
Sudah sebulan berlalu dan kini kandungan Hanny telah 8 bulan, dia sedang duduk santai dengan Eve yang tinggal menunggu hari kelahiran anaknya yang ke 2. Mereka bumil cantik yang sedang bahagia. Tetapi Masalah datang karena Hanny sudah sebulan ini tidak boleh keluar dari rumah karena semakin sering terjadi kecelakaan yang menimpanya.
Sejak awal pengendara motor, lalu terjadi lagi di mall saat Hanny di eskalator, ada yang berlari menyenggolnya dan hampir jatuh. Untung Arden sigap merangkulnya, tapi pelaku berhasil kabur. Seminggu kemudian, mobil Hanny ditabrak dengan sengaja dan supirnya berdalih sedang ngantuk. Lalu saat Hanny jalan pagi di sekitar rumah mereka ada motor yang akan menabraknya lagi dan berhasil diselamatkan oleh pengawalnya yang sudah bertambah banyak.
"Aku bosan Eve, tidak bisa kemanapun." Hanny sudah mengeluh sambil mengelus perutnya.
"Sabarlah, kita sebentar lagi juga akan bebas." Eve tersenyum sambil mengelus perutnya juga. Eve tau yang sebenarnya bahwa ada yang mengincar nyawa Hanny dan kemungkinan besar itu adalah Irene yang saat ini sudah diburu oleh Vino dan Jupi tetapi dia sangat licin dan berpindah-pindah sehingga sulit menemukannya.
Akhirnya setelah merengek sejak siang, sore ini Hanny dan Eve akan diantar ke rumah besar Tenggara karena Hanny sangat bosan dirumah. Apalagi AnsTwin lebih sering diajak Arlen ke cafe dekat kampusnya yang baru dibuka. Disana sudah disediakan tempat bermain dan kamar untuk keponakannya karena cafe itu akan jadi basecamp Arlen.
Perjalanan sebenarnya hanya 20 menit tetapi karena sore hari dan jam pulang kerja, maka jalanan sangat padat. Setibanya di dekat komplek perumahan mewah milik Tenggara yang sudah lapang, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh pengawal di belakang ditabrak kencang dan berguling. Lalu ada 1 mobil lagi yang melaju kencang dan menabrak mobil Hanny dan Eve membuat mobil itu terseret jauh dan menabrak tiang pembatas tepi jalan. Hanny dan Eve sudah tak sadarkan diri dan banyak darah keluar dari tubuh mereka.
Arden dan Arka yang mendapat kabar langsung segera menuju RS tempat Hanny dan Eve dibawa. Mereka sudah ditangani oleh dokter bahkan dokter kepala RS juga turun tangan karena menyangkut nyawa keturunan Tenggara. Berita kecelakaan sudah heboh dimana-mana sedangkan sang dalang yang masih didalam mobil tertawa bahagia melihat berita itu dari ponselnya. Dia telah berhasil menabrak mobil yang ditumpangi Hanny tadi dengan mobil sewaan dan orang bayaran. Tanpa dia sadari, ada Eve disana yang ikut menjadi celaka akibat perbuatannya. Bukan hanya Tenggara, 'Blake' juga pasti dikerahkan untuk menangkapnya kali ini, sebenarnya Eve adalah anaknya Leticia.
Arden dan Arka sudah panik, bahkan Arden sudah mengamuk dari tadi. Jika tidak di tenangkan oleh bunda Cecil mungkin dia sudah menghancurkan RS itu. Sudah hampir 2 jam lamanya Hanny di ruangan operasi, sama halnya dengan Eve yang juga diruangan operasi disebelah. Tak lama pintu ruang operasi Eve duluan yang terbuka, syukur Eve dan bayi perempuannya selamat dan Arka segera masuk kedalam melihat keadaan Eve.
Selang setengah jam, pintu ruangan operasi Hanny terbuka, beruntung juga Hanny selamat dan bayi kembar mereka juga baik-baik saja dan sudah lahir diusia kandungan 8 bulan. Akhirnya semua tersenyum lega, bunda sudah menangis memeluk Arlen, sedangkan Arden sudah masuk kedalam ruangan meskipun dicegah. Arden menatap Hanny yang masih terbaring tidak sadarkan diri, dokter segera menyuruhnya keluar dulu karena masih belum membersihkan luka dan Arden juga harus sterilkan diri sebelum memasuki tempat itu.
