
Hari Minggu yang sibuk, setelah kambali dari kampung nelayan di waktu hampir tengah malam. Paginya Kirei harus kembali bekerja karena minggu biasanya banyak yang datang dan akan duduk lama menghabiskan waktu luang mereka. Sebenarnya cafe didekat kampus tidak begitu ramai di weekend, hanya cafe ini saja yang berbeda karena ada Kirei yang cantik meskipun sudah jarang membantu di lantai 1, tetapi masih saja banyak mahasiswa yang penasaran dengannya. Sedangkan para mahasiswi berharap bertemu dengan Arlen si tuan muda Tenggara.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sudah hari Jumat lagi dan biasanya ada kelas yang sama dengan Arlen, tetapi karena Arlen sedang ada acara keluarga dia tidak masuk, jadi Kirei hanya duduk sendiri tanpa ditemani siapapun.
Jika waktunya kelas bersama dengan Arlen, begitupun dengan 3 kakak seniornya, Soraya, Cantika dan Ghita. Mereka sudah menunggu di pintu kelas untuk mencegat Kirei seperti biasanya.
"Hei gadis kampung.." Sapa Cantika di depan pintu sambil melambaikan tangannya. Kirei terhenti dan terdiam. Dikelas juga sudah tidak ada orang lain jadi ke 3 kakak kelas itu kembali mendorong Kirei masuk ke kelas yang sangat luas itu.
"Minggu lalu kau dengan sengaja duduk dengan Arlen dan bermanja dengannya. Hari ini kami tidak akan melepaskanmu."
PLAAKKK
Ghita menamparnya dengan keras, suara tamparannya sampai terdengar menggema. Dari sudut bibir Kirei sudah meneteskan sedikit darah, dan Kirei mulai ketakutan. Cantika mendorong tubuh Kirei sampai pinggangnya membentur sudut meja di kelas itu dan dia meringis kesakitan.
"Sudah aku katakan berkali-kali jauhi Arlen, kau tidak pantas bersamanya!" Bentak Soraya yang mendekatkan wajahnya ke wajah Kirei lalu menepuk-nepuk perlahan wajah cantik Kirei.
"Apa wajah cantikmu ini membuatmu begitu berani menggoda Arlen? Kau itu tidak pantas. Arlen bukanlah pria yang bisa didampingi sembarang orang sepertimu." Soraya kembali menarik rambut Kirei dan menyeretnya beberapa langkah. Kirei sudah menangis dan memohon untuk dilepaskan tetapi mereka malah makin mendorong tubuh Kirei sampai terjatuh dibawah.
"Ini peringatan terakhir untukmu, jangan berani bermimpi untuk masuk ke keluarga Tenggara!" Bentak Cantika lagi dan menendang perut Kirei.
"Kau tidak pantas masuk ke keluarga Teanggara gadis miskin." Ghita menginjak kaki Kirei dengan heelsnya yang membuat Kirei berteriak kesakitan, Soraya juga menginjak tangannya dan dia sedang memakai wedges sehingga tidak membuat luka, namun tetap sangat sakit.
"Sekali lagi kau mendekati Arlen, wajah cantikmu ini akan rusak. Kau mengerti?!" Bentak Ghita dan beberapa kali menginjak kaki Kirei yang sudah luka-luka. Sementara Cantika masih menendang perut dan punggung Kirei dengan brutal. Kirei meringkuk kesakitan tak bisa bergerak dari sana.
Dilain tempat, Arlen yang sudah daritadi menunggu Kirei tak juga keluar dari gedung kampus kelasnya. Dia sudah bertanya ke mahasiswa yang baru keluar gedung dan bilang kalau Kirei masih didalam mengerjakan tugas. Arlen menunggu 10 menit lagi tetapi Kirei tidak keluar dan akhirnya Arlen berjalan ke dalam, kebetulan lift sudah mati karena tidak ada kelas malam dan sudah tidak ada yang naik, mahasiswa biasanya turun dengan tangga.
