Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 64 - Special Arlen (Bertemu Ben)


__ADS_3

Kelompok yang dari pasar telah pulang kerumah karena hari sudah sore, mereka merencanakan untuk makan malam dan berdiskusi dimana restoran yang enak sekitar sini.


"Arlen kemana ya?" Tanya Kirei yang tidak menemukan Arlen dimanapun. Tak lama tetangga mereka datang dan memberitahukan pesan ayahnya kalau Arlen dan Bintang sedang menuju ke jermal untuk bertemu Ben. Tak lama kemudian Jim datang ke rumah itu dengan wajah bingung melihat keramaian disana.


"Kirei.. kenapa ramai begini? Siapa mereka?" Tanya Jim saat Kirei sudah di depan pintu.


"Mereka keluarga Arlen Om Jim. Tapi kenapa om disini?  Arlen sedang ke jermal sekarang bersama Bintang diantar pak Mamat setengah jam yang lalu." Kata Kirei dan Jim menepuk dahinya.


"Oh iya.. om lupa, eh tapi kan seharusnya kita perrgi bersama." Kemudian Jim masuk sebentar untuk memasukkan ikan dan cumi yang diberikan Ben padanya.


"Loh.. Ben!" Pekik Jim saat melihat Arden sedang berdiri disamping jendela rumah menatap padanya.


"Ben?" Arden mengulang perkataan Jim.


"Kau siapa? kenapa mirip Ben?" Tanya Jim dan Kirei pun langsung ingat.


"Iyah... aku juga pikir siapa yang mirip kak Arden. Baru ingat ternyata uncle Ben." Ujar Kirei juga membenarkan. Arden semakin bingung.


"Mungkin kalian salah orang." Ujar Arden dan kemudian Cecil menghampiri karena mendengar ada orang lain yang baru datang dan ingin tau siapa itu.


"Tidak mungkin, aku ingat 10 tahun lalu wajah Ben seperti ini." Kata Jim lagi meyakinkan. Arden dan Cecil yang mendengarnya juga terheran.


"Sepuluh tahun lalu, apa maksudnya?" Tanya Arden lagi memastikan.


"Iya, ini wajah Ben 10 tahun lalu. Sebentar..." Jim lalu membuka ponselnya dan mencari-cari sesuatu dalam ponsel itu.


"Uncle Ben memang penuh janggut dan jambang di wajahnya tapi kalau dilihat sekilas memang mirip kak Arden, apalagi matanya juga sama, hijau." Jelas Kirei dan kini Cecil yang mulai panik.


"Mata hijau?" Pekik Cecil dan kemudian Jim berteriak lagi.


"Ini dia! Ini foto Ben beberapa tahun lalu dan ini fotonya bulan lalu waktu dia masih brewokan lebat." Jim memberikan ponselnya yang berisi foto Ben dan Cecil gemetar melihatnya.


"Blake!" Teriak Cecil kemudian memandang kearah Jim.


"Dimana dia? Dimana Blake?" Tanya Cecil sudah mulai menangis dan histeris, tentu membuat Jim terkejut.


"Blake? Dia Ben. Bukan Blake."


"Dia Blake, dia suamiku Blake, aku tidak akan salah mengenali suamiku!" Tangis Cecil dan sudah lemas hampir jatuh karena kakinya seakan tak bertulang, Arden langsung memeluk Cecil agar tidak terjatuh.


"Om dimana sekarang Ben ini?" Kini Arden yang bertanya tegas.


"Dia ada di jermalku."


"Antar aku kesana sekarang juga." Tegas Arden lagi dan Cecil sudah meronta-ronta ingin bertemu dengan Blake. Jim yang melihat itu pun hanya bisa mengangguk.


"Bunda ikut.. Arden." Pinta Cecil tetapi Arden tidak mengizinkan.


"Tidak bisa bunda, 2 jam naik kapal dan ini sudah hampir malam, udara laut sangat dingin." Tolak Arden tetapi Cecil tetap memaksa.


"Kalau bunda tidak ikut, bunda akan pergi sendiri, bunda akan lompat ke laut dan berenang kesana." Ancam Cecil, Arden berkali-kali membujuknya tetapi Cecil tidak perduli. Akhirnya mereka memutuskan pergi bersama.


"Hanny, sayang... kami pergi dulu." Hanny memakaikan jaket ke Arden dan juga ke Cecil.


"Vino jaga keluargaku, Jupi ikut kami." Titah Arden.