"Bayi kembarnya berjenis kelamin apa?" Tanya Alex yang sejak tadi duduk lemas didepan ruang operasi, yang kini sudah tenang dan sedikit lega mendengar Hanny dan bayinya selamat.
"Belum tau pi, kami sepakat untuk menunggu bayi kami lahir untuk tau jenis kelaminnya. Tadi dokter belum mengatakannya. Jawab Arden yang masih gelisah menunggu dokter memperbolehkan dia masuk. Selang 20 menit, dokter keluar lagi dan akan memindahkan Hanny ke ruang perawatan dan boleh ditemani maksimal 2 orang saja.
Hanny terbaring di ruang perawatan dan Eve ada di sebelahnya. Mereka memang memutuskan untuk 1 kamar saja agar lebih mudah memantau kondisi mereka berdua. "Eve sadar duluan karena memang dia tidak mendapatkan benturan yang keras didalam mobil, berbeda dengan Hanny yang mendapatkan luka jahitan di kepalanya akibat terbentur kaca pintu mobil, untung hanya luka luar.
Arden kini berada di ruang bayi, melihat si kembar putra dan putrinya. Dia mendapat sepasang anak kembar kali ini.
"Kau sudah memberikan nama untuk mereka?" Tanya Cecil sambil mengelus punggung putranya yang masih betah melihat anak kembarnya yang sangat mirip dengan Hanny.
"Aku menunggu Hanny bunda, dia sudah mempunyai nama jika ada anak perempuan." Jawab Arden masih tidak melepaskan pandangannya. Tak lama Alex datang dan mengatakan kalau Hanny sudah sadar. Arden segera berlari dan menghampiri Hanny yang masih menangis mencari Arden dan anak-anaknya.
"Sayang.. kakak disini, tadi kakak pergi melihat anak-anak kita. Jangan nangis, semua baik-baik saja." Arden memeluk Hanny yang masih menangis karena ketakutan.
"Putra putri kita baik sayang.. mereka sehat." Arden masih memeluknya dan membelai lembut punggung Hanny untuk menenangkannya.
"Maaf kak.. gara-gara aku memaksa keluar terjadi hal begini. Aku janji akan jadi istri yang penurut." Hanny sangat merasa bersalah, apalagi Eve juga terkena imbasnya.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa."
Tak lama, 2 orang suster sudah membawa anak kembar mereka untuk diberi asi. Kali ini Arden menemani mereka terus tanpa beranjak sedikitpun.
"Kak, yang jadi kakak yang mana?" Tanya Hanny.
"Kakaknya yang laki-laki, anak bungsu kita perempuan."
"Namanya kak?"
"Kalau jagoan kita namanya Arion B Tenggara, lihat dia sangat tampan dan manis mirip denganmu. Kalau baby girl kita?"
"Baby girl namanya Arianna. Bagaimana?"
"Bagus, Arianna B tenggara"
Arden mengecup putrinya, dia sangat takjub melihat kemiripan Arianna dengan Hanny, hampir tidak ada bedanya.
"Setelah mereka bangun nanti kita lihat apakah warna matanya mirip kakak juga." Ujar Hanny yang sudah tidak sabar ingin melihat mata cantik kedua anaknya.
Tetapi Jupi dan Vino masih mencari keberadaan Irene yang seperti hilang begitu saja, apartemen, bahkan beberapa mobilnya pun masih terparkir di basement dan tidak bergerak sama sekali. Tidak ada tanda pergerakan darinya.
"Coba tanya Jeremy Vin, mungkin dia bisa bantu. Tadi tante Leticia juga sudah kerahkan anak buahnya. Jika tante duluan yang menemukannya pasti tinggal nama." Ujar Jupi yang masih menyetir sambil menghubungi Vino lewat ponselnya.
"Iya Jup, tapi semoga tante Leticia yang menemukannya biar dia tau kengerian wanita cantik itu, hiiii.." Jawab Vino dan membuat Jupi terkekeh mendengarnya.
Setelah menghubungi Jeremy, akhirnya Vino dan Jupi mendapat pencerahan kalau Irene pernah membeli mobil Van berwarna hitam memakai nama managernya. Kemungkinan dia hidup dijalanan dengan mobil Van itu. Dia pernah menceritakan ingin camping dengan mobil Van dengan salah satu pacarnya dan menikmati liburan di pegunungan.
"Fokuskan pencarian mobil Van untuk piknik, pastinya di daerah pinggiran kota." Jupi segera memberi perintah ke seluruh anak buah 'Blake' dan Tenggara untuk mencari kepelosok kota sampai pinggiran kota karena tidak mungkin Irene pergi jauh karena mereka sudah memblokir seluruh akses keluar dari kota J.
