Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 39 - Rencana Vino


__ADS_3

NB : Maaf bab 39 nya kelupaan


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pagi ini Arden harus kembali lagi ke kota J setelah beberapa hari menemani Hanny dan AnsTwins, sebenarnya dia tidak mau meninggalkan mereka tetapi pekerjaan sudah menunggunya disana.


"Anak-anak daddy yang lucu, daddy pergi dulu ya... kalian jangan nakal." Ujar Arden lalu menciumin AnsTwins yang masih tidur. Berat rasanya meninggalkan mereka.


"Iya daddy, mommy akan menjaga kami." Hanny yang membalas ucapan Arden dengan suara imutnya. Hanny lalu memeluk Arden, sebelum melepaskannya kembali ke kota J kali ini entah untuk berapa lama. Setelah berpelukan lama dan saling berciuman akhirnya Hanny mengantar Arden sampai ke luar. "Jaga diri dan AnsTwins ya sayang.." Pesan Arden lalu mengecup keningnya.


"Iya kak.." Jawab Hanny memeluk Arden sekali lagi.


Setelah perjalanan panjang Arden sampai ke markasnya, langsung menemui Vino dan Jupi yang sudah menunggunya disana, tetapi hari ini Bintang juga ikut hadir. Arden memutuskan akan menginap saja di markas, di kamar yang sudah lama tidak dia tempati, kamar yang penuh dengan foto dan informasi Hanny sejak dulu.


"Jadi bagaimana hasilnya?" Arden memulai pembicaraan, mereka telah duduk berhadapan seperti biasanya.


"Aku dulu... jadi begini bos.." Balas Vino.


"Bintang telah berhasil menyusup ke kantor Digi.inc menyamar sebagai sucurity disana dan pura-pura mengantarkan paket yang hanya ada divisi tetapi tak bernama agar bisa lebih lama didalam kantor keuangan itu lalu bersama dengan mata-mata disana meretas laptop si orang kepercayaan Johan untuk mengurus rekening rahasia itu. Jadi sekarang laptop yang digunakan juga bisa digunakan oleh Bintang.


"Aman bos, sudah kita copy semua bahkan bisa pantau live apa yang dikerjakan si kacamata culun itu." Ucap Vino menjelaskan.


"Benar, jika bos ingin lihat apa yang dia kerjakan sekarang juga bisa." Bintang menambahkan dan langsung dengan jarinya yang cekatan meyentuh beberapa kali, sekarang Arden sudah bisa melihat apa yang dilakukan pada laptop itu. Ternyata si kacamata culun itu sedang nonton drama korea.


"Ahh.. dia sedang nonton drama korea." Bisik Arden.


"Untung drakor bos, kalau lagi nonton layar biru, gawat kita yang jomblo." Timpal Vino dan di barengi gelak tawa semuanya.


"Lanjut lagi Vinn..." Ujar Arden.


"Jadi rencana kita adalah, menjebak si Johan saja bos. Dana ini kita pindahkan ke rekening Johan saja sedikit demi sedikit. Kebetulan dia juga ada rekening rahasia dalam bentuk USD. Jadi orang-orang 'Skull' akan curiga padanya. Lalu BOM!! Semua kita pindahkan. Kalaupun diselidiki nanti rekening nona Hanny sudah kosong dan dana berpindah ke Johan, tentu setelah mereka bercerai ya.." Saran Vino.


"Pinter juga Vin.."


"Tentu, Vinoooo..."


"Baiklah terus bukti apa lagi, aku ingin segera melaporkan semua club malam mereka agar segera ditutup." Lanjut Arden.


"Semua data sudah dipindahkan dan kita tinggal melaporkan saja, lokasi setiap club mereka juga semua ada pada laporan di laptop si cupu." Jawab bintang dan memberikan laporan itu dalam map yang tersusun rapi. Soft copy juga telah disediakan.


"Kita kirim ke Pak Serkan saja data ini. Kalau dia berhasil bakal naik jabatan pastinya." Ujar Jupi, Pak Serkan adalah jaksa yang selalu membantu mereka.