"Baik bos." Jawab Vino dan Jupi mengikuti mereka. Aileen yang mendengar semuanya hanya bisa diam tak bersuara, Hanny memeluknya dan menguatkannya.


"Aku juga ikut om..!" Teriak Kirei yang sudah dengan jaketnya dan akhirnya ikut dengan mereka.


Perjalanan 2 jam di udara laut malam yang dingin, Kirei terus memeluk Cecil yang sejak tadi tidak berhenti menangis dan juga sudah kedinginan. Sedangkan Jim masih belum dapat mencerna dengan baik kejadian yang baru saja dia alami. Sambil mengemudikan kapal dia sesekali melihat ke arah Arden yang sudah pasti, wajah itu mengingatkannya pada Ben yang diselamatkannya 10 tahun lalu, sangat mirip.


"Apakah Ben itu benar sangat mirip denganku?" Arden bertanya, memecahkan suara mesin kapal yang beradu pada ombak.


"Iya, sangat mirip waktu aku menemukannya 10 tahun lalu, dia hampir mati dan tersangkut di jala ikan kami waktu itu." Jawab Jim. Kemudian dia menceritakan pertemuannya dengan Ben, semua kisah didengar oleh Arden , Jupi dan cecil membuat Cecil semakin menangis.


"Blake pasti sangat kesepian. Dia sendirian di laut.." Isak Cecil terdengar lagi dan Kirei terus saja memeluknya dan sudah ikut menangis, dia tahu seperti apa kesepiannya uncle Ben.


Dijermal, Arlen dan Bintang telah sampai, Bintang telah naik duluan dan mencari Jim tapi kata anak buah Jim yang ada disana Jim sedang ke darat.


"Mungkin dia akan kembali beberapa jam lagi." Kata salah satu pekerja disana yang sudah akan pergi melaut.


"kalau uncle Ben?" Tanya Bintang lagi.


"Jangan mencari Ben, dia tidak akan keluar, kalau mau tunggu Jim saja yang memanggil Ben keluar nanti." Pekerja itu langsung berlalu pergi dengan kapalnya.


"Bagaimana? kita tunggu?" Tanya Bintang ke Arlen yang sudah naik ke papan lantai jermal itu.


"Kita tunggu saja, demi cinta." Jawab Arlen dan Bintang tertawa menggodanya.


Arlen melihat dan memperhatikan keadaan jermal yang ternyata sangat luas, tetapi sepanjang mata memandang hanya gelap, tidak ada apapun selain lampu kapal dari kejauhan dan bintang dilangit. Dia merebahkan tubuhnya dan memandang bintang diatasnya, memikirkan bagaimana seseorang bisa tinggal disana sekian tahun, dia yang baru 15 menit saja sudah bosan. Tak lama Bintang juga merebahkan tubuhnya melihat dirinya diatas.


"kau dari tadi memandangku.. aku jadi terharu." Ujar Bintang dan Arlen bingung.


"Aku sedang melihat binta..." Arlen menghentikan ucapannya.


"Brengsek!" Arlen menendang kaki Bintang yang sudah terkekeh geli.

__ADS_1


"Kau sungguh menjijikkan Bin. Hiii~" geli Arlen lagi tetapi masih melihat bintang diatasnya.


"Langit disini sangat indah tetapi bagaimana orang bisa tahan tinggal disini sendirian." Arlen masih memikirkan hal yang sama. Baru beberapa menit mereka akhirnya tertidur.


Ben sebenarnya mendengar pembicaran mereka, dia sedang merebahkan dirinya di hammock buatannya sambil mengunyah sotong kering yang telah dijemur dan dibakar. "Mereka sepertinya pemuda yang baik." Ujar Ben pelan lalu menikmati tehnya tanpa mau tau lagi tentang hal lain.


Setelah 1 jam kapal Jim sudah sampai, "Jupi, cari Bintang dan Arlen dulu." Perintah Arden dan Jupi langsung naik dan memanggil Bintang.


"Bin, Bintang, Arlen.." Panggil Jupi yang telah melihat mereka tertidur. Dan Bintang yang sudah terbangun akhirnya menyaut, "Iya ada apa?"


"Kalian sudah bertemu Ben?" Tanya Jupi dan mereka malah bingung.


"Loh kenapa kalian kemari?" Tanya Arlen yang melihat kapal Jim disana, Arden sedang menolong Cecil dan Kirei untuk naik dan disusul oleh Jim.


"Bunda? Kirei?" Arlen sangat bingung. Jim langsung berteriak memanggil Ben.


