
Saat ini Hanny sudah cek kandungannya lagi ditemani oleh Arden, "Kemarin kan sudah kak.. kata dokter baik-baik saja." Keluh Hanny tetapi dia tetap patuh mengikuti Arden dan berjalan menuju ruangan dokter sambil merangkul tangannya. Sampai didalam ruangan USG, Arden yang antusias tetapi tidak mengerti itupun dengan wajah cerianya menunggu penjelasan dokter kepercayaannya.
"Bagaimana Van?" Tanya Arden tidak sabar pada Dokter Ivan.
"Hem.. selamat ya... ternyata ada 2 disini dan mereka baik-baik saja." Jawab Dokter Ivan masih tetap memperhatikan layar di sampingnya. Arden begitu terkejut dan sama halnya dengan Hanny.
"Tapi.. kemarin waktu aku cek sendiri dokternya tidak bilang kalau kembar." Ujar Hanny terkejut karena dokter kemarin tidak mengatakan apapun.
"Berarti sudah benar sayang.. kita harusnya cek disini saja. Tidak perlu kesana lagi, disini ketauan kan isinya ada 2." Arden begitu bahagia, sekali dapat 2 bayi. Dia memeluk Hanny dan memberinya ciuman bertubi-tubi membuat Hanny sedikit risih.
"Sudah kak..." Hanny menjauhkan wajah Arden yang sedari tadi menciumnya tanpa henti membuatnya sangat malu dilihat oleh dokter.
Setelah mendengarkan penjelasan lanjutan dari dokter mereka pun kembali ke kantor, Arden begitu bahagia sampai dia menyuruh Hanny tidak boleh pulang malam ini. "Bagaimana bisa..." Hanny mendengus kesal.
"Untuk ke kota B saja sudah sekali dapat izin dari kakek loh kak.."
Hanny sudah melaporkan kegiatannya nanti di kota B kepada Alfonso dan akhirnya diizinkan karena dokter sudah menjelaskan kalau kandungan Hanny kuat dan sehat untuk kegiatannya.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, saat ini Hanny dan teamnya berada di mobil menuju kota B yang indah didaerah pegunungan. Tiga jam perjalanan tak terasa sudah sampai ke villa, banyak kru produksi yang sudah membuat setting untuk syuting nanti, jam 11 siang mereka sampai dan istrirahat sejenak karena setelah makan siang syuting akan dimulai.
Hampir menjelang sore akhirnya syuting terakhir selesai, semua bergembira dan malamnya akan berlanjut ke acara BBQ. Total ada 17 orang yang menempati villa ini, sisanya 9 orang disewakan kamar hotel. Hanny memilih untuk di hotel saja karena rencananya Arden, Arka dan Eve akan menyusul.
Hanny makan dengan lahapnya, di piringnya sudah penuh dengan berbagai makanan yang tersedia disana. Sate ayam 10 tusuk dan lontong 2 sedang dia nikmati dengan secangkir susu jahe untuk penghangat badan di udara malam yang dingin itu, setelah habis dia pergi lagi mengambil 5 buah siomay dengan bumbu kacang dan perasan jeruk limau dengan sambel yang banyak, setelah habis Hanny mulai mengambil rujak serut dan menyantapnya lagi.
"Hanny... pantas saja kamu makin chubby, daritadi tidak berhenti makan." Heran Serin yang sudah daritadi memperhatikan Hanny yang bolak-balik mengambil makanannya.
"Iya.. seperti orang lagi hamil saja Han.." Sambung Stella mengiyakan dan Hanny hanya tersenyum malu.
"Laper loh ini.. kan tadi sore kalian nyemil aku tidak ikut." Alasan Hanny, memang Hanny sudah terlihat makin berisi bahkan pipi wajah tirusnya sudah mulai membulat, meskipun begitu dia tetap cantik dan makin bersinar. Tak lama Yuli menghampiri mereka.
"Eh Hanny.. beberapa hari lalu sepertinya aku lihat kamu di RS deh, keluar dari ruangan dokter kandungan disana." Ujar Yuli yang langsung mendapat tatapan heran dari Stella dan Serin. Malah Hanny terlihat santai, meskipun dalam hatinya sudah tidak tenang karena Yuli pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Kamu tidak lagi hamil kan? Kamu belum menikah kan?.." Sambung Yuli lagi.
