Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 62 - Special Arlen (Hukuman Setimpal)


__ADS_3

Semua mahasiswa/i Universitas XX sudah heboh dengan video viral di dunia maya, mereka langsung tau bahwa pembully itu adalah Soraya, Cantika dan Ghita yang terlihat jelas dari pakaian dan tas branded yang mereka gunakan kemarin, sedangkan korbannya adalah Kirei gadis miskin dengan beasiswa yang selalu jadi korban kebrutalan mereka ber-3. Karena video itu, Univ XX jadi perbincangan hangat dan para mahasiswa dan juga netizen ingin segera ke-3 mahasiswi yang merupakan pelaku diadili secepatnya. Hasil visum Kirei juga sudah ditangan polisi yang diatur oleh Bintang, mereka segera membuat laporan pengaduan dan membuat surat perintah penangkapan pelaku. Terjadilah kehebohan di kantor brand susu beruang madu, karena polisi sudah disana untuk mencari Ghita yang sedang magang di perusahaan ayahnya.


Sama halnya dengan Cantika yang dijemput dirumahnya yang merupakan anak dari artis terkenal. Hanya Soraya yang dijemput di kampus karena ada kelas siang. Sonny ayah Ghita begitu tau apa penyebabnya langsung meminta bantuan Oma Susi yang saat itu sedang dirumah bersama Cecil dan Arlen, Oma Susi yang mendapatkan kabar itupun langsung melihat ke Arlen yang sedang membawakan makanan untuk Kirei yang masih tidak dia perbolehkan untuk keluar kamar.


"Arlen.. kau yang lakukan ini?" Tanya Oma Susi.


"Iya, kan sesuai titah oma kemarin. Jadi Arlen segera lapor ke polisi."


Oma Susi terkejut, berarti itu memang adalah Ghita, dia tidak menyangka gadis yang selama ini dikenal baik olehnya berbuat hal sebrutal itu.


"Ini... kalau oma mau liat lagi foto hasil kerjaan mereka." Arlen memperlihatkan ponselnya yang bersisi foto Kirei dan luka-lukanya.


"Ya ampun... padahal dia terlihat baik didepan oma." Oma tak percaya melihat luka yang dialami Kirei dan mendesah pelan dan dia kecewa pada Ghita.


"Yang terlihat baik, belum tentu baik oma." Ujar Arlen lagi dan oma hanya terdiam.


"Sudah.. pergi antar makanan untuk mantu bunda yang cantik." Cecil sudah mendorong Arlen pelan agar segera pergi dari sana.


"Mami.. jangan memaksanya, dia sudah dewasa mi.. kita dukung saja kalau itu baik." Akhirnya Cecil buka suara, padahal selama ini dia diam. Dia hanya tidak mau anaknya berbuat nekat sama dengan dia dulu, kabur dari rumah.


Arlen sudah berada dikamarnya dan Kirei sudah duduk di tepi ranjang menunggu Arlen yang datang membawakan makanan.


"Arlen... sampai kapan aku disini dan tidak boleh keluar? Aku bosan." Ujar Kirei dengan wajah sudah ditekuk kesal karena seperti terpenjara.

__ADS_1


"Sampai kamu sembuh.." Arlen pun mengambil sesendok makanan dan menyuapi Kirei, dia makan dengan lahap jika Arlen yang menyuapinya. Sampai makanan itu habis Arlen baru memperbolehkan dia berhenti makan.


"Aku sudah kekenyangan Arlen."


Kirei memgang perutnya yang sudah sangat begah akibat kekenyangan dan Arlen malah tersenyum senang. Ini sudah hari ke empat Kirei di kamar Arlen dan dia sudah ingin keluar, minimal ke taman dan berbicara dengan bunda atau kak Hanny. Tapi Arlen tetap betah mengurungnya disini.


"Luka di kakimu sudah kering, sepertinya sabtu nanti sudah bisa pulang ke kampung nelayan." Kirei yang mendengar itupun jadi sangat senang, lagi pula dia ingin sekali bersama Arlen pergi menangkap kerang lagi, menurutnya itu sangat romantis berdua di pantai dan mencari sesuatu untuk dimakan bersama.


"Kita ajak bunda dan kak Hanny juga?" Tanya Kirei dengan wajah kembali tersenyum dengan mata indah berbinarnya yang membuat Arlen semakin hari semakin jatuh cinta.


"Iya, kita pergi ramai-ramai, karena bunda juga ingin cari kerang, nanti kita juga akan mengerjai Arden ya.. Biar dia tenggelam di dalam lumpur, hehehe" Kekeh Arlen yang sudah membayangkan betapa bodohnya nanti saudara kembarnya.


"Baiklah.. tapi sekarang biarkan aku keluar, ke taman saja. Please..." Kirei menatap mata Arlen dan memohon dengan matanya yang berubah makin bercahaya. Arden tak tahan lagi malah mengecup kelopak mata Kirei.


