
"Bee... pulang yuk." Kirei menatap Arlen dengan wajah cemberut lucunya, karena ini sudah sore dan mereka hanya dikamar hotel sepanjang waktu.
"Hmm.. memangnya cantikku ini sudah bisa jalan?" Tanya Arlen sambil tetap mendekap tubuh istrinya yang masih duduk dipangkuannya.
"Sudah... pelan-pelan bisa.." Ujar Kirei yang membalikkan tubuhnya lagi menatap mata Arlen berharap Arlen akan setuju.
"Baiklah.. tapi pulangnya ke rumah ayah ya, karena ayah suruh kita kesana kalau balik dari hotel." Arlen sudah melepaskan pelukannya diganti dengan mengelus lembut pipi Kirei.
"Hm boleh." Kirei mengangguk setuju dengan senyuman cerah diwjahnya. Arlen yang terpesona lagi langsung mencium bibirnya dengan penuh cinta.
Bintang sudah ada di lobi hotel dan tersenyum melihat pasangan pengantin baru yang baru saja menghampirinya, "wah cepat sekali sudah sampai?" Tanya Arlen karena baru 10 menit dia menghubungi, Bintang sudah datang.
"Iya Len, tadi kebetulan lagi didekat sini." Jawabnya dan tersenyum lalu menggoda pengantin baru itu. "Sepertinya sukses nih cetak gol."
"Jangan dibahas, lagi sensitif si cantik." Bisik Arlen dengan suara sangat kecil agar Kirei tidak mendengarnya.
"Kau terlalu buas pastinya." Ejek Bintang lalu mereka segera kembali untuk pulang ke rumah ayah Ben. Perjalanan 40 menit ditempuh untuk bisa sampai ke rumah baru Ben yang dibelinya 2 minggu lalu, dia memilih rumah yang tidak terlalu di tengah kota agar lebih nyaman dan tenang. Rumah besar itu memiliki halaman yang luas untuk dia berkebun dan menanam sayuran dan ada kolam ikan untuknya menghabiskan waktu.
"Ayah, bunda..." Sapa Arlen yang baru sampai dan melihat ayah dan bundanya sedang duduk di taman depan sedang mengamati bunga yang baru ditanam. "Ayah, bunda.." Sapa Kirei juga yang dibalas pelukan oleh Cecil yang senang mereka datang.
"Wah pasangan baru kita sudah datang.. eh Arlen, kau tidak tidak menjaga menantu ayah dengan baik ya? Lihat dia pucat sekali." Goda Ben karena tau apa yang terjadi, apalagi cara jalan Kirei yang sedikit berbeda dan hati-hati karena masih sakit.
"Ck.. ayah, seperti tidak pernah malam pertama saja." Keluh Arlen dan Ben tertawa menepuk pundak anaknya. Sedangkan Kirei hanya tertunduk malu mendengarkan ocehan suami dan ayah mertuanya.
"Sudah.. jangan bicara lagi, lihat mantu bunda jadi malu. Yuk Ki, ada baby Ion dan Anna didalam bersama Hanny. Kita kedalam saja." Ajak Cecil ynag sudah menggandeng Kirei dan jalan bersama kedalam rumah.
"Hai.. Kirei!" Pekik Hanny begitu Kirei masuk ke ruang keluarga, Hanny sedang bermain dengan Ion sedangkan Anna masih tertidur.
"Kak Hanny sendirian saja jaga si kembar?" Tanya Kirei begitu duduk di sebelah Hanny dan mencubit pipi Ion pelan. Cecil sudah pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama para pelayan.
"Iya\, AnsTwins lagi pergi dengan daddy-nya dan Arka ke Timez*** buat main\, aku malas ikut." Jelas Hanny dan kemudian melirik dan menyibakkan rambut Kirei melihat begitu banyak tanda merah disana\, membuatnya tersenyum dan ingin menggoda Kirei.
"Lalu bagaimana rasanya malam pertama?" Tanya Hanny dan Kirei sudah sibuk menutupi kembali jejak cinta itu dengan rambutnya.
