
Arlen mengikuti Kirei yang akan masuk kelas dan beruntung bahwa kelas itu adalah salah satu dosen yang kenal dengan Arlen, begitu dosen itu menatapnya dia hanya memberi tanda dengan telunjuknya diarahkan kebibir dan dosen itupun mengerti.
Arlen sedang duduk di kursi paling belakang kelas yang sama dengan Kirei. Dia ingin memantau gadis yang dia sukai, ya dia menyukai Kirei. Akhirnya selesai 1 mata kuliah dan ketika Kirei hendak berdiri dari kursinya, 2 orang mahasiwa menghampirinya untuk berkenalan. tetapi Kirei malah menolak dengan halus karena tidak punya waktu untuk mengikuti kelas berikutnya. Kirei berlari kecil sambil meminta maaf ke 2 mahasiswa tadi dan keluar dari kelas.
Arlen tetap mengikuti Kirei ke kelas berikutnya dan sama dengan yang sebelumnya, dosen pun hanya mengikuti tanda Arlen. Sama juga dengan yang terjadi di kelas tadi, setelah selesai, kirei dihampiri beberapa mahasiswa yang mengajak kenalan. Dengan halus Kirei menolaknya lagi, kali ini tidak tau dengan alasan apa. Beberapa mahasiswa itupun tambak kesal dan kecewa.
Kirei memang gadis cantik, malah sangat cantik. Dengan kulit seputih pocelein dan tinggi badan pas dengan tubuh poposionalnya, rambut hitam panjang selalu tergerai namun rapi, yang paling membuat Arlen terpesona adalah matanya yang bundar dan bercahaya, bibirnya juga mungil dan penuh, ingin rasanya Arlen mengecup bibir itu waktu pertama kali bertemu. Arlen terus mengikuti kemana gadis itu melangkah sampai dia duduk di kursi sebuah minimarket karena menerima telepon dari ponselnya.
"Halo, ayah!" Pekiknya senang.
"................."
"Baik ayah.. bagaimana ibu dan Santi?"
"................."
"Ohh.. uncle Ben memberi uang lagi?"
"................."
"Kirei jadi tidak enak dengan uncle Ben ayah, dia sangat baik."
"................."
"Ok, iya Kirei sudah bekerja, ini hari pertama."
"................."
"Tidak ayah, bos nya sangat baik, masih muda dan sangat tampan."
"................."
"Hahah tidaklah, ayah ada-ada saja. Kirei hanya anak biasa dari kampung ayah tidak mungkin bos Kirei suka pada Kirei."
"................."
"Sudah yah.. jangan bercanda. Kirei mau pulang dulu ya, ini sudah selesai kelas."
"................."
"Dah ayah..."
Tut!
Entah apa yang mereka bicarakan, ayah dan anak itu membuat Arlen sungguh penasaran. "Baik, muda dan sangat tampan. Berarti kesan pertama sudah bagus. Kau tidak tau saja Kirei, aku sudah suka padamu sejak pertama kali melihatmu." Ucap Arden ketika melihat Kirei masuk ke sebuah gang kecil, mungkin disana kost tempatnya tinggal. Arden melangkah pergi dari tempat itu menyudahi menguntit gadis yang dia sukai.
"Kemana saja Len, sudah setengah jam aku tunggu. Cafe juga sudah tutup." Bintang yang tengah berdiri di depan pintu cafe dan Arlen baru ingat kalau ponselnya tertinggal didalam.
"Ponselku masih didalam, ya sudah besok saja." Arlen dan Bintang masuk kedalam mobil dan melaju pulang kerumah.
__ADS_1
"Ini hadiah..." Bintang memberikan map berwarna biru, Arlen mengambilnya dan mengintip sedikit.
"Hemm.. terima kasih Bin." Arlen masuk kerumah secepat mungkin untuk segera membuka hasil investigasi dari Bintang
"ok, skip, skip, isinya sama dengan CV, nah ini..."
Tinggal di wilayah bernama Pantai Berlayar, bukan pantai sesungguhnya tetapi daerah yang lebih seperti dermaga kecil dan tempat pasar ikan, nama ayah Gunawan, ibu tiri Ratna, adik perempuan 12 tahun Sinta, pintar dan rajin, hampir putus sekolah di SMA karena kurang biaya, tetapi dibantu oleh nelayan bernama Ben, umur tidak diketahui mungkin sekitar 50an, yang tinggal di jermal 2 jam dari dermaga, pekerjaan ayah nelayan dengan perahu sewa dan ibu berjualan ikan dipasar. Ibu kandung asli orang jepang bernama Reiko, marga tidak diketahui, meninggal saat Kirei umur 10 tahun.
