Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 59 - Special Arlen (Ciuman Pertama)


__ADS_3

Seperti yang di katakan Arlen, Kirei sudah kerja menjadi staff admin untuk semua cafe yang dibuka oleh Arlen, Twins cafe yang dekat sekolah Aileen, Ans Cafe di Mall dan BGF Cafe di dekat kampusnya dan rencananya akan membuka 1 restoran seafood tetapi masih belum menemukan pemasok ikan yang sesuai kualitas Arlen.


Sudah 3 hari ini Kirei berada diruangan yang sama dengan Arlen, belajar pembukuan dan lainnya. Arden dan Bintang dengan sabar mengajari Kirei yang memang pintar sehingga dengan cepat dia dapat menguasai semuanya. Arlen juga memberikan sebuah laptop agar Kirei dapat menggunakannya untuk kerja dan kuliahnya. Hari ini Arlen dan Kirei hanya berdua di kantor, Bintang masih belum datang untuk bergabung. Seperti biasanya Kirei akan menanyakan sesuatu yang dia tidak paham dan Arlen akan ke mejanya untuk mengajari.


"Ini kamu masukan saja ke stock disini, sudah ada rumusnya dan tinggal pindakan data ke sini." Ujar Arlen dan Kirei mengangguk mengerti lalu menanyakan lagi stock bahan lainnya yang masih kurang lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat Arlen sekilas, tetapi mereka malah mematung dan saling menatap. Wajah mereka tidak sengaja menjadi begitu dekat.


cup


Arlen tak kuasa menahannya, dia mengecup bibir Kirei sekilas, Kirei tampak terkejut tetapi sama sekali tidak bergerak, dia membatu masih tetap menatap Arlen.


cup...


Kembali Arlen mengecupnya dan kali ini sedikit lebih lama menjadi ciuman yang lembut, lalu melepaskan ciuman itu. "Maaf, aku tak bisa menahannya lagi." Ujar Arlen kemudian tangannya menahan rahang dan tengkuk Kirei agar tidak bergerak, Arlen menciumnya lagi dan lagi. Kirei masih tak bergerak, dia tidak tau bagaimana harus bersikap, ini ciuman pertamanya.


"Kirei..." Panggil Arlen lembut saat telah melepaskan ciumannya. Kirei yang sudah tersadar hanya bisa tertunduk malu, wajahnya bersemu merah tidak tau harus berbuat apa.


"Kirei, cantik..." Panggil Arlen lagi dan mengangkat wajah Kirei untuk kembali memandangnya.


"Aku menyukaimu Kirei, sejak kau datang pertama kali masuk ke ruangan ini." Arlen akhirnya mengakui perasaan padanya."Aku mencintamu." Kali ini Arlen mengecup kening Kirei. "Apa kau marah?"


Kirei menggeleng dan kembali menunduk, sebenarnya jantung Kirei berdegup kencang dan hampir tak bisa bernapas apalagi wajah Arlen yang begitu mempesona sangat dekat dengannya.


Arlen berjongkok di depan Kirei dan menggenggam tangannya, "Apa kau menyukaiku?" Tanya Arlen dan Kirei mengangguk kemudian Arlen tersenyum. "Kau mau jadi kekasihku?" Tanyanya lagi, tetapi Kirei tidak menjawabnya. Dia diam dan takut.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya anak nelayan miskin dari kampung dan tidak pantas dengan bapak." Jawab Kirei yang membuat Arlen sangat sakit.


"Siapa bilang tidak pantas? Akulah yang menentukan siapa yang pantas dan tidak. Kau lebih dari pantas Kirei." Arlen kemudian membelai lembut wajah gadis cantik itu. Yang Arlen tak tau, selama Kirei bekerja disana sudah beberapa kali mereka jalan bersama ke kampus. Sudah tak terhitung jumlahnya cacian dan makian yang diterima Kirei karena gadis-gadis lain di kampus cemburu padanya. Bahkan dia pernah ditampar oleh salah satu senior di kampusnya karena hari itu Arlen duduk bersamanya di kelas pas mata kuliah mereka sama. Tapi dia simpan sendiri, dia tidak mau Arlen mengetahuinya dan malah akan membuat mereka menjauh. Lebih baik begini saja, dia masih bisa melihat Arlen dengan dekat.


