Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 23 - Foto Masa Lalu


__ADS_3

Keesokkan harinya, foto Hanny yang masih jadi perbincangan hangat masih belum terdengar oleh Hanny ataupun Arden. Teman-teman Hanny tidak join dalam grup itu yang memang isinya lebih banyak gosip tidak jelas dari pada sesuatu yang bermanfaat. Seluruh anak magang belum ada yang masuk grup, hanya karyawan senior saja. Tidak dengan Stella karena dia tipe wanita yang tidak mau ribet mengurusi hidup orang lain. Kalau Devan memang masuk grup itu namun tidak terlalu aktif dan malah disilent agar tidak mengganggu.


Hanny bekerja seperti biasanya, hari ini ada pertemuan membahas dan bertemu dengan calon bintang iklan yang telah disortir sesuai keinginan Hanny dalam konsepnya.


Hanny membagi perhiasan menjadi 4 kategori, set pertama dia hanya mengambil 1 gelang emas putih sederhana, yang akan dipakaikan ke seorang remaja berusia 17 tahun untuk merayakan sweet seventeen, lalu di perhiasan kedua akan digunakan kalung emas putih ada campuran rosegold yang terlihat manis, kalung dengan rantai halus dan liontin berbentuk bintang ataupun love yang dapat diubah sesuai keinginan akan di pakaikan ke gadis usia 19-22 tahun yang dihadiahkan sebagai pengikat janji oleh kekasihnya. Set ke tiga akan diambil 1 buah cicin bertahtakan berlian, yang akan digunakan sebagai cicin pernikahan oleh sepasang kekasih yang sedang menikah. Set terakhir adalah anting dengan mutiara murni yang lumayan besar dikenakan oleh seorang ibu 50 tahun keatas sebagai hadiah dari pasangan ataupun anaknya. Konsep yang sesuai dengan karakter dari masing-masing perhiasan dan karena hanya ditampilkan 1 jenis dari 1 set maka membuat orang penasaran dengan perhiasan lainnya. Bintang iklan untuk usia tua telah ditentukan sedangkan yang usia muda masih dalam pembahasan karena Hanny lah yang akan menentukannya nanti.


Seluruh karyawan yang bertugas untuk produksi iklan telah berkumpul, yaitu team 2. Hanny telah bertemu dengan Jsj yaitu Miss Jessica yang sangat suka dengan konsep dari Hanny dan telah mendiskusikan dengan baik, tinggal memilih bintang iklan yang cocok. Terdapat beberapa artis yang telah di casting oleh tim tersendiri dan telah tersisa 3 kandidat.


Yang pertama adalah Sarah Jane, tetapi karena masalah kontrak akhirnya dia mengundurkan diri. Yang kedua adalah Irene, yang telah banyak pengalaman dengan akting di drama, film ataupun iklan. Yang ketiga adalah Khansa, gadis 19 tahun yang baru saja debut dengan film remajanya dan sedang naik daun. Khansa memang tidak sebanding dengan pamor Irene yang sudah jauh diatasnya tetapi untuk konsep ini lebih cocok diberikan pada Khansa.


Irene sudah mendengus kesal karena Hanny tetap pada pilihannya yaitu Khansa, karena menurutnya Khansa lebih cocok di konsep remaja dan wanita muda. Remaja 17 tahun dan gadis muda 20an tahun sangat pas pada Khansa yang berpenampilan ceria, muda dan sederhana. Didukung oleh wajahnya yang cantik dan polos sesuai dengan konsep remaja itu. Sedangkan untuk pernikahan akan lebih memainkan seni makeup yang lebih kuat.


Sedangkan Irene lebih cocok untuk konsep cantik dewasa atau sexy karena wajahnya yang blasteran, dewasa dan eksotis. Setelah diskusi panjang akhirnya diputuskan untuk test makeup sesuai konsep dan terbukti Khansa lah yang cocok dengan makeup polos, bahkan cuma memoles sedikit saja sudah terlihat cantik dan fresh ala remaja 17 tahunan. Sementara Irene terlihat cantik namun pucat dan tidak mengeluarkan aura bintangnya seperti biasanya.


