
Jam masih menunjukan pukul 6 pagi tetapi Hanny sudah bangun dari tidur malasnya dan masih betah digulungan selimut dan lengan Arden yang melingkar di perutnya. Hanny mengubah arah tidurnya dan memeluk Arden yang masih terlelap, padahal mereka janji akan jalan pagi di sekitar resort tapi Arden masih tidur dengan nyenyak.
"Kak.. bangun dong, mau jalan pagi. Olahraga hirup udara segar." Panggil Hanny lembut sambil mengelus wajah Arden.
"Masih ngantuk sayang.." Arden mengeratkan pelukannya lagi agar Hanny tidak bergerak.
"Ihh kan sudah janji." Hanny merengek manja, tapi Arden masih memejamkan matanya. Ide jahilnya muncul dan tangannya mengarah kebawah. Menggapai si Jumbo yang masih tertidur, "Wah...tidur saja masih besar." Ujarnya dalam hati. Tak lama si Jumbo bangun dan sudah menegang perlahan, Arden mendesis pelan saat Hanny mengelus si Jumbo dari dalam boxernya.
"Kamu nakal ya..." Arden membuka matanya memandang Hanny yang tersenyum jahil.
"Mau olahraga kan? Ayo.." Arden lalu membalikkan badannya dan menindih Hanny.
"Mau tapi bukan di sini, maunya diluar. Udara diluar segar kak.." Ujarnya manja dan sudah melepaskan sentuhannya dari si Jumbo.
"Tak bisa, si Jumbo sudah bangun dan ingin olahraga." Arden lalu melucuti gaun tidur Hanny dan celana boxer juga kaosnya. Mereka polos, Arden berjalan dan membuka pintu balkon kamarnya.
"Nih udara sejuknya sudah masuk. Ayo main diluar." Arden mengangkat tubuh Hanny dan duduk di bangku balkon dan Hanny duduk dipangkuannya. Bermain beberapa ronde dengan posisi duduk membuat Hanny mencapai puncak kenikmatan beberapa kali sampai akhirnya berganti posisi berdiri. Mereka menikmati olahraga dengan udara segar dan sejuk, namun sudah tak terasa lagi sejuknya udara itu, adanya kehangatan akibat permainan panas mereka.
"Kak... benar yah, ternyata kalau sering jadi enak. Tidak sakit lagi." Ucap Hanny masih duduk dipangkuan Arden dalam keadaan polos di balkon.
"Tentu sayang.. kan punyamu jadi terbiasa sama si Jumbo. Mereka sudah akur." Jawab Arden, tersenyum geli terkadang istrinya sangat liar tapi terkadang sangat polos.
"Tapi aneh ya, kenapa bisa masuk? Si Jumbo ukurannya kan ga normal kak." Tanya Hanny lagi dengan kepolosannya.
"Itu berarti kamu memang diciptakan hanya untuk kakak, si Jumbo juga, sudah menemukan sarang yang pas." Jawab Arden lagi dengan asal, yang penting Hanny senang.
"Sudah yuk, kita mandi kak.. sudah jam 8 lebih." Ajak Hanny yang kemudian turun dari panguan Arden dan memang tubuhnya sudah mulai dingin terkena udara dingin dari luar.
Setelah mandi mereka ke kamar AnsTwins yang sudah rapi, mereka bersama menuju restoran untuk sarapan. Disana sudah berkumpul semua orang. Arden tidak menggunakan kontak lensa dan AnsTwins sudah melepaskan kacamata mereka karena hanya mereka yang ada disana. Melihat itu Clara terkejut, dia baru tau kalau keluarga ini bermata hijau mempesona.
"Karena tidak ada orang lain lagi jadi bos melepaskan samarannya." Jelas Jupi yang melihat Clara terbengong heran.
"Ohh ternyata begitu." Balas Clara mengerti. tetapi dia pasti akan menanyakannya pada Hanny nanti.
Mereka sepakat untuk pergi piknik dan menjelajah kebun teh di balik pengunungan ini. Karena menurut tim Helios yang sudah duluan, disana ada sungai dengan arus kecil dan sangat jernih. Cocok untuk piknik dan tidak bahaya untuk anak-anak. Dan juga beberapa warga ada yang menyewakan perahu, pondok kecil untuk berteduh dan istirahat disekeliling kebun teh juga dikelilingi perbukitan indah dan ada juga lapangan hijau yang luas.
"Wah.. cocok untuk Anson yang punya energi berlebih." Ujar Arlen dan dia juga sangat ingin melihat pegunungan karena selama ini lebih banyak melihat laut.
