
Arden sejak tadi mondar mandir di depan ruangan yang telah disulap olehnya sebagai ruangan bersalin lengkap dengan alat-alat operasi. Satu ruangan operasi dari RS milik 'Blake' telah dipindahkan ke rumah ini untuk Hanny yang sedang berjuang melahirkan 2 jagoannya. Sudah 30 menit Hanny didalam dan belum ada tanda-tanda apapun.
"Tenang Arden.. duduklah, mereka tida apa-apa." Alex menenangkan Arden yang sedari tadi tidak bisa diam karena cemas.
"Untung bos tidak masuk tadi, diluar saja sudah panik apalagi masuk kedalam. Bisa pingsan bos." Celetuk Vino membuat Arden meliriknya kesal.
"Oooooeeekkkkkk "
"Anakku.." Pekik Arden terkejut tetapi dengan wajah tersenyum bahagia.
"Oooeeekkk ooeekkkkk..."
"1 lagi Vin..." Teriak Arden lagi.
Aden dan Alex saling berpelukan, Vino dan Jupi juga saling berpelukan.
"Aku jadi daddy!" Teriak Arden lagi masih mendengar duo jagoan itu masih menangis sahut menyaut dengan kencang.
Tak lama kemudian 1 dokter sudah keluar dan memberitahukan kalau operasinya lancar, ibu dan dua bayinya sehat.
"Boleh masuk kan dok?" Tanya Arden
"Sebentar lagi ya, si kembar sedang dibersihkan." Ujar sang dokter lalu masuk keruangan itu lagi. Arden dan Alex masih saling memberikan senyum bahagia untuk semua orang yang ada disana. Tak lama dokter pun memperbolehkan mereka masuk.
"Sayang... terima kasih." Ujar Arden sambil mengecup Hanny yang tengah terbaring diranjang dan kemudian memeluknya sejenak lalu mencari anak-anaknya yang masih di gendong oleh 2 suster. Begitupun Alex yang begitu bahagia telah menjadi seorang Opa.
"Anak-anak daddy." Kata Arden melihat si kembar yang masih memejamkan mata. Suster lalu memberikan salah satu bayi ke atas dada Hanny untuk di beri asi pertama.
"Ehem...!" Alex berdehem tanda memperingatkan kalau Arden tidak boleh melihatnya. Arden mendengus kesal dan terpaksa keluar dari sana membiarkan Hanny diurus oleh suster saja.
Setelah semuanya selesai, Arden dan Alex kembali masuk untuk melihat si kembar. "Sayang... kenapa mereka tidur terus?" Tanya Arden melihat anak-anaknya masih tertidur.
"Anak bayi memang sering tidur kak.. nanti juga bangun." Jawab Hanny tersenyum melihat Arden.
"Sudah siapkan nama mereka Ar?" Tanya Alex dan Arden mengangguk.
"Yang ini kakak, namanya Ansel B Tenggara, adik namanya Anson B Tenggara." Kata Arden
"B? Artinya?" Tanya Hanny. "Masih Rahasia." Ucap Arden.
"Mereka begitu mirip kak, untung sudah diberi tanda oleh suster tadi. Anak-anakku yang tampan dan kenapa mereka mirip kakak? Tidak ada wajahku pada mereka?" Tanya Hanny sedikit cemberut.
"Karena kamu sangat mencintai kakak kan?" Arden terkekeh.
"Benar, ini sangat mirip Arden. Tak akan bisa di claim orang lain kalau begini." Timpal Alex.
"Anak-anak daddy sangat tampan." Arden yang gemas langsung mencium pipi kedua putranya.
"Kita panggil mereka AnsTwins." Ucap Hanny.
Tak lama, Vino dan Jupi masuk dan memberi selamat pada mereka, "Wah... ada bos junior." Pekik Vino bahagia.
"Benar, ini sih Arden versi mini." Timpal Jupi kaget melihat kemiripan AnsTwins dan Arden. Setelah berbincang sebentar disana mereka sepakat keluar karena Hanny ingin istirahat. Arden selalu dengan cekatan membantu Hanny jika dia butuh sesuatu, bahkan 2 suster disana diusirnya. Beberapa jam bersama AnsTwins membuat Arden gemas dan kembali mencium pipi gembul putranya dan menoel-noel pipi mereka bergantian.