Arlen berjalan santai menaiki tangga menuju lantai 3 kelas Kirei, sewaktu berjalan dilorong dia mendengar teriakan beberapa suara wanita lalu teriakan keras seperti orang kesakitan.
"Sepertinya suara Kirei." Arlen berlari cepat karena takut sesuatu terjadi pada gadisnya dan benar saja, dia melihat Kirei meringkuk kesakitan dilantai dan 3 orang wanita sedang menendang dan menginjaknya.
"KIREI!!!" Teriaknya begitu masuk ke ruangan itu. Ketiga wanita itu langsung terkejut dan melihat kearah pintu dan Arlen memandang mereka dengan wajah merah menahan emosi.
"Ki.. Kirei..." Arlen segera menghampiri Kirei lalu mengangkatnya mendudukan Kirei dan bersandar di dadanya, lalu mengambil ponsel menyuruh bintang segera membawa mobil mereka masuk ke gedung D. Dengan cepat Arlen membopong tubuh Kirei yang sudah lemas dan turun untuk segera mengobatinya. Sedangkan ke-3 wanita itu sudah berdiri menjauh sejak Arlen datang dan saat ini gemetaran, kelakukan mereka sudah ketahuan dan mereka ketakutan.
Begitu Arlen sampai di bawah, mobil Bintang juga baru saja sampai, Arlen segera menyuruh Bintang ke RS terdekat saja untuk mengobati Kirei.
Kirei masih menangis sambil menggenggam kemeja Arlen, dia tidak bicara apapun dan masih memejamkan matanya. Arlen sangat sakit melihat kondisi Kirei, gadis cantiknya kini sangat kacau dan kesakitan. Wajahnya sudah merah memar, bibirnya berdarah. Dari celana di kakinya sudah merembes cairan merah dan dia tau itu adalah darah. Bajunya kotor, lengan dan tangannya juga terdapat luka gores dan memar.
"Sial, mereka akan mendapatkan balasannya!" Rutuk Arlen geram.
Bintang yang belum tau apa yang terjadi hanya diam saja, yang penting mereka harus cepat ke RS untuk mengobati luka Kirei. 10 menit mereka sampai dan Kirei sudah ada di IGD untuk dirawat. Barulah Bintang bersuara,
"Apa yang terjadi Len?" Tanyanya khawatir apalagi melihat kilatan mata Arlen sudah berbeda, dia tidak pernah melihat sisi Arlen yang seperti itu.
"Ada 3 mahasiswi kelasku menyiksanya, waktu aku datang mereka sedang menendang dan menginjak Kirei yang sedang meringkuk dilantai kelas." Jawan Arlen yang kini sudah berwajah sangat sedih mengingat hal itu.
"Kau segera cari 3 wanita itu. Salah satunya pernah diajak Oma makan siang bersamaku dulu. Aku lupa namanya." Titah Arlen yang tentu saja tak akan ditolak oleh Bintang. Segera dia menggunakan laptopnya untuk mencari cctv gedung, Bintang meminta akses pada Jupi kakaknya karena kampus itu milik Tenggara jadi tidak perlu meretasnya. Setelah dapat, dia langsung mengcopy hasil video dan mengirimkannya ke ponsel Arlen, karena cctv disana tidak ada perekam suara jadi mereka tidak tau apa yang dibicarakan. Harus menunggu Kirei yang menjelaskan.
Setelah luka Kirei dibersihkan dan diobati, dokter menyarankan agar Kirei tinggal semalam di RS karena dia harus tenang dan melihat kondisi lukanya adalah penyiksaan, takut akan berdampak buruk pada mentalnya. Arlen juga meminta dilakukan visum ke dokter setelah selesai lalu segera meminta untuk pindahkan Kirei ke kamar terbaik disana. Tak lama ponsel Arlen berbunyi tanda pesan masuk.