"Ben!" teriak Jim kearah dalam ruang jermal dan Ben seperti biasa tetap santai dan cuek jika ada orang yang datang.


"Ben, keluarlah.. " Jim sudah ada didalam dan menghidupkan lampu.


"Ck.. kau mengganggu saja." Kesal Ben melihat Jim sudah mengganggu waktu santainya.


"Blake... Blake.." Panggil Cecil. Ben yang mendengar suara itu langsung terdiam. Nama itu, yang sudah 10 tahun dilupakannya dan suara itu yang sudah sangat lama dirindukannya.


"Kau dengar ada yang memanggil?" Tanya Jim.


"Kau dengar juga? Bukankah itu halusinasiku?" Tanya Ben dan kemudian Cecil sudah berlari masuk dan ada di hadapan Ben.


"Blake.." Cecil sudah berjarak hanya 2 meter dari Ben.


"Cecil... Cecilia..." Ujar Ben yang masih tidak percaya, Cecil sangat nyata, bahkan sudah berubah lebih tua dari khayalannya.


"Blake..." Cecil berlari dan memeluk Ben dengan erat, Ben hanya mematung, dia bingung.


"Benarkah ini Cecil? Kau nyata?" Cecil menangis dan mengeratkan pelukannya. Pelukan yang hangat dirasakan oleh Ben.


"Kau nyata? Cecilia ku?" Tanya Ben lagi dan Cecil melonggarkan pelukannya lalu menatap mata Ben, Cecil mengelus wajah Ben yang sudah tidak mulus lagi karena jenggotnya. Ben merasakan elusan itu dan memejamkan matanya.


"Kau masih hidup Cecil.." Lirihnya dan mulai menangis.


"Iya Blake aku masih hidup, aku disini." Cecil memeluknya lagi, dan kali ini Ben membalas pelukannya. Dia sudah yakin kalau ini nyata adalah Cecil, cecilianya.


"Ayah.." Arden baru masuk menghampiri setelah menjelaskan ke Arlen segalanya diluar, mereka masuk kedalam. "Ayah.." Panggil Arlen.


Ben melepaskan pelukannya dari Cecil untuk melihat arah suara itu, "Arden? Arlen?" Panggil Ben tak percaya. Anak-anaknya ada didepannya juga.


"Kalian semua masih hidup dan baik-baik saja.. oh Tuhan.." Ucap Ben lagi sudah tak tau berapa kali dia mengucap rasa syukurnya sambil menatap ke keluarganya yang sudah kembali.


"Arden, kau sudah dewasa nak... kau sangat mirip denganku waktu muda." Ben mengeratkan kedua tangannya diwajah Arden dan menempelkan keningnya di kening Arden. Arden mengangguk sambil menangis haru dan sangat merindukan ayahnya.


"Arlen... anak kesayanganku, kau sangat tampan nak.. ayah menyayangimu." Ben melakukan hal yang sama pada Arlen yang sejak tadi menangis, ayahnya yang paling dia sayangi ternyata masih hidup dan dia sedih mengingat bagaimana ayahnya sendirian disini dan kesepian.


Kirei dan Jupi yang melihat itu pun ikut menangis haru, akhirnya keluarga yang terpisah disatukan kembali.


"Sudah.. ayo kita duduk dulu." Jim sudah menggeser kursi dan meja panjang ke arah tengah untuk semuanya bisa duduk.


Semua sudah duduk berbaris rapi di meja panjang itu, Cecil duduk dipangkuan Ben, mengeratkan lengannya melingkar di pinggang Ben dan kepalanya disandarkan ke dada Ben, tidak mau dilepas.


"Kita kembali besok pagi saja, diluar sedang hujan dan sangat berbahaya jika kembali sekarang." Ujar Jim setelah melihat keadaan diluar dan telah menyuruh Pak mamat memberi tau dengan radio ke darat bahwa mereka baik-baik saja dan akan kembali besok.


"Jadi bisa kalian jelaskan, ada apa ini? Aku masih bingung." Tanya Jim masih mengedarkan pandangannya ke mereka satu per satu. Arden yang menjelaskan intinya secara garis besar agar tidak terlalu panjang. Jim mendesah... dia masih tak percaya.


"Waktu itu aku tanya namamu kenapa kau bilang Ben?" Tanya Jim mengingat pertama mereka bertemu setelah Ben sadar.


"Aku bilang Blake dan kau yang bilang Ben, ya sudah aku putuskan Ben saja." Jawab Ben yang membuat Jim kesal.