"Kak.. jangan diganggu, nanti nangis." Omel Hanny melihat kejahilan Arden.
"Biar saja bangun, kakak mau main sama mereka." Jawab Arden masih menoel pipi AnsTwins. Tak lama benar saja yang 1 nangis yang 1 ikut nangis membuat Hanny kesal dan memukul lengan Arden.
__ADS_1
"Tuh kan, jadi nangis dua-duanya." Hanny menggendong Ansel dan Arden menggendong Anson dan mendiamkan keduanya. AnTwins pun akhirnya diam dan membuka mata mereka perlahan.
"Kak..!" Pekik Hanny kaget, "Lihat mata mereka warnanya hijau." Ujar Hanny bahagia dan Arden baru memperhatikan.
"Benar.. mata yang cantik." Ucap Arden seperti bercermin.
"Kak... hiks hiks..." Hanny malah menangis membuat Arden panik dan langsung meletakkan kembali Anson didalam box bayi mereka.
"kenapa sayang? Ada yang sakit?" Tanya Arden khawatir.
"Tidak... aku bahagia. Lihat mereka sangat mirip kakak sampai warna matanya juga sama." Jawab Hanny masih menangis. Arden kemudian mengambil Ansel dari dekapan Hanny dan mengembalikannya ke box juga.
"Dasar... kakak kira ada yang sakit. Mereka anak-anakku jadi harus mirip denganku." Ujar Arden bangga. Arden memeluk Hanny mengecup puncak kepalanya berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih telah memberikan anak kembar yang luar biasa.
"Sekarang kamu harus istirahat dan hati-hati saat bergerak ya, jangan sampai lukanya terbuka." Kata Arden mengingatkan karena Hanny dari tadi sudah ingin bergerak dan tak bisa diam. Arden sangat ingin tidur bersama Hanny dan AnsTwins tapi seperti biasa, Alex melarangnya.
Berita kelahiran AnsTwins juga sudah sampai ditelinga Arka dan Eve, tetapi mereka dilarang keras untuk datang berkunjung takut mereka dibuntuti karena Arka saat ini sedang banyak diikuti oleh wartawan akibat pemberitaan kalau dia sudah menikah. Arden hanya mengirimkan foto AnsTwins ke Arka.
"Sekarang ada 2 Arden lagi. Kenapa mereka sangat mirip denganmu sampai bola matanya juga hijau." [Arka]
"Hahahahaha tentu dong, anak-anakku harus mirip denganku dan juga ketampanan mereka sama denganku kan." [Arden]
"Tunggu baby boy ku lauching juga ya Ar, tak lama lagi cuma beda 2 bulan." [Arka]
"Baik Ka, aku tunggu biar main sama-sama AnsTwins nanti." [Arden]
Dengan raut wajah bahagia Arden menemui Alex dan meminta pendapat apa yang akan dilakukan nanti jika kembali ke kota J, pasalnya Alex akan tetap tinggal di apartemen yang dia berikan dan Hanny mungkin sulit kembali ke keluarga Salim melihat wajah AnsTwins sangat mirip dengannya apalagi mata hijau mereka tidak umum. Alex menanyakan terlebih dahulu hasil penyelidikan Arden, namun hasilnya belum banyak karena bukan takut kepada Johan melainkan orang yang mendukungnya yaitu mafia 'Skull' apalagi dengan lahirnya AnsTwins mereka mendapat kelemahan dari Arden.
Arden telah menceritakan pada Alex tentang siapa 'Blake' agar Alex dapat memahami situasinya, memang belum diketahui bahwa Arden adalah 'Blake' karena menutup dirinya rapat dari orang lain, tapi AnsTwins dengan mata hijau mereka pasti membuat orang semakin curiga. Mereka masih bayi dan belum bisa menyamarkan warna mata mereka.
