
Menghadapi Gavin sama halnya dengan menaiki roller coaster. Harus siap dengan segala tantangan di dalamnya. Terkadang dia bisa berjalan pelan. Kadang naik dengan begitu cepat. Kadang juga menukik dengan tajam.
Sikap Gavin terkadang bisa selembut permen kapas. Tapi juga bisa setajam duri jika ada yang mengganggu pikirannya.
Seperti saat ini, saat seharusnya Gavin bertemu dengan klien dari luar Jawa. Tapi Gavin mengatakan jika dia tidak ingin diganggu siapapun. Alhasil, Mikha yang harus mengatur ulang jadwal pertemuan Gavin dengan kliennya. Mikha juga yang terkena marah dari klien Gavin karena menganggap Gavin tidak bisa menepati janji.
Kedatangan Yunita merubah suasana hati Gavin. Hal itu membuat Mikha penasaran. Ingin bertanya, tapi takut Gavin akan marah dan menganggap Mikha ikut campur.
"Kalau ada masalah jangan dibawa ke pekerjaan, Kak. Kasian klien kakak jauh-jauh dari Medan. Sampai sini malah meeting dibatalkan." Mikha berucap pelan.
"Kan, bisa kamu atur ulang jadwalnya."
"Tapi, kan, jadi aku yang kena marah, Kak."
"Kalau nggak mau menanggung resiko, jangan kerja. Kamu tinggal menuruti perintah saya. Tidak perlu mengatur saya. Keluar! Saya tidak ingin diganggu. Untuk hal apapun."
Ada rasa sakit yang Mikha rasakan saat Gavin membentaknya. Sebenarnya bukan membentak. Hanya saja suara Gavin yang meninggi membuat Mikha merasa kalau Gavin sedang membentaknya.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Mikha segera keluar dari ruangan Gavin dan kembali ke ruangannya sendiri.
Mikha bingung dengan perasaannya sendiri. Ketika Gilang berbicara dengan meninggikan suaranya, Mikha merasa biasa saja. Padahal dia adalah suami Mikha sendiri.
Tapi ketika Gavin yang meninggikan suaranya di depan Mikha, Mikha merasa begitu sakit dan merasa kesal pada Gavin.
Bahkan tanpa sadar, Mikha meneteskan air matanya. Takut kalau Gavin akan berubah dingin seperti dulu lagi. Mikha belum paham kenapa bisa setakut itu. Takut jika Gavin berubah.
Sampai waktu kerja selesai, Gavin tak kunjung keluar dari ruangannya. Mikha bingung, kalau dia pulang tanpa pamit, takut Gavin masih memberinya pekerjaan hingga membuatnya lembur lagi. Tapi kalau masuk untuk pamit, Mikha juga takut kalau suasana hati Gavin belum juga membaik.
"Pulang aja-lah. Kalau ada kerjaan biar dikerjain sendiri," gumamnya sembari menatap pintu ruangan Gavin yang tertutup rapat.
🌹🌹🌹
Mikha melihat ada sebuah mobil lain yang terparkir di halaman rumahnya. Mobil yang dia tau itu milik kedua mertuanya.
Gelak canda tawa juga terdengar dari dalam rumah. Rupanya mereka tengah berbincang dengan Gilang. Apa yang sedang mereka bicarakan sampai mereka bisa tertawe lepas seperti itu?
Saat Mikha membuka pintu, ayah serta ibu mertuanya, juga Gilang menatap Mikha secara bersamaan.
"Hai, Sayang. Sudah pulang?" Gilang menghampiri Mikha lalu memeluk Mikha singkat. Kecupan lekat juga diberikan di pipi Mikha. Andai tidak ada kedua mertuanya, sudah pasti Mikha buru-buru mengusapnya dengan kuat.
Lagipula, Gilang juga tidak mungkin akan menciumnya kalau tidak ada Anton dan Yunita.
"I miss you so much," ucap Gilang menggelikan.
Mikha tersenyum lebar, berusaha membalas kemesraan yang Gilang lakukan. "I miss you too, Kak," balas Mikha. "Papa sama Mama sudah lama?" lanjutnya bertanya pada Anton dan Yunita.
__ADS_1
"Belum, Kha. Baru lima belas menitan. Sini, duduk sini dulu aja. Kamu pasti capek, ya?"
Anton menepuk sofa kosong di sebelahnya. Mempersilahkan Mikha untuk duduk di sana.
"Nggak capek, Pa. Tadi pekerjaannya nggak begitu banyak, kok."
"Oh, ya? Syukurlah kalau Gavin tidak membuatmu kelelahan bekerja."
Mikha tak perlu merasa terkejut kalau Anton sudah tahu perihal dia magang di kantor Gavin. Pasti Yunita yang sudah menceritakannya pada Anton.
"Oh, iya. Malam ini kami menginap di sini, ya?"
"Apa?"
"Apa?"
Gilang dan Mikha memekik bersamaan.
