Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 33 - Mau Cerai


__ADS_3

Semalaman Arden tidak bisa tidur memikirkan Hanny, gadis kecilnya yang malang pasti sedang sedih dan menangis sendirian. Dia pasti sangat menderita. Pagi-pagi sekali Arden sudah berada di markasnya menunggu Jupi dan Vino.


"Bos.. Andi bilang saat ini nona Hanny sedang berada di R Market bersama Alfonso." Lapor Vino segera setelah masuk ke ruangan markas mereka.


"Ayo pergi." Arden hendak beranjank tetapi di hadang oleh Jupi.


"Tidak sempat bos.. telepon saja aku sudah siapkan." Kata Jupi memberikan ponselnya ke Arden.


Ya, Hanny memang pintar. Setelah Alfonso kembali kerumah, Johan membiarkannya keluar kamar seperti biasanya namun dengan ancaman tidak boleh keluar rumah ataupun mengatakan hal yang terjadi kemarin malam. Tentu saja Alfonso curiga karena masih terdapat luka di sudut bibir Hanny.


"Bukan Alsonso.. ini karena aku yang berkelahi dengan teman kantorku kemarin, makanya sekarang aku resign daripada terjadi hal yang lebih parah lagi." bohong Hanny agar Alfonso percaya padanya. Lagipula tidak ada saksi yang membenarkan kalau ini perlakukan Johan.


"Baiklah nona, aku akan pergi berbelanja saja." alfonso hendak undur diri.


"Belanja, aku boleh ikut?" Tanya Hanny bersemangat, dia sedang mencari cara untuk bisa menghubungi Arden diluar.


"Baiklah, ayo kita pergi." Ajak Alfonso dan Johan hanya diam saja tidak berani melarang mereka.


Setiba di R Market, Hanny izin untuk ke toilet dan salah satu pengawal mereka mengikutinya. "Nona ini ada tuanku ingin berbicara." Kata pengawal itu dan Hanny awalnya bingung namun teringat ucapan Siti dulu kalau "Tuanku" adalah orang yang dia rindukan. Hanny mengerti dan langsung mengambil ponsel itu dan masuk ke toilet wanita yang untungnya sedang tidak ada orang disana. Pengawal itupun berjaga diluar agar tidak ada yang masuk.


"Halo..." Sapa Hanny


"Sayang... kau baik-baik saja?" Tanya Arden khawatir, terdengar dari suaranya sedikit bergetar.


"Iya kak... aku baik-baik saja." Jawab Hanny sudah mulai terisak.


"Jangan nangis..." belum sempat Arden melanjutkan kalimatnya Hanny sudah memotong.


"Aku mau cerai saja kak... aku tak kuat." Ujarnya lirih tanpa bisa menghentikan tangisannya.


"Johan tidak akan bercerai denganmu karena dia butuh dirimu untuk rencana besarnya Hanny." Jelas Arden tetapi Hanny tidak mau tau.


"Setidaknya bawa aku pergi aku tak mau disana dengannya, tidak sanggup lagi..." Tangis Hanny makin pecah.


"Baiklah, tapi janji 1 hal padaku, jika kau menyanggupinya aku akan membawamu pergi jauh untuk sementara." Tanya Arden lagi untuk memastikan.


"Iya.. apapun itu kak."


"Janji, kau akan bertahan nantinya. Tinggal di suatu tempat terpencil dan jauh dari orang-orang, tidak boleh keluar ataupun berhubungan dengan orang lain untuk sementara sampai anak-anak kita lahir." Jelas Arden lagi dan menunggu jawaban Hanny yang masih terdiam.


"Baik aku janji kak, tapi kakak bersamaku kan?" Tanyanya.


"Tidak sayang, tapi kakak akan datang bertemu dengamu sesekali. Kau yakin mau?" Arden meyakinkannya lagi.


"Baik kak, aku janji."


"Sekarang ikut pengawal itu, dia akan membawamu. Hati-hai, aku mencintaimu sayang.." Kata Arden dan balas Hanny "Iya kak, aku juga mencintaimu."

