Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar

Menjadi Ratu Di Tangan Kakak Ipar
Part 51


__ADS_3

Spesial part Nathan dan Gavin.


"Jadi, ada perlu apa anda mengajak saya untuk bertemu?"


Nathan tersenyum simpul. Sangat terlihat jika Gavin tidak nyaman bertemu dengannya. Nathan sangat paham. Itu karena Gavin masih mencintai Mikha. Bahkan, mungkin saja Gavin masih mengharapkan Mikha kembali padanya.


"Saya butuh bantuan anda untuk menjaga Mikha."


Gavin mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya dengan heran. "Bukankah rencananya kalian akan segera menikah setelah Mikha pulang dari Paris?" imbuh Gavin.


"Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bertahan hidup. Jika sewaktu-waktu saya pergi, Mikha sudah berada di tangan yang tepat."


Gavin semakin dibuat keheranan dengan apa yang Nathan ucapkan. Seperti menyiratkan sesuatu, tapi Gavin tak ingin menerka-nerka hal itu.


"Saya pikir, anda salah memilih saya untuk hal tersebut. Anda pasti tahu bagaimana hubungan kami."


"Dan saya tahu kalau Mikha sebenarnya belum bisa melupakan anda. Sampai saat ini, saya tahu kalau dia masih berusaha melupakan anda. Belum sepenuhnya lupa. Bahkan cintanya untuk saya pun belum sebesar cinta yang dia miliki untuk anda."


Gavin tertawa kosong. Rasanya tidak mungkin jika Mikha masih mencintai dirinya.


Tatapan mata Mikha yang penuh amarah. Enggannya Mikha untuk bertemu dan berbicara dengannya. Semua menandakan bahwa Mikha sudah sangat membenci Gavin.


"Saya tahu anda berusaha menemui Mikha waktu masih di Paris. Bahkan anda berada di apartemen Mikha sampai Mikha selesai kuliah. Semua pembicaraan kalian, saya mendengarnya. Tangisan Mikha, itu semua menandakan bahwa dia masih menyimpan rasa yang besar untuk anda. Dia hanya mencoba untuk terbiasa dengan luka yang dia rasakan."


"Tapi bukankah_"


"Kita bertemu di lobi?" Nathan memotong pembicaraan. "Itu hanya siasat saya agar anda atau Mikha tidak tahu kalau saya mendengarkan pembicaraan kalian."


Nathan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kepalanya mendadak berdenyut pelan tapi masih sanggup untuk dia tahan sampai beberapa waktu ke depan.


"Saya mengidap kanker. Awal bertemu Mikha, kanker yang menyerang saya belum separah ini. Saya tahu kalau umur saya mungkin tidak akan panjang. Karena itu saya mengatakan pada Mikha kalau saya membangun bisnis di Paris. Padahal, saya rutin ke sana untuk berobat. Di akhir hidup saya, saya ingin berbahagia dengan orang yang saya cintai. Meskipun saya tahu kalau hatinya belum sepenuhnya milik saya."


Gavin terdiam. Menyimak apa yang dibicarakan oleh Nathan.


"Tapi akhir-akhir ini, penyakit saya semakin parah. Anda tau kenapa saya pakai topi? Itu karena rambut saya sudah mulai rontok. Saya pun juga harus membohongi Mikha dengan alasan sibuk dan tidak bisa menghubungi dia setiap waktu lagi agar Mikha tidak curiga dengan keadaan saya. Padahal, saya seperti itu karena saya sudah tidak kuat untuk melihat handphone terlalu lama."


Nathan terdiam sejenak. Dia pun merasakan sakit jika membicarakan tentang wanita yang dia cintai. Apalagi, Nathan tahu waktu Nathan tak akan lama untuk bisa menjaga Mikha. "Jaga dia untuk saya," ucap Nathan dengan pelan dan penuh permohonan.


"Itu nggak mungkin. Hatinya tidak akan mungkin kembali menjadi milik saya. Orangtuanya pun tak akan pernah merestui saya dengan Mikha."


"Tidak ada yang tidak mungkin jika mau berusaha."


"Sama dengan anda. Allah pasti akan melihat usaha anda untuk sembuh jika anda yakin bisa sembuh. Percayalah! Bahagia Mikha sekarang hanya dengan anda."

__ADS_1


"Berusahalah membuat Mikha kembali padamu. Allah pasti juga akan memperhitungkan usahamu."


Gavin terdiam sejenak. Mencerna semua ucapan Nathan. Yang Nathan lakukan juga sebuah pengorbanan yang besar. Di saat dia berusaha untuk sembuh, dia juga berusaha memikirkan kebahagiaan Mikha.


Tidak ada laki-laki yang sepenuhnya rela melihat kekasih hatinya bahagia dengan orang lain. Dan Nathan adalah salah satunya.


Gavin tau, mau tidak mau Nathan harus merelakan hal itu karena dia tahu mungkin saja hidupnya tak akan lama lagi.


"Setelah ini, saya harus tinggal di Singapura untuk pengobatan intensif. Tolong, anda menjadi saya."