__ADS_1
"Bin, bawa tongkat ya.. Biar aku bisa jalan pelan-pelan" Pinta Arlen dengan antusias.
"Tidak perlu bawa banyak bekal, bawa saja cemilan bos. Karena disana bisa mancing atau minta penduduk setempat memasak. Ada kebun sayur dan ternak, kolam, santai saja. Sekali-kali nikmati masakan kampung." Jelas Vino yang membuat Hanny begitu senang.
"Iya iya, aku mau makanan disana, jadi ingat masa kecil di kota B, kan pinggiran kota juga." Ucap Hanny bahagia, tentu saja Arden akan mengikuti semua yang diinginkan sang ratu.
Setelah sarapan mereka berangkat dan ternyata tidak terlalu lama, hanya 1jam 15 menit sudah sampai dengan rute yang diarahkan oleh petugas resort yang memang orang asli disana menggunakan mobil yang lebih kecil milik resort.
"Disana selain kebun teh ada juga, kebun apel, jeruk, sayur-sayuran dan anggur. Semua di kelola oleh pemilik kebun teh untuk bantu warga desa disini yang memang mata pencaharian kami dari hasil kebun itu." Jelas pak supir yang membawa mereka. Arden langsung mengangguk mengerti, berarti anggotanya kali ini sangat kompeten. Arden belum mengenalnya karena menurut Vino dia orang yang tidak terlalu aktif di anggota dan lebih banyak bekerja untuk membantu orang-orang. Mungkin setelah ini Arden akan menemuinya.
Setelah sampai dilokasi, supir mereka memarkirkan mobil dekat dengan kebun di rumahnya. "Ini rumah saya tuan dan nyonya. Jadi kalau mau ke toilet bisa di rumah saya saja. Didalam cuma ada istri dan 1 anak saya, silakan." Ucap si supir dengan sopan.
Hanny dan Anson berjalan menuju kebun di depan rumah supir tadi, disana sudah ada pohon jeruk yang berukuran kecil. Hanny mengangkat Anson untuk memetiknya, tentu Anson sangat senang dan tertawa bahagia. Ada beberapa jenis sayur di kebun itu.
Setelah ngobrol sebentar, mereka diantar untuk menuju kebun teh dengan jalan kaki karena mobil sudah tidak bisa masuk. Anak pak supir yang masih remaja bernama Tono itu menemani mereka untuk menunjukkan jalan. Hanny menggendong Anson dan Ansel di gendong Jupi, sedangkan Arden memapah Arlen karena takut dia cedera, padahal Arlen baik-baik saja. Sedangkan bintang dan Vino bertugas membawa barang-barang penting seperti picnic mat dan air minum. Sisanya saling menjaga.
Tak lama mereka sampai di kebun teh di lokasi yang sering dijadikan spot foto karena sangat rapi tersusun indah dan luas, diujung kebun terlihat berjejer pohon cemara yang seperti sengaja disusun rapi berjarak sama 1 pohon dengan pohon lainnya. Dan benar, di sisi sebelah kiri mereka setelah pepohonan berubah menjadi padang rumput hijau yang cukup luas.
Hanny menurunkan Anson dan bocah itu langsung berlari dan melompat-lompat kegirangan, melihat itu Ansel dan Aksa yang selalu kalem juga meronta ingin diturunkan dan bergabung dengan Anson si bocah kelebihan energi.
Vino langsung menggelar picnic mat berukuran besar di bawah sebuah pohon rindang dekat sana dan semua orang duduk berselonjor kaki dan beristirahat. Beda dengan Arden yang memilih rebahan langsung diatas rumput yang sedikit basah sisa embun.
"kita bangun rumah disini yuk, jadikan villa tempat istirahat kita." Tukas Arden dan Arka langsung setuju.
"Setuju bro.. aku pesan 1 ya." Sahut Arka.
"Vin.. urus!" Titah Arden dan Vino hanya mengelos dengan muka masam.
"Masalahnya kan bos, wilayah ini sudah ada yang punya. Kalau bos mau, disebelah sana tuh... sisi disana belum berpenghuni." Jawab Vino menunjuk arah sesuka hatinya yang terlihat sangat jauh.
"Yasudah besok kita lihat-lihat." Balas Arden.
"Yah sultan memang beda." Keluh Vino lagi.
"Mancing yuk bro, biar bisa makan pas makan siang." Ajak Arka pada Arden yang saat ini asik bergelayutan manja di paha Hanny sambil rebahan.
