Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 51 - Sudah Ingat


__ADS_3

Setelah mendengar berita ditemukannya Cecil dari Jupi maka Darren saat itu juga terbang kembali untuk bertemu Arden, bukan hanya Darren tetapi Mia, Leticia dan Joshua ikut bergabung untuk melihat keadaan Cecil. Setelah bertahun-tahun akhirnya mereka berkumpul lagi.


Markas yang biasanya hanya diisi oleh beberapa orang hari ini sangat ramai, berkumpulah anggota veteran dan penerusnya.


"Bagaimana keadaan Cecil Arden?" Tanya Mia yang memang paling dekat dengan Cecil sejak dulu.


"Masih sama tante, belum ada ingatan yang berarti, cuma kadang kalau kambuh akan mengira aku adalah ayah. Tapi tak berlangsung lama, paling setelah tenang dan minum obat akan kembali lagi. Sudah sebulan begitu terus." Jelas Arden, Cecil memang sudah sebulan melakukan pengobatan dan belum ada kemajuan yang berarti hanya sudah lebih tenang.


"Mungkin jika bertemu tante Mia, bunda akan sedikit ingat. Tapi kasihan juga kalau bunda ingat tentang ayah karena mungkin itu trauma yang cukup berat." Sambung Arden lagi.


"Apa benar Cecil melahirkan adikmu? Benar itu anak Blake?" Tanya Darren yang masih penasaran dengan Aileen yang diceritakan oleh Jupi.


"Benar om, wajahnya mirip bunda seperti Arlen dan warna matanya hijau sepertiku." Jawab Arden yang sudah pastilah keturunan Blake jika matanya hijau.


"Dan apakah hanya kebetulan namanya Aileen, karena Blake pernah bilang kalau punya anak perempuan akan diberi nama Aileen." Ungkap Joshua yang mengingat sewaktu Cecil hamil pertama kali Blake sempat mengatakan itu.


"Kalau begitu aku akan bertanya pada Dr. Jung karena dialah yang merawat bunda sejal awal sampai saat kami bertemu bulan lalu." Ucap Arden lagi.


"Aku juga melupakan tentang kejadian sebelum jatuh ke jurang om, kami juga sudah kembali ke panti asuhan tapi menurut bu Risma, aku tidak membawa apapun selain mengigau tentang bunda dan ayah." Jelas Arden, lalu Darren mulai menceritakan sedikit yang dia tau, karena waktu kejadian dia tidak disana, tetapi setelah kejadian, dia baru datang dan itulah yang membuatnya menyesal karena terlambat.


"Jadi waktu itu om berencana ke rumah kalian seperti biasanya, menjenguk dan membawa beberapa bekal. Tetapi entah kenapa ada masalah lain muncul dan membuat om terlambat. Tiba-tiba di perusahaan ada yang membuat onar dan om harus turun tangan, saat itu om dengan Jeremy yang menanganinya. Setelah selesai kami menuju rumah kalian dan ternyata sudah kacau. Menurut orang disekitar sana ada beberapa orang yang datang mau membunuh kalian dan melempar kalian ke jurang. Mereka tidak terlalu tau siapa dan bagaimana karena terlalu takut untuk mendekat, hanya melihat dan mendengar ada keributan terjadi. Setelah itu om dan Jeremy menyelidiki kalau ada anggota 'Blake' yang berkhianat, kami mencari orang itu dan ternyata dia mengatakan bahwa dialah yang telah melempar kalian ke jurang dan Blake sudah mati sehingga dia berani melakukan itu agar tidak ada penerus 'Blake' lagi karena tau kami sedang menunggu Blake kembali atau menunggu penerus 'Blake'" Jelas Darren


"Lalu dimana pengkhianat itu om?" Tanya Arden.


"Sudah mati ditembak oleh Jeremy." Jawab Darren.


"Kok bisa?"


"Karena dia memprovokasi Jeremy dan mengatakan kalau dialah yang membunuh Blake dan kita tidak akan pernah melihatnya lagi seumur hidup dan sudah tidak ada lagi penerus 'Blake' selanjutnya karena semua sudah dibantai habis. Jeremy gelap mata dan langsung menembaknya. Setelah itu kami baru mengetahui bahwa dia berada di pihak 'Skull' untuk balas dendam karena keluarganya mati, sebab Blake terlambat datang untuk menolong mereka." Jelas Darren.