"Sakit." Bisiknya pelan dengan wajah cemberut.
"Hahahaha.. tapi setelah itu enak kok." Ujar Hanny sambil tertawa, "Tidak mau lagi kak, sakit." Balas Kirei lagi.
"Tidak boleh begitu Kirei.. coba deh, nanti pasti ketagihan." Hanny lalu memberi beberapa tips untuk Kirei agar dia dapat mencobanya nanti.
"Apa dulu kak Hanny juga kesakitan seperti ini?" Tanya Kirei dengan polosnya.
"Iyalah.. apalagi punya suamiku itu ukurannya tidak normal, sepertinya suamimu juga." Tebak Hanny yang sebenarnya dia sudah tau dari Arden.
"Kok kak Hanny tau? Kalau begitu kakak juga kesakitan ya.." Kirei mendesah ngeri membayangkan bagaimana Hanny dulu.
"Awalnya iya, sampai tidak bisa jalan seharian dan minum obat gitu Ki, tapi yang berikutnya sudah tidak lagi. Terus waktu itu kak Arden bilang harus sering-sering biar enak." Jelas Hanny sedikit berbisik, takut ada yang mendengarnya.
"Sering-sering? Gawat. Kak Arlen itu sangat buas kak.. tidak tidak.." Kirei sudah membayangkan bagaimana nanti Arlen akan melahapnya seperti kemarin, tubuhnya pasti tidak akan kuat kalau sering-sering.
"Loh, bukannya Arlen orangnya lembut dan perhatian ya?" Hanny bingung sebab tidak seperti Arlen biasanya.
"Iya kak setelah itu, tapi dia sangat bar-bar dan menggebu-gebu, ah sudah lah.." Kirei tidak mau membicarakannya lagi lebih jauh karena tatapan Hanny sudah berbeda dan seperti ingin menggoda Kirei lagi.
"Kakak mengerti, tapi Ki.. tetap harus layani suamimu, nanti kakak ajarin lagi jurus andalan kakak biar suamimu itu tidak terlalu bar-bar." Ujar Hanny sambil mengedipkan matanya. Kirei tersenyum malu.
Perbincangan mereka berakhir karena Arlen sudah menghampiri mereka dan mengajak Kirei untuk ke taman belakang. Mereka berjalan santai dari dalam rumah melewati ruang tengah dan keluar dari pintu samping, pintu kaca itu sudah terbuka lebar dan Kirei merdecak kagum, karena kolam renang yang ada disana begitu bagus, ada kolam bagian anak-anak dengan perosotan dan air mancur, disebelahnya kolam renang umum untuk orang dewasa, lalu mereka berjalan lagi melewati sebuah taman indah dan sudah dibagun gazebo mewah yang cukup besar.
"Indah bukan..." Ujar Arlen dan Kirei tersenyum, "Iya ini indah.. ayah hebat ya." Jawab Kirei, mereka duduk di gazebo itu dan Kirei sudah menyenderkan kepalanyan di lengan Arlen dengan manja.
__ADS_1
"Kau mau rumah seperti ini?" Tanya Arlen dan Kirei menggeleng, "tidak." Jawabnya.
"kenapa, bukannya ini indah?"
"Iya, tapi kita sudah punya apartemen dan itu sudah cukup untuk saat ini. Lagi pula rumah seperti ini bagus untuk orangtua yang ingin menikmati hidup mereka untuk istirahat. Kita masih muda dan masih kuliah, kerja, belum lagi nanti punya anak." Jelas Kirei dengan senyum mengembang sewaktu berbicara tentang anak.
"Baiklah cantik.. lagipula kita bisa sering kesini menemani ayah dan bunda saja." Arlen kemudian mengangkat tubuh Kirei untuk duduk dipangkuannya lalu mengeratkan lilitan tangannya di pinggang Kirei, perlahan mereka mendekatkan wajah...
"Eheemm!!" Suara deheman kuat terdengar oleh mereka.
