Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 48 - Sakit Cecilia


__ADS_3

Mereka berangkat menuju rumah Cecilia, dia dengan senang hati membawa dan menunjukkan jalan dengan tetap memangku salah satu dari AnsTwins dan tentu duduk bersama Arden yang dikira Blake. Arden pun pasrah pada apa yang diperbuat bundanya itu, yang penting bunda dapat tersenyum bahagia, begitu juga Hanny.


Mereka sampai di sebuah rumah kayu sederhana, banyak bunga tertanam di sekeliling rumah tersebut, sangat indah dan tertata rapi. Cecil masuk dan mempersilakan mereka masuk juga sambil mengandeng tangan Ansel yang dikira adalah Arlen. Cecil bahagia karena rumahnya ramai karena selama ini tidak pernah ada tamu seramai ini dirumahnya. Arden masuk dan melihat-lihat ke dalam rumah, tidak ada 1 pun foto disana, hanya ada ruangan kecil yang ditutupi kain dengan 1 meja, 2 kursi dan 1 ranjang sempit seperti ruang praktek dokter dan lemari dengan beberapa jenis obat.


"Benar, disini ada praktek dokter." Ucap Jupi dan Arlen mengangguk ke arah Arden. Cecil sudah kembali setelah berganti baju yang basah tadi dengan baju terusan berwarna hitam polos sepanjang betis.


"Masih tetap bunda yang dulu." Ujar Arden ke Arlen yang melihat cara berpakaian Cecil. Mereka masih betah disana sambil menunggu suami Cecil pulang, sampai sore akhirnya ada suara motor mendekat, terlihat seorang pria setengah baya datang dan terkejut melihat banyak tamu dirumahnya. Pria itu masih menggunakan masker dan helm, lalu jalan mendekat ke pintu rumah dengan panik.


"Ayu.. dimana kamu? mereka siapa?" Tanya pria itu panik. Lalu membuka maskernya, dan Bintanglah yang mengenali orang itu terlebih dahulu.


"Kau dokter Jung!" Ujar Bintang dan langsung semua pria disana menatapnya. Dia terkejut dan terdiam.


"Siapa kalian? Kalian kenal saya?" Tanyanya kearah Bintang.


"Kamu kenal Januar Tenggara?" Tanya Arden ke arah Dr. Jung dan dokter itu terlihat memucat.


"Kamu kenal saya?" Tanya Arlen yang jalan mendekat.


"Kamu..? Arlen Teng ga ra.." Lirihnya.


"Lalu kenapa bundaku ada disini bersamamu? Apa maksudnya ini?" Tanya Arlen lagi dengan tegas. Arlen tidak pernah terlihat tegas ataupun marah, kali ini sosok lain dari Arlen terlihat berbeda, tegas, penuh aura kuat seperti Arden.


"Jadi Ayu, ibumu? Dia Cecilia Tenggara??" Tanya Dr. Jung balik merasa aneh dengan semuanya.


"Ah... mas sudah kembali?" Tanya Cecil yang tiba-tiba keluar dari dapur dengan senyum cerah. Dr. Jung terlihat terkesima karena tak pernah Ayu menampilkan wajah secerah itu.


"Iya..." Jawabnya pelan.


"Mana, Aileen mas?" Tanya Cecil lagi mencari putrinya.


"Ay ada di rumah Rina, mau main katanya." Cecil mengerti dan melanjutkan pekerjaannya di dapur.


"Sepertinya kita perlu bicara Dr. Jung." Ujar Arden dan mereka pun keluar untuk berbicara.


"Tapi kamu siapa? Matamu berwarna hijau miripp..."


"Aku Arden Tenggara, saudara kembar Arlen tidak indentik." Jawab Arden dan Dr. Jung mengerti akan kejadian yang lalu.

