
Kehamilan Mikha memasuki Minggu ke tiga puluh. Tubuh Mikha mengembang sempurna bak adonan tepung yang diberi fermipan.
Kenaikan bobotnya yang mencapai dua puluh kilo membuat Mikha terlihat bulat sana sini.
Tubuhnya yang dulu kecil kini mengembang karena membawa tiga bayi di dalam perutnya yang sudah sangat besar.
Jalannya tak bisa lagi secepat dulu. Geraknya tak sebebas dulu. Tidurnya tak senyaman dulu. Napasnya tak selega dulu.
Mikha sering tidak bisa tertidur di malam hari. Selain karena posisi tidurnya yang serba salah dan membuatnya tak bisa tertidur, tendangan demi tendangan kuat terus dia rasakan dari dalam perutnya.
Sebagai suami siaga dan bucinnya Mikha, Gavin selalu berusaha untuk membuat Mikha tertidur dengan cara apapun.
Rela duduk sampai tengah malam agar Mikha bisa bersandar pada tubuhnya dan sandaran ranjang.
Pijatan demi pijatan yang Gavin berikan untuk Mikha setiap mereka berdekatan. Memijat pinggang dan punggung Mikha. Lalu kaki-kaki Mikha yang mulai membengkak efek kehamilannya.
Hari ini adalah hari tujuh bulanan kehamilan Mikha. Mikha hanya diperbolehkan duduk oleh Gavin dan para orangtua mengingat geraknya yang sudah mulai susah.
Acara tujuh bulanan mengusung adat Jawa. Di dalam bahasa Jawa, tujuh bulanan sering disebut dengan tingkeban.
Yaitu adalah salah satu tradisi daur kehidupan manusia dalam selametan kehamilan anak pertama yang menginjak usia kandungan tujuh bulan. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mendoakan bayi yang dikandung agar terlahir dengan normal, lancar, dan dijauhkan dari berbagai kekurangan dan berbagai bahaya.
"Capek, sayang? Mau tiduran dulu di kamar?" Gavin berlutut di hadapan Mikha yang duduk di atas kursi. Tangannya mengusap perut Mikha yang besar.
"Napasnya mulai pengap banget, kak. Udah mulai pegel juga pinggangnya," keluh Mikha sambil meringis tipis. Kembali merasakan anak-anaknya menendang dari dalam sana.
Gavin segera mencium perut besar Mikha dan berucap pada anak-anaknya. "Anak-anak Papi, nendangnya jangan kenceng-kenceng, ya, Nak. Kasian Mami kesakitan."
Mikha terkekeh kecil setiap mendengar Gavin berbicara dengan anak-anak mereka.
Seolah paham, ketiga janin yang ada di dalam rahim Mikha tak lagi menendang perutnya dengan kencang.
Hanya gerakan halus yang selalu Mikha rasakan di setiap waktunya.
"Ajak Mikha ke kamar, Vin. Biar tiduran aja. Mama nggak tega lihatnya." Feni berucap.
Dulu saat hamil dengan satu janin saja Feni sudah kesusahan di saat perutnya sudah membesar. Apalagi kini anaknya mengandung tiga bayi sekaligus.
Feni tak bisa membayangkan bagaimana yang Mikha rasakan di setiap harinya.
"Iya, Ma. Ayo, sayang." Gavin segera membantu Mikha untuk berdiri. Lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar mereka di rumah mereka yang baru.
Ya, baru sebulan yang lalu mereka pindah dari apartemen ke rumah mereka yang baru.
Rumah mewah yang masih satu tipe dengan rumah artis Raffi Ahmad yang baru. Rumah dengan harga fantastis diberikan untuk Mikha.
Gavin rasa rumah itupun tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan apa yang diberikan Mikha di dalam hidup Gavin.
Kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang, ketulusan, maaf dari Mikha, dan kini rela berkorban untuk mengandung ketiga anaknya sekaligus. Itu lebih berharga bagi Gavin dari apapun yang ada di dunia ini.