"Kalau begitu tunggu mereka lebih besar sedikit, mungkin 1 tahun. Kita sudah bisa memberikan mereka penyamaran dengan fashion anak-anak yang memakai kacamata hitam yang lucu." Ujar Alex memberi saran sambil memperlihatkan foto anak-anak lucu di sosial media yang dia cari.
~Sebulan telah berlalu~
Kini Arden sudah kembali ke kota J sendiri karena Hanny dan Alex masih harus bersembunyi sampai penyelidikan selesai agar tidak ada yang mengganggu kehidupan mereka. Pengawalan diperketat di sekitar rumah tengah hutan itu oleh Anggota 'Blake' dengan menyamar sebagi warga desa disana. Darren dan Joshua juga sudah diberitahu kalau penerus "Blake' telah lahir dan mereka sangat bahagia, apalagi melihat AnsTwins sangat mirip dengan Arden yang juga sangat mirip dengan Blake ayahnya. Tentu ini bagai anugerah bahwa 'Blake' telah hidup kembali. Mereka juga masih merahasiakan AnsTwins dan hanya orang yang paling dipercayalah yang mengetahui ini. Darren, Joshua, Mia dan Leticia, anggota veteran 'Blake' paling setia. Mereka sudah dianggap keluarga oleh Arden dari pihak ayah, sebagai Om dan tante. Mia bahkan merancang khusus 2 kalung untuk AnsTwins dan 1 untuk Hanny sebagai hadiah, kalung khusus seperti yang di pakai oleh Arden dan Arlen. Tapi kalung kali ini terdapat GPS untuk memantau mereka.
"Akhirnya kau pulang juga!" bentak Oma Susi yang melihat Arden sedang ngobrol dengan Arlen di kamarnya. Oma masuk ke kamar Arlen dan memberondong Arden yang sedang santai tiduran dengan pertanyaan seputar Hanny.
"Dimana Hanny? Apa sudah melahirkan? Keadaannya bagaimana? Apa kau tau Si Tony sudah sakit-sakitan memikirkan Hanny dan cicitnya." Tanya Oma Susi yang telah berdiri tepat di bawah ranjang itu dengan tatapan kesal.
"Oma, bisa tidak tanya satu persatu?" Celetuk Arden makin membuat Oma Susi berang.
"Kau telah membawa lari istri orang Arden! Sekarang dimana Hanny dan anaknya." Bentaknya lagi.
"Mereka aman dan sehat." Jawab Arden santai.
"Segera bawa mereka pulang." Titah Oma namun Arden hanya diam tak menjawab ataupun membantah.
"Setidaknya biarkan mereka bercerai dulu baru kau bawa Hanny, kalau seperti ini kau salah Arden." Kini Oma Susi mulai melembutkan nada bicaranya karena melihat Arden yang masih santai.
"Nanti saja oma, mereka baik-baik saja dengan om Alex dan bukan Arden yang ingin mereka disana. Om Alex juga tidak mau Hanny kembali ke keluarga Salim." Jelas Arden membuat kening Oma Susi mengkerut.
"Tidak mungkin, Alex dekat dengan keluarga Salim dan sudah memberikannya banyak hal bukan? Lagi pula Hanny pasti akan dijaga lebih ketat oleh kakeknya." Ujar Oma.
"Oma belum tau, kalau selama ini om Alex ada dipenjara? Arden yang telah menyelamatkannya dari sana karena Adam dan Johan menjebaknya dan membuat Hanny sebagai tawanan di rumah itu." Arden sudah tidak sabar karena omanya selalu membela keluarga Salim.
"Tidak mungkin, Tony tidak bilang apapun." Sanggah Oma.
__ADS_1
"Tentu saja, karena kakek tua itu tidak tau apapun. Dia hanya bisa mengancam Johan dengan warisannya. Tapi untung ada warisan itu jika tidak, mungkin Hanny semakin menderita." Jelas Arden lagi. Oma Susi mendengus pelan, pusing memikirkan keluarga Salim yang semakin aneh.
"Sudahlah, oma jangan memikirkan hal itu. Yang penting Hanny dan anaknya baik, sehat dan bahagia. Sebaiknya oma mendatangi alamat ini bantu aku untuk membujuk mereka. Oma tau kan cerita keluarga mereka?" Oma melihat sebuah berkas yang diserahkan Arden kemudian membelalakkan matanya melihat dengan lebih jelas yang tertulis disana.