__ADS_1


"Baiklah.. dengarkan, aku dibayar oleh Januar untuk masuk ke keluarga Tenggara untuk membunuh pelan-pelan anak remaja Tenggara di sebuah villa. Sebenarnya aku tidak mengerti dan hanya menjalankan tugas, dan tidak mau ikut campur dalam keluarga mereka. Yang penting pembayaran lab dan penelitianku berhasil. Lama-lama aku tidak tega terhadap remaja itu, sendirian, kesepian dan selalu memperlihatkan raut wajah sedih sama sepertiku yang juga sebatang kara. Bahkan remaja itu lebih menderita karena mempunyai keluarga yang begitu hebat namun dia terkurung dan kesepian. Akhirnya aku tidak memberikan racun dengan efek mematikan, hanya membuatnya lemah tak berdaya berharap anak itu dilepaskan dan akan kuberi penawarnya kelak. Tetapi, yang aku dengar bahwa remaja itu telah meninggal bunuh diri. Waktu itu perasaan bersalah menyelimutiku, akhirnya bertahun-tahun aku pergi tanpa tujuan dan berkelana ke banyak tempat. Akhirnya di sebuah perkampungan terpencil aku sedang istirahat di sungai dan menemukan seorang wanita di tepi sungai dengan luka dikepala yang cukup serius. Aku segera memanggil warga sekitar dan membawanya ke puskesmas terdekat tetapi ternyata sangat jauh. Wanita itu hidup, tanpa identitas tanpa ingatan sedikitpun. Akhirnya aku membawanya, merawatnya dan sembuh lalu hidup disini, kemudian warga disini memnaggilnya Ayu. Itu lah ibu kalian." Jelas Dr. Jung.


"Lalu apa benar kalian suami istri?" Tanya Arden lagi.


"Warga desa ini masih sangat primitif, aku membawa seorang wanita dan tinggal bersama tentu semuanya pikir dia istriku, tapi kami tak pernah menikah." Jawab Dr. Jung lagi.


"Lalu anak yang dibilang Mbok Sumi?" Timpal Arlen.


"Setelah kami bersama dan merawatnya seminggu di RS kecil di kota lain, aku membawanya kemari, 2 bulan setelahnya aku baru tahu kalau Ayu sedang hamil dan itu sudah 6 minggu. Aku terkejut karena keadaan saat aku menemukannya sangat parah, sungguh tak bisa dipercaya kalau dia hamil, tetapi bisa saja sewaktu hanyut janin belum tumbuh. Janin tumbuh setelah pengobatan. Pikirannya kacau dan sering histeris mencari anaknya, lalu sering pingsan dan kadang normal tanpa ingatan." Jelasnya lagi.


"Apa benar kau tak tau siapa bunda? Kenapa kau menolongnya? Seharusnya kau berada lama di keluarga Tenggara tau siapa Cecilia kan?" Tanya Arlen lagi.


"Sudah kukatakan selama di keluarga Tenggara aku hanya bekerja sesuai permintaan dan tidak mau tau urusan mereka, makanya tidak pernah mencari tau. Aku menolongnya karena melihat wajahnya mirip dengan remaja di villa dan rasa bersalahku yang membuat aku menolongnya." Jelas Dr. Jung lalu tak lama seorang anak gadis cilik masuk dan memberi salam.


"Selamat sore ayah.." Ucapnya dengan suara nyaring dan ceria.


"Sore Ay.." Balas Dr. Jung tersenyum ke arah anak gadis itu.


Arden sedikit terkejut melihatnya, wajahnya sangat mirip Arlen dengan warna mata hijau. Semua yang memandang gadis itu tercengang.


"Tadi waktu melihatmu aku tau kau pasti ada hubungannya denga Ay. Warna mata kalian sama." Tukas Dr. Jung melihat ke Arden.


"Om siapa? Mata kita sama." Ucap gadis cilik itu.


Arden terpaku menatap gadis cilik didepannya, melihat senyumnya sangat mirip bunda dan matanya adalah mata yang sama dengan miliknya, milik Blake ayahnya. Arden langsung memeluk gadis cilik itu, menangis haru. Ternyata dia punya adik kecil yang sangat manis.


"Jangan panggil om, aku kakakmu. Siapa namamu?" Tanya Arden.


"Aileen kak. Terus kakak ini? Wajah kita mirip." Ujar Aileen polos. Arlen juga memeluknya sangat lama.. "adikku..." Lirihnya.


Tak lama Cecilia dan Clara keluar dari dapur membawa beberapa masakan dan menyuruh mereka makan, "Aileen anak bunda sudah pulang." Ujar Cecil dan Aileen segera memeluk bundanya. Saat ini kondisi Cecil sudah normal tidak linglung seperti tadi dan saat ini tidak punya ingatan apapun tentang masa lalunya.


"Apa ini sering terjadi?" Tanya Arlen menatap ke Dr. Jung, "Terkadang kalau kondisinya sedang tidak stabil. Seminggu bisa sekali sampai dua kali." Jawabnya.


"Apa bisa sembuh?" Sambung Arden bertanya.