"Mba Yuli mau tau saja.. memangnya kenapa kalau iya dan kenapa kalau tidak?" Balas Hanny cuek sambil terus menikmati rujak serutnya.
"Tidak apa sih, hanya ingin tau." Jawab Yuli yang tidak ingin terpancing oleh candaan Hanny. Yuli belum bisa menjalankan aksinya karena sudah tidak ada lagi ponsel yang bisa digunakan untuk upload foto Hanny di grup.
"Baiklah, mungkin aku salah lihat ya.." Ujarnya lagi dan pergi meninggalkan Hanny dan lainnya.
"Dasar sinting." Gumam Serin kesal lalu kembali menikmati makannya lagi. Hanny hanya tersenyum simpul tak ingin memperpanjangnya.
Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Arden sudah sampai di hotel tempat Hanny menginap dan menunggunya di dalam kamar yang terhubung dengan kamar Arka agar dapat leluasa keluar masuk jika diperlukan.
"Kalian jangan mulai dulu deh... " Pekik Arden yang melihat Arka dan Eve sudah saling bercumbu mesra. Arden sudah tidak sabar ingin segera memeluk gadis kecilnya yang saat ini masih betah berlama-lama di acara BBQ-nya. Sementara Arka dan Eve seperti tidak mendengar, tetap melanjutkan cumbuan mereka. Arden yang kesal pun meninggalkan kamar Arka dan tidak menutup kembali connecting door mereka. Tak berapa lama terdengar suara ******* dan suara 2 tubuh yang sedang beradu membuat Arden makin panas dan segera menutup pintu diantara kamar itu.
__ADS_1
"Dasar, teman tak tau diri." Rutuk Arden dan kembali naik ke ranjangnya sambil menghidupkan TV dengan suara kencang agar tidak mendengar lagi suara-suara memabukkan itu.
Sudah pukul 12 malam dan Hanny baru membuka pintu kamarnya, Arden langsung menghampirinya dan segera memeluk bumilnya lalu menundukkan kepala menghirup aroma di ceruk leher Hanny.
"Kak... tunggu, aku belum mandi lo dari pagi." Hanny yang sedang gerah dan kegelian segera mendorong Arden yang bercecak kesal.
"Sabar ya..." Hanny melenggang masuk berjalan ke arah kopernya yang tergeletak dekat connecting door yang hanya tertutup 1 di arah kamar Arden. Arden segera mematikan Tv yang sudah membuatnya bosan daritadi. Lalu terdengar sayup-sayup suara ******* wanita serta teriakan kemikmatan yang didengar oleh Hanny.
"Kak...." Panggil Hanny sambil menunjuk ke arah pintu itu.
"Arka dengan Eve, sudah 3 jam belum selesai." Jelas Arden dan di balas tatapan terkejut oleh Hanny sambil melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sayaangg... tak baik mandi tengah malam." Arden segera menghentikan Hanny namun Hanny tetap nyelonong masuk.
"Eits... tak boleh." Arden sempat menahan pintu itu dan ikut masuk.
"Tapi kak, badan aku bau, lengket dan bau asap tadi. Aku mau mandi." Hanny tetap dengan keinginannya dan mendorong Arden keluar dari kamar mandi.
"Kakak mandikan yaa.."
"Tidak."
"Ayolah.."
"Kakak tunggu saja disana, tak lama kok." Ujar Hanny sambil mengedipkan matanya manja kearah Arden dan segera menutup dan mengunci pintu kamar mandi.
"Haaa... enaknya berendam." Hanny tengah menikmati air hangat dalam bathtub yang sudah dia isi setengah penuh. Sambil menggosok badannya pelan dan mencium aroma therapi dari sabun yang dipakainya. Sudah 20 menit dia didalam sehingga Arden mulai tidak sabar.
"Sayangg.. Hanny, Honey..."
"Iya... sebentar lagi yaa.." Balas Hanny dari dalam.
"Kenapa lama sih sayang?" Arden sudah menunggu di depan pintu saat Hanny keluar sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
"Berendam kak, sebentar. Capek banget hari ini." Jawab Hanny lalu mengambil hair dryer dan memberikan ke Arden.
"Bantuiiinn..." Ujarnya manja, Arden pun membantu Hanny mengeringkan rambutnya sambil ngobrol tapi sesekali tangannya menyentuh kemana-mana. Hanny kadang terkikik geli dengan kelakuan Arden, mereka tak berbuat apapun malam ini dan hanya tidur karena Hanny sangat kelelahan.