__ADS_1


Akhirnya Hanny mengikuti pengawal itu dan percaya saja pada Arden yang akan membawanya pergi jauh dari Johan.


"Vin, siapkan markasku yang ditengah hutan itu, Dalam 3 hari sudah harus bersih dan rapi. Disana ada 11 kamar kan? Cukup untuk Hanny, om Alex, 2 pelayan dan 6 orang pengawal. Sediakan segala kebutuhan mereka dan siapkan juga 1 ruangan khusus untuk pemeriksaan kandungan dan persalinan lengkap dengan alat-alatnya, jangan lupa 1 orang dokter dan suster wanita. Dalam 3 hari." Arden yang sudah tenang pun memberi perintah selanjutnya pada Vino.


"3 hari bos?" Tanya Vino terbelalak.


"Iya ti-ga ha-ri." Tegas Arden dan Vino hanya bisa menelan salivanya.


"Jupi, kemana Hanny diantar?" Tanya Arden sambil jalan keluar dari sana bersama Jupi untuk menjemput Hanny.


"Ke apartemen Tuan Alex untuk sementara bro. Tenang 3 hari disana pasti aman." Jawab Jupi dibalas anggukan oleh Arden.


Hanny sampai duluan di apartemen dan pintunya dibuka oleh Alex, tentu Hanny terkejut dan menangis memeluk papinya. Sama halnya dengan Alex yang begitu merindukan putrinya. Setelah melepas rindu mereka saling curhat dan menceritakan kehidupan selama berpisah. Alex merasa bersalah tetapi Hanny menggeleng kuat karena semua hal yang terjadi diluar kehendak mereka.


Tak lama Arden sampai dan langsung mencari Hanny karena khawatir, Hanny berlari dan langsung memeluk Arden dengan begitu erat takut kalau kekasihnya itu akan pergi.


"Kak.. kita akan kemana?" Tanyanya pada Arden yang sudah duduk manis di samping Alex, mereka tak bisa bermesraan lama karena Alex melarangnya, mereka bukan pasangan menikah meskipun Hanny tengah mengandung anaknya.


"Ke rumahku di tengah hutan. Tempatnya bagus dan terpencil. Keluarga Salim tak akan menemukanmu disana." Jawab Arden.


"Om bisa ikut kan? Jaga Hanny disana, biar urusan disini aku dan orangku yang mengatasinya. Kalian cukup bersembunyi sementara waktu." Tanya Arden lagi memandang penuh harap pada Alex.


"Tentu saja, Hanny putriku jadi aku yang paling berkewajiban menjaganya." Jawab Alex dan mereka pun lega, setidaknya Hanny tidak merasa kesepian.


Ditempat lain, Alfonso sudah panik mengelilingi R Market untuk mencari Hanny namun tidak ditemukan dimanapun. Akhirnya pengawal seluruh keluarga Salim dikerahkan tapi hasilnya nihil.


3 hari kemudian


Rumah besar di tengah hutan, disana sudah bersiap 2 pelayan 6 pengawal terlatih dan 2 dokter wanita untuk menyambut sang pemilik rumah.


Arden, Hanny, Alex dan Jupi akhirnya sampai setelah berkendara 6 jam dari kota J. Mereka sengaja menggunakan jalur darat agar tidak diketahui siapapun. Memang lama, tetapi lebih aman dan dapat mengecoh orang jika dibuntuti. Pagar besar menjulang tinggi, rumah besar dikelilingi taman bunga yang sedang bermekaran. Ada beberapa ayunan dan kursi taman yang cantik di beberapa sudut di taman itu. Sungguh indah dengan udara sejuk dan bersih. Hanny menghirup udara sebanyak-banyaknya karena begitu terasa akan kebersihan udaranya. Senyumnya merekah indah, membuat Arden tak sadar langsung mengecup bibir Hanny dan akhirnya Alex berdehem memberi peringatan. Arden langsung tersenyum malu.


