
"Kak..."
Panggilan Mikha serta tangan Mikha yang mencengkeram erat lengan Gavin membuat Gavin terlihat begitu panik.
"Ada apa, Sayang? Kenapa?" Gavin segera meminggirkan mobilnya untuk memastikan kondisi Mikha saat ini.
"Kepala aku pusing banget. Perut aku mual. Nggak betah. Ada kantong plastik nggak?"
"Sebentar."
Gavin segera mencari kantong plastik di laci mobilnya. Biasanya ada stok kantong plastik di sana.
Setelah menemukan satu kantong plastik, Gavin segera memberikannya pada Mikha.
Tak berselang lama, Mikha memuntahkan semua isi perutnya ke dalam kantong plastik tersebut.
Gavin membantu untuk memijat tengkuk Mikha pelan agar rasa sakit yang dirasakan Mikha sedikit reda.
"Udah, Yang? Mau minum?"
Mikha mengangguk dengan mata terpejam. Kepalanya dia sandarkan pada sandaran kursi.
Segera Gavin berikan botol minum yang selalu Mikha bawa pergi ke mana-mana. Lalu Mikha meminumnya sedikit.
"Kita ke rumah sakit, ya? Badan kamu lemes banget gini. Kenapa tiba-tiba begini? Tadi nggak apa-apa, kak, pas berangkat?"
"Nggak tau kenapa, kak."
"Ya sudah kita ke rumah sakit sekarang."
"Nikahan temen kakak gimana?"
"Masih mikirin itu di keadaan seperti ini, Sayang? Mau datang ke sana dengan keadaan seperti ini?"
Mikha menggeleng pelan.
Gavin menghembuskan napas pelan dan langsung memutar arah untuk menuju rumah sakit.
***
"Mikha kenapa, Bel? Ada masalah apa dengan kesehatannya?"
Bella tersenyum menanggapi pertanyaan Gavin. "Sepertinya ini tanda awal kehamilan, Vin."
"Hamil? Mikha hamil?"
"Menurut pemeriksaan awal ada tanda-tanda kehamilan di dalam tubuh Mikha, Vin. Mau cek urine si Mikha lemes banget nggak kuat ke kamar mandi. Cek darah juga masih besok keluarnya. Jadi lebih jelasnya langsung ke dokter Vega aja, ya. Gue udah daftarin nama kalian tadi. Prakteknya masih satu jam lagi."
"Nggak bisa sekarang?"
Bella tertawa pelan. "Ada jam kerjanya sendiri, Vin."
"Gue bisa bayar berapapun asalkan mau mulai praktek sekarang."
Bella menganggukkan kepalanya. "Percaya. Gue percaya, Vin. Tapi nggak semua hal bisa dinilai dengan uang, ya. Sabar! Cuma satu jam, kok."
Gavin meraup wajahnya dengan sedikit kasar. Masih harus menunggu satu jam lagi untuk benar-benar memastikan apakah Mikha hamil atau tidak.
Setelah Bella berpamitan untuk memeriksa pasien lain, Gavin segera masuk ke ruang IGD untuk menemui Mikha.
Gavin menciumi wajah Mikha yang tubuhnya kini terbaring lemah. "Kak..."
__ADS_1
"Iya, Sayang, kakak di sini. Gimana, ada yang sakit?"
"Kepala pusing banget."
"Kakak pijat pelan kepalanya, ya. Buat tidur aja kalau bisa."
Gavin memijat pelan kepala Mikha untuk meredakan pusing yang Mikha rasakan.
Melihat Mikha seperti ini, tak tega rasanya. Hatinya sakit melihat Mikha terbaring lemah tak berdaya seperti ini.
Mikha yang selalu aktif dan ceria, memiliki semangat tinggi untuk melakukan pekerjaannya, kini harus terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Tapi di sisi lain, Gavin juga sangat bahagia kalau akhirnya Mikha hamil. Dia tak sabar menunggu satu jam untuk diperiksa dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini.
***
"Ini adalah kantong janin, Pak. Sudah ada janinnya ini, Alhamdulillah. Bapak dan ibu bisa lihat, kan?"
Gavin dan Mikha memperhatikan layar monitor. Di sana ada bulatan kecil dengan sesuatu yang lebih kecil pula di dalamnya.
"Itu ada dua, ya, Dok?" tanya Gavin penasaran.
"Oh, iya, MaasyaaAllah. Maaf saya baru sadar kalau kantongnya ada dua, Pak, Bu. Jadi insyaallah anaknya kembar ini."
"Alhamdulillah..."
Gavin dan Mikha berpandangan dengan penuh haru. Gavin sendiri tidak bisa menahan air mata bahagianya. Dia dan Mikha akan segera memiliki anak. Dua sekaligus dalam satu waktu.
Tangan Gavin pun tak pernah lepas dalam menggenggam tangan Mikha. Sejak awal masuk hingga Mikha diperiksa.
"Usianya sudah enam Minggu. Tadi mual dan muntah, ya, Bu Mikha?"
Mikha mengangguk membenarkan.
"Pusing, Dok."
"Baik. Itu adalah salah satu hal yang terjadi karena suatu kehamilan. Ada mual, muntah, pusing, lemas. Mual saat mencium bau-bau sesuatu. Tapi tetap cukup minum agar tidak dehidrasi, ya, Bu. Dan juga tetap makan walaupun sedikit, ya, Bu. Tidak harus nasi. Buah dan sayuran tidak masalah selama bisa diterima oleh perut. Dan yang terpenting tidak ada alergi pada makanan tersebut. Kalau ada keluhan lain, bisa langsung konsultasi ke saya. Di sini sudah saya tuliskan nomor handphone saya."