"Ini...." Kata Oma Susi lirih.
"Oma paham kan? Sekarang oma bantu kakek tua itu dengan hal ini saja. Baginya itu sudah cukup." Ujar Arden lalu kembali merebahkan badannya di ranjang milik Arlen. Oma pun keluar dari sana dan kembali ke kamarnya merenungkan hal yang diminta oleh Arden.
"Ar, kita sambung yang tadi. Jadi mana foto keponakanku?" Tagih Arlen karena pembicaraan mereka sempat terhenti.
"Ini.." Arden memberikan ponselnya.
"Wah... ini mirip sekali denganmu." Arlen tersenyum bahagia melihat foto AnsTwins yang menggemaskan.
"Mirip ayah juga, seperti ayah telah lahir kembali." Lirih Arlen mengelus foto AnsTwins.
"Nama mereka?"
"Yang ini kakaknya Ansel B Tenggara, yang ini adik Anson B Tenggara." Jawab Arden sambil menunjuk kedua anaknya.
"Hebat..." Ujar Arlen penuh kebanggaan melihat saudara kembarnya.
"Ahh aku sangat merindukan mereka."
"Belum satu hari kau disini Ar."
"Tapi aku akan kehilangan kelucuan mereka beberapa waktu kedepan."
"Sabar lah.. cepat selesaikan masalahmu lalu cepat nikahi Hanny."
"Tentu."
"Lalu bagaimana dengan kesehatanmu? Apa sudah ada kabar dari dokter yang kau cari?" Arden bangun dan duduk untuk melihat kaki Arlen yang sedang rebahan itu.
"Belum ada, Bintang masih mencarinya." Jawabnya pelan.
"Bintang masih baru, nanti akan kuberitau ke Jupi untuk membantunya." Arden kembali tidur dan memandang langit-langit kamar.
"Tidak perlu, santai saja. Aku juga sudah mulai terapi jalan." Arlen lalu bangun dan mencoba berdiri, tetapi terjatuh lalu mencoba lagi. Arden yang khawatir pun segera bangun untuk menolong namun Arlen menolak.
"Lihat, sudah bisa berdiri." Ujar Arlen dengan senyumnya. Masih berdiri dengan lututnya yang sedikit bergetar.
"Aku bangga padamu." Ucap Arden dan dibalas senyuman oleh Arlen.
Arlen sudah mulai melatih kakinya untuk berdiri dan melangkah, badan yang dulu kurus kering sekarang mulai berisi, Oma Susi selalu memberinya vitamin dan makanan bergizi lainnya. Arlen juga mulai olahraga ringan untuk tubuh bagian atasnya. Ketampanan di wajahnya pun sudah mulai kembali. Arlen memiliki wajah Cecilia versi pria blasteran. Wajah bule campur asia dengan kulit putih bercahaya, rambut hitam, hidung mancung dan mata kecil dan tajam, mirip Cecilia yang cantik tetapi dia tampan dan manis. Sungguh berbeda dengan Arden yang 99% mirip blake wajah bule dengan rahang tegas yang terlihat tampan dan sexy.
"Wajah tampanmu kembali Len." Goda Arden padanya.
"Hahahah... aku tetap kalah darimu." Jawabnya.
"Jangan sampai ayah mendengarnya, dia akan marah. Kau kan kesayangan ayah." Ujar Arden lagi mengenang sang ayah dan bunda.
"Iya aku kesayangan ayah karena mirip bunda dan kau kesayangan bunda karena mirip ayah. Sangat adil bukan?" Timpal Arlen dan akhirnya mereka tertawa bersama. Mereka kembar yang berbeda tetapi 1 hal yang sama, mereka sama-sama tampan dalam versi masing-masing.
"Sering-seringlah ke kantor Arka, kau juga membutuhkan teman. Mereka teman yang baik." Ujar Arden yang paham bahwa Arlen tidak mempunyai teman selama ini.
"Iya nanti aku akan kesana mengganggu mereka." Arlen terkekeh.
__ADS_1
TBC~