
Mikha tak mengerti, kenapa seolah dunia begitu jahat pada dirinya. Entah kenapa Mikha seperti tak diijinkan untuk bahagia dan sehat. Sehat fisik, terutama sehat mental.
Setelah tenggelam di laut dengan luka di kepala yang bekasnya saja masih terlihat jika Mikha tak memakai bedak tabur untuk menyamarkannya, kini dia harus terserempet motor sampai kepalanya pun juga kembali terluka.
Saat Mikha sadar, wajah Feni yang terlihat sangat sedih yang pertama kali Mikha lihat.
Bawah mata Feni menghitam pertanda semalam dia kurang tidur.
"Mikha udah bangun, Sayang? Ada yang sakit? Mama panggilkan dokter, ya."
"Haus, Ma."
Dengan sigap Feni mengambil segelas air putih beserta sedotannya, lalu menyuapkan sedotan itu pada mulut Mikha.
"Ada yang sakit, Sayang? Hasil pemeriksaan kamu baru akan keluar hari ini. Semoga nggak ada luka yang serius, ya."
Mikha mengaminkan. Siapa yang mau berada di posisi Mikha? Kecelakaan dan terluka hingga terbaring di rumah sakit begini. Tidak ada yang mau.
Mikha masih sangat menyayangi dirinya sendiri. Sebab itu dia juga berharap tubuhnya baik-baik saja. Hanya perih di kepala yang semoga lekas membaik.
"Lain kali nggak usah jajan di pinggir jalan, Mikha. Berapa kali Mama harus bilang sama kamu? Selain belum tentu bersih, jajanan pinggir jalan itu pasti ramai. Dan kayak gini akibatnya."
Mikha tersenyum tipis. "Namanya juga kecelakaan, Ma. Nggak ada yang tau. Mikha udah sering jajan di sana. Dan nggak apa-apa, kan, selama ini? Makanannya itu bersih. Udah, deh, Ma."
"Terus yang nabrak kamu juga pergi gitu aja nggak ada tanggungjawabnya sama sekali."
"Dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan, Ma."
"Ih, emang paling bisa kalau jawab omongan Mama."
Keduanya tertawa kecil. Entah kapan terakhir kali Mikha dan Feni tertawa bersama seperti ini.
Hal yang tak pernah terjadi setelah Mikha terpaksa menikah dengan Gilang.
"Papa kemana, Ma?"
"Sebentar lagi Papa datang. Mau mampir dulu sebelum berangkat ke kantor," jawab Feni yang dibalas anggukan kepala oleh Mikha.
***
"Ngapain Lo ke sini?"
Hal yang sudah Bella duga sejak awal. Setelah Mikha sadar dan melihat Bella, pasti akan seperti ini reaksinya.
__ADS_1
Dokter ahli yang didampingi oleh Bella memandang Bella dengan penuh tanya. Mungkin dia heran kenapa pasiennya begitu ketus pada Bella.
"Maaf. Dokter Raka akan menyampaikan hasil pemeriksaan kamu," jawab Bella dengan lembut.
"Without you. Gue nggak mau lihat wajah Lo. Keluar!" Usir Mikha secara terang-terangan.
"Mikha. Yang sopan, Nak!" Feni memperingatkan Mikha yang memalingkan wajah, enggan memandang Bella. Mikha yang berulah, dia juga yang merasa malu.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya permisi keluar dulu." Bella undur diri dengan wajah sedih bercampur malu.
Setelah Bella keluar, barulah dokter Raka menyampaikan hasil pemeriksaan pada Mikha.
Untung saja tidak ada luka serius di tubuh Mikha.
Suatu keajaiban jika mengingat tubuh Mikha terpental tapi hanya luka robek di kepala saja yang membutuhkan beberapa jahitan.
Feni merasa lega mendengarnya. Dia bersyukur tidak terjadi hal-hal buruk pada anaknya.
"Berarti hari ini sudah boleh pulang, kan, Dok?"
Dokter Raka mengangguk dan tersenyum. "Boleh. Silahkan mengurus administrasinya terlebih dahulu. Setelah itu bisa pulang."
"Baik, Dok. Terimakasih banyak."
"Iya, Dok."
Sepeninggal Dokter Raka, Feni menceramahi Mikha habis-habisan kenapa bisa dia bersikap tidak sopan pada Dokter Bella.
Padahal, yang pertama kali menangani Mikha adalah Bella.
Bella hampir pulang kemarin sebelum Mikha datang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bella rela berjaga sampai malam untuk memastikan kondisi Bella baik-baik saja sampai Bella melakukan CT scan.