"Len, apa sesutu terjadi?" [Arden]
"Tidak apa-apa. kenapa Ar?" [Arlen]
"Jupi yang memberitahuku kalau Bintang minta akses cctv kampus, aku sudah melihat videonya." [Arden]
"Ah, iya.. aku masih belum tau kejadian pastinya. Ini baru pindahkan Kirei ke kamar dan dia masih tidur." [Arlen]
"Apa perlu bantuanku?" [Arden]
"Tidak perlu, terima kasih Ar." [Arlen]
"Baiklah, jaga baik-baik gadismu. Jangan membuat seorang gadis yang kau cintai menderita karena mu. Kalau ada apa-apa beritahu kami saja." [Arden]
"Iya, aku akan menjaganya dengan baik." [Arlen]
Arlen masih duduk di samping Kirei yang masih tertidur, dia memandangi Kirei, wajah nya yang lebam dan tubuhnya yang sudah memar dan kaki yang sudah dibalut kain perban. Hatinya sangat sakit melihat gadis yang dicintainya begitu menderita. Arlen kemudian mengecup pelan dahi Kirei dan berbisik "Mulai detik ini, aku pastikan tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi."
Kirei terbangun dan melihat sekelilingnya dan tau dia ada di rumah sakit, dia melihat kearah jendela dan matahari sudah terang.
"Pak Arlen.." Lirihnya melihat Arlen duduk tertidur dengan tangannya sebagai tumpuan. Tangan satunya lagi menggenggam tangan Kirei. Kirei melepaskan tangannya perlahan agar tidak membangunkan Arlen kemudian mengelus kepalanya.
"Kenapa kau begitu baik, aku jadi tidak bisa pergi darimu." Ucapnya pelan, dia berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan pergi jauh dari Arlen saja.
"Kalau begitu jangan pergi, jangan pernah pergi dari sisiku." Arlen lalu bangun dan menatap Kirei yang sedikit terkejut karena Arlen ternyata sudah bangun.
"Tapi...."
"Jangan bicara lagi, kau telah membuatku khawatir Kirei." Arlen mengelus pipi Kirei yang masih menatapnya. Mata yang biasanya berbinar indah kini terlihat sendu. Kirei kemudian menaikkan tubuhnya dan duduk di ranjang itu. Arlen membantunya dan menempatkan bandal di punggung Kirei agar dia bisa bersandar lebih nyaman setelah menaiikan ranjangnya.
"Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Kirei dan Arlen langsung mengangguk.
"Apa, katakanlah.."
"Aku mau minum dan juga lapar." Ucap Kirei sedikit malu karena dia belum makan sejak tadi malam.
"Hmm.. tunggu sebentar." Arlen lalu mengambil botol air mineral yang ada disampingnya dan memberikannya ke Kirei setelah dibuka. Lalu menghubungi Bintang untuk membawakan sarapan.
"Mau makan apa?" Tanyanya dan Kirei menjawab, "Apa aja."
Hanya 15 menit Bintang sudah membawakan sarapan mereka. Setelah mereka sarapan, Arlen segera meminta Kirei untuk menceritakan apa yang terjadi namun Kirei enggan menceritakannya dan memilih diam saja. Arlen merasa frustasi sejak tadi membujuknya tetapi Kirei ternyata sangat keras kepala.
"Baiklah, jika tidak mau cerita, akan aku cari tau. Setelah ini aku tak akan melepaskanmu sendirian lagi." Ujar Arlen dan Kirei hanya menghela napasnya panjang.
"Kau disini dulu ya.. aku mau bicara pada dokter." Arlen mengelus kepala Kirei sebentar dan pergi dari sana.
"Kakak ipar.." Panggil Arlen setelah Hanny mengangkat sambungan teleponnya.
"............"
"Tolong datang ke RS, nanti aku kirimkan alamatnya, dan datang bersama AnsTwins ya. Mau minta tolong tanyakan masalah Kirei di kampus karena dia tidak mau bicara."
__ADS_1
"............"
"Iya, begitu. Dia tidak punya teman disini."
"............"