"Banyak gadis diluar sana yang lebih pantas." Sambung Kirei lagi dengan suara lirih.


"Kirei.. lihat aku, tatap mataku." Kirei menatap mata Arlen, hatinya terasa hangat ketika menatap mata itu.


"Kau membenciku?" Kirei menggeleng cepat.


"kau menyukaiku tidak?" Kirei mengangguk pelan.


"Kalau begitu, tetap disisiku aku tidak akan memaksamu Kirei, yang penting kau bersamaku, mengerti?" Kirei mengangguk lagi dan Arlen tersenyum, membelai lembut pipinya dan mengecup punggung tangan Kirei yang lembut.

__ADS_1


+++++++++++++++++


Sore ini Kirei sudah di kelas untuk menunggu dosen, mahasiswa yang hadir juga masih sedikit karena besok adalah hari sabtu sehingga banyak yang bolos. Tiba-tiba pesan masuk di ponsel mereka mengatakan kelas hari ini dibatalkan dan akan diganti hari Rabu malam. Kirei berjalan keluar kelas namun sudah dicegat oleh 3 kakak seniornya.


Soraya, anak seorang direktur perusahaan farmasi terkenal, menyukai Nathan yang kemarin baru saja mendekati Kirei namun ditolak olehnya. Cantika, anak dari artis terkenal, sangat menyukai Arlen, yang terakhir Githa, putri pemilik brand susu terkenal sering mengaku kalau dia adalah tunangan Arlen karena ibunya dekat dengan Oma Susi. Mereka bertiga sering mengganggu Kirei di kampus dan yang menamparnya waktu itu adalah Githa. Kali ini Kirei dipaksa untuk mengikuti mereka ke toilet yang sudah sangat sepi karena kelas sore berakhir cepat. Rambut Kirei ditarik oleh Cantika dan kakinya diinjak oleh Soraya. Mereka menyiksanya karena tadi Arlen jalan masuk bersamanya di gerbang kampus.


"Maaf kak, tadi tidak sengaja karena Pak Arlen ada kelas sore juga." Lirih Kirei setelah mereka melepaskannya.


"Sekali lagi berani dekat dengan Arlen, kau akan rasakan yang lebih sakit dari ini." Bentak Ghita lalu sekali lagi dia menendang kaki Kirei, dia mengaduh kesakitan dan terduduk mengelus kakinya.


Kirei menangis terduduk menahan sakit di sekujur tubuhnya, "Apakah aku begitu tak pantas berada disamping pak Arlen?" Batinnya dan perlahan berdiri dan keluar dari toilet. Sudah sepi sore itu, dia menutuskan untuk segera pulang daripada nanti bertemu dengan kakak kelas itu lagi


+++++++++++++


Kirei mulai sedikit menjauhi Arlen jika dikampus, dia tidak mau berangkat sama-sama atau duduk bersama jika di kelas. Kirei juga belum memiliki teman karena dia selalu kerja, kuliah dan belajar sehingga tidak sempat berhubungan dengan orang lain. Sebenarnya dia sangat ingin punya teman disaat begini agar dapat menceritakan kegundahan hatinya. Namun setiap wanita di kampus selalu memandang remeh dirinya, anak miskin tetapi bisa kuliah di tempat elit seperti ini.


Arlen mulai bingung karena Kirei yang tidak mau diajak ke kampus bersama dengan berbagai alasan. Kesal dan penasaran akhirnya Arlen menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengikuti Kirei, terkadang ada kiriman foto Kirei sedang melihat papan pengumuman, atau dia sedang memperhatikan dosen dan yang terakhir dia sedang mengerjakan tugas. Sepertinya tidak ada masalah dengannya. Besoknya Arlen memaksa untuk jalan bersama ke kampus dan Kirei terpaksa ikut dengan Arlen karena memang mereka satu tujuan, kelas hari ini adalah gabungan maka mereka 1 kelas lagi.


"Hari ini bisa terbebas dari kakak kelas itu, tapi besok bagaimana?" Pikir Kirei yang sudah duduk di samping Arlen sambil mendengarkan dan kadang mencatat apa yang dijelaskan. Arlen juga sama karena dia harus lebih giat untuk segera menyelesaikan kuliahnya di usia 24 tahun ini.


