Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 29 - Penipu Yang Tertipu


__ADS_3

Arden sedang bersama dengan Jupi di sebuah kamar hotel bersama dengan salah satu anggota 'Blake' terdahulu, Joshua. Mereka sedang mendengar penyelidikan tentang Arlen. Memang benar Arlen disembunyikan di rumah warga di desa terpencil di pesisir pantai kota Y, hidup sederhana di gubuk tua sendirian tanpa ada yang mengenalnya. Arlen berganti nama menjadi Dani, warga desa disana biasa memanggil dia Dani si cacat.


Dani tinggal di gubuk itu bersama dengan seorang nenek tua yang menjaga dan merawatnya, sebulan sekali akan ada orang membawakan uang dan bahan makanan secukupnya. Tetapi 2 tahun sudah nenek itu meninggal karena tua dan sakit, akhirnya Dani hidup sendiri. Biasanya dia akan makan makanan yang diberikan warga disana, uang yang diberikan orang yang datang sebenarnya cukup tetapi karena keterbatasan pergerakan makanya susah untuk melakukan apapun. Terkadang Dani akan meminta tolong anak-anak disana untuk membantunya membeli bahan makanan agar dia dapat mengolahnya sendiri.


Tidak ada penyakit serius yang dideritanya, dia kesepian bila sendiri makanya sering termenung. Sudah hampir 6 bulan ini ada seorang gadis yang tinggal disana dan gadis itu tengah hamil 4 bulan, tidak ada yang tau siapa gadis itu karena dia terlihat masih sangat muda.


"Kau tidak dapat info gadis itu?" Tanya Arden penasaran.


"Belum bos, karna warga desa juga tidak tau. Gadis itu tiba-tiba sudah ada disana saja dan sejak itu merawat Arlen setiap harinya. Baru-baru ini terlihat perut gadis itu membuncit makanya warga desa baru bertanya dan pergi membawanya ke bidan. Kata bidan disana gadis itu hamil mungkin sudah 4 bulan." Jelas Jupi, Arden perpikir mungkin gadis itu kekasih Arlen kah?


"Apa orang-orang yang memberi uang dan makanan tidak bertanya tentang gadis itu?" Bisa saja orang suruhan mereka?" Tanya Arden lagi.


"Tidak bos, karena yang warga desa tau, Dani lah yang memohon agar gadis itu tinggal bersamanya karena butuh orang yang merawatnya." Jupi memberikan beberapa foto yang memperlihatkan gadis belia itu menyuapi Arlen makan dan membantunya naik turun kasur. Terlihat bahwa setiap foto bersama gadis itu ada senyum yang mengembang di bibir Arlen yang membuat Arden sedikit lega.


"baiklah kita lanjutkan rencana, kau suruh Romi bersiap di kota Y memantau sekeliling Arlen sesuai yang kita bicarakan. Dan Om Josh, tolong bantu persiapkan anggota berbaik kita ya.." Arden memberikan perintah untuk menjalankan aksi mereka 3 hari kedepan.


"Baiklah.. percayakan pada om." jawab Joshua yang sebenarnya telah pensiun, namun karena Darren sedang sibuk di kota lain maka Joshua membantu Arden.


"Berarti yang bantu bos disini cuma aku nih?" Tanya Jupi lagi.


"Yes.. biar Vino tetap jaga Hanny disana." Pembicaraan selesai dan mereka pun bubar.


\= = = = = = = = =


Tiga hari kemudian ~


Oma Susi dan Arden sudah kembali ke kota J dan menunggu seluruh keluarga dari Tenggara. Tak berapa lama masuknya satu persatu seluruh keluarga Tenggara. tidak banyak karena keluarga inti hanya tinggal beberapa orang. Tak lebih dari 10 orang hadir disana.


Oma Susi, Arden, Januar dan anaknya Samuel, sepupu jauh Arden ada 3 orang dan 2 pengacara 1 notaris.


Pengacara keluarga Tenggara telah membacakan isi surat wasiat dari Richmon Tenggara yang berisi, mulai hari dimana cicitnya berusia 23 tahun maka seluruh harta bergerak maupun tidak bergerak, saham, rekening, segala bisnis atas nama Richmon Tenggara seluruhnya dipindahkan ke Arden Tenggara. Dalam penanganannya baru akan mulai dijalankan oleh Arden Tenggara setelah dirinya usianya genap 25 tahun atau dapat disegerakan dengan syarat menikah atau setelah mempunyai keturunan untuk melanjutkan hak waris.