Pukul 9 pagi, Hanny terbangun dalam dekapan hangat Arden yang masih terlelap. Kemarin malam Arden berusaha mencumbu Hanny tetapi Hanny yang sudah kelelahan tidak dapat menahan kantuknya dan tidak tau apa-apa lagi sampai dia bangun saat ini. Hanny mengelus rahang tegas Arden sebentar lalu kembali masuk ke dada Arden menikmati sangat dan aroma tubuhnya.
"Sayang.. sudah bangun rupanya." Ujar Arden sambil mengecup kepala Hanny dan Hanny mendongakkan wajahnya melihat Arden dengan wajah bantalnya, tetap tampan meskipun baru bangun tidur.
"Kak Ar... gawat,, jantungku kak.." Ujar Hanny pelan sambil mendudukkan dirinya dengan panik
"Kenapa?" Arden pun ikut panik menatap dan ikut menyentuh dada Hanny dan terasa deg deg deg sangat cepat.
__ADS_1
"Sepertinya aku jatuh cinta lagi." Jawan Hanny tersenyum dan mengecup bibir Arden sekilas lalu tersenyum.
"Kamu....." Arden langsung mendorong tubuh Hanny dan menindihnya, mencium, ******* abis bibir Hanny.
"Sudah.... ahh.." Desah Hanny setelah terlepas dari terkaman Arden.
"Kakak sih.. kan sudah lama tidak lihat mata kakak yang selalu membuatku jatuh cinta." Ujar Hanny sambil menatap lekat mata hijau Arden yang selalu memukau. Hanny mengusap wajah Arden, menikmati ketampanan itu dari dekat, pria ini hanya miliknya.
"Kak lapar~"
"Main dulu yuk.. 1 ronde"
"tapi dedek uda minta makan."
"Baiklah demi anak-anak daddy..."
Arden mengelus dan mengecup perut Hanny yang sudah sedikit buncit, mengecupnya terus menerus dan Hanny akhirnya tertawa geli.
"Kak... cepat pesen makanan." pekik Hanny menghentikan ulah Arden.
Setelah Arden memesan sarapan mereka, Hanny yang sudah cuci muka berjalan kearah balkon, membuka gordyn dan pintu kaca itu. Hanny terkejut, mendengar suara laknat itu lagi dan sedikit mengintip keluar sebelum menginjakkan kakinya ke balkon.
"Ya ampun!" Kagetnya dan Arden segera menghampirinya.
"Ssssttt.." Bisiknya pelan ke Arden dan menunjuk ke balkon disamping kamar mereka.
"Ampun.. teman tak punya sopan santun, pagi-pagi sudah main di balkon." Hardik Arden dengan suara pelan dan dibalas tawa oleh Hanny.
Dengan kesal Arden jalan ke balkon sambil membawa salah satu bantal dikamar dan melempar dua teman tak ada akhlak itu, mereka pun terkejut tetapi masih santai dengan permainannya.
"Sabar Arr... tanggung, sebentar lagi dan jangan ngintip." Kata Arka yg masih asik dengan kenikmatan itu.
"Bodoh! jangan ngintip tapi main di balkon." Geram Arden yang memang tidak berniat untuk melihat mereka bahkan lemparan bantal pun asal karena Arden sengaja tidak mau memandang permainan Arka dan Eve.
"Ya ampun kak, apa kak Arka dan Siti memang segila itu?" Tanya Hanny yang masih aneh dengan kelakukan dirut dan pelayannya.
"Ya begitulah mereka, sejak pacaran kelakuan sudah minus. Tapi mereka pasangan setia kok dari pertama melakukannya." Jelas Arden dan Hanny hanya mengangguk.
"Mungkin mereka kejar target kak, mau lomba dengan kita. hehe..."
"Mungkin saja, makanya nanti kita coba hal berbeda ya seperti mereka." Bisik Arden sedikit menggoda, Hanny tidak mau menatapnya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Duh... otak ini langsung membayangkan saja." Rutuk Hanny dalam hati, sengaja memalingkan wajahnya karena mata Arden saja membuatnya panas dingin. Tak diminta juga sebenarnya Hanny dengan iklas dan rela jika Arden menerkamnya sekarang tapi Hanny menahannya.
TBC~
__ADS_1