
Mikha terbangun saat merasa ada tendangan kecil dari dalam perutnya. Mikha diam, mencoba merasakan lagi apa yang membuatnya terbangun tadi.
Tak berapa lama kemudian, satu tendangan dia rasakan disusul dengan tendangan lainnya.
Mikha tersenyum lebar. Anak-anaknya di dalam sana sudah menunjukkan pergerakan. Rasanya geli, lucu, tapi ingin terus merasakannya.
Mikha masih tak menyangka bahwa di dalam perutnya ada anak-anaknya bersama Gavin yang bergerak aktif dan tumbuh sehat.
Rasanya tak sabar menunggu dua puluh tiga Minggu lagi agar bisa bertemu dengan kedua anaknya.
"Kenapa, Sayang? Ada yang kamu pengen?"
Gavin turut membuka mata. Dia melihat Mikha yang terbangun dan memegangi perutnya.
Mikha menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Gavin. Mengambil tangan Gavin lalu menempelkannya pada perut buncitnya.
"Kakak tangannya taruh sini, ya. Kakak diam aja biar bisa rasain."
"Apa, sayang?"
"Udah. Diam aja dulu. Tunggu sebentar."
Gavin menuruti perintah Mikha untuk diam. Dia tunggu beberapa saat sampai dia merasakan ada yang bergerak dari dalam perut Mikha.
"Itu apa, Sayang?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Itu tendangan dari anak kita, Kak."
Gavin terlihat antusias. Tapi juga sedikit khawatir. "Apa ini sakit?"
Mikha menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Enggak sakit sama sekali, Kak. Rasanya geli, terus lucu aja, sih. Ada yang bergerak di perut aku tapi bukan lagi cacing. Melainkan anak-anak kita."
"Masa anak kita di samain sama cacing?" sungut Gavin tak suka.
"Mana ada aku bilang kayak gitu? Udah, ah. Malam-malam jangan ngajak debat ya, kak. Mending rasain lagi sini. Barusan mereka nendang lagi."
Gavin mengalah. Dia kembali meletakkan telapak tangannya ke atas perut Mikha.
"Besok jadwal periksa, kan?"
"Hmm," jawab Mikha dengan sebuah gumaman. Matanya mulai terpejam merasakan kenyamanan usapan tangan Gavin.
"Oke. Besok kakak nggak ke kantor."
Mata Mikha kembali terbuka. "Ngapain nggak ke kantor? Periksanya, kan, masih sore."
"Biar nggak terlambat, sayang. Kamu tahu kakak pulang kantor jam berapa."
"Yaelah, kakak. Pulang siang, kan, bisa. Kerja, kakak. Aku butuh duit kakak banyak-banyak."
"Matre, ya, sekarang?"
__ADS_1
"Enggak. Tapi realistis." Mikha terkekeh pelan. Kembali memejamkan matanya dan menyamankan posisinya di pelukan Gavin.
🌹🌹🌹
"Janinnya sehat, Alhamdulillah. Detak jantungnya juga normal. Berat badannya sedikit kurang, ya, Bu, untuk usia kandungan tujuh belas Minggu. Tapi InsyaaAllah masih normal karena ada dua janin. Tunggu!"
Gavin dan Mikha saling berpandangan saat dokter Vega memicingkan matanya ke arah monitor. Lalu menggerakkan alat USG-nya lagi di atas perut Mikha.
"Wah, triplet ini, Pak, Bu."
"Maksudnya, Dok?"
"Ternyata ada tiga janin, Pak, Bu. Kembar tiga."
"Serius, Dok?" Gavin dan Mikha tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
Dokter Vega mengangguk yakin. "Kalau yang dua udah jelas laki-laki, ya, Pak, Bu. Kalau yang satu ini nggak mau nunjukin, nih. Malu-malu."
"Kenapa yang satu baru terlihat sekarang, Dok?"
"Hal itu biasa terjadi, Pak, Bu. Bahkan yang setiap kali di USG hanya ada dua, tau-tau lahir tiga. Itulah kuasa Allah, Pak, Bu. Alat USG ini hanya perentara untuk bisa melihat dalam rahim. Tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana."
Keduanya mengangguk paham.
Mikha dan Gavin tersenyum bahagia. Ternyata bukan hanya dua anak yang Mikha kandung. Tapi juga ada tiga anak.
***
Banyak artikel yang menjelaskan apa saja resiko hamil kembar. Tapi sejauh ini, Mikha merasa baik-baik saja dengan dirinya dan anak-anaknya.
Mereka bertiga tumbuh dengan sehat meskipun berat mereka di bawah normal. Kata dokter, itu wajar karena mereka bertiga.
"Mungkin di dalam makanannya di bagi-bagi kali, ya. Yang adil, ya, anak-anak," ucapnya sambil mengusap perut besarnya.