"Baik bos.." Jawab Vino.


"Lalu Jupi, lanjut."


"Baik bos... jadi begini.." Jupi maelanjutkan hasil penyelidikannya.


Sebenarnya dari laptop si kacamata cupu itu sudah ada semuanya, tidak perlu menyelidiki lagi hanya mencari beberapa bukti foto dan video. Perihal produk yang diiklankan juga ada di laptop itu. Untuk produk kemarin adalah cerutu, tentu kualitas nomor 1. Sebatang cerutu seharga 200ribu sampai 1juta. Jadi mereka menjual obat terlarang dalam bentuk kecil tetapi banyak. Hanya butuh bukti transaksi itu.


"Anak buah Vino sudah mulai melancarkan aksinya bos, jadi kita tinggal tunggu hasilnya nanti malam. Dia akan membeli cerutu dan menukarnya dengan obat disana." Lanjut VIno menjelaskan.


"Baiklah kita tunggu saja bukti itu nanti serahkan langsung ke Pak Serkan." Titah Arden.

__ADS_1


"Oh iya bos, kemarin kita juga sudah menyelamatkan beberapa gadis yang diculik oleh 'Skull" tidak sengaja karena bertemu dijalan sewaktu mereka mengantar gadis-gadis itu ke luar kota. Ada 8 gadis berusia 14 -19 tahun dan saat ini sudah aman di salah satu rumah singgah kita. Mereka siap jadi saksi." Jupi menambahkan.


"Gud, jaga mereka baik-baik." Ucap Arden.


"Oh iya bos.. Johan sekarang sedang gencar mencari nona Hanny bos, sepertinya sudah meminta bantuan 'Skull' untuk mencarinya. Bagaimana?" Tanya Jupi karena sudah 2 hari ini pergerakan 'Skull' cukup gencar.


"Sepertinya Johan sudah terdesak untuk segera memiliki saham dan seluruh aset warisannya. Akan ada pembangunan besar-besaran lagi sepertinya, karena di kota C dan G sudah ada beberapa pembangunan beberapa gedung besar dan sepertinya mewah." jelas Jupi dan Arden tidak menjawab, malah mengetukkan jarinya beberapa kali di meja sambil berpikir.


"Tunggu dulu, coba periksa surat izin bangunan apakah resmi. Kita bisa menghalangi pembangunan itu lebih lama. Buat mereka sibuk, karena aku yakin anggota mereka tidak cukup banyak." Perintah Arden ke Jupi.


"Baik bos.." Ujar Jupi


"Jup, ikut ke rumah Oma, dan buat janji ke kakek Salim untuk ke rumah jam 7 malam besok dan buat rekap serta bukti valid seluruh kesalahan yang dilakukan Johan." Titah  Arden lagi lalu berjalan masuk ke salah satu ruangan disana. Ruang tidurnya yang sudah lama tak ditempatinya dan beristirahat.


+++++++++++++++


benar saja, pagi-pagi Johan sudah dibuat panik karena kabar yang baru dia dapatkan. Pembangunan club di Kota C dan G sedang bermasalah, aliran dana juga tersendat karena kebutuhan sangat banyak sementara saham dan warisan belum turun dari kakek. Sekarang masalah pengurusan izin dan bahkan pembangunan yang sudah 40% di kota G dihancurkan oleh pemerintah daerah pagi ini.  Johan sudah tidak memiliki cukup dana untuk melanjutkan pembangunan ulang dan dana suap pejabat setempat.


"Sial.. dananya sudah tidak cukup." Hardik Johan sambil melihat  saldo rekening yang digunakan untuk dana-dana pembangunan. Dia memutar otak untuk mendapat investor lain lagi karena ini bisnis gelap.