"Malas ah.. ajak Vino aja sama Jupi." Ujar Arden karena sudah dalam posisi enaknya.
__ADS_1
"Yuk deh, aku ikut." Ucap Vino, dan akhirnya mereka melenggang pergi bersama Pak supir untuk ke sungai dekat kebun.
"Eh anak-anak kemana kak?" Panik Hanny yang tiba-tiba teriak karena ke-3 bocah tidak terlihat dipandangannya. Sontak membuat Arden juga panik dan berlari kearah padang rumput didepannya.
"Ahhh mereka disana sayang. Kan tanah ini tidak rata dan bergelombang jadi tidak terlihat disebelah sana." Jelas Arden yang telah melihat anak-anaknya yang masih bersama 2 baby sitter, Arlen, Bintang dan Eve.
Hanny dan Arden, Clara dan Jupi, pasangan bucin itu tak mau berpisah dan tetap berduaan sampai si Tono anak pak supir datang menghampiri untuk memberitahukan kalau makanan sedang dimasak. Dua pria itupun mengikuti Tono untuk mengambil ikan, iya mengambil karena tidak perlu mancing, sudah ada ikan dikolam belakang rumahnya yang tinggal di serok. Arden dan Jupi pun tertawa membayangkan Arka dan Vino memancing di sungai yang entah kapan baru kembali.
Satu jam berlalu, Arka dan Vino kembali dengan kelelahan dan bosan diwajah mereka. Hanya dapat 1 ikan dengan ukuran mini. Setelah 10 menit Arden, Jupi dan Tono kembali dengan membawa makanan dalam bakul besar lalu menyusun di daun pisang berjejeran. Terlihat ada 3 ekor ikan bakar berukuran sedang dan 3 ekor ikan goreng berukuran lebih kecil.
"Ikan dari mana bos?" Tanya Vino terbelalak melihat ada 6 ekor ikan disana.
"Tangkap lah.." Jawab Arden
"Dimana?" Tanya Arka lagi.
"Tuh.. belakang rumah Tono ada kolam penampung ikan." Jawab Jupi sambil tertawa.
"Ah sial... kalau tau ahhh.." Keluh Vino kesal.
Ya sudah ayo cuci tangan kita makan."Ujar Arden membawa 1 ember air bersih disana. Hanny kembali dengan anak-anak dan yang lainnya. Segera setelah cuci tangan mereka menyantap makanan ala rumahan di desa yang penuh kekeluargaan dan suka cita.
Ada ikan bakar dan goreng, ayam goreng dan sop ayam untuk anak-anak, lalapan, sambel, tumis kangkung dan teh manis. Semua berasal dari kebun sekitar sini dari warga desa. Hanny sangat betah berada di tempat ini, begitupun Arden yang sudah mulai nyaman dan akhirnya mengantuk setelah makan siang mereka.
"Ya ampun anakku sayang, Anson. kamu kenapa dekil begitu sayang?" Tanya Hanny sewaktu Anson baru kembali bersama Jupi dan baby sitternya. Baju Anson sudah dekil dan kotoran dimana-mana, bahkan wajahnya juga berwarna coklat terkena tanah.
"Dia baru saja berguling disana." Jawab Arlen yang baru saja kembali bersama Aksa dan Ansel yang masih bersih. Untung saja Hanny membawa beberapa baju ganti dan perlengkapan lainnya. Setelah bersih Anson benar-benar diapit Hanny dan Arden agar tidak berulah lagi.
"Kamu kelebihan energi ya Son.." Arden mulai menggoda Anson dengan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Nanti setelah dari sini daddy ajak kamu olahraga ya? Atau mau belajar karate? Silat? Judo? Taekwondo?" Sambung Arden lagi, memang itu rencana Arden untuk Anson agar energi-nya tak terbuang sia-sia.
"ihhh daddy, mereka masih kecil. Jangan dulu." keluh Hanny.
Setelah puas bermain dan bersantai sampai sore, mereka kembali ke resort untuk istirahat. Tetapi sudah membuat janji pada Pak supir untuk ke lokasi lain besoknya yang belum ada pemiliknya untuk sekalian mencari daerah yang cocok dan membangun villa pribadi mereka.
"Bisa Tuan, besok akan saya antar ke sisi selatan gunung ini, dikaki gunung ada desa yang lumayan ramai dan setengah jam melewati desa ada sungai yang lebih jernih lagi dan lokasinya sangat bagus." jelas pak supir dan membuat Arden sangat tertarik dan besok akan kesana lagi.
__ADS_1
TBC ~