Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 49 - Pulang Bersama


__ADS_3

Pagi itu mereka memutuskan kembali ke resort, Arka dan Eve pasti sudah khawatir dengan mereka yang tidak bisa memberi kabar. Cecilia dan Aileen ikut bersama namun diberi penjelasan dulu.


"Ayu, masih ingat kalau kita bertemu di sungai waktu kamu cedera?" Tanya Dr. Jung dan Cecil mengangguk.


"Sekarang keluargamu sudah menjemputmu dan kau harus pulang untuk kesembuhanmu. Kau mau kan mengingat kembali keluargamu?" Tanya Dr. Jung lagi dengan lembut.


"Iya mas, aku mau tapi..." Cecilia melihat Arden dan Arlen bersamaan dan beberapa orang disana.


"Apa kau tidak percaya dengan mereka?" Tanyanya lagi


"Bukan, aku percaya karena wajah anak muda ini sangat mirip dengan Aileen dan mata anak muda ini juga sama dengan Aileen." Jawab Cecil dan membuat Arden dan Arlen bernapas lega. Bundanya masih wanita lugu dan polos seperti dulu.


"Jadi kita akan pindah yah?" Tanya Aileen ke Dr. Jung.


"Hanya bunda dan Ay saja, ayah tidak ikut." Jawab Dr. Jung sambil mengelus puncak kepala Aileen.


"Tapi kenapa ayah tidak ikut?" Aileen sudah hampir menangis.


"Ingatkan ayah pernah cerita kalau bunda itu sakit dan lupa keluarganya dan ayah hanya menolong bunda supaya sakitnya tidak kambuh lagi dan kami bukan pasangan." Jelas Dr. Jung dan Aileen mengangguk.


"Nah.. sekarang kakak-kakaknya Aileen sudah datang dan menjemput kalian. Aileen mau sekolah di kota kan? Mau les bahasa inggris dan jepang?" Tanya Dr. Jung lagi memberi penjelasan.


"Iya.."


"Berarti harus ikut pulang sama kakak-kakak dan bunda."


"Tapi disana nanti Ay akan diganggu lagi tidak? Ay tidak mau dibilang anak alien dan bunda dibilang orang gila." Tanya Aileen yang sudah menangis.


"Tidak ada yang berani mengganggu Ay, disini banyak kakak-kakak yang akan menjaga Ay." Ujar Arden yang geram dan juga sedih mendengar ucapan adik kecilnya.


"Benar ya.. janji." Ucap Aileen lagi.


Setelah berhasil membujuk Aileen mereka melanjutkan perbincangan, "Ay itu anak pintar, dia baru 9 tahun tetapi sudah akan masuk SMP di tahun ini. Sebenarnya aku ke desa sebelah untuk daftarkan sekolahnya Ay tapi terlambat, mereka sudah tutup dan harus kembali besok. Untung kalian datang hari ini." Jelas Dr. Jung lagi.


"Baiklah, kami akan pergi. Ini kontak pribadi kami, kapanpun kau bisa menghunungi kami. Untuk rumah sakit akan ada tim yang datang beberapa hari lagi." Ucap Arden menyanggupi permintaan Dr. Jung


"Lapi pula kami ke daerah ini untuk mencari lokasi untuk membangun villa. Istriku suka daerah disini dan ingin sesekali datang berlibur." Sambung Arden lagi dan Dr. Jung setuju bahwa tempat ini sangat bagus.


"Ah dan istrimu itu.. sepertinya dia kurang sehat, coba aku periksa, apa boleh?" Tanya Dr. Jung dan Hanny sedikit bingung, memang dia sedikit lelah dan wajahnya pucat pagi ini. Segera tanpa banyak bicara Arden langsung mengangkat Hanny dan membaringkannya di ranjang klinik kecil Dr. Jung.


"Hmm.... baikah." Ujar Dr. Jung setelah melakukan pemeriksaan ke Hanny yang masih bingung.


"Istrimu sedang hamil. Selamat." Dr. Jung segera membuka lemari obatnya dan memberikan vitamin pada Hanny agar aman diperjalanan. Sedangkan Hanny dan Arden masih bingung.


"Ar..!" Panggil Arlen yang bingung melihat suami istri itu terlihat diam saja. Arden terlonjak kaget baru mencerna ucapan Dr. Jung dan langsung memeluk istrinya. "Sayang... dedek bayi akhirnya jadi." ucap Arden mengecup kening Hanny.


"Ya sudah ayo berangkat bos." Ucap Vino yang sudah tersenyum sumringah. Begitupun Clara yang memeluk Hanny dengan senangnya. Mereka pun balik menuju resort dengan membawa Cecilia dan Aileen.


Tinggallah Dr. Jung disana sendirian dan terasa sepi, namun dia tersenyum lega lalu keluar dan mengendarai motornya menuju sebuah rumah di dekat sana, menemui seorang wanita yang dicintainya. Dr. Jung menyukai seorang wanita, janda 1 anak yang ditinggal selingkuh oleh suaminya. Akhir bahagia juga untuk Dr. Jung.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sampai di resort mereka sudah di berondong oleh Arka dengan banyak pertanyaan, apalagi melihat Cecilia bersama seorang gadis cilik yang mirip dengan Arlen. Akhirnya Arden menceritakan kejadian yang dilaluinya selama 24 jam terakhir yang membuat Arka tercengang.