"Ke kamar sana.." Ujar Arden yang sudah ada disana, tersenyum melihat pengantin baru itu bermesraan di ruang terbuka.
"Ah dasar pengganggu." Desah Arlen kesal, Kirei yang malu pun beranjak dari pangkuan Arlen dan memilih masuk kembali ke dalam mencari Hanny.
"Hahahaha... pengantin baru bukannya di kamar malah keluyuran. Memangnya kau kuat tidak melahapnya seharian?" Ejek Arden yang kini sudah duduk di depan Arlen yang sedang menatapnya kesal.
"Benar, tapi istriku sedang kesakitan dan kesal karena ulahku." Keluh Arlen membuat Arden terbahak-bahak. "Kau terlalu tidak sabar."
"Bagaimana bisa? melihatnya saja sudah membuatku tidak tahan."
"Begini.. kau harus membuatnya bergairah, buat dia yang minta duluan. Cumbu dia terus tinggalkan, gairahnya akan naik lalu kau turunkan begitu saja, nanti dia akan minta sendiri dan kau tinggal menikmati." Jelas Arden sudah mendekati saudara kembarnya untuk memberi ilmu sambil berbisik. Pembicaraan mereka berlangsung lumayan lama. Sama halnya dengan Hanny juga mengajarkan beberapa jurus yang membuat Kirei terkadang geli mendengarnya.
"Hah..aku harus begitu?" Tanya Kirei dengan wajah polosnya, Hanny sedang menunjukkan video dewasa untuk memperlihatkan jurus jitu. Pembicaraan itu terhenti lagi karena Cecil masuk dan memanggil mereka untuk bergabung dengan para suami di gazebo. Mereka pun pergi menuju gazebo dengan Ion dan Anna di pelukan Cecil dan Hanny. Sedangkan Ansel dan Anson sudah ketiduran setelah pergi bermain dengan daddy-nya. Mereka mengobrol sampai malam dan tidak sadar kalau sudah waktunya makan malam.
"Bangunkan AnsTwinz kak, mereka belum makan sore tadi." Ujar Hanny yang melihat Arden malah asik sendiri mengambil beberapa udang goreng tepung dari dapur.
"Mereka sudah makan bakso tadi." Ucapnya tanpa rasa bersalah, Hanny sudah melotot.
"Loh.. kok dikasih makan bakso?" Cecil yang bertanya sebelum istrinya menjadi singa betina.
"Tadi Ansel yang minta bun, dia tak pernah minta apapun jadi aku tidak tega." Jawab Arden hati-hati melihat istrinya sudah berwajah galak.
"Ya sudah, sesekali tidak apa-apa." Ujar Cecil sambil mengelus punggung Hanny tanda agar jangan marah.
"Huh.. selamat..." Lirih Arden pelan dan Arlen tertawa mengejeknya.
"Nikmati saja dulu.. kalau sudah punya anak, siap-siap istrimu yang polos akan jadi MACAN GALAK." Ketus Arden kesal. Sedangkan Arlen malah asik tertawa dan sudah duduk di meja makan disamping istri tercintanya.
Setelah makan malam mereka kembali ke kamar masing-masing, tetapi karena pembicaraan absurd tadi sore perihal malam pertama dan tips & trick jitu membuat para pria di rumah itu menjadi bergairah. Ben sudah sejak tadi menciumi Cecil dengan juniornya sudah bergerak-gerak dan Cecil menggeliat manja, ini sudah ronde ke 2 malam itu padahal masih jam 9 malam.
Sedangkan Arden masih membujuk istrinya agar mau bermain dengan si Jumbo yang sudah tegak menantang. Hanny sengaja agar Arden semakin panas dengan memakai baju tidur tipis tapi dirinya malam cuek dengan rayuan Arden, sampai Arden nekat membuka seluruh pakaiannya dan dengan si Jumbo yang berdiri kokoh mendekati Hanny yang sudah tidur menyamping membelakangi suaminya. Si Jumbo di gesekkan ke belahan pokong Hanny yang seksi berkali-kali sampai Hanny sendiri yang mendesah. "Berhasil.." Batin Arden lalu membalikkan Hanny, mencium bibirnya dengan ganas dan gairah yang sudah tinggi akan meledak. Hanny pun membalas ciuman yang telah menjadi saling ******* dan Arden melancarkan tangannya membuka seluruh pakaian Hanny.
