Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 21 - Tidak Boleh Senyum


__ADS_3

Hari ini dilalui Hanny dengan bahagia, Hanny dan Arden akan cek kandungan lagi di RS milik 'Blake' jadi Arden lebih leluasa. Hanny sudah masuk ditemani Siti bersama seorang dokter kepercayaan Arden. Dia masuk keruangan itu ditemani kepala RS. Arden begitu bahagia melihat layar monitor menampilkan benihnya tumbuh, meskipun dia tak paham dengan yang dilihatnya. Setelah itu mereka berbincang sebentar karena dokter kandungan itu adalah teman Arden juga.


"Sudah 6 minggu ya.. berarti pertemuan kita kedua itu sudah jadi ya sayang? Pantas saja kau begitu liar." Bisik Arden dan membuat Hanny malu bukan main.


"Iss.. malu" Hanny mencubit pinggang Arden, di balas tawa olehnya.


"Hati-hati kalau mau main, ukuranmu tidak biasa.Tunggu 2 bulan lagi ya dan pelan-pelan." Dokter itu pun memberi pesan ke Arden yang membuat Hanny makin malu.


Mereka pun berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Arden dan Hanny kembali ke kantor, Siti ikut bersama mereka nanti dan akan menggunakan jalur khusus langsung ke lantai kantor Arka. Siti memang datang sendiri menggunakan taxi setelah izin ke Alfonso.


Sesampainya di ruangan Arka, Hanny terkejut melihat Arka menunggu mereka dan Siti berlari dan memeluk Arka. Arden hanya tersenyum melihat suami istri itu melepas rindu. Hanny ternganga, "Mulutnya ditutup." Arden menaikkan dagu Hanny yang tanpa sadar terbuka karena terkejut.


"Jadi mereka..."


"Iya." Jawab Arden sebelum Hanny menyelesaikan kalimatnya.


Arden menuntun Hanny untuk duduk di sofa seperti biasanya, Hannya duduk dipangkuan Arden dan dia mengelus perut Hanny. Sedangkan Arka dan Siti sudah berciuman mesra di kursi kerja Arka tanpa peduli orang yang ada disana.


"Dunia milik berdua." Teriak Arden kemudian Arka dan Siti melepaskan pagutan mereka.


"Maklum, sudah lama puasa." Ujar Arka sambil menggandeng Siti menuju sofa untuk bergabung dengan Arden dan Hanny.


"Maaf nona Hanny.. aku sudah tidak tahan." Ujar Siti sedikit genit sambil melirik Arka.


"Sayang, namanya bukan Siti, tapi Evelyn." Kata Arden.


"Hah...?" Hanny kembali tak percaya melihat Siti melepaskan rambut hitam sebahunya yang ternyata palsu, terurailah rambut berwarna coklat gelap panjang indah bergelombang, kacamatanya dilepas, lensa kontak dilepas terlihatlah mata abu-abu indah seperti miliknya. Dilanjutkan menurunkan dress dibawah lutut yang kebesaran dan ternyata Siti memakai dress diatas lutut ketat tidak berlengan berwarna hitam.


"Yaampun Siti, cantik sekali." Gumam Hanny tak percaya dengan penampilan Siti yang seperti model dengan tinggi badannya 172cm, tubuh ramping, pinggul bulat dan dada berisi menantang.


"Ah, istriku akhirnya kembali." Arka menarik lengan Eve untuk duduk dipangkuannya dan saling ******* bibir. Hanny masih bengong. Arden terkekeh dan juga memalingkan wajah Hanny, mengecup bibirnya perlahan berkali-kali.


"Kau juga cantik sayang... apalagi kalau tidak berpakaian. Sekarang kan karna tertutup pakaian yang biasa ini." jelas Arden dan segera ******* bibir Hanny, tak mau kalah denagn Arka yang masih menikmati bibir candu istrinya.


"Stoppp kalian!!" Teriak Vino yang baru masuk ke ruangan itu.


"Dasar tidak ada akhlak bermesum ria di kantor." Vino makin heboh dan dibalas tawa oleh bos tak ada ahklak itu.


