
Mikha percaya, ketika dia berusaha untuk sabar di atas segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya, Tuhan pasti telah menyiapkan kebahagiaan yang besar untuknya.
Terbukti, Mikha lulus dengan predikat cumlaude. Tingginya nilai Mikha juga berpengaruh pada diterimanya Mikha di universitas ternama di Paris.
Besok malam ini Mikha akan terbang ke Paris. Dia berangkat sendiri karena Mia dan suaminya sudah lebih dulu berada di sana sejak sebulan yang lalu.
Dan siang ini, Mikha menyempatkan waktunya untuk bertemu sebentar dengan Sena. Semacam farewall party kecil-kecilan sebelum Mikha berangkat.
Mereka pergi ke sebuah hidden gem cafe yang ada di kawasan Bogor. Tempat itu belum lama dibuka dan Mikha sangat penasaran. Jadi sebelum pergi ke luar negeri, Mikha ingin datang ke sana dulu.
Hidden gem. Cafe tersebut benar-benar berada di tempat yang sangat indah dan nyaman.
Berada di dekat air terjun yang cantik dengan pemandangan yang masih alami. Mikha sampai tak ingin beranjak dari sana karena kebetulan di cafe tersebut juga menyediakan penginapan bagi siapa saja yang ingin menikmati suasana malam hari di sana.
"Nanti punya laki honeymoon di sini enak kali, ya. Suasananya kayaknya kalau malam cocok banget buat berkembang biak," ucap Sena.
"Astaga mulutnya..."
Sena tertawa keras. "Aduh, gimana, ya, Kha, rasanya? Gue mau tanya sama Lo, Lo belum tahu rasanya juga meskipun Lo janda." Sena tertawa lagi.
Membuat Mikha memasukkan potongan tempe mendoan ke dalam mulut Sena yang terbuka lebar.
"Mikha!"
Mikha cekikikan. "Suruh siapa berisik banget? Malu dilihatin orang-orang."
Karena tawa keras Sena, kini keduanya menjadi pusat perhatian. Mikha hanya bisa menunduk malu sambil menahan tawanya.
Hal receh seperti ini akan selalu Mikha rindukan ketika mereka berpisah nanti.
"Lo di Paris jangan sampai kecantol cowok sana, ya. Cowok Indonesia aja biar kalau gue kondangan nggak perlu terbang."
"Apaan, sih, Sena?"
"Terus juga, jangan sampai Lo jebol sebelum nikah lagi. Lo tau, kan, pergaulan di luar sana gimana?"
Mikha memposisikan tangannya pada posisi hormat. "Siap, bos!" ucapnya.
"Aduh, Mikha, gue sebenernya nggak rela Lo ke luar negeri. Tapi, ya, gimana? Gue dukung keputusan Lo banget, sih. Yang penting sering-sering hubungin gue kalau Lo longgar, ya. Ntar udah dapat teman baru di sana Lo lupa sama gue lagi."
Kedua mata Mikha berkaca-kaca mendengar ucapan Sena. "Gue nggak akan pernah lupa sama Lo, Sena. Janji, kok. Sekalipun gue punya teman baru di sana. Lo tenang aja, ya!"
"Ih, sebel, jadi nangis, kan?" Sena mengusap air matanya. Keduanya menangis bersama, tapi bibir mereka tetap menyunggingkan senyuman.
***
"Mikhayla, ini punya kamu, ya? Tadi jatuh di dekat kasir."
Mikha terdiam melihat dompetnya berada di tangan orang yang tidak di kenal.
Orang itu mengejar Mikha sampai pintu parkiran, bahkan terus meneriakkan nama Mikha agar Mikha berhenti berjalan.
"Oh, terimakasih, ya. Tapi darimana kamu tau namaku Mikha?"
__ADS_1
"Kan, lihat kartu identitas di dompet."
Mikha langsung tersenyum malu.
"Isinya masih utuh, kok. Nggak aku apa-apain."
"Iya. Sekali lagi terimakasih, ya."
"Sama-sama."
"Aku permisi dulu."
"Iya, silahkan! Bawa barangnya hati-hati, ya. Takut yang nemuin orang yang nggak bertanggungjawab."
"Iya."
Mikha dan Sena langsung masuk ke dalam mobil setelah urusan dompet tersebut selesai.
"Ganteng, Kha. Bisa kali jadi yang baru."
Tawa Mikha berderai. "Orang nggak kenalan. Dia nggak nyebutin nama, gue nggak nanya nama dia."
"Tenang, sih, itu. Kalau jodoh ya pasti ketemu lagi nanti."
"Kayaknya enggak mungkin, deh."
"Jangan mendahului takdir. Siapa tau udah direncanain Allah kalau kalian nanti bakalan ketemu lagi."
"Iyain aja, deh, biar situ seneng."
🌹🌹🌹
Mikha memeluk kedua orangtuanya dengan erat. Beberapa Minggu ini memang mereka cukup dekat lagi. Mikha merasa enggan untuk berjauhan untuk waktu yang lama.
Mungkin Mikha bisa pulang setiap musim liburan tiba. Tapi Mikha memilih untuk tidak pulang sampai dua tahun ke depan.
Mikha tidak ingin pulang tanpa membawa gelar S2 yang akan dia kejar saat ini.
"Baik-baik di sana, ya, Sayang. Mama sama Papa akan datang ke sana sesekali buat jenguk kamu."