"hm.. begitu, berarti tidak ada yang tersisa dari pengkhianat itu?"


"Semua telah kita singkirkan agar tidak ada lagi pengkhianat." Jawab Darren.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Arden membawa Mia untuk bertemu dengan bunda yang saat ini baru selesai sesi pengobatan dengan psikiaternya dan masih ada di RS. Mia masuk ke ruang VIP itu dan melihat Cecil sedang membaca buku.


"Nona.." Sapa Mia seperti dulu dia sering memanggil Cecil.


"Kamu..." Cecil terhenti dan sekelebat memori masuk ke otaknya, memori dimana sering bertemu dengan seorang wanita yang memangilnya 'nona'


"Mia!" Pekik Cecil lalu menangis.


"Nona.. kau ingat padaku?" Tanya Mia sambil mendekat.


"Kau Mia, apakah tuanmu membawa pesan untukku?" Jawab Cecil dan Mia tersenyum.


"Apa yang nona ingat tentang tuanku?" Tanya Mia balik.


"Blake pasti mencariku kan? Aku akan menunggunya." Jawab Cecil dan tersenyum. Mia mengingat senyum itu sewaktu dulu mereka masih muda. Nona begitu sabar menunggu Tuan yang akan datang menjemputnya.


"Baiklah.. kita tunggu bersama ya nona." Ujar Mia lagi, dan Cecil mengangguk setuju.


Mia, keluar dari ruangan rawat Cecil dan bertemu Arden didepan.


"Dia mengingatku tetapi mengingat masalalu seperti dulu saat dia menunggu Blake yang akan datang menemuinya sewaktu dikurung di keluarga Tenggara." Ujar Mia.


"Baiklah, setidaknya bunda ingat masa lalunya meskipun sedikit." Arden menghela napas panjang, berharap semua segera terselesaikan. Tidak apa-apa jika bundanya tidak ingat apapun setidaknya bunda bahagia.


"Aku akan disini menemaninya seperti dulu, mungkin dia akan mengingat semuanya dengan perlahan." Ujar Mia dan Arden setuju dengan usul itu.


"Nanti pulanglah bersama bunda, tante akan tinggal di rumah besar itu." Ujar Arden.


"Baiklah."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Arden dan Arlen sudah di rumah dan ingin melihat bundanya di kamar, mereka masuk dan melihat Cecil sedang tidur dengan pulasnya diranjang kamar pribadinya yang tidak pernah berubah. Mereka duduk memandangi Cecil, begitu bahagia melihat bundanya tenang meskipun hanya tidur. Tak berapa lama Cecil bangun, "Blake..." Panggilnya


"Blake.. kau datang lagi? Arden mungkin sedang tidur." Kata Cecil sambil mengelus lengan Arden.


"Coba tanya tentang hal lain Ar." Bisik Arlen.


"Arlen? Anakku.." Panggil Cecil lirih, dia menangis memeluk Arlen yang terkejut, Cecil mengenalnya.


"Blake, kau datang bersama Arlen, bukankah kemarin kau bilang Arlen sudah pergi meninggalkan kita selamanya? Kau bohong." Ujar Cecil lagi sambil memeluk Arlen yang sangat dirindukannya.


"Bunda... memangnya ayah bilang apa?" Tanya Arden lagi, penasaran dengan ingatan Cecil yang juga dia lupakan.

__ADS_1


"Masa kau lupa ayah.. kemarin malam kau datang dan ingin menjemput bunda dan Arden, lalu kau bilang Arlen sudah meninggal karena bunuh diri di villa keluargaku. Tapi hari ini kau bawa Arlen." Cecil membelai lembut wajah Arlen yang sudah menangis tak kuat menahan sedihnya, dia juga terharu bundanya telah mengingat dirinya.


"Kita mau pergi kemana bunda?" Tanya Arden lagi.


"Kau bilang akan membawa kami ke sebuah pulau yang jauh dan disana tidak ada yang mengenali kita dan akan hidup tenang bersama." Jawab Cecil dan telah berganti memandang ke arah Arden.


"Nama pulaunya apa?" Tanyanya lagi. "Ehmm... sepertinya belum kau katakan." Jawab Cecil lagi.


"Apakah ayah memberitahu bunda selama ini ayah tinggal dimana?" Tanya Arden lagi dan mulai menggenggam tangan Cecil berharap ada sebuah jawaban.