"Baiklah, aku tunggu. Terima kasih."
"............"
Setelah menghubungi Hanny dia langsung pergi menemui Bintang yang sudah ada di kantin RS itu untuk mengetahui siapa ke-3 wanita yang menyiksa Kirei.
"Ini informasi mereka, dan yang ini Ghita, dia sangat dekat dengan Oma Susi dan sepertinya Oma ingin kalian kenal lebih dekat. Lalu ini baca sendiri." Bintang sudah memperlihatkan isi laptopnya pada Arlen yang serius membaca hasil laporannya.
"Ck.. Kenapa oma bisa kenal dengan orang seperti mereka. Merepotkan." Decak Arlen kesal.
Selang 1 jam, ternyata Hanny sudah ada di kamar rawat Kirei dan sudah bermain dengan AnsTwins dan Hanny juga membawa bayi kembarnya Ion dan Anna membuat Kirei akhirnya bisa tersenyum bahagia melihat bayi kembar yang sangat manis dan cantik.
"Hai jagoan om, kalian jangan rusuh ya. Onti sedang sakit." Arlen sudah mendekap dua bocah bawel itu yang terlihat ingin memanjat ke atas ranjang Kirei.
"Om Alen, onti antikk akit apa?" Tanya Anson dengan suara gemasnya.
"Ontik antik nakal dan terjatuh makanya kalian juga jangan nakal"
"OHH... Cel tidak nakal, yang nakal Con." Tunjuk Ansel yang melihat Anson sudah berhasil naik ke ranjang Kirei.
"Yasudah.. kita pergi beli makanan, kalian mau?" Tanya Arlen dan tentu saja si bocah bawal berteriak senang. Arlen membawa mereka menuju keluar RS karena diluar ada miminarket untuk membeli eskrim.
Arlen sengaja untuk membiarkan Hanny bersama Kirei agar mereka bisa berbicara, Hanny pasti bisa membujuk Kirei untuk menceritakan apa yang terjadi. Dan benar saja, Kirei sudah menceritakan kejadian malam itu yang juga membuat Hanny geram.
"Jadi Ki.. kau suka tidak sama Arlen?" Tanya Hanny yang sudah mengetahui pokok permasalahannya.
"Suka.." Jawab Kirei dengan tertunduk malu, Hanny hanya tersenyum dan semakin ingin menggodanya.
"Cinta tidak?" Tanyanya lagi dan Kirei langsung melihat ke Hanny.
"Tidak tau.. tapi rasanya kalau dekat dengan pak Arlen, Kirei bahagia dan ingin selalu didekatnya dan rasanya jantungku berdebar kencang tapi juga ada rasa tenang." Ucap Kirei dengan polosnya. Hanny tau kalau Kirei adalah gadis yang terlewat polos dan baik makanya bisa di bully oleh ke-3 wanita itu.
"Berarti kamu memang cinta sama Arlen Ki, makanya mulai sekarang pertahankan. Jangan takut, kami ada di pihakmu. Keluarga kami juga setuju Arlen dekat denganmu." Jelas Hanny agar Kirei tidak merasa takut atau tidak pantas.
"Tapi maksudnya keluarga Tenggara itu apa kak? Ghita selalu bilang kalau aku tidak pantas masuk di keluarga Tenggara." Tanya Kirei lagi, Hanny lalu tersenyum dan menggenggam tangan Kirei.
"Ki.. keluarga Tenggara itu memang luar biasa, dan kalau ditanya pantas atau tidak. Hanya mereka yang bisa memutuskannya. Aku juga bukan dari keluarga kaya, ayahku hanya pekerja kantoran biasa. Tapi kita harus bangga bisa menjadi wanita yang dicintai oleh mereka." Jelas Hanny memberi pengertian, Kirei mengangguk dan mulai tersenyum.
Dua wanita cantik itu sudah mulai akrab dan menceritakan keluh kesah masing-masing. Mereka memiliki kecantikan dari ciri khas masing-masing, Hanny dengan wajah blasteran yang cantik polos, Kirei dengan wajah oriental yang cantik dan imut.