"Mikha tunggu, Ma."
Feni mengangguk dan tersenyum. Dia peluk sekali lagi anak satu-satunya yang dia miliki.
"Fokus sekolah. Jangan aneh-aneh di sana. Jangan mentang-mentang Mia orangnya nurut kamu jadi manfaatin buat aneh-aneh." Wira menimpali.
"Ih, enggak, Pa. Mikha nggak suka manfaatin orang."
"Good girl."
Kemudian Mikha memeluk erat Sena yang turut mengantarnya. "Baik-baik di sana, ya, Mikha. Nanti kalau tabungan gue udah cukup, gue pasti ke sana."
Mikha tertawa kecil. "Nanti bareng aja sama Mama dan papa. Pasti gratis, kok. Iya, kan, Pa?" Mikha melempar tanya pada Wira.
__ADS_1
Tawa Wira dan Feni berderai. "Tentu saja."
"Tuh, dengar, kan?"
"Aaaaa.... Sayang banget sama Lo. Bakalan kangen banget sama Lo, Mikha."
"Gue juga."
Diam-diam Mikha menunggu seseorang. Barangkali dia masih peduli dan menyempatkan datang untuk mengantar Mikha pergi. Atau setidaknya Mikha bisa melihat dia sebelum Mikha pergi.
Tapi sampai Mikha masuk ke ruang tunggu khusus penumpang, Mikha tak juga melihat kedatangan seseorang yang dia harapkan untuk datang.
Mikha menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Harusnya dia tidak perlu berharap dan akhirnya membuat hatinya kecewa. Menurut Mikha, Gavin tidak mungkin akan datang.
Bisa saja dia tengah berbahagia sekarang karena Mikha sudah benar-benar menjauh darinya. Mungkin saja tengah bercumbu mesra dengan dokter cantik itu.
Mikha saja yang terlalu bodoh, masih mengharapkan Gavin padahal dia tahu hal itu akan membuat hatinya semakin sakit.
"Tuhan... Sampaikan rindu ini untuknya. Sampaikan cinta ini untuknya. Semoga dia bisa mendapatkan kebahagiaannya meskipun bukan dengan aku."
Mikha mengusap air matanya. Tapi sepertinya air matanya tak ingin berhenti begitu saja. Bahkan di saat pesawat yang membawanya telah meninggalkan landasan bandara Soekarno-Hatta.
🌹🌹🌹
[ Pesawat Mikha berangkat jam delapan malam. Dia pakai maskapai biru. Silahkan datang kalau Lo masih mau berjuang.]
Pesan itu dikirimkan oleh Sena. Meskipun Sena rasa Gavin tidak akan datang, tapi Sena tetap memberitahu Gavin. Barangkali ada hal yang ingin Gavin perbaiki sebelum Mikha pergi.
Tapi ternyata Gavin mengabaikan begitu saja pesan tersebut. Membuat Sena semakin kesal pada Gavin.
[ Lo nggak ingat gimana pertama kalinya Lo ngerayu Mikha? Bahkan Lo menjadi salah satu alasan kenapa Mikha memilih berpisah dari Gilang.]
[ Apa Lo juga nggak ingat gimana bahagianya Mikha waktu Mikha tau Lo cinta sama dia? Ya, gue nggak tau, sih, itu benar cinta atau bukan. Tapi yang pasti, gue harap Lo nggak pernah menyesal jika suatu saat Mikha kembali ke Indonesia dengan menggandeng cowok yang jauh lebih apapun dibandingkan Lo, Kak.]
[ Gue udah berbaik hati ngasih tau Lo pesawat Mikha jam berapa. Barangkali ada hal yang ingin Lo perbaiki sebelum dia pergi, Kak. Tapi kayaknya Lo jahat banget, ya? Udah nggak peduli lagi sama Mikha.]
Tawa Mikha, manjanya Mikha, merajuknya Mikha, tatapan Mikha yang penuh cinta, semua terlintas begitu saja di ingatannya.
Bahkan tatapan kecewa Mikha saat Gavin menyakitinya pun turut melintas di pikiran Gavin. Membuat Gavin meremas rambutnya sendiri dengan kasar.
Dia menyesal telah menyakiti Mikha. Mungkin sudah tidak pantas lagi mendapatkan maaf dari Mikha seandainya dia benar-benar datang ke bandara untuk meminta maaf pada Mikha dan memperbaiki kesalahannya.
"Sebesar apapun cinta yang Lo punya. Untuk Mikha, itu nggak akan ada artinya kalau Lo tidak mau memperjuangkan dia."
Dia ingat ucapan Bella. Ya, mau sebesar apapun cinta yang Gavin punya, tidak akan ada artinya kalau dia tidak mau memperjuangkan Mikha. Tidak akan ada gunanya jika dia tidak bersama Mikha.
Gavin segera berlari menuju mobilnya. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap bisa sampai ke bandara dan masih bisa bertemu dengan Mikha.
Sayang, sesampainya di bandara, pesawat Mikha baru saja lepas landas. Semua sudah terlambat. Gavin terlambat memperjuangkan cintanya.
"Aaaarggghhhh..." teriaknya dengan kencang. Marah pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak peduli teriakannya menjadi pusat perhatian siapapun yang ada di parkiran bandara tersebut.
🌹🌹🌹