"Hem... ok, ini sudah cukup, aku akan melindungimu Kirei, cantikku.." Gumam Arlen yang masih membayangkan wajah cantik Kirei.
****************
Pagi harinya Arlen tetap datang pagi-pagi untuk bertemu Kirei, seperti biasa rutinitasnya sebulan ini, selalu dia yang menyapa duluan karena Kirei sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat pagi Kirei."
"Selamat pagi pak Arlen." Jawab Kirei dengan senyum cantiknya dan mata bercahaya seperti biasanya.
"Kamu ada kelas sore ini?" Tanya Arlen basa basi dan duduk di kursi yang telah Kirei bersihkan.
"Ada pak, hari ini hanya masuk 1 kelas jam 5 sore." Jawab Kirei terlihat masih canggung berbicara dengan Arlen.
"Wah sama nih, saya juga ada kelas jam 5, ya sudah kita pergi sama-sama saja ya." Setelah mengatakan itu Arlen langung beranjak dari duduknya agar Kirei tidak bisa menolak.
Seperti biasanya, hari ini dari jam 11 siang sudah banyak mahasiswa yang datang ke cafe sekedar untuk melihat Kirei yang seperti bunga bagi mereka, sama halnya dengan para mahasiswi yang berharap Arlen akan ada di sana juga. Padahal Arlen memang tidak terlalu sering turun untuk membantu pekerjanya karena malah semakin membuat mereka kerepotan. Arlen tetap memantau dari cctv dan ada beberapa pria disana yang mengajak Kirei berbicara, namun sepertinya Kirei menolak dengan sopan selain mencatat menu yang dipesan saja.
Arlen sedang memikirkan cara supaya Kirei tetap dapat bekerja disini tetapi tidak dilihat oleh banyak orang, tiba-tiba jiwa posesifnya muncul. Segera dia menghubungi Bintang untuk menanyakan karyawan admin yang akan dia rekrut.
"Sepertinya pindah kemari saja Bin, kantor utama kita. Aku mau Kirei yang jadi admin kita." Jawab Arlen dengan sedikit kesal dari nada bicaranya.
"Hoho.. sepertinya ada yang mulai kesal." Goda Bintang.
"Iya, banyak mahasiswa yang mengajaknya kenalan dibawah."
"Hahaha... dasar posesif." Ujar Bintang lagi.
"Pokoknya Kirei saja yang jadi admin, titik." Arlen langsung menutup sambungan teleponnya karena kesal melihat dari cctv ada seorang pria yang sepertinya ngotot ingin mengajak Kirei berkenalan, untung saja pelayan dibawah sudah mengamankan.
"Ck.. tak bisa dibiarkan." Arlen langsung turun dan menarik lengan Kirei untuk menuju lantai atas lagi.
"Maaf pak, maafkan saya. Hal seperti tadi tidak akan terjadi lagi." Ujar Kirei cepat setelah masuk ke dalam kantor Arlen.
"Huh... mulai besok kamu tidak per.."
"Maaf pak jangan pecat saya, saya janji tidak akan melakukannya lagi." Sebelum Arlen selesai Kirei sudah memotongnya dengan memohon dan menangis agar Arlen tidak memecatnya. Gadis itu terus menangis dan memohon, membuat Arlen jadi salah tingkah.
"Bukan, Kirei, bukan.. jangan nangis, aduh... kumohon jangan nangis yaa..." Ujar Arlen dengan sangat lembut dan mulai membelai rambut Kirei. Namun dengan cepat dia sadar lagi dan menyuruh Kirei duduk.
"Dengar, mulai besok kamu tidak perlu kerja di bawah, kamu besok kerja disini jadi staff admin." Jelas Arlen dan membuat Kirei menatapnya tak percaya, masih dengan matanya yang berlinang airmata. Ingin sekali Arlen menghapus airmata itu.
__ADS_1
"Ini.." Arlen memberikan tissue yang berada di sampingnya agar Kirei menghapus airmatanya dulu.
