
Pov Gilang
Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Cinta dan rasa sayang yang mulai tumbuh di hati Gilang sudah tidak berarti lagi. Gilang menyesalkan kenapa baru sekarang cinta itu tumbuh di hatinya? Kenapa di saat perpisahan sudah di depan mata dia baru bisa merasakan sayang dan cinta untuk Mikha?
Segala usaha untuk membuat Mikha membatalkan gugatan cerainya selalu gagal. Mikha masih tetap pada keputusannya. Memilih berpisah.
Satu tahun yang lalu, kedua orangtuanya meminta Gilang untuk menikah dengan Mikha. Mereka semua tau kalau Mikha adalah adik dari Maulida. Wanita yang hidupnya dihancurkan oleh Gilang.
"Aku nggak mau, Pa. Papa tau aku pacaran sama Viona," tolak Gilang pada saat itu.
"Mikha jauh lebih baik dari Viona."
"Pa, Papa tau masa laluku dengan Maulida. Bagaimana kalau mereka tau?"
"Mereka nggak akan tau kalau kamu mau menuruti keinginan Papa. Papa akan tetap melindungi kamu asalkan kamu mau menjalankan wasiat kakek kamu. Dan satu lagi, tinggalkan Viona!"
"Nggak bisa gitu, Pa." Gilang tetap kukuh tetap mempertahankan Viona. Hubungan mereka juga sudah cukup jauh. Gilang juga sangat mencintai Viona meskipun status Viona adalah seorang janda.
"Baik. Lakukan apa yang kamu mau. Tapi jangan salahkan Papa kalau besok atau lusa kamu sudah mendekam di penjara karena kesalahan kamu ke Maulida."
"Mana bisa seperti itu, Pa? Mereka nggak punya bukti apa-apa soal kedekatan aku dengan Maulida. Aku juga nggak terlibat dalam kematian Uli secara langsung. Dan itu nggak bisa dilaporkan."
"Papa sendiri yang akan melaporkan kamu atas kasus pemerkos**n pada Maulida."
"Mana bisa, Pa? Kita waktu itu_"
"Sama-sama menikmati?" sahut Anton dengan cepat. Rasanya sudah lelah menghadapi sikap Gilang. Tapi sebagai orangtua, dia tetap ingin anaknya menjadi lebih baik.
Sebab itu segala macam cara akan dia lakukan selagi itu bisa mendidik Gilang.
"Di tangan Papa, apapun bisa terjadi. Termasuk memenjarakan kamu."
"Papa tega?"
"Kenapa enggak?" jawab Anton dengan enteng. "Pilihan ada di tangan kamu. Tinggalkan Viona dan menikah dengan Mikha, atau mendekam di penjara! Ini terakhir Papa melindungi kamu. Jika kamu berulah lagi, Papa sudah tidak akan peduli lagi."
Gilang hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat papanya pergi begitu saja. Meninggalkan pilihan yang sulit bagi Gilang.
***
Pernikahan itu benar-benar terjadi. Entah bagaimana ceritanya gadis itu mau menerima perjodohan antara dirinya dengan Gilang, Gilang tak mau tahu.
Sejak awal menikah tanpa cinta, tanpa niat, tanpa minat. Gilang pun menjalaninya juga setengah hati.
Gilang tak peduli dengan anak kuliahan yang dia nikahi. Mikha pulang jam berapa Gilang tak peduli. Mikha makan atau belum Gilang tak peduli. Mikha pulang atau tidak pun Gilang tak peduli. Sehat sakitnya Mikha tak dia pedulikan. Apapun tentang Mikha, Gilang tak peduli.
Sejahat itu!
Semua kebutuhan Mikha memang ditanggung oleh Gilang. Mulai dari uang jajan Mikha, uang bulanan, hingga uang kuliah Mikha.
__ADS_1
Gilang tak peduli digunakan atau tidak uang pemberian darinya. Yang terpenting adalah Gilang mentransfer semua itu setiap Minggu ke rekening Mikha.
Kalau tidak karena rekeningnya diawasi oleh Anton, Gilang juga tak akan melakukan hal itu.
Lebih baik Gilang menggunakan uang tersebut untuk memanjakan Viona daripada diberikan kepada Mikha.
"Kedipin mata Lo. Ingat, dia istri orang!"
"Kayak Lo menganggap dia istri aja."
Gilang tertawa sinis mendengar ucapan Gavin.
Sejak lama Gilang mengetahui kalau Gavin diam-diam mengagumi Mikha. Sayang, Gilang yang dinikahkan dengan Mikha, bukan dirinya.
Andai saja bisa, Gilang juga berharap Gavin saja yang menikahi Mikha. Tapi sayangnya Gavin bukan cucu kandung dari Suryo. Dan sialnya, hanya Gilang satu-satunya cucu Suryo yang berjenis kelamin laki-laki.
"Ambil gih kalau Lo mau!"
Tanpa pikir panjang, Gavin langsung melayangkan satu pukulan ke bibir Gilang. "Kurang ajar, Lo! Dia bukan barang yang bisa Lo kasih ke orang seenaknya saja."