"Maksudnya?"


"Bawa handphone saya. Hubungi Mikha dengan berpura-pura menjadi saya."


Gavin menggelengkan kepalanya. "Saya tidak bisa." Mana mungkin dia bisa melakukannya?


Baiklah, dia yang berkomunikasi dengan Mikha. Mungkin bisa memanggil Mikha dengan sebutan sayang, membahas masa depan yang indah. Tapi dirinya harus berpura-pura menjadi Nathan.


Gavin tidak bisa. Dia tidak yakin bisa menahan rasa cemburunya saat melakukan hal itu.


"Kepada siapa lagi saya harus meminta tolong? Andai Mikha tidak sedang konsentrasi dengan pendidikannya yang hampir selesai dan menyita banyak waktunya, saya akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Mikha. Tapi saya tidak melakukanya karena takut mengganggu konsentrasinya."


"Lalu ketika anda sembuh, saya akan menjadi orang bodoh yang hanya bisa melihat kemesraan kalian lagi? Setelah apa yang saya lakukan demi kalian, seperti itu? Maaf. Saya tidak bisa. Permisi."


Nathan pun tak perlu mengejarnya karena Nathan rasa semua hanya butuh waktu.


Sembuh? Nathan tertawa sinis.


Dua tahun lamanya menjalani pengobatan. Mulai dari yang A sampai yang Z sudah pernah dia lakukan.


Tapi bukannya sembuh, penyakit mematikan itu justru mulai menyerang organ penting dalam tubuhnya.


Mustahil rasanya jika dia bisa bertahan hidup untuk waktu yang lama. Sehatnya saja harus ditopang dengan obat-obatan yang tak terkira banyaknya.


Ginjalnya pun juga mulai bermasalah karena terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan kimia.


🌹🌹🌹


Dengan segala paksaan, bahkan Elisa sendiri yang datang meminta tolong pada Gavin, akhirnya Gavin menuruti kemauan Nathan.


Kalau saja Nathan tidak sedang kritis saat ini, mungkin Gavin tidak akan melakukan apa yang Nathan mau.


Handphone milik Nathan dan sepucuk surat untuk Mikha nanti sudah ada di tangan Gavin.

__ADS_1


Gavin masih belum mengerti harus berbuat apa dengan handphone tersebut selain membaca chat mesra antara Nathan dan Mikha.


Juga memandangi foto-foto kebersamaan mereka selama di Paris.


Cemburu? Tentu saja. Tidak perlu dipertanyakan lagi.


Berkali-kali Mikha meminta untuk video call. Mungkin dia sudah rindu dengan Nathan. Tapi Gavin terus mencari alasan-alasan agar Mikha tak meminta lagi untuk video call.


***


Seminggu setelah Elisa datang menitipkan handphone dan surat dari Nathan, Elisa mengabarkan pada Gavin kalau kondisi Nathan semakin parah. Kesadarannya mulai menurun dan responnya terhadap obat maupun alat-alat yang menopang hidupnya mulai berkurang.


"Kamu harus bertahan untuk Mikha, Nathan. Dia sangat mencintai kamu," bisik Gavin tepat di telinga Nathan. Berharap Nathan mendengar ucapannya dan Nathan kembali bersemangat untuk sembuh.


"Saya tidak bisa menjaga Mikha. Kamu harus bangun, sembuh, dan menjaga Mikha sendiri," ancam Gavin.


"Bangun, Nathan! Jadilah kuat untuk orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangi kamu."


Bukan kesadaran yang mereka dapatkan, justru berhentinya napas Nathan yang membuat Elisa menangis histeris.


Gavin mengepalkan tangannya. Tak bisa melihat keadaan seperti ini.


Bagaimana nanti jika Mikha tahu Nathan-nya sudah tidak ada?


Bagaimana reaksi Mikha nanti jika tahu yang berkomunikasi dengannya akhir-akhir ini bukan Nathan? Tapi Gavin.


🌹🌹🌹


"Apa kabar, Om?" sapa Gavin pada Wira saat pemakaman Nathan selesai.


Wira tersenyum tipis. "Alhamdulillah, saya baik."


Sejak berakhirnya hubungan Gavin dan Mikha, Gavin sudah jarang sekali bertemu dengan Wira dan Feni.


Hubungan persahabatan antara keluarga mereka pun benar-benar berakhir karena kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat keluarga Anton.


Gavin tidak tahu lagi harus bicara atau bertanya apa pada Wira. Bingung. Meminta restu pada Wira untuk kembali memperjuangkan Mikha pun Gavin rasa waktunya belum tepat.


Sekian lama Gavin diam, Gavin sampai tidak sadar kalau Wira sudah melangkah pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Gavin yang tadi ada di hadapan Wira.


Gavin masuk ke dalam mobilnya. Saat itu juga, handphone milik Nathan berbunyi. Nama Mikhayla ❤️ yang muncul di layar handphone tersebut.


Gavin bingung harus melakukan apa. Mengangkat telepon itu pun sepertinya juga tidak mungkin dia lakukan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2