"Seharusnya bisa, aku bukan psikolog jadi tidak terlalu mengerti. Tapi ini sudah jauh lebih baik saat pertama bertemu, beberapa bulan itu benar-benar kacau dan hampir keguguran. Untungnya cepat ditangani dan sehat kembali." Sambung Dr. Jung lagi.

__ADS_1


Mereka akhirnya makan dulu sebelum melanjutkan pembicaraan, sejak siang mereka belum makan sama sekali dan AnsTwins juga sudah bangun dari tidurnya. Hanny, Jupi dan Vino yang dari tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa terdiam tanpa berbuat apapun, Hanny hanya sesekali mengelus punggung Arden lembut untuk menenangkannya.


"Ini memang masakan bunda.." Ucap Arden pelan.


"Iya.. ini memang rasanya." Jawab Arlen tersenyum bahagia namum juga sedih dengan kondisi bunda mereka.


Setelah makan haripun menjelang malam, mereka masih membicarakan penyakit Cecilia dan ingin bunda sembuh, mereka sepakat akan membawa Cecilia dan Aileen pulang bersama.


"Tapi bagaimana menjelaskan pada Aileen? Dia masih terlalu kecil. Umurnya baru 9 tahun." Ujar Dr. Jung yang sebernarya berat berpisah dari Aileen yang sudah dianggapnya anak sendiri.


"Kita akan jelaskan pelan-palan, kau ikutlah bersama kami." Ajak Arlen dan Dr. Jung tidak mau.


"Tidak, hidupku disini, dan warga desa di pegunungan ini membutuhkanku." Jawabnya yang memang sudah tidak bisa berpisah lagi dengan tempat ini yang telah merubahnya menjadi manusia yang lebih baik.


"Lagi pula, aku mempunyai seseorang yang ingin aku jaga disini, tapi bingung karena kehadiran Ayu yang sudah dianggap sebagai istriku jadi dia tidak mau bersamaku." Jawab Dr. Jung.


"Ahh kami mengerti, baikah. Kalau begitu apa yang bisa kami lakukan untukmu sebagai tanda terima kasih kami karena sudah merawat bunda dan adik kami?" Tawar Arden.


"Kalian kan sangat kaya, keluarga Tenggara tetap masih nomor 1 aku hanya ingin kalian berbaik hati untuk membangun rumah sakit disini, rumah sakit kecil saja dengan dokter umum dan kandungan, sekelas bidan juga tidak apa-apa. Kasihan warga desa banyak yang meninggal karena kurangnya pengetahuan. Dan rumah sakit terdekat sangat jauh hampir 3 jam perjalanan." Pinta Dr. Jung dan di balas senyuman oleh Arden.


"Ternyata kau tidak seburuk yang aku kira dokter." Ujar Arden.


"Lalu apakah bisa ikut kami pulang untuk sementara dan meyembuhkan kakiku dulu lalu kembali kesini?" Pinta Arlen.


"Tidak perlu, sakitmu tidak parah. Hanya butuh pengobatan yang sesuai. Aku akan memberikan catatan, berikan ke doktermu dan dia akan paham." Jawab Dr. Jung dan menuliskan sesuatu di secarik kertas dan memberikan ke Arlen.


"Simpan baik-baik." Ujarnya. Bintang lalu mengambilnya dan memfotonya untuk berjaga-jaga kalau catatan itu hilang.


"Bos, sudah malam. Kita tidak bisa balik ke resort, terlalu berbahaya." Ucap Vino yang daritadi sudah khawatir melihat kondisi diluar yang sudah gelap dan mulai turun hujan.


"Benar, kalian tidak bisa pergi malam hari dan hujan. Bisa longsor." Cegah Dr. Jung dan mereka akhirnya menginap.


"Yang pria bisa tidur dikamarku, yah sedikit sempit, dan di luar juga boleh dengan tikar kalau kalian mau. Yang wanita bisa di kamar Ayu dan Aileen, kamarnya lebih luas dan ada kasur tambahan didalam." Jelas Dr. Jung lagi.


"Hanny dan AnsTwins, Clara, masuk ke kamar bunda Cecil dan Aileen, sisanya berbagi tempat dengan Dr. Jung dan sebagian di ruang tamu. Untuk 2 baby sitter terpaksa menungsi di rumah kecil yang dekat sungai tadi di jaga oleh supir yang tidur didalam mobil. Besok pagi mereka baru datang menjemput.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2