Gilang tersenyum sinis. "Tapi Lo mau, kan, kalau gue kasih dia ke Lo?"
"Kalau gue bisa merebut hati dia, Lo yang akan nyesel."
"Nggak akan!"
Seperti menjilat ludahnya sendiri, kini Gilang benar-benar menyesal karena sudah kehilangan Mikha.
Gavin berhasil mengambil seluruh cinta yang Mikha miliki hingga tak ada lagi kesempatan bagi Gilang untuk memperbaiki semuanya.
🌹🌹🌹
"Kenapa?" Keterkejutan tak bisa Gilang sembunyikan dari wajahnya saat Viona berkata bahwa dia akan resign.
"Kamu sudah tau alasan aku. Mas Damar tidak ingin aku bekerja. Dan harusnya hal ini sudah ku lakukan sejak lama."
Sejak malam dimana keduanya kepergok di kamar villa saat acara gathering, sikap Viona memang berubah drastis.
Dia lebih menjaga jarak dengan Gilang. Berdekatan dengan Gilang hanya sebatas pekerjaan saja, dan Viona berusaha untuk tetap profesional.
Gilang tidak tau apa yang dilakukan papanya pada Viona sehingga Viona berubah kepadanya.
Yang Gilang tau, Viona akan segera menikah lagi.
Undangan pernikahan Viona sudah ada di tangan Gilang sejak seminggu sebelum Viona resign.
Gilang merasa kehilangan? Tentu saja. Tapi bukan rasa kehilangan dalam bentuk patah hati ditinggal menikah. Gilang hanya merasa kehilangan sekretaris yang profesional seperti Viona. Kerjanya rapi dan memuaskan. Bahkan juga memuaskan Gilang di ranjangnya.
Ah, Gilang tak ingin mengingatnya lagi, sebenarnya.
Mungkin karena hatinya sudah tertulis nama Mikha sekarang. Sebab itu dia terlihat biasa saja saat Viona berpamitan keluar dari ruangannya dan mulai membereskan barang-barangnya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk kerja keras kamu selama ini, Vi," ucap Gilang sebelum Viona pergi.
Viona mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Lang. Senang bekerja dengan kamu," jawab Viona. "Kamu yang aku cintai sampai kapanpun, Lang," lanjut Viona dalam hatinya.
***
Usaha terakhir Gilang untuk meminta Mikha kembali ternyata tak berhasil juga. Puluhan tangkai bunga dan permintaan maaf dengan spanduk yang dibawa helikopter pun tak membuat Mikha luluh.
Tapi, setidaknya Gilang bersyukur kini Mikha tak lagi berbicara dengan ketus kepadanya. Sikapnya perlahan melunak dan terlihat sedang mencoba berdamai dengan Gilang.
Sepulangnya dari kampus Mikha, Gilang memutuskan untuk pergi ke makam Maulida.
Hampir dua jam Gilang duduk di sana hanya untuk memandangi nisan yang bertuliskan nama Maulida. Dan juga menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan.
Andai hari itu dia tidak kabur, tidak akan bertambah juga orang yang tersakiti karena ulahnya.
Sayang, waktu tidak bisa diputar kembali. Yang tersisa hanya sebuah penyesalan yang tidak akan pernah ada ujungnya.
***
Gilang pulang ke rumahnya yang selama sembilan bulan lamanya dia tempati bersama Mikha.
Mata Gilang terpejam mengingat semua gerak Mikha di rumah ini.
Mikha yang sedang memasak meskipun tidak pernah Gilang memakannya hingga akhirnya Mikha lelah dan tidak lagi memasak untuknya.
Suara derap langkah kaki Mikha masih terdengar begitu jelas di telinga Gilang.
Bahkan foto pernikahan keduanya masih terpajang di dinding ruang tamu.
Gilang menyesal. Sangat menyesal.
Harapan bisa berbahagia dengan Mikha itu kini menjadi sebuah doa yang lain, semoga Mikha bahagia meskipun bukan dengan dirinya.
Gilang mengemasi seluruh barang-barangnya. Dia juga akan meninggalkan rumah tersebut. Tak ingin tinggal di sana karena menyimpan banyak kenangan tentang Mikha.
🌹🌹🌹
"Kamu yakin dengan keputusan kamu, Lang?"
Gilang mengangguk pasti. "Yakin, Pa. Kalau enggak ngapain sekarang aku pamitan."
"Ya sudah. Jaga diri kamu baik-baik."
"Iya, Pa."
Gilang memasukkan kopernya ke dalam mobil.
Kali ini dia sudah memutuskan untuk pergi. Bahkan di saat perceraiannya dengan Mikha belum diputuskan.
Sudah dipastikan Gilang tidak akan hadir di setiap persidangan yang akan dilakukan. Hal itu juga bisa membantu agar keputusan segera diberikan, sesuai dengan keinginan Mikha.
__ADS_1
Burung besi milik maskapai ternama di Indonesia itu telah membawa penumpangnya naik ke ketinggian. Termasuk Gilang yang ada di dalamnya.
🌹🌹🌹