__ADS_1


Mereka memutuskan segera kembali ke kota J dan akan menggunakan pesawat pribadi dari kota C untuk mempercepat kepulangan. Dari perjalanan dari pegunungan sampai kota C, Cecil diberi obat penenang agar bisa tidur dalam perjalanan, sedangkan Aileen masih asik ngobrol dengan Arlen, tampak Arlen sangat sayang pada adiknya. Sedangkan Arden sudah sibuk dengan Jupi dan Vino, Hanny akhirnya lebih banyak bersama AnsTwins dan Clara. Pada akhirnya semua pertanyaan yang ada di otak Clara di keluarkan dan Hanny mau tidak mau harus menjawabnya.


"Jadi... kakak bulemu itu Arden Tenggara?" Tanya Clara lagi memastikan untuk kesekian kalinya.


"Iya Ra... Claraku... " Jawab Hanny yang mulai malas.


"Han.. " Clara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terdiam lemas, Hanny terkikik lucu melihat Clara.


Akhirnya seluruh keluarga itu tiba di rumah besar keluarga Tenggara untuk mengantar Cecil pulang bertemu Oma Susi. Clara yang masih ikutpun selalu tak bisa berkata-kata melihat dan mengalami semua kejadian yang tak akan dilupakannya.


"Cecilia..." Oma Susi kaget melihat Cecilia anak semata wayangnya masuk ke dalam ruang keluarga bersama cucu-cucunya.


"Anda siapa?" Tanya Cecilia begitu melihat Oma Susi, oma yang terkejut segera memeluk Cecil dan tangisnya pecah begitu saja, putri tercintanya pulang, iya Cecil gadis kecilnya pulang. Arden lalu menceritakan kondisi Cecil ke Oma, dan tanpa banyak bicara oma langsung memanggil dokter keluarga Tenggara untuk segera memeriksa putrinya. Cecil hanya bisa mengikuti saja, dia hanya berpikir, bahwa keluarganya akan memberikan yang terbaik jadi tidak perlu takut.


"Apakah memang aku dari keluarga kaya raya?" Tanyanya pada Arden.


"Iya bunda, bunda adalah putri tunggal keluarga terkaya di negara ini." Jawab Arden. Cecil terdiam, dia tidak ingat apapun dan masih bingung dengan keadaan tapi tetap menurut.


"Jadi ini cucu oma?" Tanya Oma melihat Aileen yang sangat mirip dengan Arlen.


"Iya oma, namanya Aileen." Jawab Arlen dan oma langsung memeluk cucunya, cucu perempuannya yang begitu manis.


"Ini rumah bunda ya kak?"Tanyanya pada Arlen, dan di jawab anggukan olehnya.


"Wah besar sekali, seperti istana." Ujarnya melihat sekeliling.


"ini juga rumahnya Ay, rumah kita bersama." Sambung Arlen.


"Berarti semua kakak tinggal disini?"


"Tapi kakak akan menginap hari ini, demi bunda dan Ay. Boleh ya sayang?" Ujar Arden ke Aileen dan langsung bertanya pada Hanny.


"Boleh dong.. tapi suruh orang bawa perlengkapan dulu, kasian AnsTwins belum istirahat." Ujar Hanny.


"Siap sayang... Viinnn..." Arden langsung memanggil Vino untuk menyiapkan segala hal.


"Ay nanti tidur sama bunda dulu, beberapa hari lagi kamar Ay akan disiapkan. Ay boleh renovasi sesuai yang Ay mau." Ucap Arden dan Aileen langung senang karena dari dulu ingin punya kamar sendiri seperti princess.


"Nanti kakak bantu ya Ay.." Ujar Hanny padanya.


Hanny dan AnsTwins sudah berada dikamar untuk istirahat, Cecil dan Aileen juga sudah tidur, Oma Susi masih berada di kamar Cecil melihat putri dan cucunya yang tertidur, hatinya masih tak percaya Cecil yang sudah dikira meninggal sekarang ada di hadapannya. Sedangkan Arden, Arlen, Jupi, Vino dan Arka masih di ruang kerja rumah itu. Sedangkan Eve dan Clara sudah diantar pulang oleh supir mereka.


"Ada yang tidak benar nih.. tapi apa ya?" Tanya Arden yang seperti memikirkan sesuatu namun tidak terpikirkan.


"Iya Ar, masih bingung." Timpal Arlen.


"Sudah lah bos, yang penting semua kembali." Ujar Vino


"Benar." Sambung Jupi.


"Blake masih hidup ketika tertembak, kalian masih 10 tahun kala itu. Pas Arden hanyut umur 15 tahun, bunda Cecil diketahui hamil 2 bulan setelah hanyut." Jelas Arka.


"BENAR!" Pekik mereka serentak.