Arden yang mengetahui kalau Johan telah kekurangan dana pun segera cari cara untuk menjebaknya lagi. Tentu dengan bantuan Jeremy yang lebih dikenal bar-bar dan kejam dalam menjalankan bisnis. Orang akan tertipu penampilan luarnya yang terkesan dingin dan arogan sehingga banyak yang berpikir dia pasti tertarik dengan bisnis gelap. Arden meminta Jeremy untuk mendekati Johan melalui Irene dan itu berhasil.


Johan, Irene dan Jeremy pun bertemu di salah satu restoran mewah di hotel milik 'Blake', Jeremy sengaja mengadakan pertemuan disana karena lebih mudah untuk memasang kamera dan perekam agar menjadi bukti yang akan memberatkan Johan nantinya. Semua terselesaikan dengan baik dan Jeremy memberikan investasi yang lumayan untuk Johan. Ini langkah awal untuk mengetahui segala bisnis gelap yang dikelolanya sampai nantinya Johan mempercayai Jeremy dan memberitahukan segalanya. Umpan yang bagus.


Setelah mendapatkan kucuran dana investasi dari Jeremy, keesokan paginya Johan segera berangkat ke kota C dan kota G untuk menemui pejabat setempat guna memperlancar pembangunan. Dia telah memberikan cash dalam jumlah cukup banyak di dalam kardus minuman kemasan untuk menyamarkan penyuapan itu namun, bidikan foto anak buah Vino tentu mengabadikan semuanya untuk dijadikan bukti.


\= = = = = == = = =


Sementara itu, Arden yang sudah membuat janji dengan Oma Susi dan kakek Salim pun bertemu di ruang kerja di dalam rumah utama Tenggara. Arden membuka semua penyamarannya dan ingin bertemu kakek Tenggara sebagai dirinya sendiri. Tentu membuat Oma Susi terkejut karena selama ini, Arden tidak pernah membuka penyamarannya sekalipun di dalam gedung kantor Tenggara.


"Wah ternyata ini cucunya Susi, kamu sangat gagah anak muda." Ujar kakek Salim sambil tersenyum melihat Arden.


"Terima kasih. Saya ingin bertemu kakek karena ingin membicarakan tentang Johan dan Hanny." Ujar Arden mulai serius.


"Bagaimana keadaan Hanny?"


"Baik dan sehat bersama anaknya."


"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan nak?" Tanya kakek Salim.


"Saya ingin meminta bantuan kakek. Hanny telah menceritakan tentang saham dan juga warisan yang masih kakek tahan. Tolong kakek tetap tahan semuanya." Pinta Arden serius tetapi dengan nada serendah mungkin.


"Kenapa begitu? Kakek memang tidak akan memberikan apapun pada Johan sebelum Hanny kembali. Tolong bawa pulang Hanny dan cicitku." Kakek Johan akhirnya memohon pada Arden.


"Kakek mungkin salah paham. Bukan saya yang ingin Hanny meninggalkan rumah kakek tapi Hanny sendiri yang minta pada saya untuk segera bercerai dari Johan. Tetapi saya tidak bisa lalu dia minta saya membawanya pergi." Arden menjelaskan karena sepertinya kakek Salim mengira bahwa Arden lah yang sengaja membawa Hanny pergi.


"Tapi bagaimana dengan cicitku, tidak mungkin kakek biarkan dia di luar keluarga Salim." Ujar kakek


"Apakah kakek yakin kalau anak yang dilahirkan Hanny adalah anak Johan?"


"Apa maksudmu!" Bentak kakek marah mendengar pertanyaan Arden.


"Kakek dapat melihat ini." Arden menyerahkan map berisi hal-hal yang dilakukan Johan tanpa sepengetahuan keluarga Salim. Dari awal menjebak Alex, Hanny dan pengeluaran dana perusahaan Salim sampai ikut serta dalam bisnis gelap yang masih diselidiki Arden. Wajah renta kakek Salim langsung memucat, tangannya gemetar sampai lemas melepaskan berkas yang dia pegang. Tidak percaya bahwa cucu yang sangat dia didik sejak kecil melakukan hal bejat seperti itu.