Hanya butuh waktu 45 menit akhirnya lokasi Irene ditemukan, Vino sampai duluan ke lokasi berbarengan dengan anak buah Leticia, sedangkan Jupi masih dalam perjalanan. Anak buah Leticia bersikeras ingin membawa Irene yang sudah meringkuk ketakutan di tanah karena sempat ditendang oleh salah satu anak buah Leticia. Vino hanya menggelengkan kepalanya dan segera menghubungi Arden.
"Bos.. anggota tante Leticia juga disini, Irene sudah lumayan babak belur. Jadi bagaimana?" Tanya Vino karena tidak bisa berbuat apapun pada anggota 'Blake' yang khusus disiapkan untuk menyiksa musuh.
"Ya sudah, kalau mereka mau, berikan saja. Pekerjaan kita jadi ringan, tante Leti tidak akan berbaik hati." Jawab Arden.
__ADS_1
"Baik bos." Vino lalu membiarkan anak buah Leticia membawa Irene yang sudah teriak dan mengancam balik akan melawan.
"Ck ck ck, tanganku tidak perlu kotor deh... selamat menikmati nona Irene, kau salah mencari musuh." Teriak Vino saat mobil itu melaju pergi.
\= = = = = = =
Disebuah rungan gelap, hanya sinar dari ventilasi udara yang masuk, Irene meringkuk di sudut ruangan kotor itu dengan luka di dahinya. Tak lama masuk seorang wanita paruh baya yang elegan dan sangat cantik, Leticia. Irene syok melihat seorang aktris senior ternama dan juga di kenal dengan nama Letty's Night Lady, wanita cantik tapi beracun dan sangat kejam di dunia bawah tanah. Irene tau karena beberapa kali melihatnya jika sedang bersama sugar daddy-nya.
"Halo nona Irene." Sapa Leticia saat masuk ke ruangan itu dan sudah duduk di kursi santai yang dibawa masuk oleh anak buahnya.
"Leticia..." Ucap Irene lirih ada nada ketakutan dari suaranya.
"Ha..." Leticia mendesah melihat Irene yang tidak berdaya.
"Apa salahku nona Leticia, kita tidak pernah ada masalah." Tanya Irene dengan wajah sudah memucat ketakutan dan masih terduduk dilantai.
"Salahmu? Apa kau tau anakku dan cucuku hampir mati di mobil yang kau tabrak? Untung saja Hanny dan putriku selamat dan juga anak-anak mereka." Jelas Leticia dengan wajah datar dan dingin, memancarkan aura kematian yang kuat.
"Putrimu.. aku tidak kenal putrimu nona Leticia. Aku hanya ingin Hanny mati!" Akhirnya Irene berteriak dengan nada kebencian selagi menyebut nama Hanny.
"Kau salah mencari musuh nona Irene, kau juga tidak pantas menyentuh Hanny. Kau kira siapa Hanny?"
"Dia hanya wanita penggoda, aku ingin dia menderita, aku akan mebunuhnya!" Teriak Irene lagi.
"Hahahahahah.. kau sungguh tak tau diri. Kau itu tidak pantas menyentuhnya. Arden terlalu baik hati membiarkanmu lepas sejak awal."
Leticia jalan mendekati Irene yang masih meringkuk, menggunakan jarinya mengangkat dagu Irene agar menatap ke matanya.
"Kau kira Hanny hanya mengandung keturunan dari Tenggara? Dia juga mengandung keturunan dari mafia nomor 1 di negri ini." Leticia menajamkan pandangan matanya menatap lekat ke mata Irene yang membulat mendengarnya.
"Blake" Rilih Irene.
"Kau benar... Arden harus menjaga image karena juga menyandang nama keluarga Tenggara hingga dia tidak cukup kejam." Sambung Leticia yang sudah kembali melangkah dan duduk di kursinya. Dia mengangkat tangannya memberi isyarat agar segera melakukan eksekusi pada wanita di depannya. Lalu dengan langkah anggun dia keluar dari ruangan itu. Tinggal lah Irene sedang ketakutan dan gemetar di ruangan gelap itu. Tak lama terdengar suara teriakan dan rintihan kesakitan yang mengerikan. Entah apa yang dilakukan anak buah Leticia kepada Irene. Tak ada yang tau.
TBC ~
__ADS_1