Akhirnya diputuskan bahwa Khansa yang mendapatkannya.


Pertemuan pun berakhir, disana tinggalah team 2, Miss Jessica dan asistennya, Khansa dan managernya juga Irene yang masih ngobrol dengan Miss Jessica karena ingin memesan perhiasan khusus. Kemudian Arka dan Will masuk bergabung dengan mereka, Irene terdiam sejenak memandang Will dan tersenyum berusaha menggoda namun seperti biasanya Will hanya jalan melewati tanpa meliriknya seakan Irene tidak ada. Arka menyapa Jessica yang sudah dikenalnya sangat lama.


"Hai Jess, bagaimana?" Arka berbasa-basi.


"Baik, senang berkerja sama dengan Miss Hanny." Jawab Jess.


"Dia anak magang lo."


"Oh ya.. wow, dia sangat pintar."


"Bagaimana dengan modelnya? Cocok?" Tanya Arka lagi sambil tersenyum ke arah Khansa.


"Tentu, sangat cocok. Dan kau tau, siapa lagi yang cocok untuk iklan ini? Tanya Jessica sambil melirik, yang lain juga penasaran siapa yang dimaksud olehnya.


"Miss Hanny lah. Lihat, dia cantik, elegan, polos, lihat matanya yang berbinar itu.. "


"Benar sekali Miss.." Belum menyelesaikan kalimatnya, Khansa juga sudah menyetujuinya.


"Benar kan..."


"Tadi saya dan manager saya sampai salah mengira kalau mba Hanny itu model juga." Timpal Khansa dan hal itu membuat Hanny tersenyum malu. Berbeda dengan Irene yang terlihat kesal tapi tetap berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya.


"Tadi saya kira mba Hanny masih anak SMA loh Miss.. soalnya wajahnya imut dan cantik begitu." tambah Khansa lagi.

__ADS_1


"Anak SMA darimana.. Saa.. besok aku uda 21 tahun." Ujar Hanny yang ternyata besok adalah ulang tahunnya.


"Besok mba ulang tahun? Wah selamat ya.." Kata Khansa lagi dan yang lain ikut memberi selamat.


Setelah perbincangan hangat mereka, Hanny masih harus mengerjakan hal lainnya sebelum pulang. Team 2 sangat sibuk dengan proses syuting yang tinggal 2 hari lagi. Syuting lebih banyak di lakukan di studio SM milik StarE dan hanya 1 yang akan ke luar kota namun belum ada tempat yang cocok. Jason lah yang bertugas untuk meninjau lokasi untuk luar kota. Sedangkan Stella dan Hanny akan fokus di dalam studio. Serin akan menemani tim produksi.


Chat grup masih seputar pembicaraan tentang Hanny, namun pengirim foto bernama anonim memulai pembicaraan dengan informasi bahwa besok akan memberikan hadiah pada Hanny karena dia sudah semakin terkenal. Semua anggota grup pun heboh dan tidak sabar menunggu besok.


Sedangkan Hanny yang tidak tau apapun masih beraktifitas seberti biasa, untung saja kehamilannya sangat baik dan tidak rewel. Hanya saja jika bertemu Arden maka dirinya akan sangat manja dan sensitif, tetapi jika tidak ada Arden dia akan seperti biasa, Hanny yang cerita dan mandiri.


Yuli mulai menjalankan aksinya lagi pada tengah malam, pas pukul 00:00 dengan caption "Happy Birthday Hanny Tanisha Alexander, SMA XXX Alumni 72 kelas 2A". Dia memakai akun anonim mengirimkan 3 foto yang mirip Hanny sedang berciuman dengan seorang laki-laki yang sama-sama berseragam SMA, foto kedua yang menampilkan payudara Hanny seperti sedang diremas, foto ketiga Hanny sedang berjongkok di depan seorang laki-laki tanpa celana yang tentunya sudah di sensor dan hanya memperlihatkan wajah si wanita yang terlihat samar mirip Hanny.