Begitulah isi wasiat yang akan dijalani oleh Arden, dia menghela napas tidak percaya. Kenapa dengan kalimat terakhir itu? Jadi saat ini dia memiliki semuanya, tetapi tidak dapat menjalankan apapun sebelum 25 tahun, jika saat ini dia ingin mengambil alih segera maka harus menikah atau mempunyai anak? Ini gila. Apa yang dipikirkan kakek buyutnya itu?


Oma Susi hanya tersenyum dan melirik Arden sekilas. Dia sudah tau isi wasiat itu dan sengaja tidak memberitahukan ke Arden karena dia pikir Arden pasti akan segera menikah untuk mengambil semuanya dari tangan Januar.


"Baiklah.. kami sudah mendengarnya. Sekarang, Arden dapat tandatangan di sini dan sudah Sah menjadi pewaris." Ujar Oma Susi, namun segera dibantah oleh Januar yang sudah berdiri mendekat.


"Tunggu.. apa kalian yakin dia adalah Arden Tenggara?" Tanya Januar ke pengacara yang tengah duduk bersama Arden.


"Apa maksud anda Pak Januar? Tentu saja dia Arden Tenggara." Bantah pengacara itu.


"Dia bukan Arden Tenggara, karena Arden Tenggara sudah mati dibunuh dan aku yang sudah menyelamatkannya."


"Apa buktinya? Kau jangan mengada-ada." Teriak Oma Susi marah dan menunjuk nyalang ke arah Januar.


"Oh begitu, baiklah, mana buktinya Arden yang asli telah mati dan selamat? Buktikan jika kau benar." Tantang Arden pada Januar.

__ADS_1


"Aku akan bawa Arden kemari dan membuktikan bahwa orang ini pembohong dan penipu. Karena saat Arden dibunuh akulah yang menyelamatkannya." Januar memberikan bukti berupa video Arlen yang sedang didorong oleh seorang wanita dari balkon kamarnya lalu ada video Januar dan anaknya sedang di rumah sakit dan Arlen sedang dirawat.


"Kalau begitu, bawa Arden yang menurutmu masih hidup itu, maka kami akan percaya." hardik Arden geram menatap Januar dengan amarah memuncak.


"Baik, kalian tunggu disini." Januar segera keluar dan tak lama membawa seorang pemuda yang didorong menggunakan kusi rodanya. Ya itu adalah Arlen.


"Ini, Arden Tenggara dan dia adalah pewaris sah seluruh harta Tenggara. Aku sudah perisaka dan test DNA bahwa benar dia anak kandung Cecilia Tenggara." Januar sangat yakin dan dengan tersenyum penuh kemenangan. Karena dia juga sudah menyiapkan surat kuasa dan penyerahan seluruh harta dari Arden Tenggara ke Januar yang ditandatangani oleh Arlen dan tinggal menunggu hari H.


"Hahahahahaha..." Arden tertawa dan segera menepuk tangannya beberapa kali dan tak lama datang sekumpulan pengawal dan polisi mengelilingi mereka.


"Silakan lanjutkan tugas kalian." Titah Arden kepada polisi yang baru masuk. Januar segera diamankan dan tangannya diborgol. Januar terkaget heran, sementara Jupi sudah menyiapkan segala dokumen untuk menuntut Januar.


"Ada apa ini? lepaskan. Harusnya dia yang kalian tangkap." Teriak Januar kepada beberapa polisi sambil menunjuk ke arah Arden.


"Kau lah yang penipu Tuan Januar, penipu yang tertipu." Balas Arden dengan nada mengejek berbisik di depan wajah Januar, pelan tapi tegas.


"Pertama kau tertipu oleh orang yang sudah mati, kedua, kau tertipu oleh tipuanmu sendiri. Aku adalah Arden Tenggara yang asli. Dan dia adalah Arlen Tenggara, saudara kembarku." Jelas Arden tegas diawal namun berakhir lirih menatap Arlen dan berjalan kearahnya.