Gavin menyusun bantal untuk digunakan Mikha bersandar. Membantu Mikha untuk duduk di atas tempat tidur lalu memijat kaki Mikha pelan.
Mikha memejamkan matanya. Nampak sekali wajah lelah Mikha. Melihatnya, rasa sayang Gavin bertambah berkali-kali lipat.
"Kakak keluar lagi aja. Nggak enak sama yang lain kalau kakak juga di kamar."
"Kamu nanti sendiri, sayang. Siapa yang jagain? Kalau butuh apa-apa gimana?"
__ADS_1
"Aku bisa telepon kakak. Aku nggak apa-apa sendiri. Bisa, kok, kalau cuma ke kamar mandi aja."
"Eh, enggak, ya. Jangan ke kamar mandi sendiri!"
Mikha tertawa kecil. Lelakinya itu begitu overprotektif terhadap dirinya. Mikha takut jika semua ini membuatnya ketergantungan. Terlalu nyaman dimanjakan.
"Iya-iya. Nanti aku telepon kakak kalau butuh apa-apa."
"Janji, ya, jangan ke kamar mandi sendiri!"
"Siap, bos!"
Keduanya tertawa kecil. Gavin lalu meninggalkan Mikha sendiri di dalam kamar.
Sesering mungkin Gavin mengecek handphonenya, takut kalau Mikha menghubunginya dan dia tidak mendengarnya.
🌹🌹🌹
Mikha terbangun setelah merasakan tendangan yang cukup kencang dari dalam perutnya. Tak berapa lama, cairan bening keluar dari sela pahanya.
Mikha tau betul itu bukanlah urine karena tak berbau sama sekali. Beberapa saat kemudian, Mikha sadar bahwa air itu adalah air ketuban.
Dengan sedikit panik, Mikha mengguncang tubuh Gavin dengan sedikit kencang. "Kak..." panggilnya.
Sayangnya, Gavin tak merespon sama sekali. Tidurnya terlihat sangat lelap setelah dua jam yang lalu selesai "menjenguk" anak-anaknya. Meskipun tidak bisa sebebas dulu, tapi tak mengurangi gai*ah keduanya meskipun dengan posisi yang terbatas.
"Kak Gavin..."
"Hmm. Ada apa, sayang? Mau minum?" Memang merespon. Tapi Gavin masih memejamkan matanya dan menyamankan posisi tidurnya.
Mikha berusaha untuk tidak merasa kesal. Apalagi saat ini perutnya terasa kontraksi. Dorongan dari dalam begitu kuat.
Saat itu juga, kedua mata Gavin langsung terbuka lebar. Wajah langsung terlihat begitu panik.
"Sakit banget, sayang? Baru tiga puluh lima Minggu, kan? Kok, udah pecah ketuban aja?"
"Masih bisa ditahan, kok. Kakak siap-siap aja dulu. Kata dokter, kan, hamil kembar memang resiko prematur."
"Ini pasti karena tadi kakak terlalu kencang dan semangat, ya," sesal Gavin yang kini sedang memakai celana panjangnya.
Mikha terkekeh pelan. Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya Gavin mengingat momen percintaan panas mereka tadi.
"Enggak. Emang udah waktunya, kak."
"Semoga nggak terjadi apa-apa, ya, Sayang. Kakak siapkan keperluannya dulu. Habis itu langsung ke rumah sakit."
Mikha menganggukkan kepalanya. Gavin kemudian mencium kening Mikha dan mengusap perut besar Mikha. "Kerjasama, ya, anak-anak. Kayaknya kalian udah pengen ketemu sama Mami dan papi, ya," ucapnya sebelum Gavin mengangkat tiga buah koper berisi keperluan mereka dan anak-anak mereka di rumah sakit nanti.
Untung saja kepanikan Gavin sudah teratasi sejak awal Mikha hamil. Berusaha untuk tetap tenang ketika ada sesuatu yang dirasakan Mikha.
Dan itu terjadi sampai sekarang. Gavin terlihat tenang meski dalam hatinya pasti ada rasa khawatir, takut, dan lain sebagainya.
"Masih kuat jalan, sayang? Kakak gendong, ya?"