Berat badan Mikha sendiri sejauh ini sudah bertambah tiga belas kilo. Membuatnya merasa teramat sangat gendut.
"Aku gendut, ya, kak?" tanyanya pada Gavin.
Gavin mengangguk membenarkan. Membuat Mikha mengerucutkan bibirnya.
"Udah nggak cantik, ya? Tambah bulet, ya?"
"Apa, sih, Sayang?" Gavin menarik tubuh Mikha, mendudukkannya ke atas pangkuannya.
"Mau kayak gimanapun kamu, kakak tetap cinta. Kamu tetap cantik. Kamu kayak gini karena sedang mengandung anak-anak kita. Lagipula, kamu yang sekarang terlihat begitu..." Gavin mendekatkan bibirnya ke telinga Mikha. "Seksi..." bisiknya dengan tangan yang sudah mulai nakal.
Mikha melenguh pelan. Hormon kehamilannya juga membuatnya semakin bergai*ah. Tak bisa menerima sentuhan Gavin sedikit saja karena pasti Mikha akan langsung terpancing.
"Kakak mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Gavin setelah mereka selesai satu ronde malam ini.
"Kemana?" tanya Mikha yang memejamkan matanya. Dulu dia bisa beberapa ronde dalam satu waktu. Tapi sekarang, satu ronde saja sudah membuatnya kelelahan.
__ADS_1
"Ke suatu tempat. Besok kita berangkat."
"Oke," ujar Mikha pasrah. Rasa lelahnya membuatnya ingin segera tidur.
🌹🌹🌹
"Bromo?"
Gavin tersenyum dan memegang tangan Mikha.
Dia kembali membawa Mikha ke tempat dimana dulu dia menciptakan luka di hati Mikha.
"Kenapa ke sini?"
"Ada kenangan buruk yang perlu di hapus dengan kenangan indah, Sayang."
Mikha tak merespon apapun. Justru dia kembali teringat saat dulu Gavin mengakhiri hubungan mereka di tempat seindah Bromo.
Sejak saat itu dia sangat tidak ingin mendengar kata Bromo. Bukan dia membenci tempatnya, tapi kenangan buruk di sana.
Setiap mengingatnya, Mikha langsung merasa kesal. Tapi sekarang tidak lagi karena yang membuat Mikha merasa kesal adalah ayah dari anak yang dikandungnya.
Bukan kesal lagi. Tapi sudah cinta mati.
Bahkan Mikha sudah lupa kalau dulu Gavin pernah menciptakan kenangan buruk di Bromo.
Mikha dan Gavin bergandengan tangan menuju Padang Savana Bromo. Mikha sudah mulai kesulitan berjalan dengan perutnya yang semakin membesar di usia kandungan dua puluh tiga Minggu. Sudah mulai lelah untuk beraktivitas sedikit saja.
"Masih seindah dulu," ucap Mikha pelan.
Gavin memutar tubuh Mikha hingga kini keduanya saling berhadapan. Gavin mengecup kening, turun ke hidung, lalu berakhir di bibir Mikha.
Mata Mikha terpejam menikmati ciuman Gavin.
"Kakak akan terus meminta maaf untuk semua hal yang pernah kakak lakukan dulu, Sayang. Yang sudah membuat kamu sakit hati dan menyesal telah mengenal kakak."
"Aku bahkan udah lupa akan hal itu, kak. Yang kakak berikan selama pernikahan kita itu sangat membuat aku bahagia hingga aku bisa lupa dengan apa yang pernah terjadi dulu."
"Terimakasih sudah mau menjadi pendamping hidupku, Sayang. Terimakasih sudah mau bersusah payah mengandung anak-anak kita. Kamu wanita hebat, kamu wanita yang paling aku cintai selain Mama."
"Aku juga berterimakasih sama kakak. Kakak sudah menjadi lelaki hebat untukku dan anak-anak kita. Kakak selalu menuruti apa mauku. Kakak selalu ada untukku. Maaf kalau aku belum bisa sepenuhnya menjadi istri yang baik untuk kak Gavin."
"Kamu yang terbaik. Karena itu kakak memilihmu untuk menjadi cinta terakhir kakak."
Mikha tersenyum di sela tetesan air mata haru yang menetes di kedua pipinya.
Suami seperti Gavin, anak-anak yang ada di dalam kandungannya, semua adalah bukti bahwa Tuhan begitu baik pada dirinya hingga memberikan nikmat yang begitu banyak untuknya.
Mikha tak berharap apapun lagi selain kebahagiaan dalam rumah tangganya. Gavin selalu sehat, anak-anaknya juga sehat sampai lahir nanti.
Mikha juga berharap agar Allah memanjangkan umurnya dan memberinya kesehatan agar dia bisa menua bersama Gavin. Menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya. Dan mendampingi mereka hingga mereka dewasa nanti.
__ADS_1
🌹🌹🌹