Mikha mengangguk paham.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Kalau untuk berhubungan suami istri boleh, Dok?"
Pertanyaan Gavin membuat Mikha protes dengan menyenggol pelan lengan Gavin.
Malu mendengar suaminya bertanya hal seperti itu.
Dokternya Vega tertawa renyah. "Boleh, asalkan Bu Mikha tidak ada keluhan apapun. Dan juga tidak ada flek dan semacamnya. Tapi di trimester pertama ini sangat rentan, ya, Pak. Lebih baik tidak terlalu sering melakukannya. Kalau sudah memasuki trimester kedua, InsyaaAllah sudah aman."
"Baik. Terimakasih, Dokter."
"Sama-sama. Oh, iya. Melihat kondisi Bu Mikha yang masih lemas, saya belum ijinkan Bu Mikha untuk pulang, ya. Dirawat dulu di sini sampai kondisinya membaik."
"Apapun yang terbaik untuk istri saya, Dok. Kami permisi dulu."
"Baik. Silahkan, Pak, Bu!"
Gavin kembali mendorong kursi roda yang dinaiki Mikha menuju kamar rawat Mikha yang ada di lantai lima.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Kabar kehamilan Mikha disambut bahagia oleh keluarga Mikha dan Gavin.
Mereka langsung berbondong-bondong datang ke rumah sakit demi melihat kondisi Mikha yang terbaring di rumah sakit.
Semuanya terlihat bahagia saat Gavin mengatakan kalau calon anak mereka kembar.
Tapi berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan Yunita.
Bukan dia tidak bahagia mendengar Mikha hamil. Bahkan kehamilannya pun kembar seperti apa yang dia rasakan dulu.
Yunita hanya teringat pada anaknya yang sudah pergi. Gisella.
Gavin yang menyadari perbedaan pada Yunita pun langung menghampiri Yunita dan mengajaknya keluar sebentar.
"Mama kenapa?" tanya Gavin setelah mereka ada di luar ruangan.
"Mama ingat adik kamu si Gisella, Vin. Dulu Mama juga hamil kembar kayak Mikha sekarang. Rasanya seneng banget bakalan punya dua anak sekaligus dalam satu waktu. Menunggu mereka tumbuh besar. Tapi umur Gisella ternyata nggak sampai dia besar."
Keputusan Gavin untuk menyembunyikan perihal kematian gisella sepertinya adalah hal yang tepat.
Mendengar Mikha hamil kembar saja membuat Yunita teringat akan Gisella hingga menangis seperti ini. Apalagi juga dia tahu kalau penyebab perginya Gisella juga karena menyelamatkan kucing yang dibuang oleh Gilang.
"Mama bahagia, Vin. Sangat bahagia jika Mikha hamil. Cuma akhir-akhir ini memang Mama sering ingat sama Gisella."
"Sudah, Ma. Ikhlaskan, ya. Dia sudah tenang di sana."
Gavin segera memeluk Yunita dan menenangkannya. Lalu setelah Yunita tenang, Gavin mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar sebelum semuanya curiga kenapa Yunita keluar kamar begitu saja.
🌹🌹🌹
Mual dan muntah yang dirasakan Mikha semakin hari semakin parah. Tak ada sedikitpun makanan atau minuman yang bisa dicerna oleh perutnya.
Lagi-lagi Mikha harus dirawat di rumah sakit agar tak mengalami dehidrasi. Padahal, baru tiga hari yang lalu Mikha keluar dari rumah sakit setelah dia hari dirawat.
Perede mual tak lagi berguna untuk meredakan mual yang dirasakan Mikha.
Gavin tak tega melihatnya. Andai ini bukan kodrat wanita, pasti Gavin rela menukar posisi Mikha dengan dirinya.
Namun melahirkan adalah kodrat seorang perempuan. Gavin hanya bisa merawat Mikha dengan penuh kasih sayang. Memberikan yang terbaik asalkan Mikha nyaman.
"Kak... Pengen peluk," ujar Mikha dengan suaranya yang sedikit serak.
Gavin tertawa kecil. Dia langsung menyusul Mikha tidur di atas ranjang rumah sakit yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi seorang saja.
Tapi demi bisa memeluk Mikha, Gavin dan Mikha rela berdesakan berbagi ranjang untuk berdua.
"Sini kakak peluk." Gavin menarik pelan tubuh Mikha. Mikha pun menghadapkan tubuhnya pada dada Gavin.
"Mau pulang aja, Kak. Mulanya udah berkurang, kok."
"Ditunggu sampai besok pagi dulu ya, sayang. Tadi dokter bilang seperti itu. Sabar, ya. Semoga menjadi pahala besar buat kamu, Sayang. Si kembar pasti bangga punya Mami sehebat dan sekuat kamu."
Gavin mencium kening Mikha dengan hangat dan mesra. Mengusap pelan perut Mikha yang masih datar.
Di dalam perut Mikha, ada dua janin hasil jerih payahnya dengan Mikha di setiap malam.
Ada benih darinya yang tumbuh sehat di dalam rahim Mikha.
Rasanya bahagia tak terkira. Dirinya dan Mikha akan segera memiliki dua anak sekaligus dalam satu waktu.
Doanya pada saat di Lombok dikabulkan seiring dengan pembuahan yang terjadi di dalam rahim Mikha.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Mau kejar setoran. target sebelum lebaran udah end ya. part malam pertama setelah lebaran di tempat biasa. 🥵 kalau nggak lupa. nanti mohon diingatkan. 😜😂😜😂