"Momiiii... Acel beli cokat cama om Alen miii." Ansel berteriak begitu masuk ke ruang rawat itu.
"Acon beli esskim miii.." Anson juga tidak mau kalah.
"Loh.. kok makan eskrim dan coklat lagi? Janjinya kan besok." Omel Hanny dan meilirik Arlen, yang dilirik pura-pura tidak dengar dan malah mendekati Kirei.
"Ki, kita sudah boleh pulang sekarang.." Katanya sambil menatap lembut Kirei.
"Sini aku bantu, kalian keluar dulu ya.." Hanny mengusir kedua anaknya dan Arlen begitu juga 2 baby sitter yang ikut.
Setelah selesai ganti baju, Arlen kembali lagi, tetapi dia terkejut. "Han..kok pakai baju begitu sih?" Protes Arlen melihat penampilan Kirei.
"Loh, kenapa? Cantik begini.." Hanny masih membetulkan beberapa posisi dress itu di bagian bahu agar lebih pas di tubuh Kirei.
"Tidak bisa.. ganti!" Tegas Arlen, memang Kirei terlihat cantik, sangat cantik tetapi Arlen tidak suka karena dress yang dipakainya itu membentuk lekuk tubuh Kirei, dress press body polos berwarna pastel panjang selutut dan bagian dadanya rendah memperlihatkan sedikit garis dadanya yang menggoda. Meskipun dress itu lengan panjang tetapi tetap saja terlihat seksi.
"Iya.. kak Hanny, ini sangat ketat." Keluh Kirei kurang nyaman dengan yang dipakainya. Hanny tersenyum dan menggeleng.
"NO! Kamu sangat cantik. Dan Arlen jangan protes, lihat Kirei sangat cantik." Tegas Hanny dan mendorong Kirei kedepan Arlen.
"Tapi aku tidak mau dia dipandangi oleh mata-mata nakal diluar sana. Lihat ini terlalu sexy." Arlen tetap tidak setuju dan ingin segera mendekap gadis itu agar tidak dipandangi oleh orang lain.
"Dasar, sudah bucin, posesif lagi.." Cibir Hanny dan Arlen langsung meliriknya. Memangnya kakak ipar tidak bucin dan posesif?" Sindir Arlen dan Hanny pun terkekeh, "Tentu posesif, suamiku sangat tampan."
"Memangnya ada yang lebih tampan dari Pak Arlen?" Celetuk Kirei dengan pertanyaan polosnya yang membuat Hanny tertawa, Kirei yang baru tersadar langsung menundukkan kepalanya karena malu.
"Suamiku jauh lebih tampan dari Pak Bos mu ini Kirei, kau akan terkejut." Bangga Hanny dan Kirei hanya tersenyum sambil melirik Arlen sekilas yang masih kesal dengan baju Kirei.
"Ck.. kau ini. Tubuhnya sangat indah dan sexy kan? Mirip gitar spanyol." Bisik Hanny yang membuat Arlen semakin kesal mendengarnya. Benar sekali, tubuh Kirei bagaikan gitar spanyol dengan lekukan terlihat jelas seperti jam pasir, pinggang ramping dan terlihat kecil, pinggul dan bokong membulat indah, dadanya juga dengan ukuran sempurna. Arlen semakin tergila-gila pada gadis ini tetapi dia harus menjaganya.
Tak lama Bintang masuk dan memberikan jaket Arlen padanya dan dia langsung memakaikan jaket itu ke Kirei. Hanny hanya berdecak malas melihatnya. Akhirnya mereka pulang ke rumah besar Tenggara, Kirei yang melihat rumah itu ternganga tak percaya.
"Ini dimana pak?" Tanya Kirei dan Arlen terlihat kesal lagi.
"Mau aku cium?" Bisik Arlen.
"Tidak, Arlen.. ini dimana?" Tanyanya lagi.