"Kan ayah yang bilang, kalau ayah sakit dan tinggal di rumah sakit sangat lama terus baru bisa datang kemarin setelah mencari kita sangat lama karena ada orang jahat yang suka ikuti ayah kemanapun ayah pergi. Terus ayah dipenjara di rumah orang jahat itu dan berhasil kabur." Jawab Cecil yang hampir menangis mengingat semua penderitaan Blake.


"Sudah.. bunda jangan menangis ya. Ayah pasti baik-baik saja", Arden memeluknya.


"Ayah, panggil Arden biar kita tidur bersama berempat seperti biasanya." Ucap Cecil dan sudah merebahkan dirinya.


"Arden sudah tidur, biar kita saja ya bunda. Arlen sudah lama tidak bertemu bunda. Ucap Arlen dan merebahkan dirinya disamping Cecil dan menggenggam tangannya, begitupun dengan Arden. Mereka tidur dikamar Cecil, anak-anaknya yang sudah kembali. Mereka terlelap tak lama setelah merebahkan tubuh masing-masing, sudah lama tidak merasakan kenyamanan bersama bunda mereka.


Hanny membuka pintu kamar Cecil dengan pelan, bermaksud untuk melihat Arden apakah telah selesai berbicara dengan bundanya. Namun yang dilihatnya begitu membuatnya terharu sampai meneteskan airmata. Suaminya pasti sangat bahagia sekarang bisa berkumpul lagi dengan bunda. Hanny lalu menutup kembali pintu itu dengan pelan agar tidak mengganggu mereka.


Pagi hari yang cerah seperti biasanya, Mia membuka kamar Cecil dan melihat ibu serta 2 anaknya masih tertidur, membuat hatinya begitu hangat. Mia tersenyum dan perlahan membuka tirai jendela agar matahari pagi masuk melalui kaca jendela menghangatkan ruangan itu. Tak lama Cecil bangun terlebih dahulu.


"Mia.." Panggilnya


"Iya nona.." Jawab Mia


"Mia.. Blake telah pergi, dia dipukul waktu mau menarikku dan Arden dari jurang. Kami jatuh dan aku mendengar suara tembakan itu. Blake, bagaimana dia?" Cecil mulai menangis lagi. Arden dan Arlen yang terbagun terkejut mendengar hal itu.


"Bunda.." Panggil mereka bersama dan Cecil menoleh dan memandang mereka satu persatu.


"Arden, Arlen, kalian masih hidup nak..?" Panggil Cecil dan sudah menangis dan memeluk kedua putranya.


"Kata ayah kalian Arlen bunuh diri." Cecil mulai histeris menangis semakin kencang, Arlen mulai panik melihat bundanya yang menangis histeris.


"Tidak bunda, Arlen selamat dan tidak ada yang tau karena Arlen pergi ke tempat yang jauh." Jelas Arlen dan menghapus airmata Cecilia.


"Benarkah, ini bukan mimpi?" Cecil membelai lembut wajah Arlen yang begitu dirindukannya. Arlen menggeleng dan memeluk bundanya.


"Arden!" Periak Cecil dan Arden langsung berpindah ke samping Cecil.


"Kau selamat nak? Kau selamat dari jurang itu." Pekik Cecil dan Arden mengangguk dengan airmatanya yang telah jatuh sejak tadi.


"Arden diselamatkan oleh orang bunda." Ujar Arden dan memeluk Cecil dengan erat.


"Aileen.. dimana dia? Kalian tau, kalian punya adik perempuan." Tanya Cecil dan memberitahukan Aileen.


"Tau bunda, Ay pasti sedang sekolah saat ini." Jawab Arlen.


"Aauuhh... kepala bunda sakit.." Ujar Cecil dan sontak membuat kedua anaknya panik.


"Bunda.."


"Bunda tidak apa-apa?"


"Ah... pusing sekali nak." Jawab Cecil sambil memijat kepalanya. Sekelebat bayangan-bayangan muncul seperti roll film yang kacau berputar di pandangannya. Lalu Cecil sudah tidak sadarkan diri. Arden langsung menelepon dokter yang selama ini menangani Cecil untuk segera datang.


20 menit dokter akhirnya datang dan memeriksa kondisi Cecil setelah mengetahui apa yang terjadi dari Arden, "Nyonya tidak apa-apa, hanya syok karena memorinya mungkin tiba-tiba muncul di otaknya sehingga rasa sakit itu datang dan tak tertahankan. Saya akan memberikan obat dan jika ada yang membuatnya histeris nanti tolong suntikkan ini agar tenang. Saya akan menyuruh 1 suster untuk berjaga disini." Jelas sang dokter dan setelahnya dokter akhirnya pergi dari sana.