__ADS_1


"Jadi anak yang dilahirkan Hanny bukan cicitku?" Tanyanya lagi sengan suara lirih, airmata jatuh, badannya lemas bagai tak bertulang bersender di kursi yang didudukinya.


"Kasihan Hanny, maafkan kakek nak.." Tangis kakek masih terdengar memilukan. Tidak terbayangkan Johan tega membayar pria lain menghamili Hanny.


"Kakek jangan memikirkan Hanny, dia bahagia saat ini. Dia malah sangat mengkhawatirkan kakek. Karena kakek lah yang paling sedih dari kita semua." Jelas Arden untuk menenangkan kakek Salim yang masih memikirkan keadaan Hanny.


"Bisakah kakek menemuinya? Kakek ingin minta maaf padanya, dia sudah sangat menderita di rumah kami." Pinta kakek tetapi Arden menggeleng.


"Belum saatnya kek, nanti tiba waktunya kami akan kembali." jawab Arden.


Lalu mereka membicarakan perihal Saham dan warisan kakek yang harus di tahan dulu, jangan diberikan kepada Johan karena akan digunakan untuk bisnis gelapnya. kakek Salim sudah pasrah dan menyerahkan semuanya pada Arden dan penyelidikannya. Setelah kakek Salim pergi, Arden masih menyambung pembicaraannya dengan Oma Susi.


"Apa oma sudah menemui cucunya kakek Salim?" Tanya Arden serius.


"Sudah, mereka juga sangat ingin bertemu si Salim, tapi dia dan adik-adiknya adalah pekerja kantoran jadi harus mengajukan cuti terlebih dahulu, mungkin beberapa hari lagi mereka akan menghubungi oma." Jelas Oma Susi sambil memberikan foto keluarga dari anak tertua kakek Salim. Di dalam foto itu ada Desi, istri pertamanya, Hendra anaknya dan istri, beserta 3 anak Hendra. Keluaraga yang bahagia. Desy tidak pernah menikah lagi, jadi selama ini kakek salim hanya salah paham dan tidak ingin mengganggu keluarga baru mantan istrinya.


~Beberapa bulan berlalu~


Arden benar-benar sibuk dan tidak dapat bertemu dengan Hanny dan AnsTwins hingga seminggu lagi adalah ulang tahun pertama AnsTwins. Arden baru saja sampai di rumah tengah hutan itu dan rencananya mereka akan pulang bersama ke kota J sebelum genap 1 tahun AnsTwins untuk mempertemukan anak-anaknya dengan Oma Susi dan kakek Salim sebagai surprise.


Begitu Arden membuka pintu kamar Hanny, gadis kecilnya itu langsung berlari kepelukannya Arden. Mereka salig memeluk lama meluapkan kerinduan yang sangat itu. AnsTwisn pun tertawa melihat Arden seakan mengerti dan juga merasakan kerinduan yang sama. Ansel merangkak kearah Arden diikuti oleh Anson yang mencoba berdiri tapi jatuh terduduk lagi sambil dibantu 2 baby sitter mereka.


Lalu Hanny berjongkok dan memanggil kedua putranya untuk semangat dan berdiri sambil dibantu oleh 2 baby sitter mereka. AnsTwins lalu berdiri dan melangkah beberapa langkah lalu terjatuh dan masing-masing berhasil ditanggkap oleh Hanny dan Arden.


"Anak daddy sudah besar... muacchhh" Arden mencium pipi gembul 2 anaknya bergantian, memeluk mereka berdua, udah sangat lama tidak bertemu, biasanya hanya video call. Begitu bahagianya Arden sampai menggendong mereka berbarengan. Ansel dilengan kiri dan Anson di lengan kanan begitu terus dan tak mau dilepaskannya. Kedua putranya dari tadi mengoceh tidak jelas, meskipun sudah bisa memanggil omi, dedi dan opa dengan suara cempreng dan cadel, tapi itu membuat Arden sangat sangat bahagia.