"Saudaraku yang baru kutemukan." Sambungnya lagi, lalu kembali menatap kearah Januar yang terkejut tak percaya. jadi selama ini dia tertipu mengira telah menyembunyikan Arden untuk dapat mengambil semuanya.


"Kau telah hanyut dalam permainan Richmon Tenggara yang terkenal licik. Kau tak akan berhasil menang darinya, bahkan kami yang memiliki aliran darah darinya saja tidak bisa melawannya." Geram Arden, kalau saja kakek buyutnya itu masih ada, tentu dia akan memberikan sebuah bogem mentah.


"Silakan bawa dia, semua tuntutan untuknya sudah ada di pengacaraku." titah Arden dan Januar telah diseret paksa.


"Arlen..." Arden sudah berjongkok di depan Arlen menyentuh lututnya dan menangis sedih melihat kondisi Arlen saat ini.


"Makanya selama ini kau diam?"


Arlen mengangguk, "Saat kakek bilang ke mereka kalau namaku adalah Arden, sejak itu aku sudah bisa membaca rencana kakek. Aku hanya bersabar dan mengikuti alur." Sambungnya lagi.


"Maafkan aku." Kata Arden lirih dan menangis sedih di kaki Arlen yang terlihat kurus tak terawat.


"Sekarang kau sudah pulang.. kita akan bersama lagi, ayo kita pulang." Ajak Arden tetapi Arlen menggelengkan kepalanya menolak.


"Aku sudah punya rumah, ada yang menungguku." Tolak Arlen dan Arden paham maksudnya.


"Tidak, kalian akan pulang bersama." Arden memaksa tetapi Arlen tetap tidak mau.


"Keluarga Tenggara tidak akan menerimanya Ar, dia bukan dari keluarga yang cocok dengan Tenggara." Jelas Arlen tetapi Arden tetap tidak menerima aturan itu.


"Kau lupa, barusan saja akulah pemilik Tenggara yang egois ini. Ah.. aku tanda tangan dulu biar semua sah dan kau bisa kembali." Arden berjalan ke arah pengacara dan segera tanda tangan semua surat yang ada.


Setelah itu mereka pergi dan pulang karena perjalanan Arlen yang cukup melelahkan untuknya. Arden menyuruhnya tidak perlu cemas karena rumahnya di kota Y sudah dijaga dengan ketat oleh anak buahnya dan besok mereka akan menjemput gadis itu.


Mereka berbincang lama, saudara kembar itu sangat bahagia dapat bertemu kembali. Sama dengan yang Oma Susi rasakan, cucu-cucunya telah kembali, Oma terus saja menangis merutuki rencana Richmon Tenggara yang sangat tidak perperasaan, membiarkan salah satu cucunya menderita demi menyelamatkan salah satunya dan harta.


"Rencana kakek bisa berjalan lancar karena kita tidak mirip." Jelas Arden lalu di sambut tawa oleh Arlen.

__ADS_1


"Benar, pas aku yang terjatuh waktu itu dan wajahku mirip dengan bunda. Ah kau menutupi warna matamu Ar?"


"Iya, biar tidak ada yang tau keberadaanku, aku punya banyak nama. Waktu di panti asuhan mereka memanggilku kakak bule, kakak Jo yang dari nama Paijo, sekarang bekerja menjadi pengawal bernama Will." Jelas Arden membuat Arlen berdecak kagum. Saat ini Arden masih belum dapat membuka diri, pastinya orang dibalik Januar akan mencarinya. beruntung yang hadir disana telah diperiksa dan tidak mendokumentasikan apapun. Hanya akan waspada dengan anaknya Januar yaitu Samuel.


"Besok setelah menjemput gadis mu kita akan kembali dan ke rumah sakit untuk perawatan kakimu." Pinta Arden menatap sedih ke arah Arlen dan memeluknya.


"Baikah tapi aku tidak berharap apapun. Aku sudah lumpuh sejak umur 14 tahun dan belum pernah memeriksanya." Arlen menghela napasnya karena dia sudah pasrah menghadapi nasibnya.


"Dan kau belum ceritakan tentang gadis yang tinggal bersamamu."


"Gadis itu..." Arlen memulai ceritanya.