Baiknya Bella itu menurut Feni. Tapi tidak dengan Mikha.
Di mata Mikha, Bella adalah orang yang telah merebut Gavin darinya. Berbahagia di atas rasa sakit yang Mikha rasakan karena melihat Bella bermesraan dengan Gavin di cafe.
"Kalau Mikha bisa milih, Mikha lebih memilih nggak disentuh sama dokter itu, Ma."
"Lagipula kenapa, sih? Ada masalah apa kalian?"
"Sudahlah, Ma. Lebih baik Mama urus semuanya biar Mikha bisa cepat pulang."
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Ngapain Lo ke sini?"
"Gue mau tau keadaan Mikha, Bel."
"Gue nyesel punya sahabat kayak Lo, Gavin!"
"Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu, Bel?"
Bella menatap kedua mata Gavin dengan tajam. "Kenapa Lo bilang? Lo masih bilang kenapa? Emang nggak punya perasaan Lo, Vin. Gue semula baik-baik aja sama Mikha. Bahkan kenal aja enggak. Tapi sekarang Mikha benci sama gue. Dan itu karena siapa? Karena Lo, Gavin! Dan yang bikin gue malu, Mikha mengusir gue di depan senior gue. Lo bisa bayangin enggak gimana anggapan Dokter Raka ke gue? Malu, Vin."
Bella meneteskan air matanya. Dia tidak biasa dibenci oleh orang lain. Sejak kecil dia dipaksa untuk menjadi sempurna agar dia bisa diterima oleh orang lain.
Dan melihat kebencian Mikha ke dirinya, bahkan bukan karena kesalahannya, Bella merasa tidak suka. Dia terus kepikiran akan hal itu. Ingin meminta maaf pada Mikha, tapi Mikha tak memberinya waktu untuk bicara.
Apalagi Mikha terang-terangan mengusir di depan Dokter Raka. Dokter yang selama ini diam-diam menghuni hatinya. Tapi Mikha hanya diam tanpa berani mengungkapkannya.
Pengusiran Mikha, dianggap hal memalukan yang terjadi di hadapan Dokter Raka. Bella seperti tak punya wajah untuk berhadapan dengan Dokter pujaan hatinya.
Gavin memeluk Bella yang terisak. "Maaf, Bel. Akan gue pastikan kalau Mikha tidak akan membenci Lo. Gue bakalan ngomong sama dia kalau Lo nggak salah apa-apa."
Tanpa Bella dan Gavin sadari, Mikha menyaksikan Gavin memeluk Bella dengan erat. Bahkan Mikha juga mendengar ucapan Gavin.
"Maaf kalau tindakan gue udah nyakitin pacar Lo. Terimakasih udah rawat gue," ucap Mikha membuat pelukan Gavin dan Bella terlepas.
"Mikha?"
"Mikha?"
Mereka berucap bersamaan tanpa bisa menyembunyikan rasa keterkejutan mereka.
Mikha memberanikan diri untuk menatap Gavin dengan lekat. Matanya mulai memanas menandakan bahwa air matanya sudah mendesak ingin keluar.
Tapi Mikha menahannya sekuat tenaga. Di saat semakin menahannya, dada Mikha justru terasa semakin sesak.
"Tadinya gue masih mau berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Yang di saat gue bangun nanti, Lo masih ada di samping gue kayak dulu lagi. Tapi apa yang barusan gue lihat, itu menandakan bahwa gue harus bangun dan menerima kenyataan ini. Gue belum sempat bilang makasih sama Lo, Kak. Makasih udah pernah buat gue merasa menjadi ratu meskipun semua itu palsu. Dan terimakasih juga buat luka yang Lo berikan ke gue. Lo berhasil buat gue menganggap bahwa Lo sama Gilang itu sama aja. Selamat untuk hubungan kalian berdua."
Dengan kasar Mikha menghapus air matanya yang akhirnya turun dengan lancangnya. Mikha pergi begitu saja tanpa menunggu balasan atas ucapannya. Entah dari Bella maupun dari Gavin sendiri.
Baginya, semua sudah selesai. Dia tidak akan lagi berharap pada Gavin. Secepatnya dia akan menghapus nama Gavin dari dalam hatinya.
🌹🌹🌹
Bukankah lebih baik tetap update meskipun sedikit, teman-teman? 😅 hari Minggu nyempetin banget buat ngetik. demi kalian, gaessss... terimakasih udah sabar nungguin cerita ini meskipun semakin hari semakin mentok idenya 😂😂
__ADS_1