"Bagaimana ini? kalian begitu mirip bahkan sama, daddy jadi tak bisa membedakan." Arden menyernyitkan dahinya dan memandang kedua putranya yang masih dalam pangkuannya kiri dan kanan. Dia bingung mana Ansel mana Anson. Hanny pun tertawa, sampai sekarang masih Hanny yang tau perbedaannya. Bahkan Alex saja yang setiap hari bersama terkadang salah mengenali. Saat memakai baju dengan warna yang berbeda mereka akan dikenali jika tidak ya hanya Hanny yang tau. Seperti saat ini, AnsTwins sama-sama memakai baju warna kuning, Arden sejak tadi bingung melihat perbedaannya.


"Begini kak.. mereka memang terlihat sama, tapi ada perbedaannya." Ujar Hanny dan Arden masih bingung memandang kedua anak kembarnya.


"Mereka punya tahi lalat kecil di ujung mata, lihat yang benar." Hanny menunjukan tahi lalat Ansel pada Arden.


"Ah iya.."


"Ini tahi lalatnya ada di kanan berarti dia Ansel, kalau Anson ada di kiri. Memang tidak teralu jelas terlihat. Awalnya malah tidak ada di Anson, hanya Ansel. Tapi semakin besar sudah lebuh terlihat jika diperhatikan." Jelas Hanny dan Arden mengangguk tersenyum.


"Kamu yang terbaik sayang." Ucap Arden seraya mengecup bibir Hanny.


"Mereka juga punya sifat yang berbeda kak, kalau Ansel lebih kalem dan kalau tertawa tidak selebar Anson yang sangat lepas dalam mengekspresikan diri." Sambung Hanny lagi, Arden pun hanya mengangguk karena jarang bertemu jadi dia tidak terlalu memperhatikan.


"Kalau anak-anak kita selucu ini, lahirkan lagi yang banyak untuk kakak ya..." Pinta Arden yang sontak mendapatkan cubitan di lengannya.


"Nikah dulu baru buat dedek lagi,kalau tidak jangan berharap." Ketus Hanny menatap tajam pada Arden.


"Iya sayang.. segera! Tapi nanti buat dedek bayi kembar perempuan ya..yang cantik mirip kamu" Ujar Arden lagi dan masih sama, mendapatkan cubitan kali ini di perutnya. Arden tertawa senang menggoda Hanny adalah rutinitas terbaik baginya selain bermain dengan AnsTwins.


"Oh iya.. kakak sudah ceritakan ke kakek Salim tentang kesalahan Johan, seluruhnya, dan kakek tau kalau Johan tidak pernah menyentuhmu." Arden ceritakan semua yang dia beritahukan ke kakek Salim. Hanny merasa sedih dan bersalah tetapi Arden menenangkannya.


"Jangan sedih, kakek tidak apa-apa. Kakek sudah bertemu dengan anak dan cucunya yang lain. Mereka sedang bahagia sekarang, dan kakek juga langsung mendapatkan 2 cicit dari anak pertamanya itu." Jelas Arden membuat Hanny tersenyum lega.


 


Benar, sejak pertemuannya dengan kakek Salim, seminggu kemudian Oma Susi, kakek Salim dan ditemani oleh Alfonso pergi ke kota M untuk bertemu anak tertuanya yang sudah sangat lama berpisah. Mereka akhirnya berkumpul dan melepas rindu. Anaknya Hendra sudah pensiun dan hanya tinggal berdua dengan istrinya di pinggiran kota. Tiga anaknya sudah menikah dan yang pertama dan kedua sudah mempunyai anak masing-masing 1, sedangkan anak bungsunya baru saja menikah. Kakek Salim sangat bahagia berada di sekeliling anak, cucu dan cicitnya sampai tidak ingin kembali ke kota J. kalau tidak di bujuk oleh Oma Susi dan Alfonso, mungkin kakek Salim akan tinggal disana. Tetapi semuanya masih dirahasiakan kepada Adam dan Johan, takut mereka berbuat yang tidak-tidak mengingat keluarga Hendra di kota M hanya keluarga sederhana dan bekerja di perusahaan biasa.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2