Namanya Maya, itulah nama yang dia sebutkan, jadi Arlen memanggilnya Maya. Enam bulan yang lalu saat menunggu orang-orang januar datang membawa bahan makanan dan uang, mereka terlambat sampai larut malam Arlen masih menunggu. Saat itu malam sangat sunyi, biasanya terdengar suara anak-anak sekitar bermain namun malam itu terasa mencekam hanya ditemani suara ombak yang beradu.


Arlen mendengar sayup sayup suara minta tolong dan rintihan kesakitan, arden yang memang susah menjalankan kursi rodanya di pasir pantai tidak dapat bergerak kemanapun tapi rasa penasarannya membuatnya berusaha, akhirnya melewati bagian dalam rumah dan menuju pintu belakang, sampailah Arlen ke arah belakang rumahnya. Dia melihat tak jauh dari sana, ada beberapa pria berkumpul di gubuk kecil tak berdinding dan hanya beratap daun kelapa yang dibangun anak-anak untuk bermain. Terdengar tangis seorang wanita yang berteriak minta tolong. Arlen tau itu bukan hal baik, dia mencoba mendekat tetapi pasir pantai membuatnya tak bisa bergerak dan akhirnya dia berteriak dan membuat beberpa pria itu terkaget melihatnya.


Hanya orang cacat, begitu ujar salah satu pria disana dan menghampiri Arlen dan memukulnya.


"Kau mengganggu saja." Hardik pria itu dan memukul Arlen membabi buta sampai terjatuh.


Arlen dengan sisa tenaganya merangkak menarik kaki pria itu agar tidak melangkah ke arah gadis yang ternyata sedang di perkosa, ada 3 pria yang sedang memperkosanya dan 1 pria sedang memukul Arlen. Sungguh miris dan sadis. Tak lama pengawal Januar sampai dan melihat ada keributan, baku hantam tak terlelakkan dan akhirnya Arlen dan gadis itu tertolong. Meskipun gadis itu sudah diperkosa 2 orang yang penting nyawanya masih tertolong.


"Sejak saat itu, kami tinggal disana bersama saling menjaga karena Maya mengaku tidak punya keluarga dan dia diculik. Dia masih 16 tahun." Arlen menjelaskan, tak terasa air matanya jatuh mengingat kejadian itu. Hancur masa depan gadis kecil tak berdosa.


"Lalu dimana para pria banjingan itu?" Tanya Arden mulai emosi.


"Mungkin dibunuh, karena setelah babak belur para pengawal itu bertanya pada kami. Mereka mau diapakan? Maya yang masih syok dan menangis menjawab 'aku mau mereka mati' lalu mereka diseret dan tidak tau bagaimana lagi." Jelas Arlen lagi, sungguh Arlen tidak tega melihat Maya yang masih kecil mengalami nasib seburuk itu.


"Jadi, Maya mengandung karna hal itu?" Tanya Arden dan Arlen mengangguk.


"Anak itu tak berdosa, Maya tidak menginginkannya tapi aku larang, biar nanti bagaimana garis Tuhan yang mengatur semuanya."


"Itu benar. Baiklah kita akan menjemputnya besok ya..." Ucap Arden dan kembali  memeluk saudaranya.


"Lalu bagaimana denganmu? Kau akan tunggu 2 tahun lagi atau menikah?" Tanya Arlen sambil terkekeh.


"Tidak tau, aku belum bisa menikahi gadis yang aku cintai. Dia masih jadi istri orang." Kata Arden menghela napas panjang, tiba-tiba merindukan gadis kecilnya yang sudah hamil itu.


"Hah?? Kau biarkan dia menikah dengan orang lain atau cinta bertepuk sebelah tangan?" Tanya Arlen tak percaya.


"Tentu kami saling mencintai. Ini semua gara-gara Oma yang menyuruhku segera pelatihan tidak jelas itu dan meninggalkan gadisku selama 6 bulan, setelah aku kembali dia telah dipaksa menikah dan ayahnya dijebak oleh mertuanya dan dipenjara" Jelas Arden sambil merebahkan dirinya dikasur Arlen, mereka tentu akan tidur bersama sambil menceritakan kisah masing-masing.


"Nanti akan aku kenalkan."


"Baiklah."


Setelah mengobrol lama akhirnya kedua saudara itu tertidur, seperti saat mereka kecil berbagi kasur yang sama, yang berbeda adalah tidak ada orangtua disisi mereka.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2