"Lalu kenapa kau tidak sadar waktu lihat dia yang mirip dengan Ben?" Tanya Jim melihat ke arah Kirei dan menunjuk ke arah Arden.


"Aku merasa kak Arden mirip seseorang tapi tidak teringat dengan uncle Ben. Aku cuma pernah bertemu sekali dan waktu itu uncle pakai kacamata dan berjanggut lumayan lebat. Jadi aku tidak sadar." jelas Kirei.


"benar, Kirei beberapa kali membaritahuku kalau Arden mirip seseorang dan dia tidak ingat siapa." Timpal Arlen.


"Ah.. ini masih membingungkan." Keluh Jim


"Terus kenapa kau bilang padaku kalau pemuda bos nya Kirei yang datang bernama Bintang dan Alan?" Ben balik bertanya.


"Aku kan sudah bilang namanya Bintang dan 1 lagi aku lupa karena namanya susah diingat." Jawab Jim.


"Kalau kau bilang Arlen aku pasti ingat nama putraku." Kesal Ben.


"Lalu kalian berdua kenapa datang sendiri kesini?" Tanya Jim lagi menunjuk ke Arlen dan Bintang.


"Ah iya, aku jadi lupa." Arlen berdecak dan bingung mau bagaimana menjelaskannya.


"Kirei pasti akan jadi istrimu." Arden yang menjawab.


"Hah? maksudnya?" Jim lagi dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Jadi aku telah melamar Kirei tapi syarat darinya adalah aku harus minta izin pada ayah Gunawan dan uncle Ben, ayah sudah merestui makanya aku datang mau menenui uncle Ben untuk minta restu juga." Arlen menjelaskan lalu dia tersenyum karena menyadari sesuatu.


"Kau pasti jadi istriku." Arlen memastikan lagi ucapannya dan memandang ke ayahnya.


"kenapa?" Tanya Kirei polos.


"Tentu saja karena uncle itu ayahku dan aku anak kesayangannya, ayah pasti merestui jika aku yang menikah denganmu. Iya kan ayah?" Jelas Arlen dan bertanya pada Ben yang duduk di depannya.


"hehehehe..." Ben terkekeh, dia lucu mengingat semua yang terjadi.


"Oh ya ampun Ben, ternyata selama ini kau telah menjaga calon menantumu sendiri. Luar biasa." Jim baru paham dan menaikkan jempolnya.


"Iya juga ya..." Ujar Kirei yang juga baru sadar, dan Ben tertawa bahagia melihatnya.


"Tentu saja nak, kau dan Kirei pasangan yang serasi." Jawab Ben tersenyum.


"Bagaimana denganmu sayang?" Tanya Ben pada Cecil yang masih menempel erat padanya.


"Iya, aku juga setuju." Jawabnya melihat ke Kirei dan tersenyum.


"Wajah Arlen memang mirip denganmu tapi sifatnya mirip denganku makanya dia bisa jatuh cinta pada Kirei, Kirei mirip denganmu. Polos, baik dan sedikit keras kepala, kalau sudah kenal akan jadi manja. Benar kan?" Ben menatap Arlen lagi mencari kebenaran. Memang dia hanya sekali bertemu dengan Kirei, tetapi dari lama dia beberapa kali melihat Kirei dan Sinta di dermaga dan dari cerita Gunawan padanya.


"Benar!" Tegas Arlen membuat yang lain hanya tertawa mendengarnya.


"Lagi pula aku sangat ingin punya anak perempuan, makanya melihat Kirei mengingatkanku pada dirimu, seandainya punya anak perempuan dia pasti mirip dengan Kirei." Jelas Ben lagi.


"Ayah punya anak perempuan." Ucap Arden dan Arlen bersamaan.


"Hah?" Ben menatap kedua putranya bergantian dan lalu melihat Cecil, dia mngangguk "Iya kita punya anak perempuan." Ujar Cecil.


"Kok bisa?" Tanya Ben heran.


"Ayah tidak ingat? Hari itu ayah pulang dan bermalam, sudah menyebarkan benih lalu menghilang." jawab Arden, sebenarnya dia juga tidak ingat kejadian itu tetapi sudah dipastikan kalau memang benar Aileen adiknya.


"Iya juga, bisa jadi." Ujar Ben.


"Namanya Aileen." ambah Arlen.


"Aileen, kau masih ingat nama itu sayang?" Tanya Ben dan Cecil mengangguk. Ben lalu mengeratkan pelukannya lagi dan mengucapkan terima kasih telah memberikannya anak perempuan.