"Tante Mia.. semoga bunda baik-baik saja dan mengingat semuanya." Ujar Arden yang sudah mulai tenang melihat Cecil tertidur pulas. Arlen juga masih disana.


"Ar, pergilah.. biar aku yang temani bunda. Kasihan kakak iparku kau tinggalkan semalaman. Bunda juga tidak apa-apa." Ujar Arlen dan Arden baru ingat dan menepuk dahinya.


"Oh ya ampun, istriku." Arden lalu keluar dari kamar Cecil dan menuju kamarnya di ujung lorong itu.


"Sayang..." Panggil Arden begitu membuka pintu kamar. Disana sudah ada Hanny yang sedang bermain mobil-mobilan dengan AnsTwins duduk di karpet bulu di lantai kamar.


"Daddy sudah datang..." Ujar Hanny tersenyum melihat kedatangan Arden.


"Anak-anak daddy... duh makin tampan dan lucu." Arden mencium pipi gembul AnsTwins bergantian.


"Sekarang giliran mommy.." Arden mencium pipi Hanny yang juga sudah kelihatan montok. Lama dia mengecup seluruh wajah Hanny dan memeluknya.


"Bunda sudah tenang kak? Bagaimana bunda?" Tanya Hanny khawatir.


"Sudah, bunda sedang tidur, maaf ya.. jadi tidak memperhatikan kalian." Ujar Arden dengan nada penyesalannya.


"Tidak apa-apa kak, kalau bunda cepat sehat, aku juga ingin dipeluk dan tidur dengan bunda. Kakak kan tau kalau aku tidak punya bunda sejak lahir." Kata Hanny dengan wajahnya yang sudah terlihat sedih.


"Bunda pasti akan sangat sayang padamu, menantu kesayangan bunda." Ucap Arden sambil mencubit pipi Hanny dengan gemas.

__ADS_1


"kalian sudah sarapan?"


"Sudah" Jawab Hanny


"Cudaaa.." Jawab Anson


"Anak daddy pintar." Arden mencium lagi pipi Anson yang menggemaskan itu.


"Akan bubul ayam." Ansel juga menimpali dan makin membuat Arden gemas.


"Makan bubur ayam ya? Pinternya anak daddy..." Arden memeluk kedua bocah itu yang semakin pintar.


"Mau om Aleeeennn daddy.." Ucap Anson lagi yang memang paling cerewet.


"Untuk apa? kan sudah ada daddy?"


"Mau eishkim." Ansel yang menjawab.


"Mau eskrim, ya sudah ayah yang belikan ya, boleh kan mommy?" Hanny mengangguk setuju, karena sudah 3 hari AnsTwins tidak meminta eskrim.


"Ayuk kita beli eskrim, tapi daddy mandi dulu biar wangi." Arden segera ke kamar mandi dan dengan cepat kambali lagi untuk membawa anak-anak dan istrinya ke minimarket terdekat, tentu dengan kacamata hitam mereka yang tidak pernah ketinggalan.


Arlen masih menemani Cecil yang sudah bangun dari tidurnya. cecil semakin stabil dan mengingat hal-hal yang sudah terjadi, Arlen menemaninya ngobrol dan benar saja bundanya sudah mengingat semuanya.


"Bunda jangan bicarakan hal itu lagi, jangan berpikir dan mengingat lagi. Kita sudah bertemu dan ini sudah sangat membuat kami bahagia." Jelas Arlen agar bundanya tidak sedih lagi karena mengingat kejadian yang sudah lalu.


"Baiklah, bunda akan bersama kalian saja dan tidak akan memikirkan masa lalu. Dimana Arden, anak kesayangan bunda?" Tanya Cecil yang sejak tadi tidak melihat Arden.


"Ah bunda... " Protes Arlen cemburu.


"Hehehe, masih saja cemburu sama Arden, kalian itu anak-anak kesayangan bunda." Ucap Cecil dan kemudian Arlen tersenyum.


"Arden sedang dengan istri dan anak-anaknya." Jawab Arlen sambil menyuapi buah ke mulut Cecil.


"Oh iya, bunda lupa 2 anak kembar, dan gadis cantik itu menantu bunda?" Tanya Cecil dengan mata berbinar.