"Kirei.. kau tau umurku berapa?" Tanyanya iseng melihat Kirei sangat serius dalam mencatat.


"Jadi kenapa kau panggil aku bapak? Jika kau pikir aku 21 atau 22 tahun?" Arlen sudah menatapnya lekat menunggu jawaban.


"Hm.. biar sopan saja pak." Jawabnya lagi


"Huh.. mulai sekarang jangan panggil bapak. Aku tidak setua itu." Titah Arlen sudah mulai gemas dengan gadis ini.


"Jadi umur bapak berapa?" Tanya Kirei yang jadi penasaran.


"24 tahun sebentar lagi 25." Bisik Arlen sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Kirei, membuat gadis itu merinding dan makin deg-deg an.


"Haa? 24? Wah... maaf pak saya kira masih 21 atau 22. hehe.." Kekeh Kirei, dia memang menyangka Arlen masih sekita 21 tahunan.


"Jadi jangan panggil bapak."


"Kalau begitu om Alen saja."

__ADS_1


"Hei, kau itu bukan Ansel atau Anson. Ganti!"


"Apa ya...?" Kirei berpikir keras karena tidak menemukan panggilan yang cocok dia memandang ke Arlen lagi.


"Kalau begitu panggil sayang saja, bagaimana?' Tanya Arlen berbisik membuat wajah Kirei memerah karena malu. Tanpa dia sadari ke-3 kakak kelasnya sudah meliriknya tajam.


Kelas selesai setelah 1 jam, hari masih sore jadi mereka kembali ke cafe untuk melanjutkan pekerjaan. Karena sekarang Kirei sudah menjadi staff admin maka waktu kerjanya lebih flexible, kapanpun dia mau kuliah tinggal berangkat dan jika pekerjaannya belum selesai bisa di kerjakan nanti atau besok, yang penting setiap hari Jumat sudah selesai semua laporan dalam 1 minggu di hadapan Arlen.


"Besok sudah hari sabtu lagi, kau ada rencana apa? Besok kamu libur 2 hari." Arden mengingatkan karena Kirei selalu lupa kalau dia sudah boleh libur sabtu atau minggu dan masih tetap datang untuk bekerja.


"Sepertinya besok mau pulang pak. Kan sudah hampir 2 bulan aku belum ketemu ayah dan ibu." Ujar Kirei dan Arlen langsung menciumnya.


"Setiap kali panggil bapak, akan aku cium." Ujar Arlen setelah melepaskan ciumanya dan Kirei menunduk malu.


"I iya.. Arlen." Ucapnya pelan.


"Aku ikut ya...? Sekalian mau cari penjual ikan segar. Aku susah makan ikan di sini." Jelas Arlen karena memang lidahnya sudah tidak cocok dengan rasa ikan di kota ini.


"Sama, aku juga tidak suka. Kurang segar." Timpal Kirei.


"Kita kan anak pantai jadi sudah biasa makan ikan yang baru ditangkap."


"Loh.. bapak dulu tinggal di pantai juga?"


Cup...


Arlen mencium Kirei lagi karena memanggilnya bapak, membuat Kirei terkejut, "maaf, kebiasaan." Ujarnya pelan.


"Tidak apa-apa, aku akan menciummu terus menerus, aku suka." Ujar Arlen dengan senyum nakalnya.


"Aku dulu pernah diculik terus dibawa tinggal di rumah kecil tepi pantai dalam keadaan lumpuh. Baru 1 tahun ini kakiku sembuh." Arlen menceritakan kisahnya pada Kirei yang dengan serius mendengarkan. Setelah selesai menceritakan kisahnya Kirei secara tiba-tiba memeluknya dan mengelus punggung Arlen.


"Aku sudah tidak apa-apa. Semua telah membaik, hanya saja kita sama. Aku juga tidak punya teman." Ujar Arlen membalas pelukannya.


"Aku bisa jadi temanmu." Balas Kirei kemudian dia melepaskan pelukannya dari Arlen dan memandangnya.


"Aku tidak mau, maunya kau jadi istriku, teman hidupku selamanya." Arlen tersenyum puas karena Kirei telihat malu dan menundukkan kepalanya lagi. Sungguh menggemaskan gadis polos ini, dia sangat pemalu.

__ADS_1


TBC ~


__ADS_2