"Kuat, kok. Bisa jalan sendiri. Pegangin tangan aku aja, kak."
Gavin mengangguk mengiyakan. Satu tangannya memegang tangan Mikha. Dan satu tangan yang lainnya merangkul pinggang Mikha, membantunya berjalan menuju mobil.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan pada Mikha.
Bidan di rumah sakit tersebut mengatakan kalau Mikha sudah mengalami pembukaan lima. Tapi kelahiran normal untuk bayi kembar sangatlah beresiko. Namun hal itu tidak membuat Mikha mengurungkan keinginannya untuk melahirkan normal. Apalagi selama ini dia dan ketiga janinnya tidak memiliki masalah apapun selama masa kehamilan.
"Kalau menurut pemeriksaan menjelang kelahiran semua normal, ya, Pak, Bu. Kepala bayi pertama sudah ada di dalam panggul, sangat bagus posisinya. Ibu dan bayi juga tidak ada resiko sama sekali. Sampai saat ini semua juga masih normal. Detak jantung janin normal, Alhamdulillah. InsyaaAllah bisa melahirkan secara normal. Tapi lebih baik kita tunggu dokter Vega dulu bagaimana keputusan beliau nanti."
"Baik, Bu,"" jawab Mikha dan Gavin bersamaan.
"Bapak bisa bantu istrinya untuk membantu meredakan nyeri kontraksi dengan memberikan pijatan di bagian punggungnya sini. Saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa bisa panggil saya atau perawat yang lain."
"Iya, Bu."
Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Kontraksi yang dirasakan Mikha semakin sering. Mikha sampai harus meneteskan air matanya karena rasa sakit yang dia rasakan.
Tangannya menggenggam erat tangan Gavin yang setia berada di sampingnya.
"Sakit, Kak."
"Iya, Sayang. Sabar, ya..."
Gavin tak tega. Ingin rasanya meminta Mikha untuk operasi saja agar dia tak merasakan sakit seperti ini.
Tapi Gavin tidak berani mengatakannya karena melahirkan normal adalah salah satu keinginan Mikha. Apalagi kondisi Mikha dan anak-anak mereka sangatlah memungkinkan untuk melakukan proses melahirkan secara normal.
"Kak... Sakit banget."
Mikha kembali mencengkeram erat tangan Gavin. Tak peduli bahwa kuku-kukunya menancap pada tangan Gavin.
Gavin sendiri tak peduli akan hal itu. Rasa sakit karena kuku Mikha tak sebanding dengan sakit yang dirasakan Mikha saat ini.
Tak berapa lama kemudian, dokter Vega datang dan langsung memeriksa Mikha.
"Wah, Alhamdulillah, udah buka delapan, nih. Sebentar lagi, ya, Bu. Sabar, ya..."
Mikha mengangguk lemah. Rasanya tenaganya sudah hampir habis karena merasakan kontraksi setiap dua menit sekali.
Tapi keyakinannya untuk melahirkan anak-anaknya ke dunia dengan selamat membuatnya harus memupuk kembali semangatnya.
"Dua bukaan lagi, kok," ucapnya dalam hati, menyemangati diri sendiri.
"Ah, kakak. Pengen pup. Enghh..." Tanpa sadar, Mikha sudah mulai mengejan.
"Sayang, jangan di sini."
"Kenapa, Pak?" Seorang perawat datang setelah mendengar kepanikan Gavin.
"Istri saya mau buang air, sus, katanya."
Mendengarnya, perawat tersebut pun ikut panik lalu memeriksa jalan lahirnya. "Jangan mengejan dulu, ya, Bu. Saya panggil dokter Vega dulu. Ini udah pembukaan lengkap."
Mendengarnya, jantung Gavin berdegup kencang.
"Sebentar lagi, sayang," bisiknya di telinga Mikha. Gavin menciumi wajah Mikha dengan penuh sayang.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Siapin kado banyak-banyak buat jenguk ketiha baby-nya Papi Gavin dan Mami Mikha ya, gaes... Beritanya udah mau lahiran, nih. 🤪🤪