"Lalu kapan kalian menikah? Ayah ingin cucu." Tanya Ben lagi melihat ke Arlen dan Kirei.


"Segera ayah, tapi kalau cucu ayah sudah punya." Jawab Arlen.


"Iya, ayah sudah punya 4 cucu." Tambah Arden.


"Ha? 4 cucu?" Ben tak percaya, anak-anaknya baru umur 24 tahun jalan 25 kalau tidak salah, kenapa bisa 4 cucu.


"Arden telah menikah dan punya anak kembar yang pertama kembar laki-laki Ansel dan Anson sudah 2 tahun jalan 3 tahun, lalu lahir lagi kembar laki-laki dan perempuan Arion dan Arianna, umurnya masih 4 bulan." Kali ini cecil yang menjawab.


"Wah... Jim kau dengar itu? Aku sudah punya 4 cucu Jim, EMPAT!" Ben menunjukkan angka 4 ditanganya yang membuat Jim kesal karena cucunya baru 1 yang lahir beberapa bulan lalu.


"Yah kau boleh sombong Ben, sekalian saja menyombongkan istrimu yang ternyata sangat cantik. Pantas saja kau tak tertarik dengan Rose yang montok itu." Jim kesal lagi karena Ben mulai menyombongkan cucunya.


"Siapa Rose?" Tanya Cecil tidak suka mendengar nama wanita lain.


"Hem.. tidak tau, tidak kenal." Jawab Ben.


"Ck.. Rose pemilik bar disana yang sangat tergila-gila padamu." Tunjuk Jim sengaja memancing kemarahan Cecil yang dia terka sedikit pencemburu.


"Aku cuma sekali bertemu dengannya itu juga karena mencarimu." Jelas Ben agar Cecil tidak termakan omongan Jim yang memancingnya. Mereka akhirnya terdiam, hari sudah semakin larut dan hujan sudah berhenti.


"Ada yang lapar?" Tanya Jim memecahkan kesunyian.


"Aku lapar." Jawab hampir semua orang disana.


"Iya kita belum makan malam dan sekarang sudah jam 11 malam." Ujar Jupi yang sejak tadi diam.


"Aduh... aku lupa!!" Pekik Bintang yang segera lari kedepan mengambil keranjang buah dan kotak berisi seekor ayam bakar.


"Ini buah dan ayam bakar untuk uncle Ben." Katanya dan Arlen tertawa. "Kau ini.."


"Maaf, tadi lupa karena nonton drama keluarga." Ujar Bintang sambil terkekeh.


"Kita pindah kedepan saja, aku akan ambil ikan dan cumi." Ben memindahkan Cecil ke bangku untuk dapat bergerak.


"Sebentar ya sayang.. aku akan masak makan malam untuk kalian." Ben mengecup kening Cecil dan beranjak keluar, tapi Cecil mengikutinya, dia tidak mau menghilangkan pandangan nya dari Ben. Semua juga ikut keluar mengikuti Cecil.


"Blake!" Pekik Cecil karena Ben sudah menceburkan diri ke laut malam hanya dengan senter.


"Jangan khawatir, dia sudah biasa melakukan itu." Jim menenangkan Cecil yang terlihat cemas.


Arden dan Arlen juga tampak risau menunggu ayah mereka naik ke permukaan yang hanya membawa senter kedalam air. Tiba-tiba seekor ikan ukuran lumayan besar terlempar dari dalam air, lalu tak lama seekor lagi, akhirnya total ada 5 ekor ikan yang dilempar keluar. Ben naik sesekali untuk mengambil napas, lalu masuk lagi sedikit lama kemudian dia keluar dengan kantung jaring berisi cumi-cumi. Cecil tersenyum bahagia melihat Ben keluar dari air.


"Tidak apa-apa sayang, aku sudah 10 tahun hidup begini. Kau mau makan apa saja yang ada dilaut besok aku ambilkan." Ben mengelus pipi Cecil dengan tangannya yang basah dan terasa dingin. Ben kembali kedalam dan mengganti bajunya lalu keluar lagi untuk memasak nasi dengan cara lama karena disana hanya ada genset untuk lampu.


Kirei membantu membersihkan ikan, Cecil membersihkan cumi dan yang lain membuat api untuk bakar ikan. Arden megupas beberapa buah dan menyuapi Ben dan juga Cecil agar mereka tidak masuk angin. Setidaknya ada makanan yang masuk ke perut mereka.

__ADS_1


TBC ~


__ADS_2