Semua yang sudah tersedia, Hanny masih bisa menikmati dunia luar melalui televisi dan satelit yang dipasang disana yang berisikan channel tv seluruh dunia. Tv juga tersedia di masing-masing kamar agar penghuni dirumah ini tidak bosan. Jaringan internet juga tersedia yang pastinya semua itu tak akan bisa dilacak, lagi pula ponsel Hanny sudah diberikan yang baru dengan nama orang lain.


"Sayang ayo kakak antar ke kamar kamu." Ajak Arden sambil mengapitkan lengan Hanny dan berlajan ke kamar dilantai 1. Kamar yang direnovasi untuk bumil tecinta agar tidak sudah naik turun tangga.


Kamar yang luas, ranjang besar ukuran kingsize, ada jendela besar menghadap ke taman samping, di bawah jendela besar sudah ada sofa panjang ukuran besar yang nyaman untuk bersantai. Kamar mandi dengan bathtub yang elegant, walk in closet yang sudah dipenuhi baju untuk bumil berbagai ukuran sesuai pertihungan bulan kandungan.


Arden membawa Hanny duduk di sofa besar depan jendela, untuk membicarakan hal penting disana.


"Yang harus kamu ketahui sayang, pertama, bagus kamu tidak dirumah itu lagi karena memang kakak akan menyuruhmu resign dan jangan bekerja di perusahaan yang akan dibuka oleh Johan 2 bulan lagi. Karena perusahaan periklanan itu berbahaya dan sedang kakak selidiki. Kedua, kamu harus patuh ya disini, jangan kemana-mana, apapun yang terjadi, jangan menghubungi siapapun selain kontak yang ada di dalam ponselmu, disana cuma ada tersimpan nomor kakak, Arka, Vino, Jupi dan Eve. Ok?" Arden menjelaskan agar Hanny lebih mengerti.


"Iya kak, aku janji."


"Lalu kakak janji menyelesaikan urusan ini dengan keluarga Salim secepatnya lalu kita menikah. Saat ini Johan pasti tidak mau bercerai dan kamu tau sebabnya. Bisa saja kakak urus perceraianmu sekarang jika mau, tetapi nantinya kamu akan dilimpahkan kesalahan seperti om Alex karena perusahaan bodong yang dibuat Johan pemiliknya adalah kamu."


Hanny mendengar dengan seksama dan sedikit tidak percaya, begitu jahatkah suaminya. Sebenarnya apa kesalahannya sehingga Johan begitu membencinya.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan ya.. sayangku, serahkan semua pada kakak, kamu hanya fokus menjaga anak-anak kita." Sambung Arden lagi sambil mengelus perut Hanny yang sudah membulat.


"Kenapa sepertinya baru 3 hari sudah tambah besar sih?" Tanya Arden heran karena 3 hari lalu tidak sebesar ini.


"Mungkin mereka tau kalau mommy-nya sudah tidak bekerja jadi mereka menampakkan diri." Ujar Hanny tertawa di balas kecupan singkat oleh Arden di pipinya yang makin gembul.


"Anak-anak pintarnya daddy...nanti kita cek jenis kelaminya ya" Arden menunduk dan menciumi perut Hanny bertubi-tubi hingga Hanny kegelian.


"Sekarang kita tidak bisa macam-macam karena ada papi." Bisik Hanny.


"Iya.. padahal kakak sudah ingin menggempurmu disini sambil melihat pemandangan." Balas Arden berbisik ditelinga Hanny, yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya. Arden sudah menekan hasratnya dalam-dalam, apalagi Hanny semakin montok dan menggemaskan, ingin dia merasakan hangat tubuh itu lagi tetapi ALex melarang dan apalah daya kalau calon mertua yang sudah memberikan titahnya.


"Yang terakhir, keberadaan kakak masih dirahasiakan, jadi seperti biasa jika suatu saat ada yang bertanya siapa kakak kamu hanya menjawab kakak ada Will pengawal pribadi Arkana." Arden mengingatkan.