"Ini rumah keluarga kami." Jawab Arlen dan merangkul Kirei untuk masuk ke dalam sedangkan Hanny dan anak-anaknya sudah sejak tadi masuk kerumah besar itu.
"Tapi.. kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Kirei dengan suara bergetar karena dia takut.
"Untuk bertemu calon mertuamu Kirei." Jawab Arlen yang membuat Kirei mematung tak percaya.
"Tapi..."
"Sudah jangan protes, ayo masuk." Arlen merangkulnya lagi dan berjalan menuju ruang keluarga. Disana sudah ada Cecilia dan yang lainnya, kecuali Oma Susi.
"Wah.. ternyata ini calon mantu bunda. Cantik sekali... namamu Kirei kan?" Cecil sudah mendekat dan memeluk Kirei dan dia hanya tersenyum lalu menjawab seadanya karena merasa canggung.
"Ayo kita makan siang.. koki sudah memasak banyak makanan untukmu agar cepat sembuh." Cecil menggandeng Kirei untuk menuju ruang makan dan duduk disebelahnya.
"Makan yang banyak, kau terlihat kurus." Arlen menyendokkan banyak lauk kepiring Kirei.
"Sudah.. nanti tidak habis." Tolak Kirei tetapi Arlen tidak mau tau dan dia harus makan habis makanannya.
"Beberapa hari ini kau akan tinggal disini sampai lukamu sembuh. Jangan protes."
__ADS_1
"Tapi besok kita harus ke kampung nelayan."
"Kau mau pulang dengan keadaan sepeti ini? Bagaimana perasaan ayahmu melihatmu luka?"
Kirei terdiam dan melanjutkan makannya dan berpikir, benar ayahnya pasti sedih.
"Kirei disini saja ya, bunda akan temani, lagi pula bunda juga tidak ada kegiatan apapun dan bisa mengajakmu ngobrol seharian." Bujuk Cecil melihat Kirei yang sedang memikirkan sesuatu.
"Iya bunda.." Jawab Kirei akhirnya yang membuat Arlen lega.
Setelah makan siang Cecil mengajak Kirei untuk duduk di taman belakang dan mengobrol dan akhirnya Kirei bisa akrab dengan Cecil yang masih berjiwa polos diusianya yang ke 46, membuat mereka dapat membicarakan banyak hal. Kirei juga menceritakan bagaimana minggu yang lalu mereka pergi menangkap kepiting dan kerang membuat Cecil sangat ingin kesana juga. Setelah itu mereka kembali lagi kedalam agar Kirei bisa istirahat.
"Kirei tidur di kamar Arlen bun.." Ucap Arlen pada Cecil yang ingin mengajaknya ke kamar tamu.
"Loh.. mau buatkan bunda cucu ya?" Goda Cecil dan Arlen terlihat tersenyum.
"Tidaklah bunda.. Kirei juga masih terluka mana bisa buat cucu." Balas Arlen sembari menggoda Kirei yang wajahnya sudah terlihat memerah malu.
"Ya sudah, sana bawa mantu bunda istirahat." Cecil lalu tersenyum menatap Kirei dan membiarkan mereka berdua memasuki kamar Arlen.
Kirei sedang berada di kamar Arlen yang super luas dan mewah, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah memperhatikan ruangan itu. Arlen sudah dari tadi menghilang di balik pintu yang dia tidak tau itu pintu apa. Tak lama Arlen keluar lagi dan memberikan pakaian untuk Kirei.
"Ini pakaianmu, mandilah disana kamar mandinya dan istrirahat nanti aku akan memanggilmu jika waktunya makan malam." Arlen menunjuk ke sebuah pintu disudut ruang kamarnya dan Kirei segera berjalan ke arah tersebut. Setelah mandi, dia terlihat bingung mencari sesuatu.
"Duh..lupa, tidak ada handuk." Ujarnya kemudian memanggil Arlen berkali-kali tetap tidak ada jawaban. Perlahan dia membuka pintu dan mengintip.