"Jangan begitu, nanti aku khilaf." Ujar Arlen dan kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kirei. Dia sangat gemas melihat wajah Kirei yang cantik berubah imut, bibirnya yang mungil mengerucut dan membuat Arlen tidak tahan untuk menciumnya lagi.


"Ya..."


"Nikah yuk..."


Kirei yang mendengar itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sangat malu dan dia tidak tau mau menjawab apa, hatinya sangat senang tapi mulutnya tidak bisa mengucapkan apapun.


"Cantik... Ayo kita nikah. Biar aku bisa menjagamu sepanjang hidupku." Arlen menurunkan tangan Kirei yang masih menutupi wajahnya. Kirei menatap Arlen dan mengelus lembut wajah tampannya.

__ADS_1


"Aku masih muda dan masih mau kuliah. Apa bisa menunggu sampai aku selesai kuliah?" Tanya Kirei, Arlen menggeleng, "Tidak bisa. Itu terlalu lama cantik. Aku tak bisa lagi menunggu."


Kirei bingung, benar juga, karena harus menunggu 3 setengah tahun lagi, tapi impiannya adalah kuliah untuk membanggakan orangtuanya. Seorang nelayan miskin bisa mempunyai anak yang lulusan sarjana. itu cita-cita Kirei.


"Ayah akan kecewa kalau aku menikah dan tidak selesaikan kuliahku." Kata Kirei dengan suara lirihnya, membuat Arlen tidak tega mendengar alasannya.


"Setelah menikah kau masih bisa kuliah, aku tidak akan melarangmu. Lagipula aku juga masih ada 1 tahun lagi untuk lulus. Kita akan pergi bersama, aku akan menjagamu." Jelas Arlen dan Kirei masih memikirkannya.


"Kalau begitu minta izinlah pada ayahku dan uncle Ben, kalau mereka setuju aku juga setuju." Ucap Kirei tersenyum, dan itu tantangan tersendiri buat Arlen untuk meyakinkan calon mertua dan uncle Ben? Baiklah Arlen akan berusaha.


"Baiklah, kalau ayahmu dan uncle Ben mengizinkan kita akan menikah secepatnya." Arlen kemudian memeluk Kirei dan gadis itu hanya berdehem tanda setuju.


Oma Susi telah mencoba untuk membantu Ghita keluar dari kantor polisi tetapi sudah 3 hari belum ada hasilnya. Karena adanya bukti kuat dengan keterangan saksi yang sering melihat mereka membully Kirei dan juga hasil visum, memberatkan tuntutan Arlen ke mereka. Sudah berkali-kali orangtua dari ketiga wanita itu menghubungi Bintang untuk dapat bertemu Kirei dan Arlen tetapi Arlen menolak, biar saja menjadi efek jera untuk yang lainnya. Dan ke-3 wanita itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Arlen akan tetap mengulur waktu agar mereka lebih lama menikmati hotel rodeo.


Bintang dan Jupi sedang berbincang dirumah mereka, Bintang ingin mengajak Jupi untuk ke kampung nelayan menikmati seafood dan memancing ikan. Jupi setuju saja dan akan membawa Clara yang sebentar lagi menjadi istrinya. Lalu mereka membicarakan tentang Arlen yang ternyata sangat keras pada ke-3 wanita itu.


"Aku sudah bosan dihubungi oleh orangtua 3 wanita itu." Keluh Bintang yang masih betah menikmati angin malam di balkon rumahnya bersama Jupi sang kakak.


"Arlen keras juga ternyata, aku kira dia sangat baik hati." Ujar Jupi menggelengkan kepalanya, ternyata saudara kembar itu sama saja.


"Hahaha.. itu karena Kirei yang diganggu, kalau bukan, dia juga biasa saja. Ibaratnya mereka membangunkan harimau tidur. Sebenanya Arlen juga seperti Arden, karena dia lama sendiri jadi sulit untuk mengeluarkan pendapatnya dan sangat susah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Selebihnya mereka sama." Jelas Bintang yang sudah sangat memahami Arlen setelah 2 tahun bersama.


"Benar juga, darah mereka sama. Tenggara yang egois dan angkuh, Blake yang baik hati tapi keras terkadang bisa kejam kalau diganggu." Jupi membenarkan, melihat Arden juga seperti itu, terkadang sombong dan angkuh, baik dan sabar namun jika diganggu tetap akan menggigit balik.

__ADS_1


"baiklah, bersiap untuk berangkat hari sabtu pagi di rumah besar Tenggara, bawa mobil masing-masing dan pakaian ganti beberapa pasang, yang nyaman, sepatu boots, topi dll." Bintang mengingatkan karena sudah berpengalaman.


TBC ~


__ADS_2