan marah-marah pada Gavin.


"Mau minum?" tawar Gavin.


Mikha mengangguk dan tak menolak tawaran Gavin. Membuat Gavin tersenyum senang melihatnya. Dia segera membantu Mikha untuk bangun lalu memberikan segelas air putih untuk Mikha.


"Udah," ucap Mikha saat dia sudah meminum sedikit minuman yang diberikan oleh Gavin.


Baik kedua orangtua Nathan maupun Mikha menyadari, mungkin mereka butuh waktu berdua untuk berbicara. Karena itu mereka keluar dari kamar rawat Mikha, membiarkan Mikha dan Gavin bicara berdua.


"Terimakasih," ucap Mikha pelan tanpa menatap Gavin.


Gavin belum mengerti apa maksud dari ucapan terimakasih dari Mikha.


"Terimakasih telah menjadi Nathan selama beberapa bulan ini. Terimakasih sudah membohongi dan membodohi gue dengan berpura-pura menjadi Nathan."


"Bukan kakak yang mau, Mikha," balas Gavin dengan cepat.


"Percuma gue marah-marah saat tahu Lo yang berpura-pura menjadi Nathan. Semua nggak akan bisa balikin Nathan ke samping gue lagi," sahut Mikha sebelum Gavin menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Gavin menceritakan apa yang dikatakan Nathan sewaktu mereka bertemu. Tak ada yang kurang atau Gavin tambah dari apa yang Nathan ucapkan pada saat itu.


Sesekali Mikha mengusap air matanya saat mendengar cerita Gavin. Betapa besarnya cinta yang diberikan Nathan untuknya hingga yang ingin Nathan lihat dari Mikha hanyalah kebahagiaan meskipun dia harus menyembunyikan rasa sakit yang dia rasakan.


"Ada titipan surat dari dia untuk kamu, Mikha."


Mikha menerima amplop berwarna putih yang berisi surat dari Nathan.


Dengan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, Mikha membuka amplop tersebut dan mulai membaca tulisan tangan Nathan sebelum dia benar-benar pergi.


Hai, sayangku!


Baru membaca sapaan penuh sayang dari Nathan saja sudah membuat air mata Mikha berjatuhan. Rasanya sulit untuk dipercaya kalau Nathan benar-benar sudah tidak ada di dunia.


Selamat untuk gelar barunya, ya. Semoga ilmunya bermanfaat.


Mikha, sayangku...


Pertama kali aku bertemu denganmu di cafe waktu itu, aku merasa memiliki dunia yang baru. Aku selalu berdoa semoga Allah kembali mempertemukan kita.


Doaku dijawab langsung, Sayang. Kita dipertemukan di Paris. Saat itu aku merasa bahagia sekali. Aku menjadi lebih semangat untuk berobat dan sembuh setelah mengenal kamu lebih dekat.


Aku menyembunyikan semuanya karena tidak ingin kamu tahu aku sakit, Sayang. Maaf. Aku hanya ingin kamu bahagia tanpa memikirkan aku yang sakit begini. Aku berusaha tetap baik-baik saja saat bertemu denganmu, hanya untuk melihat kamu tersenyum dan tertawa lepas seperti biasanya. Bukan sedih melihat aku yang sakit.


Mikha, Sayang.


Aku mencintaimu. Sangat. Meskipun belum sepenuhnya bisa memiliki hati kamu, tapi aku bahagia kamu mau menerima cintaku.


Maaf kalau aku tidak bisa menepati janjiku untuk melamarmu karena Allah lebih dulu melamarku untuk kembali padanya.


Tapi aku tidak khawatir lagi dengan kebahagiaan kamu, Sayang. Ada lelaki yang mencintai kamu dengan tulus. Aku yakin dia bisa membahagiakan kamu.


Mikhayla Wiratmaja, aku mencintaimu. Berbahagialah setelah ini. Aku akan sangat bahagia jika melihatmu bahagia.


With love,


Nathan


"Nathan!" teriak Mikha.


Tangisnya pecah saat itu juga. Dia merindukan Nathan. Ingin berada di pelukan hangat Nathan seperti yang pernah dia rasakan.


Melihat Mikha seperti itu, hati Gavin terluka.


Dia segera memeluk tubuh Mikha, membiarkan Mikha menumpahkan tangisannya. Mungkin dengan seperti itu akan membuat perasaannya sedikit lega.


Gavin lebih memilih melihat Mikha berbahagia dengan Nathan jika seandainya Nathan masih ada daripada harus melihat Mikha terpuruk seperti ini.


"Dunia jahat banget sama gue, Kak. Gue salah apa? Dosa apa yang pernah gue lakuin sampai gue dapat hukuman kayak gini?"


"Sssttt! Jangan bicara seperti itu, Mikha. Semua sudah menjadi takdir hidup yang harus dijalani. Tenang! Semua akan indah pada waktunya."


🌹🌹🌹

__ADS_1


Udah nggak mau sedih-sedih lagi habis ini. Kasian Mikha nggak pernah bahagia. 😭😭😂😂


__ADS_2