"Arlen tidak ada, tadi dia ambil pakaian di pintu sebelah, coba aku cari handuk disana saja." Batinnya dan kemudian hanya menggunakan pakaian kotor tadi untuk menetupi tubuhnya dengan asal. Baru dua langkah, pintu terbuka dan Arlen masuk.
"Ahhhhh..." Teriak Kirei terkejut dan menjatuhkan pakaiannya dan terlihatlah seluruh tubuh polos tanpa ditutupi sehelai benangpun.
"Maaf Ki, maaf..." Ujar Arlen kemudian membalikkan badannya, dug dug dug jantungnya bertalu kencang tidak seperti biasanya, begitu juga Kirei yang akhirnya kembali ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Pak Arlen, maaf tadi aku mau cari handuk.." Ucapnya dari kamar mandi dan Arlen segera membawakan handuk untuknya.
"Duh.. Kirei bodoh!" Rutuknya pada diri sendiri dan memukul kepalanya. Dia sangat malu dan tidak berani keluar untuk menemui Arlen.
"Ki.. kamu masih lama?" Arlen mengetuk pintu kamar mandi itu dan Kirei akhirnya keluar dengan wajah memerah karena malu, sama dengan Arlen yang juga dengan muka merah dan panas.
"Cepat istirahat." Arlen melewati Kirei dengan cepat untuk masuk ke kamar mandi. "Duh... jantungku." Batin Arlen meremas dadanya, "Ini juga.. ck... Kirei.." Lirih Arlen karena si Juno sudah bangun dan tidak mau turun. Akhirnya Arlen mandi air dingin selama setengah jam untuk menenangkan si Juno. Arlen melihat Kirei sudah tertidur di sisi pinggir tempat tidur, dia meringkuk seperti kedinginan lalu Arlen menggendong tubuh Kirei untuk tidur lebih ke bagian dalam agar lebih nyaman.
"Kirei.. kau membuat jantungku serasa ingin meledak. Kenapa kau begitu mempesona." Bisik Arlen dengan menatap wajah Kirei yang tertidur tenang.
"Bi, nanti setelah makan malam tolong bantu obatin Kirei ya.. soalnya ada luka juga di punggung dan perutnya." Pinta Arlen ke salah satu pelayannya.
"Kirei siapa Arlen?" Tanya Oma Susi yang kebetulan lewat ke arah dapur.
"Calon istri Arlen Oma." Malah Hanny yang menjawab karena sekalian menghampiri Oma untuk pamit pulang.
"Loh, kok oma tidak tau? padahal oma sudah minta Sonny untuk kenalkan putrinya yang cantik itu." Tanya oma dan Arlen sudah terlihat kesal.
"Cantikan Kirei oma.. Hanny saja kaget liat Kirei waktu pertama kali, mirip artis Korea." Timpal Hanny lagi.
"Dia keturunan Jepang, bukan Korea." Protes Arlen yang sudah keluar dari dapur mengikuti oma dan Hanny yang sedang menuju ruang keluarga. Disana sudah berkumpul Cecilia, Aileen, Arden dan anak-anak.
"Jepang? Oh ya?Pantas saja namanya Kirei." Imbuh Hanny lagi.
"Iya, ibunya orang Jepang dan sudah meninggal." Ujar Arlen yang sudah duduk di samping Cecil yang sedang meminum tehnya.
"Tapi Kirei sedikit mirip bunda ya.. hmm, bagaimana bilangnya yah. Pokoknya kalau lihat Kirei jadi ingat ke Bunda." Hanny bingung sendiri bagaimana menjelaskan maksudnya. Tetapi Arlen setuju dengan Hanny.
"Benar, mungkin orang yang baru mengenalnya tidak akan mengerti, tapi setelah lama dan dia sudah berbicara banyak hal mirip bunda. Polos dan apa adanya tapi sedikit keras kepala." Jelas Arden dan langsung mendapat lirikan dari Cecil.