Hanny yang masih penasaran semakin banyak bertanya tentang Siti. Ternyata Evelyn adalah putri dari Leticia sang aktris terkenal. "OHhh iya, yang waktu di RS itu kan?" Hanny mengingat. "Pantas saja Siti sangat cantik, ibunya juga cantik." Sambungnya lagi.


"Kamu juga cantik sayang..." Ujar Arden tak terima. Tentu saja Hanny juga cantik tetapi cantik yang berbeda dari Evelyn. Jika Evelyn cantik dewasa dan sexy, maka Hanny cantik polos menggemaskan dan anggun. Tetapi jika dipoles, Hanny juga bisa menjadi wanita cantik dan sexy.


Hanny akhirnya kembali kantornya karena waktu istirahat telah habis, sedangkan Arka dan Arden akan mengantar Eve ke lobi sore ini. Yang menjadi kehebohan adalah sewaktu Eve dan Arka jalan melewati lobi kantor membuat semua berdecak kagum melihat Eve yang begitu cantik menggoda. Apalagi dia sedang di gandeng oleh dirut Arkana. Begitu banyak yang penasaran siapa wanita itu dan Hanny hanya tersenyum tipis melihatnya. Tak lama para wanita juga terkagum-kagum oleh Will yang tersenyum kepada Eve, baru kali ini mereka melihat seorang Will tersenyum.


"Ah... Will tersenyum."


"Gila.. Senyumnya indah."


"Melihatnya selalu membuatku ingin terjatuh dipelukannya."


"Aku rela dihamili olehnya."


"Will terimalah perawanku."


Begitu banyak yang didengar oleh Hanny, membuat dirinya kesal, hatinya panas dan ingin sekali menarik Will untuk pergi dari sana mengurungnya saja di ruangan atas agar tidak ada wanita yang memandangnya.

__ADS_1


"Will itu punya daya tarik seksual yang luar biasa. Aku kira semua wanita rela di hamili olehnya." Terdengar lagi wanita yang mengagumi prianya. Hanny makin kesal.


"Siapa wanita beruntung yang mendapatkan Will ya..." Lirih wanita lain lagi.


"AKU!!" Batin Hanny kuat, mukanya sudah merah padam menahan marah, benar-benar mood nya jatuh sejatuhnya.


"kau kenapa Han?" Tanya Serin yang melihat wajah temannya itu merah dengan raut wajah tidak nyaman.


"Kau masih sakit?" Tanya Devan juga yang melihat kondisi Hanny yang tidak baik, apalagi tadi Hanny izin ke dokter.


"Istirahatlah sebentar lagi, masih ada 2 jam untuk meeting kedua kita." Ujar Devan dan Hanny menerimanya dan segera keluar menuju ruang istirahat khusus karyawan. Tetapi Hanny bukannya istirahat melainkan kembali ke ruang Arka untuk menemui Arden.


Hanny masuk dan menggebrak kuat pintu ruangan itu sambil mendorongnya kuat, sontak membuat Arden dan Arka terkejut dan melihat apa yang terjadi.


"Ada apa sayang?" Tanya Arden menghampiri Hanny yang sudah masuk ke ruang kantor, melihat kekasihnya begitu, Arden cemas melihat Hanny dengan wajah memerah, mata tajam menatapnya marah, bibirnya mengerucut dengan napas tak beraturan, cemas sekaligus gemas melihatnya.


Hanny menrik dasi Arden turun hingga menunduk tepat diwajahnya, "Bisa tidak sih, kadar ketampanan kakak diturunkan?" Tanya Hanny dengan amarah memuncak. Arden bingung, ada apa dengan gadis kecilnya ini? Arden mengangkat tubuh Hanny dan mendudukkanya di pangkuan.


"Ada apa hem?" Tanyanya lembut.


"Tadi kakak sengaja kan? Senyum-senyum dibawah, supaya dilihat banyak orang." Tuduhnya ke Arden, yang membuat Arden semakin bingung ada apa dengannya.


"Biasanya juga kakak tidak pernah senyum, kenapa tadi senyum begitu? Semua karyawan wanita jadi membicarakan kakak!" Ujar Hanny lagi masih dengan amarahnya, Arden tidak paham apa salahnya. Tadi dia cuma bersama Arka mengantar Eve di lobi, memang Eve yang sengaja untuk membuat para karyawan cemburu.