Setelah melakukan pemasan dan rangsangan, Hanny malah bergerak dan memiringkan tubuhnya lagi.
"Loh, sayang,... kenapa begitu lagi?" Tanya Arden sambil menggeser tubuh Hanny tetapi dia tidak mau.
"Gaya baru suamiku, kita coba yah tadi Kirei yang cerita dan aku penasaran." Hanny lalu tidur menyamping lagi dan mengangkat 1 kakinya tinggi, Arden menelan ludahnya berkali-kali melihat pemandangan itu.
"Sungguh menggairahkan." Bisiknya dan lalu memegang kaki Hanny yang terangkat dan dipeluknya, lalu si Jumbo diarahkan ke sarang kesukaannya dan langsung dalam sekali hentakan kuat, dia berhasil masuk.
"Ahhh aahhh kak Arden ini sangat aahhh.." Desah Hanny lagi saat Arden makin mempercepatnya, Hanny bergetar hebat merasakan gelombang kenikmatan dasyat sedang menuju puncaknya.
"Tunggu sayang.. kita sama-sama aaaahhhk..." Desah Arden begitu si Jumbo ingin memuntahkan laharnya begitu juga Hanny yang sudah tidak tahan, mereka akhirnya mencapai puncak bersamaan.
"Cuma 1 ronde tapi sangat luar biasa sayang..." Ujar Arden yang sudah menindih Hanny yang masih merasakan kedutan di bawahnya, si Jumbo juga masih nyaman bertahan didalam. Tetapi tidak mungkin mereka hanya melakukan 1 ronde, setelah istirahat yang hanya sebentar, Hanny sudah digempur lagi sampai tengah malam. Lalu bagaimana dengan pasangan pengantin baru?
Arlen sedang berada diatas ranjang, duduk selonjoran menunggu Kirei yang sedang membersihkan diri. Arlen tau saat ini ayah dan bundanya juga sedang melakukan hal yang harusnya dilakukan pasangan baru ini. "Nak.. jangan ganggu ayah dan bunda sehabis makan malam, ayah akan membawa bunda menuju langit ke tujuh." Arlen ingat apa yang ayahnya katakan tadi sore.
Arlen sedang memainkan ponselnya karena bosan menunggu Kirei, sehingga dia tidak sadar bahwa Kirei sudah ada di depannya.
__ADS_1
"Bee.." Panggil Kirei dengan suara lembutnya, Arlen menatap ke arah suara dan mematung.
"Bee..." Panggilnya lagi dan sudah mendekat. Kirei sedang menggunakan lingerie yang sangat sexy pemberian Hanny, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih bercahayanya. Lekukan tubuh indah dan bukit kembarnya serasa ingin melompat keluar. Kirei berjalan malu-malu dan menaiki ranjangnya lalu mengambil selimut tetapi Arlen langsung menghempaskan selimut itu dan menarik Kirei, ******* bibir mungil itu dan mengecapnya. Arlen sudah tidak tahan dan ingin segera memakan istrinya.
"Bagaimana cantik.. sudah enak kan?" Tanya Arlen membuat Kirei mengangguk saja dan masih berteriak kenikmatan. Iya, dia merasa kenikmatan yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata hanya ******* dan teriakan yang bisa menggambarkannya. Awalnya masih sakit tapi kini dia juga sudah meminta lebih.
Arlen sudah membersihkan diri nya dan juga Kirei, mereka sudah saling berpelukan masih dengan tubuh polos. Arlen memeluk Kirei dan masih mengecup seluruh wajah istrinya yang cantik. "Sungguh cantik istriku..." Bisiknya, Kirei masih memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Arlen di wajahnya.