__ADS_1


"Tidak sia-sia jadi dirut StarE." Ujar Vino dan langsung ditimpuk oleh Arka.


"Benar, berarti ayah masih hidup waktu itu. Tapi dimana?" Arden masih bingung dengan kejadian ini.


"Sekarang kau ingat tidak siapa yang mengejar kalian sampai jatuh ke jurang itu?" Tanya Arka dan Arden berpikir, semua samar karena kejadiannya terlalu cepat.


"Mungkin tidak sekarang, ingatlah pelan-pelan." Ucap Arlen menenangkan Arden yang terlihat berpikir keras.


"Sebenarnya waktu aku pingsan saat hanyut itu aku ingat semuanya, seperti mimpi berputar di penglihatanku. Tapi setelah buka mata yang aku lihat pertama kali adalah Hanny, semuanya langsung terlupakan dan hatiku jadi tenang." Jelas Arden dan membuat yang lain menghela napas kasar.


"Dasar, dari dulu sudah bucin!" Ujar mereka bersamaan.


"Baiklah akan aku ingat-ingat dulu, dan saat ini kunci utama adalah ingatan bunda. Pokoknya cari psikolog atau psikiater terbaik untuk sembuhkan bunda." Ujar Arden kemudian dan mereka bubar.


"Sayang... Kenapa belum tidur, hem..." Arden masuk kekamarnya dan meilhat Hanny masih asik dengan poselnya, Arden memeluk perut Hanny dan menenggelamkan wajahnya disana.


"Kakak pasti capek ya.. mandi dulu nanti aku pijat." Titahnya sambil mengelus rambut Arden, dia hanya menggeleng.


"Maafin kakak ya, sudah melupakanmu seharian ini. Padahal sudah ada dedek bayi lagi disini." Arden mengelus perut Hanny yang masih rata, menaikkan bajunya dan mengecupnya berkali-kali.


"Geli kak... tidak apa-apa, sekarang kita harus perhatikan bunda dulu biar cepat sembuh." Jawab Hanny yang membuat hati Arden menghangat, lelahnya menguap pergi melihat istri tercintanya sungguh pengertian.


"Kakak makin cinta.."  Arden mengecup bibir Hanny dan kembali memeluknya. Tak lama Arden tertidur gantian dipelukan Hanny, lelah tubuhnya tak dapat ditahan lagi.


"Ya ampun, padahal belum mandi dan ganti baju. Semoga cepat belalu ya kak.." Ucap Hanny pelan dan mengelus kepala Arden penuh cinta.


Baru dua jam Hanny tertidur, kini dia sudah bangun karena lapar. Jam baru pukul 1 tengah malam, lapar dan rasa ingin makannya tidak bisa ditahan tapi bingung karena rumah ini sangat luas, bahkan dia belum hafal bentuk dapurnya. Hanny teringat cemilan yang dia beli dari kota C belum dibuka sama sekali masih di dalam tas yang sengaja dia bawa, mencari kesana-kemari akhirnya menemukan kumpulan cemilan snacknya. Hanny makan 2 bungkus snack kentang dengan lahapnya sambil memakai headseat menonton drama kesukaanya beberapa waktu ini.


"Sayang..."


"Eh.. kakak." Hanny terkejut karena Arden sudah menoel pipinya.


"Kakak, panggil dari tadi." Hanny membuka sumpelan di telinganya dan terkekeh melihat Arden yang sudah cemberut.


"Kau lapar ya? Kenapa makan ini? Ayuk kedapur." Ajak Arden tanpa menunggu lama sudah menarik lengan Hanny berjalan keluar kamar.


"Mau makan apa?" Arden sudah membuka kulkas yang sangat besar itu seperti tatapan laser menyapu bersih isi dalam kulkas dengan mata hijaunya.


"Ada dada ayam, daging sapi, ikan tuna, sayur-sayuran, brokoli, wortel, udang dan cumi. Di rice cooker masih ada nasi hangat, di lemari ada spaghetti dan pasta bow tie. Mau masak apa?" Tanya Arden yang sedari tadi sibuk membuka seluruh lemari didapur.


"Memangnya kakak bisa masak?" Tanya Hanny tidak percaya.


"Bisa, kakak tinggal sendiri bertahun-tahun karena pelatihan." Jawab Arden yakin.


"Kalau begitu, pasta bow tie dimasak apa ya? Bentuknya lucu jadi ingin makan." Ujar Hanny.


"Okeh, segera.." Arden langsung melancarkan aksinya di dapur dengan cekatan, tak sampai 30 menit pasta bow tie cantik itu tertata rapi di piring.


"Waow... keren!" Pekik Hanny takjub melihat pasta yang begitu menggiurkan dan langsung melahapnya.


"Makan pelan-pelan sayang." Ujar Arden dan tangannya sudah mengusap sudut bibir Hanny yang belepotan saus, rasanya senang melihat istrinya jadi bumil lagi. Kalau bisa tiap tahun hamil saja.


"hehehe... enak kak." Hanny terkekeh sambil makan dan dengan mulut yang masih penuh bisa-bisanya dia tertawa. Setelah makan mereka kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahat.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2