Tengah malam itu begitu ricuh bagi sebagian orang yang belum terlelap, ada yang tak percaya, ada yang sudah mengeluarkan caci maki dan sumpah serapah. Segala macam komentar ada disana. Yuli tertawa bahagia membaca setiap komentar yang masuk. Beberapa dia screeshoot untuk dikirimkan ke Irene. Mereka benar-benar memberikan hadiah ulang tahun tak terlupakan kepada Hanny.


Pagi harinya Hanny seperti biasa berjalan di lobi gedung menuju lift untuk naik ke lantai atas kantornya, beberapa pasang mata mulai meliriknya dan berbisik. Hanny hanya cuek karena sudah terbiasa, yang pasti dia akan segera ke kantor Arka untuk bertemu Arden pagi itu. Sengaja Hanny datang lebih pagi untuk menikmati waktu bersama kekasihnya.


Sampai di dalam ruangan kantor Arka.


"Kak Will..." Teriak Hanny terdengar manja ditelinga Arden yang sedang duduk manis menunggu Hanny. Arka belum datang karena ini terlalu pagi bagi dirut sudah berada di kantor.


"Kak...  " Panggilnya manja segera memeluk Arden yang tengah berdiri menyambut Hanny dengan tangan terbuka meminta dipeluk. "Happy birthday sayang..." Kata Arden sambil mencium bibir Hanny sekilas.


"He emm.. " Jawab Hanny yang wajahnya masih menempel di dada Arden, dia sangat merindukan pelukan dan aroma tubuh ini.


"Jangan memaksakan diri, ingat kamu sedang hamil." Arden mengecup cepat berkali-kali di puncak kepala Hanny.


"Kak... lapar." Ujar Hanny kemudian melepaskan pelukannya. Arden sudah menyiapkan 2 bungkus mie ayam kesukaan Hanny dan juga susu hamil yang telah dia beli kemarin malam agar Hanny juga dapat minum susu di kantor. Tidak ada yang boleh tau kalau Hanny sedang hamil karena tidak ada yang mengetahui juga kalau Hanny sudah menikah. Karena memang masih dirahasiakan oleh keluarga Salim.


Sudah hampir jam 8 pagi dan Hanny segera turun untuk menuju meja kerjanya, tetapi semakin ramai semakin banyak orang yang melihatnya sinis dan berbisik-bisik. Ponsel Hanny terus berdering tanda pesan masuk, beberapa teman lamanya mengirimkan ucapan untuknya. Hanny masih sibuk dengan ponselnya dan sesekali mengecek email yang masuk untuk memastikan pekerjaan yang akan dimulai sebentar lagi. Dia tidak punya waktu memikirkan orang-orang yang terus saja menatapnya sinis.


"Yuk Han.. kita pergi. Devan sudah memberikan akses masuk ke studio SM." Ajak Stella. Mereka akan memulai syuting pertama di studio yang sangat luas itu. Hanny begitu penasaran ingin melangkahkan kakinya dan menjelajah disana. Tak lupa mengirim pesan ke Arden untuk menyusul nanti.


Sudah setengah hari Hanny berada di studio, pas jam makan siang Arden menyuruh Hanny kembali saja ke ruangan Arka karena tidak bisa menyusul ke studio, sebab Arka sangat sibuk seharian. Jika tidak ada Arka maka Arden tidak bisa pergi sesuka hatinya.


Setelah makan siang, Hanny merebahkan dirinya di kasur ruang kamar Arka dan ditemani Arden. Mereka menikmati waktu bersama, Arden mencumbu Hanny membuat Hanny merasa kepanasan tetapi mereka tidak dapat berbuat lebih untuk saat ini.


"Kak iiihhh hentikan.." Hanny mendorong kepala Arden yang sejak tadi masih betah di dada Hanny, bibirnya terus mencium dan menggigit kecil gunung kembar itu. Tangannya meremas salah satunya membuat Hanny merasakan panas di tubuhnya dan bagian intinya berkedut meminta lebih.


"Kita main yah..?" Tanya Arka, gairah Hanny yang sudah naikpun mengangguk pasrah. Mereka bermain cepat menuntaskan hasrat yang selama ini tidak tersalurkan. Arden bermain lembut namun hentakannya begitu dinamis membuat Hanny mendesah menikmati permainan Arden yang semakin katam.