"Ehm.. baik. Kakak juga belum cerita siapa kakak sebenarnya." Keluh Hanny menatap Arden dengan tatapan yang sulit diartikan, Hanny selalu ingin bertanya tetapi dia tidak ingin memaksa karena sudah teranjur percaya pada Arden.


"Baiklah, nama kakak memang Arden, Arden Tenggara." tegas Arden menatap ke mata cantik Hanny.


"Haaaa....?" Rahang Hanny otomatis terbuka tak percaya. Arden terkekeh menutup mengangkat rahang Hanny.


"Hehehe.. kenapa terkejut begitu? Biasa saja" Ujar Arden terkekeh geli.


"Berarti kakak yang selalu dibicarakan semua orang, pewaris tunggal tenggara yang misterius itu..."


"Sudah kakak warisi, semua sudah milik kakak tetapi belum dapat kakak jalankan semuanya karena masih ada syarat lain dalam surat wasiat kakek buyut." Jelas Arden dan Hanny semakin tak percaya.


"Harus menunggu sampai umur 25 tahun, atau kalau mau saat ini juga bisa dengan syarat kakak harus menikah atau punya keturunan. Tapi kakak kan cuma ingin nikahnya sama kamu." Sambung Arden lagi sambil mengelus pipi Hanny.


"Apa keluarga kakak tidak memaksa untuk menikah segera? Biasanya kan keluarga kaya di drama dan novel pasti sudah dijodohkan, dipaksa menikah." Tanya Hanny dengan polosnya.


"Tidak sayang... Oma sudah tau kalau kakak hanya mencintaimu."


"Oma? Apa oma nya kakak tau kalau aku hamil anak kakak?


"Tidak, kalau dia tau kamu tidak akan disini. Dia pasti tidak akan membiarkan calon penerus Tenggara berada di rumah keluarga lain. Oma mengira kamu hamil anaknya Johan juga." Terang Arden


"Semoga kakak tidak dipaksa menikah dengan wanita lain, apalagi Oma nya kakak mengira aku hamil anaknya Johan. Keluarga Tenggara tidak mungkin mau punya menantu janda, ada anak lagi." Hanny mulai sedih, mood nya jadi buruk saat itu juga.


"Siapapun tidak bisa memaksa kakak, jika bisa sudah dari dulu. Tenang ya.. kan karna oma tidak tau kalau ini buah cinta kita. kalau dia tau juga kamu pasti bakal di culik dan dijaga di istana mirip penjara itu." Arden menenangkan Hanny yang sudah mulai sedih, terlihat dari raut wajahnya.


"Sudah... yang penting kamu disini dulu sampai anak-anak kita lahir. Ayo, kita cek dedek dulu." Arden kembali membawa Hanny keruangan sebelah kanan untuk menemui dokter yang akan berjaga dirumah rahasia ini. Pemeriksaan juga tidak terlalu lama karena calon anak-anak mereka sangat sehat, 2 jagoan kecil yang sudah hampir 5 bulan. Arden sangat senang mendengar 2 jagoan kecil yang lucu akan lahir beberapa bulan kedepan.


Arden sengaja memilih dokter muda tetapi berprestasi pilihan temannya Ivan, agar Hanny mempunyai teman ngobrol yang sebayanya agar tidak bosan. Dokter Nissa dan suster Dilla akan selalu menjaga Hanny yang kamarnya di sebelah kiri kamar Hanny. Sedangkan kamar Alex ada di lantai 2, kamar pelayan dan pengawal di lantai 3 beserta ruang kendali monitor cctv yang tersebar disekeliling rumah.


Arden akan tidur dikamar ruang kerjanya di lantai 1 dekat ruang tamu, sebenarnya ingin sekamar dengan Hanny tapi dia harus patuh pada titah calon mertuanya. Arden hanya 2 hari menemani Hanny dan lusa dia sudah kembali ke kota J.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2