"Maksud saya, kamu mulai besok jadi staff admin disini, jadi tidak perlu kerja dibawah lagi." Jelas Arlen lagi dengan pelan agar Kirei mengerti.
"Tapi pak, saya belum ada pengalaman kerja seperti itu." Kata Kirei jujur dan Arlen malah tersenyum.
"tidak apa-apa, yang saya butuhkan adalah staff yang jujur seperti kamu." Arlen tersenyum dan Kirei akhirnya setuju saja karena Arlen akan mengajarkan semua pekerjaan itu.
"Om Aleeeeennnn..." Tiba-tiba suara anak kecil yang dikenalnya terdengar, pintu terbuka dan munculah Anson dan Ansel bersama 2 baby sitternya.
"Hai jagoan, kalian datang dengan siapa?" Arlen langsung menghampiri 2 jagoannya itu lalu menggendong keduanya.
"Cama mbak dan momi, cama glenma, dedi tidak ikut, kelja." jawab Anson dengan cadelnya.
"Hoo baiklah, mau main disini atau ikut om turun?" Tanyanya lagi.
"Mau cini ajah.. ada onti antiikk tuuuu.." Anson menunjuk ke arah Kirei yang sejak tadi memperhatikan mereka, Kirei yang ditatap pun langsung tersenyum.
"Ohh suka ya sama onti cantik? Jangan dong nanti om tidak kebagian karna semua onti pasti suka sama ponakan om yang super tampan ini." Arlen lalu menurunkan Anson dan Ansel lalu membawanya mendekati Kirei.
"Tolong temani keponakan saya dulu ya. Nanti saya kembali." Pinta Arlen dan Kirei hanya mengangguk dan tersenyum.
Kirei memandang Anson dan Ansel dengan memikirkan, dimana dia seperti pernah melihat mereka dengan mata hijau itu. Tapi dia tidak terpikirkan sama sekali. "Ah sudahlah.." Lalu Kirei bermain dengan 2 bocah kembar dan membuatnya tertawa bahagia.
"Hai anak-anak.. om Arlen mana?" masuklah Hanny kedalam ruang kerja Arlen dan melihat ada Kirei disana.
"kamu siapa?" Tanya Hanny ramah.
"Nama saya Kirei nyonya, saya pelayan disini." Jawab Kirei sopan dan langsung berdiri.
"Ohh tapi kamu sangat cantik, aku tak yakin kalau hanya pelayan." Ujar Hanny sedikit curiga. Tak lama Arlen pun masuk ke ruangan itu yang sudah sesak penuh orang.
"Kakak ipar kenapa disini? Bunda mana?" Tanya Arlen yang ternyata kembali dari toilet.
"Bunda dibawah mau makan dulu." jawan Hanny kemudian jalan menghampiri Arlen.
"Kak Arlen ternyata ada yang cantik disini sampai kakak iparnya melahirkan baru dijenguk sekali." Bisik Hanny tapi suaranya cukup untuk didengar semua orang diruangan itu. Arlen hanya nyengir mendengar ucapan Hanny yang tepat sasaran lalu berbisik ke kakak iparnya "Masih usaha." Hanny pun tertawa mendengarnya.
"Arion dan Arianna juga dibawah?" Tanya Arlen lagi karena baru pernah melihat keponakan barunya itu satu kali pas dilahirkan. Segera dia turun untuk menghampiri bunda dan keponakan barunya, lalu Hanny mengikuti dari belakang.
"Ya ampun, keponakanku.. kenapa cantik sekali kamu..." Arlen lalu menoel pipi Arianna yang gembul.
"Duh bunda, kenapa rasanya Arlen terasing ya? Semua matanya mirip ayah, hanya Arlen yang beda." Arlen pura-pura ngambek melihat 2 ponakan barunya juga bermata hijau indah seperti sang ayah.
"Kamu ini.. kan kamu special untuk ayah dan bunda."
"Om Alen jangan ngambek, itu calon istri diatas sudah ada, jangan seperti Anson yang suka ngambek." Goda Hanny dan bunda cecil langsung menatapnya.
"Bunda kalau mau lihat calon mantu bisa keatas bun. Cantik." Ujar Hanny lagi membuat Arlen menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Belum bunda, masih usaha." Ujar Arden malu-malu.
TBC ~