__ADS_1


Dorongan terakhir Arden membuat Hanny bergetar hebat sampai tubuhnya melengkung dan memeluk erat punggung Arden yang juga bergetar mengeluarkan benihnya. "Sayang... kenapa makin enak sih? Punyamu seakan memakan milikku serasa tersedot dan diremas-remas." Ucap Arden vulgar dan membuat Hanny sangat malu, "Yah mana tau kak... aku kan ga sengaja." jawab Hanny dengan suara sepelan mungkin.


"Akkhh ... auh..." Desah Hanny ditengah Arden yang mengeluarkan miliknya.


"Tuh kan... susah dilepas, punyamu tidak mau milikku keluar, dicengkram kuat."


"IIhhh kak.. mesum!" pekik Hanny kesal karena malu.


Setelah membersihkan diri, mereka pun duduk kembali di sofa ruang kerja berdua karena Arka masih sibuk meeting. Arden tidak ikut karena ingin menemani Hanny makan siang dan bergumul. Tak lama Vino yang sudah seminggu di luar kota pun masuk tergesa-gesa.


"Bos gawat bos, nona Hanny dia..." Terhenti kata-katanya melihat ternyata Hanny ada disana. Tentu Hanny juga ikut panik namanya disebut.


"Anu.. itu bos.. ehmm" Vino jadi tidak berani berucap melihat Hanny disana menunggu ada masalah apa sampai Vino tergesa-gesa begitu.


"Bicara saja Vin." Arden tak sabar dan Vino menceritakan dengan sedikit ragu.


"Ini bos.. " Vino memberikan ponselnya. Ya ponsel yang dia ambil dari pacar anak buahnya yang baru diganti karena dilempar Arden bulan lalu. "kali ini dapat ponsel baru lagi itu bocah." Batin Vino.


"Apa ini vin!" Bentak Arden begitu emosinya sampai Hanny terlonjak kaget dan segera merampas ponsel itu. Sontak Hanny terkejut dan gemetar. Foto-foto itu yang berusaha dia lupakan beberapa tahun ini kembali muncul.


"Tidak... itu bukan.. tidak.." Ucapnya lirih sudah menangis.


Arden yang melihatnya pun tidak tega dan segera memeluk Hanny, tapi dia menolak dan melangkah mundur menghindar.


"Tidak! jangan! AAAHHH...." Hanny histeris dan melempar ponsel itu dan berteriak sekuatnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Arden yang panik segera menenangkannya. Hanny tetap menangis histeris meronta dan menghindari Arden.


"Tenang sayang. tenang. Tidak apa-apa Hanny. Ingat anak kita, jangan begini.." Arden tetap mencoba memeluknya namun entah tenaga dari mana Hanny dapat melepaskan pelukan Arden yang kuat itu.


"Kalian jahat.. kalian bohong. itu bukan aku... hu hu.. hu..." Hanny terus menangis dan akhirnya terjatuh tak sadarkan diri. Arden dan Vino panik kemudian segera turun menggunakan lift didalam rungan itu langsung membawanya ke RS, takut sesuatu terjadi pada kandungannya.


Sama halnya diruangan kantor Hanny, seluruh orang juga meributkan hal yang sama. Stella dari tadi menghubungi ponsel Hanny tapi tak ada yang menjawab. Ponsel Hanny tertinggal di kamar ruangan Arka yang tidak sempat diambil olehnya tadi.


Tak lama seorang pengawal gedung datang. "Nona Stella bisa bantu membereskan barang nona Hanny?" Tanya pengawal itu.


"Ada apa ya pak? Hanny dimana?" Tanya Stella khawatir.


"Nona Hanny tadi ditemukan tak sadarkan diri oleh salah satu OB diatas, sekarang sudah diantar pulang dan kami juga akan mengantarkan barangnya." Jelas pengawal itu dan segera Stella membantu membereskannya. Disana masih ricuh membahas foto Hanny dan yang paling bahagia adalah Yuli, sedangkan Stella dan Serin tampak bingung tak tau harus berkomentar apa karena mereka tidak mau berpikiran negatif dulu. Devan malah merasa kecewa, begitupun Jason.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2