Kalau kedua orangtua Gilang menginap, itu artinya Gilang dan Mikha harus berada dalam satu kamar. Sementara selama pernikahan mereka, tak sekalipun mereka tidur dalam satu kamar.
Gilang dan Mikha saling berpandangan. Saling melempar tanya lewat tatapan mata.
"Kalian keberatan?" tanya Anton membuyarkan keterkejutan Gilang dan Mikha.
Gilang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Enggak, Pa. Nggak masalah kalau Papa dan Mama tidur di sini."
"Kita tidur di bawah aja nggak apa-apa, ya, Pa? Takut ganggu kalian."
Anton mengangguk setuju dengan ucapan Yunita.
"Enggak ganggu, Pa. Memangnya kita mau ngapain." Gilang tertawa hambar. Tangannya langsung menggenggam tangan Mikha seraya berucap, "Ma, Pa, Mikha harus mandi dulu biar capeknya segera hilang. Iya, kan, Sayang?" Sedikit tarikan di tangan Mikha menandakan bahwa itu adalah sebuah kode agar Mikha mengikuti Gilang.
Mikha mengangguk setuju. "Iya. Aku mandi dulu ya, Ma, Pa."
"Iya, Sayang."
Dengan bergandengan tangan, Mikha dan Gilang berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Diam-diam Yunita mengambil gambar Gilang dan Mikha yang sedang bergandengan tangan. Lalu segera mengirimkan foto tersebut kepada Gavin.
[ Kamu lihat, Gavin! Adikmu dan Mikha sangat mesra. Jadi jangan coba-coba untuk mengusik mereka. Kalau kamu sudah siap menikah, bawa calon kamu ke hadapan mama dan papa. Atau perlu kami yang mencarikan calon untukmu?
🌹🌹🌹
"Lo ngapain iya-iya aja waktu Mama bilang mau menginap di sini?"
__ADS_1
"Terus gue harus bilang apa? Jangan, begitu?"
"Terus barang-barang gue gimana? Semua ada di bawah, Mikha."
Mikha mengendikkan bahunya dengan acuh. "Mana gue peduli."
Gilang mengacak rambutnya dengan kesal. " Terus nanti malam gue tidur di sini bareng sama Lo, begitu?"
"Ih, ogah. Gue nggak mau satu kamar sama Lo."
"Terus Lo mau papa sama Mama tau kalau hubungan kita nggak baik-baik aja?"
"Ya biarin aja mereka tau. Dengan begitu kita bisa bercerai."
Mikha melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Gilang. Namun dengan cepat Gilang mencekal tangan Mikha, menariknya dan memepetkan tubuh Mikha ke tembok. "Lo dengerin, ya! Gue nggak akan pernah menceraikan Lo. Harus berapa kali gue bilang seperti itu hah?"
Kedua mata Mikha menatap Gilang tanpa rasa takut. Baginya sudah cukup selama ini dia bertahan. Mikha akan melakukan segala cara agar bisa bercerai dengan Gilang.
"Terserah, Lo, Gilang. Yang jelas, gue akan tetap cari cara buat bisa lepas dari Lo. Tunggu aja. Gue bakalan bisa dapatkan caranya, kok. Cepat, atau lambat."
Gilang tersenyum sinis. "Silahkan! Tapi akan gue buat Lo nggak bisa lepas dari gue."
Gilang memajukan langkahnya mendekati Mikha. Sejujurnya, Mikha mulai takut dengan tatapan mata Gilang yang menyeramkan baginya. Mikha memundurkan langkahnya untuk menjauh dari Gilang. Tapi justru Gilang semakin mendekatinya hingga langkah Mikha terhenti karena punggungnya menabrak dinding kamar.
"Mau apa Lo?"
"Lo cantik juga, ya? Gimana kalau gue hamilin Lo, Kha? Kayaknya seru. Lo nggak akan menuntut cerai karena akan ada anak gue yang akan Lo kandung."
Mendengarnya, nyali Mikha menciut. Tapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Gilang. Gilang tidak bisa memperlakukan dirinya seenaknya saja. "Jangan coba-coba buat sentuh gue!"
"Kenapa? Kita udah sah, kan? Gue punya hak atas diri Lo. Dan Lo punya kewajiban buat melayani gue."
Mikha semakin takut. Apalagi tangan Gilang sudah berani menyentuh lengannya. Dengan pelan, dari jemari Mikha sampai ke pundak Mikha. Membuat bulu kuduk Mikha berdiri.
"Berhenti atau gue teriak!"
Bukannya menghentikan aksinya, Gilang justru tertawa keras. "Teriak aja, Sayang. Mama dan Papa tidak akan pernah mengkhawatirkan karena mereka pikir kamu akan berteriak keenakan."
"Gilang, sumpah gue enek dengar Lo bilang kayak gitu."
"Kali ini Lo boleh enek. Tapi nanti Lo bakalan minta lagi."
🌹🌹🌹
Mereka bakalan gituan nggak ya? 🤔🤔
__ADS_1