"Hem, berarti anak bunda sangat sayang sama bunda ya? Sampai cintanya juga ke gadis yang mirip bunda." Ucap Cecil menggoda Arlen, mereka tertawa dan lagi-lagi menggodanya.
"Tak sabar mau lihat gadis itu, apa lebih baik dari gadis yang oma pilih?" Tanya Oma Susi yang langsung membuat Arlen marah.
"Siapa namanya? Gadis yang oma pilihkan?" Tanya Arlen dengan nada ketus membuat Arden sedikit terkejut karena Arlen tidak pernah seperti itu sebelumnya.
"Namanya Ghita, anaknya Sonny pemilik brand susu beruang madu." Jawab Oma Susi lalu menyeruput tehnya.
"Ck.. oma yakin dengan pilihan oma?" Tanya Arlen memancing lebih banyak dari oma.
"Iya Arlen, dia gadis pintar, cantik, modist, baik lagi, oma sering minum teh dengan ibunya dan dia selalu ikut."
"Ohh makanya dia selalu mengumbar bahwa Arlen adalah tunangannya di kampus, sampai gadis yang dekat dengan Arlen dia bully habis-habisan." Sindir Arlen membuat oma terbatuk.
"Hah? Jangan sembarangan Arlen, Ghita itu gadis baik-baik. Memang oma ingin menjodohkan kalian." Oma mulai meninggikan suaranya.
"Kalau gadis yang oma bilang baik itu berbuat kesalahan fatal bagaimana?" Tanya Arlen lagi.
"Kesalahan bagaimana? Dia tidak mungkin melakukan hal buruk, dia sangat terpelajar." Sahut oma masih membela gadis pilihannya.
"Kalau begitu oma, liat ini lalu bagaimana menurut oma." Arlen menunjukkan video Kirei sedang disiksa oleh Ghita dkk tetapi wajah mereka semua sudah di blur.
"Gila.. ini sungguh perbuatan tidak terpuji. Cepat laporkan mereka ke polisi." Hardik Oma Susi dan Arlen segera mengiyakan perkataa oma. "Baik oma, sesuai titah oma ya.." Arlen lalu menyimpan kembali ponselnya dan melirik ke arah Arden yang juga tersenyum penuh arti.
"Sebentar lagi video itu viral." Bisik Arden ke telinga Arlen dan dia mengangguk setuju.
Waktu makan malam tiba, tetapi Arlen memilih untuk makan di kamar bersama Kirei karena tidak mau bertemu oma sebelum Ghita dkk mendapatkan ganjarannya.
"Bunda.. Arlen dan Kirei makan di kamar saja ya." Pinta Arlen dan Cecil mengangguk tanda mengerti, "Iya, ambil yang banyak biar Kirei sedikit gemuk." Ujar Cecil.
"Tenang bunda, dia tidak sekurus itu kok, malah montok di tempat yang seharusnya." Ucap Arlen nakal dan mendapat tatapan maut dari Cecil. Arlen terkekeh dan segera masuk ke kamarnya.
"Kirei, cantik... " Panggil Arlen yang melihat Kirei berdiri diluar menatap pemandangan dari balkon kamarnya.
"Pak sini indah ya.." Ujar Kirei dan Arlen meletakkan makanan di meja depan ranjangnya lalu berjalan menghampiri Kirei, memutar tubuh gadis itu dan mencium bibirnya, pelahan menjadi ciuman panas, akhirnya Kirei membalas ciuman itu, perlahan dia membuka sedikit bibirnya dan Arlen tidak berhenti malah semakin memberikan ******* dan bermain lidahnya disana.
"Haa...haa..." Napas Kirei tampak tersengal setelah mendorong Arlen, "Sesak.." Ucapnya dan Arlen malah kembali menciumnya lagi.
"Ini hukumanmu, jangan panggil Pak lagi ya cantik." Arlen menyentuh rambut Kirei dan menghirup aroma rambut itu yang membuatnya seakan mabuk.
TBC ~
__ADS_1