
Arden dan Arlen bersama Jupi berangkat dari kota J ke kota Y, dengan menggunakan pesawat hercules. Setelah mendarat di bandara, mereka masih harus menggunakan jalur darat untuk sampai ke pantai rumah Arlen. Setelah 3 jam perjalanan akhirnya mereka sampai dan sudah ditunggu oleh Romi yang sudah berjaga disana sejak kemarin. Romi sudah ditugaskan untuk menceritakan secara garis besar dan beberapa hal yang boleh dan tidak yang harus diketahui oleh Maya. Lumayan susah untuk membujuk gadis kecil itu yang masih memiliki ketakutan terhadap orang asing.
Arlen sampai disana dan Maya langsung berlari menghampirinya, "Hati-hati jangan lari." Arlen takut terjadi apa-apa dengan kandungan Maya. Gadis itu menangis, mengira tidak akan bertemu dengan Arlen lagi, seorang teman dan pahlawan baginya.
Setelah memperkenalkan Arden kepada Maya, mereka bergegas pergi dan rumah kecil itupun dibiarkan begitu saja. Mereka tidak langsung pulang ke kota J karena Arlen sudah mulai kelelahan. Daya tahan tubuhnya memang lemah karena lama tidak beraktifitas. Mereka memilih menginap semalam di hotel kota Y agar lebih nyaman.
Setelah beristirahat, dimulai lagi perjalanan mereka menuju kota J untuk tinggal di rumah keluarga Tenggara, Maya selalu menolak untuk tinggal disana karena merasa tidak pantas. Arlen selalu membujuknya dan masih belum berhasil. Saat ini mereka berjanji akan sementara dan beberapa hari saja tinggal disana barulah Maya setuju.
Arden dan Arlen bersama Arka di rumah sakit milik 'Blake', tentu saja Arlen telah mengetahui segalanya juga tentang Arka dan StarE karena semua juga adalah milik Arlen meskipun dia tidak menginginkannya. Arden tetap memberitahu semua tentang bisnis 'Blake'
"Kau juga seorang 'Blake' jangan lupa darah ayah kita mengalir kental ditubuh kita. Semua yang ada disini juga milikmu. Kita akan menjaganya bersama." Ujar Arden meskipun Arlen sangat malas mendengarnya berulang-ulang.
"Untuk saat ini aku hanya mau fokus pada diriku dan Maya. Semoga kami bisa segera sembuh." Jawab Arlen yang memandang kepintu kamar tempat Maya berada.
Maya masih tertidur ditemani oleh Arlen,karena besok akan operasi untuk menggugurkan kandungannya, setelah drama panjang akhirnya diputuskan janin yang dikandung Maya harus digugurkan karena sudah jalan 5 bulan tetapi janin sama sekali tidak tumbuh. Maya memang tidak menginginkan bayi ini tetapi sudah berbulan-bulan merasakan sesuatu yang hidup dalam tubuhnya membuatnya sedih, bagaimanapun janin ini adalah anaknya.
Esoknya, Arlen masih duduk dikursi rodanya di temani oleh perawat pria yang disewa oleh Arden untuk menjaganya, menunggu di dekat ruang operasi. Sudah 2 jam lamanya belum ada dokter atau suster yang keluar. Arlen sedari tadi hanya menghela napasnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Tak lama dokter pun keluar dan memberitau bahwa operasi lancar. Maya juga baik-baik saja dan hanya butuh memulihkan diri. Arlen tersenyum lega, walau dia kehilangan janin yang sudah bersama dengan mereka beberapa bulan ini, Arlen bahkan telah bertekad akan saling bantu untuk merawat bayi itu, tetapi takdir berkata lain. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk Maya karena dia masih terlalu muda.
\= = = = = = =
Genap 1 bulan Arden tidak berada di StarE, hari ini dia datang dan sangat ingin bertemu dengan kekasih hatinya yang sedang mengandung anaknya. Dari tabletnya dia memantau dulu apa yang dilakukan si bumil kesayangan, yang ternyata saat ini sedang bermalas-malasan yang terkadang menyemprotkan parfum ke udara. Masih sama, lebih banyak termenung padahal sudah diputuskan bahwa ide dan konsep yang akan digunakan adalah dari team 4, Lucy. Bahkan mereka sudah dalam tahap memilih bintang iklan utama wanita 1, dan beberapa lainnya, bintang iklan utama pria 1 dan beberapa lainnya juga.
Meeting akhirnya di mulai, mereka menunggu Arka yang akan ikut meeting terakhir ini untuk memilih model utama. Ada beberapa model wanita dan pria yang telah berada dalam ruangan itu dan tentu saja salah satu model wanita adalah Irene yang terkenal dengan kecantikan dewasa dan sexy cocok untuk iklan ini. Sedangkan untuk model pria sudah dipilih tetapi masih belum cocok dengan konsep yang ada. Perdebatan pun berlangsung dan memang pada dasarnya Hanny sedang badmood karena rindu dan sensitif dengan kehamilannya begitu terlihat kesal lalu dengan cueknya di berceletuk.
__ADS_1
"Untuk model prianya biasa saja! Yang penting badannya bagus dan jangan perlihatkan wajahnya." Ujarnya cuek dan terlihat kesal. Tapi mereka tak menyadari dan malah bertepuk tangan senang dengan ide Hanny yang keluar begitu saja padahal dia bukan pemilik ide dan konsep iklan ini. Lucy langsung berterima kasih atas saran itu. Akhirnya mereka sepakat akan memilih model pria dengan tubuh yang atletis, tegap berotot tetapi sexy tanpa memperlihatkan wajahnya agar terkesan misterius.