"Memangnya apa yang mereka katakan sampai kau marah begini?" Tanya Arden lembut takut membuat bumil ini makin marah. Belum pernah Arden melihat Hanny marah makanya dia menjadi bingung.


"Mereka bilang senyum kakak manis, semakin tampan... hiks hiks..." Hanny mulai menangis.Arden membelai wajah dan menyeka airmata Hanny.


"Mereka mau peluk dan dipeluk kakak, bahkan hiks .... ada yang..." Jelas Hanny makin menangis tak melanjutkan kalimatnya.


"Kata mereka daya tarik seksual kakak membuat mereka mau di hamili, hiks...ada yang rela memberikan keperawananya.. huaaaaa....." Tangisnya makin menjadi membuat Arden tidak tau harus berbuat apa, lucu, gemas dan juga khawatir akan kondisi Hanny.


"Sudah.. itukan pikiran mereka saja." Arden menenangkan Hanny memeluk dan mengelus punggungnya. Setelah sedikit tenang Arden melepaskan dan menatap wajah Hanny, menyeka airmatanya.


"Coba jawab... siapa yang kakak peluk? Yang kakak cium? yang kakak ambil perawanannya sampai hamil?" Tanya Arden menahan senyumnya.


"A.. akuu..." Jawan Hanny lirih dan sangat pelan.


"Meskipun daya tarik seksual kakak sangat kuat tapi kakak hanya tertarik padamu." Ujar Arden lagi membuat Hanny makin tenang.


"Pokoknya kakak tidak boleh senyum lagi di luar sana, tidak boleh senyum sama wanita lain, Siti sekalipun. Awas saja kalau berani, aku akan kurung kakak di ruangan ini tidak boleh kemana-mana." Ancam Hanny serius, Arden akhirnya tak bisa menahan senyumnya dan memeluk Hanny.


"Iya sayang..." Jawabnya, "Ternyata gadis kecilku sangat posesif." Ujarnya lagi. Sedangkan Arka sejak tadi sudah tertawa terkikik tak berani bersuara jauh dipempat duduknya.


Selang beberapa menit didalam pelukan Arden, Hanny tak bergerak sama sekali, nafasnya menderu pelan dan stabil. "Yah.. dia tidur." Ujar Arden. Segera dia mengangkat gadis kecilnya itu ke kamar tidur yang biasa digunakannya. Setelah merebahkan Hanny, dia mengecup pipi dan bibirnya sekilas.


"Selamat tidur... anak daddy, yang baik ya... jangan nakal lagi." Arden mengelus perut Hanny yang masih datar. Lalu keluar kamar membiarkan Hanny tertidur, jika masih disana mungkin Arden akan menerkamnya karena terlalu gemas.


"Mood ibu hamil Ar." Bisik Arka takut Hanny mendengarnya. Arden tertawa geli, baru kali ini dia lihat Hanny yang manja, cemburu dan posesif.


Setelah drama ibu hamil itu, Vino masuk dan melihat raut wajah aneh dari Arden. "Kenapa bos?" Tanya Vino polos.


"Bos tadi di semprot habis sama Ibu Bos." Arka menjawab mash tetawa geli.


"Bumil sensitif jadinya pencemburu dan posesif." Jawab Arden lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bos sudah jinak Vin, kalau nakal akan dikurung disini tidak boleh kemanapun." Sambung Arka lagi, Vino yang tak tau apa-apa hanya bisa melongo.


"Kak Ar..."


"Kanapa sudah bangun sayang?" Tanya Arden yang mendenger suara Hanny dan sedang jalan menuju dirinya.


"Satu jam lagi ada meeting produk baru itu, aku belum susun konsepnya."


"Disini saja, nanti pinjam laptop Arka dan kirim ke emailmu."


"Apa boleh?"


"Boleh."


Arka lalu menyerahkan laptopnya dan Hanny segera menyiapakan konsep awal secara kasar karena ini meeting ke-2. Setelah menyelesaikannya dalam waktu setengah jam karena memang seluruh ide sudah ada di otakknya.


"Sudah..." Ujar Hanny menyelesaikan pekerjaanya.