"Iya, namanya Hanny, bunda ingat dan anak kembar mereka yang bunda culik." jelas Arlen terkekeh.


"Bunda tidak menculik, anak itu yang datang ke bunda dan sangat mirip Arden." Jawab Cecil dengan wajahnya sudah ditekuk. Tak lama pintu kamarnya dibuka oleh Arden dan bersama AnsTwins.


"Nah itu dia. Ar bunda ingat semuanya." Ujar Arlen dan Arden tersenyum bahagia.


"Ansel, Anson, panggil Grandma atau nenek ya?" Ujar Arden sedikit bingung.


"Noo.. nenek, nenek uyut" Protes Anson.


"Nenek uyut Cuci." Sambung Ansel, membuat mereka tertawa.


"Sini sama grandma..." Cecil menepukkan samping ranjangnya agar AnsTwins mau duduk disampingnya.


"glanmaaa..." Panggil mereka serentak membuat Cecil sangat bahagia.


"Om Aleeenn ini ada eichsskim." Kata Anson memberikan eskrim yang dibawanya. Arden membawa sekantong eskrim untuk mereka, tak lama Hanny juga ikut masuk ke kamar Cecil sambil tersenyum membawa 3 mangkuk bubur dinampan.


"Ayo, kalian belum sarapan." Hanny membawakan bubur ayam itu dan dia ingin menyuapi ibu mertuanya.


"Menantuku sangat cantik." Cecil memandang wajah Hanny dan membelai pipinya lembut.


"Terima kasih bunda." Ucap Hanny. Mereka sarapan bersama dalam suka cita yang telah lama hilang dan kini kembali. Mia juga tersenyum bahagia, menangis terharu melihat keluarga itu telah berkumpul, meskipun Blake tidak ada. Tapi melihat Arden dan kedua putranya, seakan Blake hidup kembali.


\~\~\~\~\~


Malam yang bahagia, akhirnya seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam. Meja itu kini penuh yang biasanya hanya ada Oma Susi dan Arlen kini sangat ramai. Arden dan Hanny juga sepakat akan tinggal disana seminggu lagi karena masih ingin bersama bunda.  Makan malam berlangsung dengan riuh akibat AnsTwins yang terus mengoceh dan Anson lah yang paling bawel karena meniru segala ucapan orang dewasa di situ dan membuat semuanya tertawa.


"Bunda, kenapa nama Aileen bisa mirip dengan kita? Apa kebetulan?" Tanya Arlen pada Cecil.


"Bunda juga bingung, waktu saat ditanya mau diberi nama siapa tiba-tiba ada suara yang mengatakan Aileen. Sekarang bunda tau,, suara itu milik ayah kalian." Jelas Cecil dan mebuat mereka tersenyum. Pantas saja, benar kata om Joshua kalau ayah ingin anak perempuannya diberi nama Aileen.


"Sekarang Ay sudah sekolah bunda, sudah banyak teman dan belajar sangat banyak buku-buku yang dulu tidak ada di desa. Terus banyak yang tanya warna mata Ay tapi mereka tidak mengejek dan malah bilang keren." Ujar Aileen dengan semangat.


"Ay kan suka belajar, jadi saat ini lakukan apa yang Ay suka, mau belajar bahasa Inggis dan Jepang? Tanya kakak saja." Ujar Cecil dan Aileen mengangguk bahagia.


"Kakak ipar sudah pilihkan beberapa tempat kursus bunda, Ay mau belajar bahasa Inggris, Jepang dan Korea. Setelah itu mau coba belajar bahasa Italia." Ucapnya lagi dengan sangat antusias.


"Bagus Ay, tapi ingat pelajaran lain juga penting ya." Timpal Hanny yang sama seperti Aileen, cerdas.


"Nah benar, Ay tanya saja pada kakak ipar. Dia sangat pintar, waktu sekolah juara umum, waktu kuliah lulus S1 di usia 20 tahun dengan predikat Cum Laude." Timpal Arden bangga dengan istrinya. Hanny hanya tersenyum bahagia.


"Waah kakak ipar sudah cantik, baik, pintar juga. Baiklah kalau begitu role model Aileen sekarang adalah kakak ipar." Ujarnya yang membuat semua tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Pintaaalll." Ucap Ansel. "anntttiikkk" Anson tidak mau kalah.


TBC~


__ADS_2