"Tadi bibir mungil ini sangat hebat, melahap Juno sampai habis." Arlen mengelus bibir mungil itu lalu menciumnya lagi lalu melepaskan pagutannya. "Belajar dari mana istriku.. kamu sangat hebat tadi." Tanya Arlen, Kirei angsung membuka matanya. "Kak Hanny yang ajarkan." Bisiknya malu kemudian merapatkan wajahnya di dada Arlen.
"Aku akan berterima kasih pada kakak ipar nanti." Ucap Arlen.
Di ruang makan pagi ini, sudah jam 9 pagi tetapi belum ada yang keluar kamar selain Ben dan Cecil, akhirnya Arden dan Arlen berjalan bersama menuju ruang makan.
"Kalian sendiri saja?" Tanya Cecil.
"Kirei lagi mandi bun.."
"Hanny lagi mandi bun.."
jawab mereka serentak membuat Ben tersenum karena tau apa yang dilakukan kedua putranya itu tadi malam.
"Ayah kenapa sudah bangun?" Tanya Arlen yang tau kalau Ben juga pasti olahraga malam.
"Ayah kan mau antar Ay ke sekolah.." Jawab Ben, memang menjadi rutinitasnya sekarang untuk mengantar jemput Ay sekolah.
"Kan ada supir yah.." Ujar Arden yang sudah meminum kopinya.
"Tidak boleh, Ay itu banyak yang mendekati, kalau ayah yang jemput para bocah itu tidak berani mendekati putri ayah."
"Adik kecilku masih 10 tahun sudah banyak yang kejar, kita harus lebih ekstra menjaganya." Ujar Arden dan dibalas setuju oleh Arlen.
"Oh iya.. kita belum pernah ke villa gunung A setelah selesai dibangun. Kapan kita pergi?" Kata Arden pada semua yang ada disana.
"Villa gunung A, mauuu..." Hanny sudah berjalan mendekati mereka bersama dengan Kirei.
"Selamat pagi ayah, bunda..." Sapa mereka setelah sampai di meja makan.
"Kalian mau memberikan bunda cucu lagi? Tanya Cecil melihat Hanny begitu semangat membicarakan gunung A.
"Tidak bunda.. Hanny sudah tutup dan tidak bisa diganggu gugat." Ucap Hanny dan Arden meliriknya. "Arden mau saja bun, tapi Hanny yang tidak mau." Sambung Arden.
"Sudah lah.. kalian sudah punya 4, kita tunggu saja Arlen dan Kirei akan beri kita berapa cucu." Ben menimpali.
"Nanti buatnya di gunung.. seru loh dingin-dingin diberi kehangatan." Arden menimpali dan melirik Arlen yang sudah tersenyum memikirkan sesuatu.
"Gunung..." Ucap Kirei dan terlihat dari wajahnya kalau dia penasaran.
"Kau belum pernah ke gunung kan Ki?" Ben bertanya karena tau menantunya ini hanya pernah menikmati laut dan kota, belum pernah kemanapun.
"Iya ayah.. Kirei belum pernah kemanapun selain rumah dan kota J." Ucapnya dan membuat Arlen terpikirkan sesuatu.
"Kita ke gunung A saja, Honey moon." Ujarnya berbisik.
"Sepakat ke gunung A, lalu kapan?" Arden bertanya lagi karena dia dan Hanny pasti bebas kemanapun apalagi di perusahaan sudah ada yang menggantikannya.
"Kita masih cuti kuliah sampai minggu depan, jadi kalau hari jumat ini kita berangkat bisa lah." Usul Arlen dan semuanya setuju.
"Mau pakai bus seperti waktu itu atau pesawat?" Hanny bertanya lagi.
__ADS_1
"Pesawat!!" Arlen dan Arden teriak bersama dan membuat Hanny tertawa sebab merekalah yang menderita sewaktu dulu pergi dengan bus.
TBC ~