"kak Arka jangan mengintip, itu belum final masih banyak yang harus diedit." Ujarnya sambil mengembalikan laptopnya.


"Aku dirutnya, siapa yang melarang." Ujar Arka dalam hati sambil tersenyum, Hanny pun izin kembali ke kantornya di bawah setelah memberi titah ke Arden, "Ingat ya kak... jangan tersenyum ke wanita lain." Ancamnya lagi. Akhirnya Vino mengerti yang dikatakan Arka tadi.


"Ya ampun bos, ternyata benar sudah jinak." Vino kembali menggoda Arden yang hanya tersenyum geli mengingat kelakuan bumilnya.


"Ehm... boleh juga idenya Bu Bos." Arka melihat konsep yang telah disusun oleh Hanny di laptopnya, Arden pun penasaran dan coba mengintip sedikit hasil kerja bumilnya. "Lumayan.." Gumamnya.


Meeting telah selesai dan konsep awal Hanny diterima oleh seluruh anggota teamnya, sehingga dia harus mengerjakan seluruh isi konsep untuk dinilai oleh atasannya minggu depan. Hanny sangat bersemangat dan yakin akan dapat memenangkan iklan kali ini. Dengan bahagia dia melangkah menuju toilet setelah menyimpan hasil print pekerjaannya di dalam laci meja kerja. Setelah kepergian Hanny, seorang wanita menghampiri meja kerja Hanny dan mengambil map dilaci itu melihat isi kosep yang telah dibuat olehnya. Wanita itu tersenyum licik, tanpa dia tau kalau di meja kerja Hanny ada cctv rahasia yang dipasang oleh Vino untuk Arden, semua aktivitasnya terekam sempurna., namun belum ada yang menyadari hal itu.


Hanny pun kembali ke meja kerjanya untuk bersiap pulang, dia bahagia karena akan menempati kamar sendiri tanpa Johan. Hanny juga sudah mendapatkan nomor ponsel Arden sehingga bisa menghubunginya atau video call jika dilanda rindu. Setelah sampai ke rumah Salim, Hanny disambut hangat oleh kakek yang sudah menunggunya untuk makan malam, ada Johan juga disana. Mereka makan dengan tenang dan tampak diraut wajah kakek Salim, dia begitu bahagia.


Malam pun berganti pagi, sebuah panggilan telepon membangunkan Hanny dari tidur nyenyaknya. Sudah lama dia tidak merasakan nyamannya tempat tidur empuk dan luas ini.


"Halo..."


"Sayang.... sudah bangun?" Arden lah yang berbicara di seberang sana.


"Baru saja, morning kak. Love you." Jawab Hanny dengan wajah tersipu.


"Love you too.. Jangan lupa sarapan, minum susu hamil, makan buah juga." Pesan Arden.


"Ehm... siap bos." Jawab Hanny lantang.


Setelah itu Hanny segera mandi dan bersiap untuk ke kantor, juga sarapan dengan menu yang disediakan oleh Siti sesuai perintah Arden.


"Nona.. hari ini jadwal libur saya. Jadi besok pagi saya baru kembali ya." Izin Siti pada Hanny yang sedang menikmati sarapannya.


"hemm... mau ketemu kak Arka yaaa.. buat dedek bayi." Bisiknya dan Siti hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya.


Kakek Johan mengutarakan bahwa harta dan Saham Salim baru akan diberikan kepada Johan setelah anak mereka lahir dan pas di pesta syukuran kelahiran dan pengumuman pernikahan mereka baru semuanya akan diserahkan ke Johan, membuat Johan murka tetapi tidak bisa berbuat apapun. Hanny pun hanya terdiam tidak mau ikut campur, dia hanya ingin hidup tenang bersama anaknya sambil menunggu Arden selesai dengan masalah keluarganya.


"Sial! Si ****** itu hidup tenang dan nyaman disini dengan dukungan kakek." Johan yang kala itu telah dikantornya bersama Irene setelah menceritakan semuanya. Irene sangat kesal namun tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah ini.


"Aku tidak akan membuatnya tenang sayang.. kita harus membuat kakek tidak menyukainya." Ujar Irene dengan memikirkan cara membuat Hanny terpuruk.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2