Selesai meeting, Arka sudah masuk ke ruangannya dan disana sudah ada Arden dan Arlen yang sedang mengobrol. Arka menghampiri saudara kembar tetapi berbeda wajah itu.
"Ar, gadis kecilmu sepertinya sedang badmood." Ujar Arka yang sudah duduk dihadapannya.
"Kenapa? ada yang mengganggunya?" Tanya Arden heran dan dijawab tak tau olah Arka.
"Baiklah akan kusuruh dia kemari saja, untuk memperkenalkannya ke Arlen juga. Aku sudah sangat merindukannya." Arden melangkah ke arah pintu lift umum untuk turun kebawah dan sengaja akan mondar mandir didekat Hanny.
Arden yang saat itu melintas di depan rungan kantor tempat Hanny pun menjadi bahan pembicaraan karena sudah sebulan tidak terlihat disisi Arkana sang dirut. Hanny yang mendengar pun menoleh ke arah yang ditunjuk para wanita itu dan benar, Arden sedang melintas disana. Hanny melihatnya dan matanya mulai berkaca-kaca, dia berlari dan segera masuk kedalam pintu tangga darurat untuk menunggu Arden. Ya.. tak lama Arden juga masuk kesana dan menarik Hanny dalam pelukannya, gadis kecilnya menangis di dada bidangnya dan lengannya melingkar di pinggang Arden erat.
"Hanny sayang... kau sangat merindukanku ya? Aku juga." Arden mengecup puncak kepala Hanny. Sangat merindukan gadis kecilnya, bumilnya yang cantik dan menggemaskan.
"Iyaaa... dan dedek juga." Balas Hanny dengan suara seraknya. Arden lalu menggendongnya membawanya ke dalam lift dan menuju ruangan Arka. Setelah sampai Hanny masih mengeratkan lengannya di leher Arden dan tak mau melepaskan, akhirnya Arden pasrah dan tetap memangku Hanny dan duduk di sofa.
"Sayang... duduk dulu yang benar." Arden melonggarkan pelukannya dan malah Hanny yang makin mengeratkan pelukannya.
"Apa? Biasa juga kakak yang begini, kenapa sekarang tidak mau memelukku?" Hanny mulai kesal dan melepaskan lengannya di leher Arden dan menatapnya tajam.
"Bukan.. tapi kita sedang ada tamu." Ucap Arden sambil menunjuk ke arah Arlen. Hanny mematung sejenak dan dengan malu dan wajah bersemu merah turun dari pangkuan Arden dan duduk manis disampingnya dengan kepala masih tertunduk.
"Kenapa tak bilang dari tadi sih.. kan malu." Ucapnya pelan dan sedikit berbisik lalu melihat ke Arlen dan tersenyum tipis.
"Tidak perlu malu, dia Arlen, adik kembarku." Kata Arden dan Hanny terbengong memandang Arlen dan Arden bergantian tak percaya. Kembar?
__ADS_1
"Kok tidak mirip?" Tanyanya polos. Arden lalu tertawa dan menjelaskan secara garis besar kisah mereka sampai akhirnya bertemu kembali yang hanya dibalas anggukan oleh Hanny tanda mengerti.
"Pemilik kalung ini sudah kembali ya kak..." Hanny mengeluarkan kalung yang selalu dipakainya, kalung kunci yang diberikan Arden sewaktu di panti asuhan dulu.
"Benar.." Ujar Arden dan Hanny langsung mengembalikan kalung itu ke Arlen.
"Terima kasih telah menjaganya untukku kakak ipar." Arlen tersenyum mengulurkan tangannya mengambil kalung itu. Rasa rindu pada ayahnya sewaktu melihat kalung itu, dia teringat hari terakhirnya bersama ayahnya.
Hanny terasa kosong, tidak ada lagi kalung dilehernya yang sudah tertahun-tahun menemani. Dia menyentuh dadanya yang biasa ada sesuatu kini hampa.
"Aku akan menggantikan dengan yang lain sayang.. jangan sedih." Arden mengecup kening Hanny sejenak seraya tersenyum melihatnya.
"Apa kabarnya dedek bayiii.. muaahhccchh" Arden membungkuk dan mengecup perut Hanny, mengelus perutnya yang sudah membulat.
"Ihh kak, geliii.." Hanny mendorong kepala Aren yang masih diperutmya.
"Dedek bayi?" Pekik Arlen terkejut.
"Yes... dedek bayi kami ada 2." Jawab Arden mengacungkan dua jarinya ke depan wajah Arlen.
"Kau gila Ar, bagaimana dengan suaminya?" Arlen masih tidak percaya mendengar itu. Hanny tertunduk malu tapi berbeda dengan Arden yang terlihat bangga dengan ulahnya yang telah membuat Hanny hamil 2 dedek bayi.
"Suaminya yang brengsek itu penyebabnya, jadi jangan ada rasa bersalah. Malah aku akan berterima kasih padanya." Jawab Arden enteng lalu menceritakan segalanya pada Arlen yang berakhir Arlen sedikit syok mendengarnya, beda dengan Arden yang malah sedang bahagia melihat bumilnya makin menggemaskan.
"Baiklah.. sekarang waktunya pulang. Sayang.. ikut ke RS ya, Arlen ada janji ketemu dokter untuk perawatan kakinya." Bujuk Arden tetapi Hanny tidak mau, karena Johan pasti akan marah karena kemarin Johan dan kakek baru saja bertengkar di telepon karena saham. Arden pun pasrah dan membiarkan Hanny pulang ke rumah suaminya.
__ADS_1
Masalah keluarga Tenggara telah selesai hanya tinggal memastikan apakah benar orang yang membantu Januar adalah mafia 'Skull'. Saat ini Arden masih harus memikirkan bagaimana caranya melepaskan Hanny dari keluarga Salim.
TBC ~